
Sang kakak ingin menunjukkan pada adiknya bahwa takdir tidak bisa diubah. Keberadaan mereka adalah tetap dan sesuai fungsinya. Seperti air, mau diletakkan di tempat atau posisi manapun tetap akan menjadi air yang mengalir.
Eristhiar harus mengajari adiknya yang bertindak di luar batas tersebut. Namun, apapun yang dia katakan dan selantang apapun suaranya dan sekeras apapun perlakukan yang dia berikan, mata sang adik tetap menatap pada seorang pria yang sedang bermain bersama anak laki-laki di lapangan hijau. Tatapannya tidak berubah sama sekali.
"Kenapa kau masih melihat manusia itu? Kau tertarik dengannya? Apa yang membuatmu tertarik pada manusia itu, adikku? Apa karena matanya yang mengingatkanmu pada Ibu?"
Sang adik yang terduduk di rerumputan menggeleng, kemudian tersenyum. "Bukan, tapi karena dia manusia. Seorang makhluk yang lemah. Lebih rendah daripada siapapun. Bahkan memerlukan teknologi untuk hidup. Tapi, seolah tidak ada halangan saat berbicara dengannya."
"Aku tidak mengerti."
Saat senyuman wanita itu kembali, air mata di pipinya sudah mengering, meninggalkan bercak merah. "Dia tidak takut padaku, pada Kematian. Dia masih bersikap seperti dia pada umumnya. Bahkan dia menganggapku sebagai seorang wanita daripada sosok yang memegang kendali atas kematiannya. Bukankah itu menakjubkan, kak? Ini pertama kalinya aku berbicara dengan manusia secara normal, biasanya manusia berbicara dengan nada sopan bukan karena menghargai tapi karena takut. Dia bisa menatap mataku dengan begitu lama, tidak seperti manusia lain yang menolak untuk menatapku. Dia berani mengajakku mengobrol, memegang tanganku seolah aku hanyalah seonggok jiwa biasa dalam daging manusia yang sama sepertinya. Bahkan raja-raja pertama tidak memperlakukanku seperti itu."
Eristhiar tahu, tatapan yang adiknya gunakan sekarang adalah tatapan yang sama saat dulu sekali adiknya menikmati saat membuat sebuah bentuk kehidupan abnormal dari daging dan tulang makhluk yang sudah mati. "Kau ... tergila-gila padanya, bukan?" tanya Eristhiar mengambil kesimpulan yang sudah jelas di depan matanya.
"Aku bertemu dengannya saat di sebuah kota yang nyaris mati. Bagi orang lain, dia terlihat seperti seorang pria murah hati dengan sikap seorang ksatria. Tapi, apa yang kulihat bagiku bagai satu-satunya bintang di malam yang ditelan kegelapan total."
"Begitu, ya. Sekarang aku paham." Eristhiar menggangguk pelan-pelan. "Kau sudah menemukan boneka barumu setelah sekian lama kehilangan Haidon. Kau ingin membuat mainan baru dengan tubuhnya, bukan? Sayang sekali, Erida. Aku memberimu nasihat untuk mengurungkan niatmu. Kegilaanmu melebihi batas. Kau diperbolehkan membuat barang aneh dari sisa-sisa tubuh mayat, tapi jika kau menggunakan tubuh makhluk hidup sebelum waktunya, kau melanggar aturan yang sudah kau buat sendiri."
Erida menyunggingkan senyuman mengejeknya pada kakaknya yang melayang tinggi di langit. "SALAH. Aku ingin menjadikannya ksatria pribadiku. Yang menjagaku dan membantuku dalam urusan hidup dan mati."
Jawaban itu membuat mata Sang Mimpi terbuka lebar. "Kau ingin menjadikannya Duw Marnaeth?"
Senyuman kecil dari Sang Kematian sudah memberikan jawaban yang benar.
"Kenapa dia? Dia bukan pahlawan atau raja, bukan juga pengubah takdir. Darah keturunan kuno juga tidak mengalir dalam tubuhnya. Dia bukan siapa-siapa selain matanya yang seindah padang rumput di Lembah Eden."
