
Ashnard langsung mendekati teman-temannya di sisi lain arena. Dia menuju mereka dengan perasaan lega melihat teman-temannya masih baik-baik saja.
Namun, tatapan yang mereka berikan, terutama Roc seolah tidak senang dan keberadaan Ashnard sekarang. Padahal tujuan Ashnard baik. Namun, tampaknya mereka tidak suka dengan tujuan Ashnard tersebut.
"Kau yang memanggilnya, bukan?" tanya Roc, menatap tajam pada Ashnard dan tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.
"Tidak. Dia datang sendiri ke sini-"
"Tapi, kau meminta bantuannya untuk mengalahkan Haidon, bukan? Itu sama saja! Aku tidak tahu kenapa kau melakukan ini?"
Justru sebaliknya. Ashnard tidak mengerti kenapa teman-temannya sampai memihak yang salah dan kenapa mereka mengabaikan niat baiknya yang hanya sekedar ingin menolong mereka. Ashnard jadi bertanya-tanya, apakah seharusnya dia benar-benar tidak mempedulikan teman-temannya sama sekali dan bersikap dingin layaknya batu es yang tidak bisa tergoyahkan.
"Aku tidak tahu siapa yang egois di antara kita. Tapi, sebaiknya kau mundurlah! Kau tidak bisa bertarung!" ucap Ashnard lebih seperti mengusir Roc yang paling lemah daripada dirinya.
Ucapan Ashnard semakin membuat hati Roc kepanasan. Dia benar-benar merasa panas sekarang meskipun selama ini dia tidak pernah merasakan apapun melihat kondisinya yang merupakan seorang jiwa. Tapi, dia panas oleh amarah.
Di pikirannya, Roc sudah memukul Ashnard berkali-kali dan membuatnya tak berdaya. Namun, di kenyataannya dia tidak melakukan apapun. Dia seperti seekor kucing kecil kurus yang melihat kucing besar merebut makanan darinya. Dia hanya bisa melihat tanpa melakukan perlawanan. Karena dia sendiri tahu tanpa harus membuktikannya, bahwa dia pasti akan kalah jika berusaha merebut makanan itu dari sang kucing besar. Itulah yang Roc rasakan sekarang.
Ashnard kemudian beralih ke Ein dan memberikannya tongkat sihirnya. "Ein, dengar. Saat ini kita harus bertarung untuk bertahan. Apa kau tak ingin melakukan perlawanan dan mati sia-sia sehingga membuat Ibumu sedih?"
Ein mengambil tongkat, tanpa mengucapkan satu katapun. Ucapan Ashnard seperti menusuk tepat di hatinya. Membuatnya berpikir kembali untuk melakukan tindakan yang tepat.
Tepat saat Ein mengambil tongkatnya, penjagal bangun kembali dan tampak semakin marah.
Rencana singkat dan mendadaknya adalah Ashnard dan Ein akan melawan penjagal sementara Alfeus akan melawan Haidon. Rencana yang sederhana dan mudah dimengerti. Intinya mereka harus melawan penjagal sekuat tenaga.
Memang sulit tapi hanya itu yang bisa mereka pikirkan. Apalagi, mereka hanya mengetahui kalau penjagal cukup kuat, dan mungkin ada di tingkatan yang dekat dengan Haidon, selain itu tidak ada yang bisa mereka dapatkan. Rencana mereka bisa dibilang cukup beresiko.
Karena hanya begitu saja yang Ashnard perlu jelaskan, Ein berimprovisasi. Dia menggunakan tongkat sihirnya membuat sebuah lingkaran biru di udara. Lingkaran tersebut yang awalnya hanyalah cahaya menjadi bentuk padat. Ein menerbangkan lingkaran itu ke penjagal, dan seketika lingkaran itu membentuk sebuah bola utuh yang memenjarakan penjagal di dalamnya.
Ashnard menatap Ein seolah menanyakan apakah dengan begitu saja sudah berhasil atau tidak. Ein dengan wajah datarnya membalas mengangkat bahunya. Dia juga tidak tahu.
__ADS_1
Hanya sebentar Ashnard berpikir situasinya aman, bola itu bergetar. Seperti ada tekanan dari bagian dalamnya. Lalu, bola itu pecah seperti balon akibat amukan dari penjagal. Pecahannya lenyap menjadi butiran cahaya di udara.
"Apa ... kalian ... menghalangiku ... juga?" Penjagal bertanya sambil mengarahkan pedang besarnya ke Ashnard dan Ein.
"Tidak. Jika kau berhenti," balas Ashnard.
"Aku ... tidak ... akan ... berhenti."
Jika itu jawabannya, Ashnard mau tidak mau harus mengangkat senjatanya dan menghadapi penjagal secara langsung. Satu-satunya pilihan yang ada adalah pilihan yang terbaik dalam kondisi seperti ini.
Saat itu, Ashnard tahu bahwa kemungkinannya sangat besar dia kalah dari penjagal. Dia tak membawa pedangnya dan satu-satunya senjata yang bisa dia andalkan adalah elemennya. Tongkat sihir ibu Ein jadi tak berguna di tangannya karena tidak ada satu sihir pun yang belum Ashnard kuasai sampai sekarang.
Ashnard juga hanya bisa bergantung pada Ein yang lebih tahu soal sihir daripadanya. Yang dimana biasanya penyihir ada di garis belakang dalam sebuah pertarungan, kali ini justru penyihir yang ada di depan sebagai tameng.
Ein berulang kali membuat perisai sihir untuk mencegah serangan penjagal. Serangan yang makhluk mengerikan itu berikan sangat berat dan terus berulang-ulang dilakukan. Seperti raksasa yang sedang memecahkan gunung hanya dengan pukulannya saja.
