
"Jika pertanyaanmu mengandung sarkas aku tidak akan menjawabnya."
Pria itu mengabaikan sang wanita dan lanjut memberikan roti yang masih hangat tersebut.
"Kau manusia yang lucu?" Alfeus berhenti melangkah. "Kau menolak menjawabku, tapi sejujurnya kau tidak bisa menjawab pertanyaanku, kan?"
Alfeus berbalik kembali menghadapi wanita itu. Tatapannya berbeda dari sebelumnya. Ada kesan seolah dia marah namun tidak menggunakan amarahnya. "Kau salah. Aku memiliki jawabannya. Hanya saja aku tidak akan menjawab pertanyaan dari orang yang menganggap remeh perbuatan orang lain."
"Kalau begitu, apa jawabanmu, Tuan Ksatria?"
"Karena itu tugasku, aku tidak memiliki pikiran untuk mempermasalahkannya. Kebaikan yang dipaksakan lebih baik daripada tidak pernah sekalipun berniat untuk melakukan kebaikan. Apa kau tidak melihat itu sebagai hal yang wajar, nona?"
"Mungkin. Aku sendiri bukan sosok yang sempurna."
"Jika para dewa melihatku sekarang, mungkin aku aneh bagi mereka. Tapi, aku berpikir jika kehidupan ini, kehidupan yang kujalani, semua yang ada di dunia ini adalah hal yang dipaksakan. Para dewa hanya menciptakan kebaikan dan keburukan saja, agar manusia bersikap salah satu di antara dua itu. Tidak bisa memilih pilihan ketiga. Paksaan itu menjadi sebuah konsep untuk mengerucutkan atau membuat jalan agar tidak semakin beraturan. Bagaimana jika ada banyak jalan seperti labirin, akan ada banyak orang yang tersesat, bukan?"
Wanita itu terdiam mendengar jawaban dari Alfeus.
"Ah, jawabanku aneh, ya? Maaf, lupakan saja. Intinya aku tidak masalah jika melakukan kebaikan karena tuntutan tugas."
"Tidak. Jawabanmu sungguh menarik," balas wanita itu.
Wanita itu kemudian terdiam lagi. Alfeus menganggap diamnya wanita itu sebagai akhir dari percakapan. Daripada terus-terusan bertatapan secara canggung, pria itu memilih untuk melanjutkan pekerjaannya saat itu.
Di pinggir jalan yang suram, dengan langit mendung seakan bersedih dengan keaadaan dunia, para warga yang tidak memiliki rumah serta yang terkena sakit akibat wabah, semuanya berkumpul. Terbaring penuh derita dan dingin. Karena itu, secuil roti hangat dan kain yang menutupi tubuhnya sudah membuat mereka merasa hidup kembali. Kebaikan dari seseorang sangat dibutuhkan saat-saat seperti ini.
Matahari menutup cahaya dengan awan sehitam malam, bahkan lampu jalan masih kurang untuk menerangi seluruh kota yang sedang terpuruk. Tidak ada cahaya berarti tidak ada harapan. Hasil panen terus berkurang. Rumput semakin tidak segar, membuat para hewan ternak mati kelaparan. Jika ada satu apel saja yang tumbuh di satu pohon, maka sudah menjadi rebutan satu kota.
Tidak heran jika sepanjang tahunnya, rumah sakit tidak mampu menampung lagi hingga memaksa pasiennya di letakkan begitu saja di pinggir jalan atau dibuang ke luar. Kuburan serta tempat untuk menyimpan mayat sudah penuh. Bukanlah hal yang aneh jika di selokan atau di depan rumah ada mayat yang tergeletak, saking tidak bisa lagi menampung mayat dengan benar. Penyebaran wabah semakin menjadi-jadi melalui mayat tersebut.
Ada yang bilang ini karena serangan biologis musuh, ada juga yang menyalahkan pemerintahan dibalik konspirasi ini. Peperangan yang terus melanda membuat para dewa murka, dengan memberikan penyakit dan menutup matahari. Ada juga yang percaya, kekacauan ini karena Sang Kematian turun ke dunia.