"Aku sudah mengatakannya sejak awal, kakak. Bagiku, dia itu spesial. Satunya-satunya jiwa yang tak ingin kucabut dari raganya, apapun kondisi yang terjadi."
"Aku tidak mengerti."
"Suatu saat kau akan mengerti jika kau mencoba untuk mendekati manusia secara langsung daripada hanya berbicara melalui mimpi mereka saja."
__ADS_1
Pandangan sang kakak saat melihat adiknya berubah jauh. Sekarang, dia merasa bahwa adiknya tahu lebih banyak hal darinya selain hanya hal-hal berbau kematian. Kata-kata adiknya itu lembut namun penuh ketegasan, yang menyiratkan bahwa dia bukan seseorang yang layak untuk dikasihani lagi.
Eristhiar menghela nafas panjang. "Tapi, tetap kau tidak bisa menbuktikan apapun padaku kalau kau tidak akan melukai manusia itu. Satu-satunya yang membuatku gelisah, adalah tatapanmu. Itu tatapan yang sama saat kau merobek dan menyatukan kembali daging manusia, juga kau berikan pada manusia itu. Setidaknya aku harus membuatmu berpikir untuk mengurungkan niat. Sebagai tindakan pencegahanku."
Tiba-tiba, muncul batu-batu yang panjang dam tajam seperti tombak di sekeliling Erida. Menembus bagian bawah jubahnya.
"Aku pasti akan kalah bertarung melawanmu di alammu sendiri," ucap Erida dengan tenang. Bahkan dengan duri-duri tajam itu dia masih tetap tersenyum.
"Kata seseorang yang membunuh lebih banyak daripada semua hal yang ada di dunia."
Erida lalu bangkit. Karena jubahnya tersangku oleh duri-duri di sekelilingnya, membuat jubah itu robek dan terlepas. Terlihat sebuah gaun hitam yang dikenakan wanita itu di balik jubahnya. Gaun hitam panjang itu cukup ketat sehingga membuat bentuk lekuk tubuhnya kelihatan. Seperti pada leher dan dadanya yang lebih terbuka. Dia juga memakai sebuah amulet berwarna hijau tua. Ujung ekor gaunnya sendiri seperti api hitam yang terus berkibar dan mengeluarkan aura hitam di sekitarnya.
Melihat gaun itu, membuat Eristhiar menatap dengan kesal. Dengan satu jentikan jari, dia melempar sejumlah tombak batu berwarna emas ke arah adiknya dengan kecepatan tinggi.
"Apa kau ingin membuatku kesal dengan memperlihatkan ukuran dadamu yang lebih besar daripada milikku?"
Hanya satu tangan di angkat, tombak batu yang menerjang ke arahnya langsung lenyap saat mendekatinya. Seolah ada dinding tak terlihat yang menghapus eksistensi apapun di sekitarnya.
Semakin kesal, Eristhiar mengambil sejumlah bintang di langit. Sebuah bintang jatuh dan menghantam Erida. Lalu, bintang lainnya menghantam bagian atasnya. Terus menerus ditumpuk dengan bintang.
Sama seperti tombak tersebut, bintang itu mendadak lenyap. Seakan tanaman yang menghitam lalu layu menjadi kumpulan debu yang lenyap dibawa angin. Erida tidak tersentuh sama sekali
"Menyebalkan!" geram Eristhiar. Dia lalu menggunakan ornamen emas di belakang punggungnya untuk diarahkan kepada Erida. Sebuah cahaya emas melesat sangat cepat melukai pipi Erida yang tidak sempat menghindar.
Erida yang selalu tersenyum, hanya terkejut sesaat dengan luka di pipinya, lalu kembali lagi tenang seperti danau di Alam Roh.
"Ini alammu. Kenapa kau tidak mengerahkan seluruh kekuatanmu? Padahal, kau bisa saja mengenai kepalaku dengan tepat sesaat yang lalu."
