The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Pasangan Sang Kematian


__ADS_3

Tempat yang sebelumnya padang rumput luas dimana perang terjadi, seketika berpindah di sebuah tempat asing. Alfeus masih di pangkuan Erida yang jubahnya lenyap digantikan dengan gaun hitamnya. Sekarang mereka berada di hamparan bunga-bunga penuh warna. Di ruangan yang hanya berisi kegelapan kosong di segala sisinya dan satu buah ranjang.


"Ini tempat dimana aku ditahan selama ini. Kehampaan, kekosongan, apapun sebutannya itu. Lebih baik aku membawamu kesini karena aku pasti dimarahi lagi jika terlalu lama ada di dunia manusia," ucap Erida. "Dan tempat ini juga adalah kamarku. "


Itu menjelaskan kenapa ada ranjang di tempat kosong seperti ini.


"Ini sangat sunyi." Alfeus menatap ke arah langit yang kosong. Semakin jauh ia melihat semakin menyadari bahwa itu sia-sia karena sudah pasti tidak akan menemukan apapun. "Bagaimana caramu bisa bertahan di tempat seperti ini?" tanya Alfeus penasaran.


"Dulu, aku menghabiskan waktuku seperti yang kakakku katakan. Membuat sesuatu dari bagian tubuh mayat." Erida melambaikan tangannya di udara. Muncul sebuah potongan tangan dari api hijau di tangannya. Erida menempelkan telapak tangan itu di wajahnya, lalu menghirup aromanya. Dia juga menjilat telapak dan menghisap jari tengah. Setelah itu dia memunculkan seutas rambut yang panjang. Mengikatnya pada tangan tersebut dan menjadikan sebuah kalung yang dia pasang di lehernya. "Seperti ini," ucap Erida senang.


Alfeus terdiam melihat apa yang dilakukan Erida.


Erida langsung tersadar dan menyesal karena tidak bisa menahan dirinya. "Maafkan aku. Aku hanya tak bisa menahan tubuhku. Kakakku benar. Aku orang yang tergila-gila pada orang mati. Aku ... membuatmu melihat sisi burukku. Wajar saja jika kau menjadi benci terhadapku."


"Aku tidak membencimu. Tapi, aku hanya ingin kau berhenti melakukan itu. Tubuh orang mati seharusnya dibiarkan saja beristirahat. Itu salah satu cara untuk menghormati orang mati." Alfeus mengarahkan tangannya ke bibir wanita itu. Lalu, dengan jempolnya dia mengusap bibir yang lembut secara perlahan. "Mungkin itu karena kau selalu sendirian seperti ini. Aku maafkan. Tapi, karena sekarang ada aku disini. Kau tinggalkan kebiasaan burukmu terhadap tubuh orang mati dan gunakan aku jika kau tak bisa menahan dirimu. Aku bersedia sebagai ksatriamu."


Dengan jarinya, dia membuka jalan masuk melalui bibir sang wanita yang memang membiarkan masuk.


"Jawimu," ucap wanita itu saat jari jempol dan telunjuk sang pria bermain di dalam mulutnya.


"Aku akan membersihkannya," balas sang pria.


Wanita itu tak bisa menahan diri sehingga menghisap jari Alfeus seperti anak kecil menghisap permen mereka. Menghisap jari Alfeus memberikannya sensasi hangat di dalam mulutnya daripada saat dia menghisap jari orang mati yang dingin.


Kemudian, Alfeus menarik keluar lidah wanita itu. Jari jempolnya mengusap bagian atas dan jari telunjuknya mengusap bagian bawah lidahnya seperti sedang membersihkan tanah di jarinya.


"Kau tampak menikmatinya," kata Alfeus saat melihat wajah sang wanita.


Meskipun jarinya sudah melepaskan, tapi lidah wanita itu masih terjulur keluar di bibir yang tertutup rapat. Seolah dia masih menginginkan lagi.


"Kau sangat baik. Entah kenapa kau memilihku jika dibandingkan Mimpi yang bisa memberikanmu kebahagiaan abadi. Aku tidak bisa memberikanmu apapun selain keabadian yang dimana itu menyakitkan bagi manusia sepertimu."