__ADS_1
Kematian itu sendiri adalah sosok yang paling ditakuti. Setiap langkahnya membuat tanaman layu, tanah retak, dan air menghitam. Nafasnya menciptakan aroma yang sangat busuk hingga dapat meracuni udara dan membunuh orang-orang yang menghirupnya. Katanya, mata tajam dengan warna merah darah. Bagi siapapun yang bertatapan dengannya, akan mati seketika. Namun, yang lebih mengerikan dari semua itu adalah senjatanya. Sebuah sabit yang digunakan oleh Sang Kematian untuk mencabut jiwa orang-orang.
Setiap kota yang dia lalui, pasti ada saja yang menyalahkan Sang Kematian atas bencana yang menimpa. Mengutuk kematian karena telah merebut keluarganya. Menantang kematian untuk membuktikan dia tidak akan tunduk pada Sang Kematian.
Dia hanya bisa tersenyum saat mendengar dan melihat semua itu di setiap kota. Dia tidak menganggap mereka sepenuhnya salah. Tugas Sang Kematian ialah membawa jiwa orang yang sudah mati ke alam selanjutnya, penyebab kematian yang sebenarnya adalah faktor eksternal yang dilakukan manusia itu sendiri. Tetap masih ada hal yang benar, dimana adanya kondisi kematian itu dikarenakan eksistensi dari Sang Kematian.
"Bagaimana menurutmu soal kematian? Apakah kau takut pada kematian?" Wanita itu tidak berhenti. Dia bertanya lagi kepada Alfeus yang pekerjaannya kembali terhenti.
"Saran dariku, nona. Jika kau ingin mengobrol dengan seseorang, setidaknya beri mereka pertanyaan yang normal. Tapi, untuk menghargai niat nona. Aku akan menjawabnya."
Dinasehati oleh seorang manusia, ini adalah pengalaman yang paling menarik dalam hidupnya selama eon. Inilah yang dia harapkan saat kembali menginjakkan kaki di dunia manusia.
"Jika kau bertanya padaku apakah aku takut mati, jawabannya tidak. Aku adalah seorang ksatria. Kematian sudah menjadi hal yang sangat dekat padaku. Kematian bukan sesuatu yang harus dibanggakan. Tapi, bagi seorang ksatria sepertiku, aku rela mati demi melindungi orang-orang yang kusayangi. Aku tidak akan menghakimi takdir atas matinya jiwaku. Aku menganggap kematian sebagai puncak kejayaan dalam hidup."
Mata putih itu berkilau penuh kesungguhan dalam angin penderitaan kota. Tak ada aroma bohong atau palsu. Karena yang sekarang bicara adalah hatinya.
Jawaban tersebut membuat sang wanita berjubah tersenyum. Dia lalu berjalan melewati Alfeus yang berdiri diam seperti patung. Wajahnya masih tidak tampak tapi tercium aroma seperti aseton yang sangat kuat hingga menusuk hidung Alfeus.
"Apa kau berhasil menyelesaikan tugasmu, Tuan Beffor?" tanya sang wanita.
Pria itu sedikit kebingungan, tapi menjawab, "Tidak. Tidak ada orang yang mempercayaiku. Kenapa semua orang tidak ada yang percaya padaku?"
"Mereka percaya apa yang sudah dipercayai sejak dulu."
Pria itu terdiam bukan karena jawaban dari wanita tersebut, tapi karena dia melihat wajah yang tersembunyi dibalik jubah. Sebuah wajah menawan dengan kulit putih pucat dan mata yang semerah delima. Bibirnya membentuk sebuah senyuman yang menenangkan, seakan melepaskan semua rasa pahit dan beban di tubuh pria itu. Tatapan yang wanita itu berikan sangat dalam hingga berhasil menyentuh dan melelehkan hatinya yang sudah mengeras.
"Maaf, apa aku mengenalmu?" tanya sang pria.
Hanya dengan senyuman dari wanita di hadapannya, Beffor sudah paham. Perlahan wajahnya menjadi muram. Wanita itu mengulurkan tangannya untuk digapai oleh sang pria, tapi dia menolak untuk percaya. Saat melihat ke belakang, Beffor melihat dirinya sendiri duduk meringkuk di tembok, tak bergerak dan tak bernafas sekalipun.
