The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Pagi Penuh Kejutan


__ADS_3

Ashnard sudah bangun sejak awal, tapi ia tak bisa berdiri hanya karena Liliya yang masih tertidur di pundaknya sambil memeluk lengannya.


Sementara yang lainnya juga masih tertidur, ada Roc yang selalu menemani Ashnard. Di kamar hitam nyamannya, ia tak merasakan kelaparan atau ngantuk. Ia tidak bisa tidur. Juga tidak ada yang bisa Roc lakukan di sana selain melihat atau mendengar saja. Ashnard tak bisa membayangkan betapa bosannya jika dirinya yang ada di sana.


Oleh karena itu, ia mengajak Roc mengobrol untuk menghabiskan waktu.


"Jadi, pertama kali kesadaranmu kembali saat aku berlatih dengan Ozark?" tanya Ashnard.


"Ya, itu yang kukatakan."


Roc berbaring sambil bersandar dengan tangannya, menghadap Ashnard yang duduk bersila.


"Sebenarnya, aku masih tidak paham dengan semua ini. Bagaimana kau bisa ada di sini, bagaimana aku ada di sini, bagaimana ada ruangan ini, tapi apa kau tidak keberatan?"


"Tidak, aku tidak keberatan."


"Apa kau yakin?"


"Tentu saja keberatan, dasar bodoh!" sergah Roc. "Sudah kubilang sejak awal, seharusnya aku yang mendapatkan tubuh itu di luar sana. Kau itu hanya penyusup. Orang yang tak di undang."


"Aku tahu, aku minta maaf karena telah merebut darimu. Aku bahkan tidak bisa mengendalikannya."


"Yah, terserah. Mau bagaimana lagi, nasih sudah menjadi bubur."


"Jika bentukmu yang sekarang ini adalah jiwa, itu berarti tubuhku ini memiliki dua jiwa, kan?" Ashnard memastikan sekali lagi.


"Ya, terus kenapa?"


"Jadi, itu seperti kepribadian lain, kan? Bukankah itu berarti kau bisa mengambil alih tubuhku?"


Roc menatap Ashnard seperti mendapatkan suatu pencerahan. "Itu ide yang bagus. Aku tidak pernah memikirkannya sebelumnya."


"Sungguh?"


"Tidak, bodoh! Jika aku bisa melakukannya, aku sudah pasti merebut tubuhmu sejak lama. Dan aku tidak akan memberitahukannya padamu. Kau tahu, seperti perebutan eksistensi antara dua jiwa."


"Kenapa kau kasar sekali? Apa kau belajar dari Reinhard?" sindir Ashnard.


Roc menelentangkan tubuhnya dan melihat ke atas. Ke langit yang tak berujung dan kosong. Tidak ada apapaun di atas sana, selain hitam. Tidak seperti pemandangan langit berbintang yang ia ingat di kehidupan sebelumnya.


Ketika dia mengeluh, ia teringat kembali dengan kenangan masa lalunya. Hatinya terenyuh saat melihat kondisinya sekarang ini.


"Awalnya, kukira aku adalah orang yang ditakdirkan menjadi orang Yang Terpilih. Ternyata aku hanyalah orang yang kurang beruntung saja."


"Lalu, sekarang bagaimana?" tanya Ashnard.


"Apanya bagaimana? Kau tahu, aku tidak bisa melakukan apapun, kan? Aku akan terus ada di sini dalam kesendirianku hingga kau tua nanti dan mati. Kau akan berkeluarga dan aku tetap sendiri. Saat aku mengasihani diriku sendiri, aku akan tersadar kalau sebenarnya aku hanyalah seorang penonton saja."

__ADS_1


"Aku akan membantumu," ungkap Ashnard.


"Anak yang baik," balas Roc cuek, seperti tidak ada semangat hidup dalam dirinya.


"Aku tahu aku tidak bisa menyerahkan tubuh ini karena sudah jadi milikku. Sudah menjadi bagian dari kehidupanku. Tapi, aku akan membantumu untuk bisa mendapatkan tubuh baru. Aku masih belum tahu caranya, tapi sampai saat itu tiba, tunggu lah aku."


Sesaat Ashnard mengutarakan tekadnya untuk membantu Roc, dia menghilang dan kembali ke kesadarannya. Roc tak membalas apapun, hanya bisa merenungi nasibnya. Meskipun begitu, masih ada harapan di hatinya.


Ashnard kembali dan melihat Reinhard dan Egon sudah bangun. Reinhard terlihat meregangkan tubuhnya dan Egon muncul meletakkan sejumlah roti lapis di meja Reinhard.


"Makanlah. Kalian membutuhkannya," ucap Egon.


Lengan Ashnard yang dipeluk oleh Liliya merasakan kelembutan dan kehangatan meskipun ada sedikit kesemutan. Tiba-tiba tangan Liliya mencengkeram lengan Ashnard sangat kuat. Jari-jarinya menekan lengan Ashnard seperti makhluk buas yang membenamkan cakarnya pada mangsanya. Ashnard meringis, menahan rasa sakit itu.


Lalu, terdengar ******* pagi Liliya disertai dengan kepalanya yang perlahan terangkat.


"Sudah pagi?" Liliya mencoba membuka matanya.


Liliya merasakan bahwa ia melalukan sesuatu yang aneh. Saat matanya terbuka dan bisa melihat dengan jelas, ia tersadar kalau sedang memeluk lengan Ashnard selama tidurnya.


Sontak wajahnya langsung memerah. Ia melepaskan lengannya dan menutup wajah merahnya.


"M-maaf," gumamnya. "A-aku tidak sadar melakukannya."


Ashnard tertawa karena mengira Liliya memang berniat melakukannya. "Ah, tidak masalah."