__ADS_1


"Mungkin aku memang aneh, tapi apa kau lihat aku menyesal? Aku tidak menyesali pilihanku. Aku merasa hampa saat kau meninggalkanku waktu itu. Dan sekarang, meskipun aku berada di kehampaan itu sendiri, jiwaku justru terisi saat ada kau bersamaku."


"Jadi begini, rasanya mencintai seseorang. Aku merasa sangat ingin terus bersamamu dan melihatmu. Hatiku juga terasa seperti diisi oleh sesuatu yang menghangatkan, meskipun aku tidak tahu apakah aku punya hati atau tidak. Tapi, rasanya tidak buruk juga. Aku tidak menyesal menemuimu di pinggir jalan waktu itu." Erida mengingat kembali saat-saat pertemuan pertamanya dengan Alfeus.


Jika dia tidak mengajak obrol Alfeus pada saat itu, mungkin akhir yang dia dapatkan akan berbeda. Mungkin dia akan selamanya menjadi wanita penyendiri yang dingin dan memiliki ketertarikan terhadap orang mati. Jika melihat seperti itu, Erida bisa menganggap bahwa Alfeus adalah penyelamatnya.


Erida lalu kembali menunduk dan mencium Alfeus. Tidak seperti sebelumnya yang masih canggung, sekarang Erida seperti yang mengambil alih ciumannya. Hal itu juga karena memang harus dia yang melakukannya.


Awalnya, Erida mengambil lidah Alfeus untuk dihisapnya dengan puas. Wanita itu tampak senang jika ada sesuatu untuk dihisap. Lalu, dia mendorong kembali lidah Alfeus, dan menggantikan lidahnya untuk dihisap oleh Alfeus. Dengan begitu, bibirnya juga bisa sekalian mengunci bibir Alfeus.


Sembari melampiaskan cintanya, melalui ciuman itu Erida mengirimkan suatu energi ke Alfeus. Saat di mulutnya, Alfeus memang belum merasakan apapun selain lidah Erida yang dia hisap. Tapi, saat energi itu melebur ke dalam tubuhnya dan menjadi satu dengan jiwanya, dia merasakan sesuatu yang sangat kuat secara tiba-tiba muncul. Seperti sebuah ledakan terjadi di dalam tubuhnya. Alfeus merasakan sakit di dalam tubuhnya dan mengerang. Tubuhnya berontak seperti ingin pecah, kakinya menendang-nenda dan tangannya mencakar tubuh Erida, namun Erida masih terus menahannya dengan menciumnya.


Tak lama kemudian, dia kembali tenang. Saat Erida melepaskan ciumannya, Alfeus langsung bangkit seperti orang mati yang dihidupkan kembali.


Alfeus menengok ke belakang dan menatap Erida dengan bingung. "Apa yang kau lakukan?"


"Maaf, aku tak bilang-bilang padamu. Aku memberikan kekuatanku padamu, dengan begitu kau menjadi ksatriaku. Kau menjadi Duw Marnaeth-pelayan dewa. Tubuhmu merespon kekuatan yang sangat besar itu. Jiwamu terkejut karena belum terbiasa dengan kekuatan seperti itu, sehingga membuat tubuhmu serasa ingin meledak sampai jiwamu sudah mampu untuk menampungnya. Sekarang kau mempunyai kekuatan dewa, Alfeus. Hanya jiwamu saja. Tetap tubuhmu masih seorang manusia. Kau tetap bisa terluka dan merasakan rasa sakit. Bisa dibilang kau setengah manusia dan dewa. Tapi, ditanganku, aku tidak akan membiarkanmu terluka."


Saat menatap tangannya, Alfeus bisa merasakan tubuhnya semakin kuat sekarang. Segar seperti baru. Seperti ada sesuatu yang berbeda di dalam tubuhnya, namun dia menyukainya. Seluruh luka di tubuhnya pun juga sudah lenyap.


Secara mendadak, Alfeus menyelipkan tangannya di bawah kaki Erida dan menggendongnya. Sebelum wanita itu sempat meresponnya, Alfeus langsung membaringkannya di satu-satunya ranjang yang ada.


Pria itu menatap majikannya dengan sangat dalam. Sambil menindihnya, dia membelai dari kening, pipi, hingga bibir sang wanita yang tersenyum itu.