Beffor tahu bahwa hidupnya telah berakhir saat itu juga, tapi entah mengapa dia merasa begitu lega. Dia tidak gelisah, panik atau merasakan takut sedikitpun. Sebaliknya, dia merasakan kebahagiaan. Kedamaian di hatinya seperti melihat sebuah cahaya harapan di depan matanya. Nafas pertama yang dia lepaskan adalah nafas kelegaan. Dia tersenyum lalu meraih tangan wanita tersebut dengan hati yang ikhlas.
__ADS_1
Tidak ada perasaan lain yang mengganggunya saat ini. Tujuan sebelumnya yang hanya sibuk ingin melawan gereja sudah lenyap. Dia tidak perlu memikirkan apapun lagi. Walaupun memang ada perasaan sedih, tapi dia tidak larut dalam kesedihan itu. Senyuman wanita itu membuatnya menjadi pribadi yang tenang dan penuh kedamaian.
Dia menerima uluran tangan sang wanita sambil tersenyum lembut. Setelah itu, dia menghilang. Menuju ke alam selanjutnya. Dan apapun tujuannya, itu sudah takdir yang tak dapat diubah.
"Apa yang barusan terjadi? Si-siapa kau?" Alfeus yang melihat semuanya merasakan kebingungan. Tidak tahu apa yang terjadi, sekaligus tidak tahu harus bersikap seperti apa.
"Apa itu pertanyaan sarkas? Padahal, aku sudah memperlihatkannya padamu sangat jelas," jawab wanita itu yang membelakangi Alfeus.
Apa yang Alfeus lihat sekarang, bukanlah manusia. Dia sangat yakin akan hal tersebut. Sesuatu yang diluar batas normal. Sesuatu yang sangat kuno. Keberadaannya dan pengalaman bertatapan dengannya bisa dibilang adalah suatu mukjizat. Alfeus bisa merasakan bahwa dia sedang berdiri di depan makhluk agung.
"Kau yang dikatakan mereka? Sang Kematian?" Wanita itu tersenyum saat Alfeus akhirnya sadar. "Apa yang kau inginkan?"
Banyak orang berkata, atau mungkin sudah menjadi hal yang umum jika Sang Kematian menampakkan dirinya itu berarti kematian akan datang pada siapapun yang ditampakkan olehnya. Jika memang seperti itu takdirnya, Alfeus tidak bisa dan tidak ingin untuk menolaknya. Dia melihat langit dan berkata dalam hati, apakah ini sudah akhirnya?
Memang masih banyak yang ingin dilakukan oleh Alfeus dalam hidupnya, tapi sekarang itu sudah berakhir. Hanya menjadi mimpi yang telah usang di masa lalu.
Alfeus yang sudah mengikhlaskan takdirnya mendekati Sang Kematian sambil mengulurkan tangannya.
Sang Kematian itu heran. "Apa yang kau lakukan?"
Alfeus sama herannya setelah ditanyai seperti itu. "Kau tidak akan mengambil jiwaku?"
Sebuah tawa yang lepas dan manis tampak dari wajah pucat seorang wanita. Tudungnya yang sebelumnya menutupi seluruh wajahnya, kini terbuka, mengungkapkan misteri yang tersembunyi pada sang pria. Sang Kematian tampak menyukai manusia tersebut, hingga tawanya terlihat begitu hidup.
"Hanya kau satu-satunya manusia hidup yang ingin mati."
Matanya terbuka. Tampak warna merah delima dengan pola-pola hitam yang berkilauan seperti pada berlian. Garis hitam di luar warna merah seperti mempertegas tatapan wanita tersebut. Itu bukan mata darah seperti yang ditakutkan para manusia, tapi mata merah indah yang gemilauan meski tanpa cahaya. Alfeus diam terpesona seperti melihat titik terang di lorong yang gelap.
"Jika aku masih hidup? Lalu, apa yang kau inginkan dariku?" tanya sang pria.
"Walau kita baru pertama kali bertemu dan berbincang, namun aku sudah tertarik padamu. Aku ingin memberimu penawaran yang sangat menarik. Jadilah ksatriaku." Sang Kematian memberikan senyuman ramah pada seorang manusia yang dia sukai. Bagi Sang Kematian, manusia di hadapannya bukanlah manusia sembarangan. Dia percaya manusia itu akan memberikannya pikiran yang baru.
__ADS_1