Ein memang terlihat tak mampu bertahan lagi di mata Ashnard, tapi bukan berarti dia akan melepaskan sihirnya dan menyerah. Tongkat yang dia arahkan ke depan untuk menciptakan perisai sihir bergetar. Cahaya yang ada di lingkaran cincinnya berpendar seperti akan memperingatkan sesuatu. Secara perlahan, perisai sihir yang awalnya hanya sebuah lapisan lingkaran berwarna biru transaparan muncul sebuah tulisan yang melingkar beserta simbol tiga segitiga di tengahnya.
Tapi, untuk mengimplementasikan aspek dari simbol tersebut diperlukan yang namanya segel pembuka. Segel pembuka tersebutlah yang berupa huruf kuno yang mengelilingi lingkaran. Hurur-huruf ini yang memicu terciptanya sihir sesuai dengan yang diinginkan penggunannya. Seperti perintah.
Setelah semua persyaratan dalam lingkaran sihir beres, otomatis semua simbol dan huruf aktif dengan sendirinya. Bergerak seperti ada mesin kecil di baliknya.
Tidak hanya bergerak, ketiga simbol segitiga itu bercahaya. Dari cahaya itu, muncul lah tiga energi yang keluar dari simbol segitiga. Api, angin, dan air. Ketiga energi itu menyatu dan menjadi sebuah sinar energi berkekuatan besar yang menembus tidak hanya dada penjagal, tapi juga menghancurkan tembok menara bagian dalamnya.
Kekuatan energi yang cukup besar itu menjadi banyak perhatian mereka yang ada di sekitar arena ataupun yang sedang menonton di tempat aman.
Setelah mengeluarkan energi sihir yang begitu besarnya dalam sekali serangan, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Ein sudah kehabisan tenaganya sekarang. Kedua kakinya sempoyongan, tak sanggup menopang tubuhnya. Melihat penjagal yang mematung dengan lubang di dadanya, Ein merasa sudah selesai.
"Ashnard ... tangkap aku," lirih Ein yang sudah tidak kuat lagi. Sihir pelindungnya pecah saat dia menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Dengan waktu yang tepat, Ashnard menangkap tubuh Ein dari belakang.
Ashnard berhasil menyelamatkan gadis yang sudah berusaha keras dari rasa sakit akibat benturan. Meskipun seharusnya, roh tidak bisa merasakan rasa sakit yang sama dialami saat di dunia nyata. Terlepas dari kenyataan itu, Ashnard telah berhati baik dengan tetap menangkap Ein.
__ADS_1
"Hehe, kau menangkapku. Suamiku memang hebat," ucap Ein. Ada sedikit lengkungan di ujung bibirnya, meskipun tidak terlalu jelas. Namun, masih bisa dihitung sebagai proses untuk bisa tersenyum.
"Aku bukan suamimu. Meskipun tadi itu sangat keren, tapi aku tidak tahu kenapa kau sampai mengorbankan semua tenagamu," balas Ashnard memujinya dengan hangat.
"Aku memang tidak memikirkan apapun. Tapi, menurutmu aku tadi keren saja sudah membuatku bersyukur. Terima kasih. Dadaku terasa hangat karena ucapanmu, atau mungkin karena dipegang oleh tanganmu."
Ashnard yang baru sadar, dengan panik langsung menurunkan tangannya yang telah memegang sesuatu yang tidak seharusnya dia pegang. Dia merasa bersalah karena mengira hal yang empuk itu adalah bagian tubuhnya yang lain.
"Maaf, maaf. Aku tak sengaja. Sungguh!"
"Aku tidak tahu kau ingin melakukannya sekarang. Tapi, maaf, aku harus menolaknya dengan berat hati. Aku sangat kelelahan sekarang."
"Hei! Sudah kubilang, aku tidak sengaja! Kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu di kondisi seperti ini dengan wajahmu yang datar?"
Ein menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.
"Apa maksudnya itu?" tanya Ashnard sedikit meninggikan suaranya.
Ein menengok ke belakang seperti ingin menunjukkan kebingungannya pada Ashnard. "Aku tidak tahu kenapa kau sangat memaksa hari ini. Jika kau memang tak bisa menahan diri, kau boleh memegang dadaku sekarang." Ein tiba-tiba mengambil kedua tangan Ashnard dan meletakannya di dadanya.
Sontak, Ashnard langsung menarik diri dan melepaskan Ein. Membiarkan Ein tertidur di lantai arena yang berdebu dan penuh pecahan kerikil dari dinding.
"Aku tidak bilang itu! Dan apa yang membuatmu berpikir aku menginginkannya?" heran Ashnard. "Katakan padaku jika kau bukan salah satu orang yang mesum."
Ein yang terbaring di lantai tak berdaya seperti mayat, menatap ke atas, ke arah Ashnard yang berdiri. "Tidak apa berbuat mesum pada pasanganmu sendiri, khususnya kita sudah menjadi pasangan suami-istri. Seharusnya wajar."
"Sudah kubilang padamu, aku bukan suamimu!"
Ketika mereka bertengkar, pertarungan yang disangka mereka sudah selesai, nyatanya tidak. Makhluk besar di depan mereka tiba-tiba bergerak secara kaku. Seperti boneka yang digerakkan dengan mesin. Penjagal bergerak kembali dan kini menatap Ashnard dan Ein dengan nafsu membunuh yang lebih kuat. Langkahnya yang patah-patah, perlahan kembali normal sambil mengayunkan tangannya yang memegang pedang.
Penjagal semakin mendekati Ashnard yang menyeret Ein ke belakang arena. Meskipun ada lubang di dadanya, tapi makhluk itu tak menunjukkan tanda-tanda sekarat sama sekali. Ini membuktikan bahwa dia adalah makhluk yang abadi.
__ADS_1