"Hei, Alfeus. Aku merasa tubuhku menjadi panas dan jantungku berdegup kencang. Ini pertama kalinya aku merasakan itu. Apa kau tahu?"


"Jangan khawatir. Karena aku juga merasa seperti itu sekarang."


Saat mereka ingin melanjutkan ciuman mereka lagi, tiba-tiba muncul suara yang terdengar sedang kesal. "Aku tidak tahu apakah kalian sadar atau tidak." Tanpa mereka sadari, Eristhiar sudah berdiri mengamati mereka.


"Kakak? Sejak kapan kau?" Erida dan Alfeus langsung bangkit dengan panik dan canggung.

__ADS_1


"Sudah dari tadi." Eristhiar mengeluh kesal sambil melipat tangannya di depan dada. "Beberapa saat kalian berpindah ke sini, aku langsung menyusul karena aku tahu kau pasti akan kesini jika tidak ke Alam Roh.


"Kalau begitu, kenapa kakak diam saja? Jangan bilang kakak sengaja melakukannya?" tuduh Erida.


"Kau benar. Aku memang ingin menonton kalian bermesraan. Tapi, semakin lama aku diam, semakin kalian terlarut dalam cinta hingga tak menyadari sama sekali keberadaanku." Eristhiar berdiri di atas hamparan bunga di dekat ranjang. "Saat itu, aku merasa seperti tidak dianggap sama sekali."


"Maaf, Nona Mimpi. Ini kesalahanku. Sebagai seorang ksatria, seharusnya aku juga menjaga perhatianku ke sekitar," ucap Alfeus membungkukkan badannya sebagai tanda permohonan maafnya.


"Tidak usah minta maaf!" sergah Eristhiar. "Sebelum kalian bercinta lebih dalam, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian berdua. Yang pertama untukmu, adikku yang mesum, Erida."


"Kenapa aku disebut mesum? Bukankah bercinta adalah hubungan yang wajar dilakukan antar pasangan?"


Pertanyaan itu tampaknya tidak digubris oleh Eristhiar. "Ibu memang sudah tidak menghukummu lagi. Tapi, tetap kau tidak boleh keluyuran ke dunia manusia. Kau sudah langsung melanggar saat baru saja dibebaskan, ingat? Selanjutnya tidak ada keringanan lagi. Perintahkan penjaga untuk bertugas di dunia manusia. Dan satu hal lagi. Kau masih tetap harus tinggal di sini."


"Tunggu. Kenapa? Bukankah hukumannya sudah selesai?" tanya Alfeus.


"Ini bukan hukuman. Keberadaan Kematian memang harus di simpan di ruangan yang terisolasi. Itu sudah menjadi sebuah aturan sejak awal. Sudah menjadi takdirnya. Lagipula, sekarang ada kau disini, kan? Kau bisa kapanpun mengunjungi Erida saat kau ingin."


"Tidak apa-apa, Alfeus. Ini tidak masalah sama sekali bagiku. Selama saling bersama, sudah cukup, kan?" ucap Erida menenangkan Alfeus.


"Kemudian, untukmu, manusia. Maksudku, Alfeus." Eristhiar tiba-tiba menarik Alfeus ke tempat yang cukup jauh agar Erida tidak bisa mendengarnya. "Sebenarnya aku iri padamu, tapi aku rela selama adikku bahagia. Ini rahasia di antara kita. Jadi, akan kuberitahu bagian mana dan apa yang harus dilakukan agar membuat Erida merasakan nikmat."


Setelah cukup lama berbisik-bisik cukup misterius, Alfeus akhirnya kembali menghampiri Erida.


"Apa yang kalian bisikkan?" tanya Erida.


"Tidak ada," jawab Alfeus yang tersenyum mencurigakan di mata wanita itu.


"Kalau begitu, aku kembali ke alamku. Nikmati waktu kalian berdua." Eristhiar pun lenyap seketika, menyisakan pria dan wanita itu yang duduk di pinggir ranjang secara canggung.


"Jadi, apa kau mau melanjutkannya?" ajak Alfeus, dibalas senyuman dan anggukan malu oleh Erida.

__ADS_1


Dan begitulah kisah Alfeus menjadi seorang Duw Marnaeth Dewi Kematian.


__ADS_2