"Itu tindakan yang bodoh. Kematian tidak akan mati hanya dengan menembak kepalanya saja."
"Itu kau tahu. Kau takut menggunakan kekuatanmu sepenuhnya karena takut menghancurkan alammu sendiri, kan?"
__ADS_1
"Jika iya, memang kenapa?"
Erida tersenyum lebar. Senyuman yang muncul saat seseoramg berhasil menangkap ikan dengan pancingannya. "Bagaimana dengan senjatamu? Tidak kau keluarkan?"
Sementara sang kakak menganggap senyuman itu sebagai sikap merendahkan yang diberikan adiknya. Eristhiar menyikapi hal itu dengan memanggil empat pedang emas yang melayang di sisinya.
Dia turun dari langit dan terbang ke arah Erida sambil mengarahkan keempat pedangnya. Gerakan yang sudah ditebak oleh Erida. Erida sendiri memanggil dari udara kosong sebuah sabit dengan gagang tulang. Asap hitam muncul saat sabit itu dipanggil. Dengan sabit itu, dia menangkis keempat pedang kakaknya secara bersamaan.
"Kenapa memanggil pedang biasa?" tanya Erida.
"Kenapa memanggil sabit biasa? Di mana dwisula milikmu yang kau banggakan itu?" balas Eristhiar bertanya.
"Kuberikan pada sepupu kita. Lagipula, sekarang aku lebih membanggakan sabit ini. Lebih kelihatan seperti diriku, kan? Keji, tajam, tak berperasaan, mengerikan sekaligus misterius."
Eristhiar menarik keempat pedangnya untuk digantikan ornamen sayapnya yang memanjang dan menusuk kedua bahu serta kedua paha Erida.
Sementara itu, Alfeus yang asik bermain bersama adiknya melihat kilatan cahaya merah, hitam, biru dan emas. Serta suara dentingan dan suara dentuman keras seperti ada seseorang yang sedang bertarung di balik hutan.
Burung-burung emas beterbangan menjauh dari hutan. Begitu pula kuda-kuda putih bertanduk yang berlari dari hutan tersebut dan melewati Alfeus serta adiknya. Alfeus merasakan ada yang aneh. Dia melihat banyak sekali bintang jatuh di langit. Awan yang bergerak berputar serta asap hitam di langit.
Alfeus tanpa basa-basi, menyuruh adiknya untuk tunggu sementara dia akan menuju sumber dari asap hitam tersebut.
Pohon-pohon yang dia lewati tidak berbentuk semestinya. Ada yang batangnya hanya setengah saja, bahkan ada pohon yang melayang di udara. Semua keanehan itu terjawab saat Alfeus menemukan dua wanita di balik hutan.
Sang Kematian tertusuk dengan tombak emas milik Sang Mimpi di bahu dan pahanya. Sehingga mengunci gerakannya yang menjadi terbatas. Sementara Sang Mimpi kesusahan saat berdiri sambil memegang sebagain wajahnya yang seperti tergerus oleh api hitam.
Sang Mimpi tidak berakhir begitu saja hanya karena sebagian wajahnya terbakar. Dia memunculkan sebuah pedang besar yang disatukan dengan ornamen emas di punggungnya. Ornamen itu membuat pedang yang tampaknya biasa saja menjadi berkilauan warna emas penuh kemewahan. Ukiran abstraknya tidak hanya memenuhi gagangnya saja tapi juga bilahnya.
Wanita itu lalu berlari karena sayapnya sudah disatukan dengan pedangnya, menuju adiknya yang tak bisa bergerak lagi. Pada akhirnya, pedang itu tidak berhasil menyentuh Sang Kematian karena seorang manusia yang muncul tepat di antara mereka.
Manusia itu tampak berdiri di depan Erida sambil merentangkan tangannya ke samping. Tatapannya yang bersungguh-sungguh, membuat Sang Mimpi harus berhenti melanjutkan niatnya.
__ADS_1