Ashnard bangkit dan menepuk pakaiannya dari debu. Lalu, ia menjulurkan lengannya untuk Liliya.


"Apa lenganmu baik-baik saja?" tanya Liliya sedikit malu-malu.


"Tidak pernah lebih baik," jawab Ashnard dengan penuh semangat.


Setelah itu, Gerlon yang terakhir bangun, seperti biasa. Ia terkejut saat melihat yang lainnya sudah duduk di meja makan dan menghabiskan roti lapis mereka.


Gubuk tua yang terlihat seperti tanpa harapan itu seketika menjadi ramai. Kehangatan dan keramaian yang anak-anak muda itu berikan seperti membersihkan atmosfir keputusasaan di gubuk dan juga Egon.


Ketika mereka saling berebutan di meja makan, Gerlon yang masih kesal karena tidak di ajak, Liliya yang tersedak makanan, Ashnard dan Reinhard yang saling beradu mulut membuat meja dan seisi ruangan kacau.


Ini adalah hal yang baru bagi Egon. Apalagi selama ini dia selalu sendirian di gubuknya. Makan sendiri dan tidur sendiri. Tanpa ada acara rebutan terlebih dahulu. Namun, ketika bocah-bocah yang ia anggap nakal justru memberikan kehangatan dan kenyamanan baginya. Inilah yang sudah hilang di gubuk maupun Egon sejak lama.


Tapi, tetap, kekacauan tidak akan terselesaikan sendiri. Egon memarahi Ashnard dan yang lainnya, dan menyuruh mereka membersihkan seisi ruangan yang kotor.


"Si Egon penggerutu kembali lagi," gumam Ashnard menyindir sebelum Liliya menepuk kepalanya sedikit keras.


Kesegaran udara pagi lebih terasa bahkan saat di dasar lembah sekalipun. Di tambah, hari ini juga adalah hari libur, jadi kesegaran dan kesejukannya semakin terasa. Membawa kesenangan yang tiada tara sebelum akhirnya mereka harus memasuki hutan yang mencekam.


Rombongan Ashnard dan kali ini ditambah Egon, berangkat menuju ke dalam hutan untuk membuktikan keberadaan makhluk yang menyerang mereka tadi malam.

__ADS_1


Tampak seisi hutan yang terlihat lebih jelas oleh mata. Mereka sekarang dapat melihat dengan jelas di sekitar, sehingga dapat bersiap jika ada sesuatu yang muncul. Meskipun cahaya pagi ada di pihak mereka, mereka harus tetap waspada.


Saat mereka kembali ke tempat terjadinya serangan itu, tidak ada jejak kaki yang terlihat, semak-semak atau ranting patah sekalipun tidak ada. Seolah memang tidak ada apapun terjadi di sini.


Mereka sangat yakin bahwa tempatnya di sini. Posisi pepohonan dan semak-semak yang melingkar persis saat mereka berhadapan dengan makhluk yang bergerak sangat gesit tersebut.


"Ini seharusnya tidak mungkin. Tidak mungkin jejak kaki itu akan terhapus secepat ini. Kecuali ...." Gerlon berjongkok memeriksa kondisi tanah di sekitar. "Antara makhluk itu tidak nyata atau jejaknya dihapus oleh seseorang."


"Mungkin Erik atau Erlon," tebak Ashnard berbisik.


"Jika ada orang lain berkeliaran di sini saat malam, seharusnya aku sudah bertemu dengannya," ucap Egon.


Gerlon mengangkat bahunya. "Entahlah, namanya juga teori. Mungkin dia datang saat kita semua tertidur, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak."


"Aku tidak ingin akademi terlibat masalah dengan ini," harap Liliya, begitu juga semuanya mengharapkan yang sama.


"Percayalah. Tidak akan terjadi hal yang buruk," kata Egon meyakini Liliya.


Gerlon mengerutkan keningnya dan mulai berpikir akan sesuatu. Ia lalu bangkit dan mengajak semua orang termasuk Egon ke dinding jurang yang misterius.


"Ke mana?" tanya Egon.


"Ikut saja."


Mereka pun tiba di depan dinding jurang, di mana Ashnard langsung dapat merasakan luapan energi kegelapan yang lebih kuat daripada sebelumnya. Tidak hanya Ashnard, Liliya pun dapat di buat merinding oleh energi itu. Mengingatkannya kembali dengan atmosfir Jurang Kegelapan yang menyiksa.


"Apa kau tahu itu?" tanya Gerlon.


"Apa? Tidak ada apapun di dinding itu," jawab Egon.


Gerlon seketika menyeringai. "Aku tidak menyebutkan soal dinding."


"Tapi, kau membawa kami ke arah sini."


"Kurasa kau menyembunyikan sesuatu, Tuan Egon." Sontak semua sudut pandang mengarah ke Egon seakan menyudutkannya. "Kau bilang tahu semua hal yang terjadi di akademi. Itu berarti, kau tidak mungkin tidak tahu soal sesuatu di balik dinding ini, kan?" ucap Gerlon yang jelas-jelas mencoba melempar semua kesalahan ke pria tua itu.


"Kau tidak akan mendapatkan apapun di sini." Egon masih bersikeras.


"Kau sudah melanggar ucapanmu sendiri soal tahu segala hal di akademi dua kali. Yang pertama soal makhluk buas yang jelas menyerang kami dan yang kedua dinding ini. Beri tahu saja kenyataan, Tuan Egon, semua sudah terlihat jelas."


Egon masih memilih untuk menutup mulutnya. Meskipun para murid-murid itu mencoba untuk menyudutkannya, ia tidak akan kalah.


"Sudah cukup," kata Ashnard.


Ashnard yang sudah merasa muak, menghunuskan pedangnya. Ia menguatkan pegangannya dan memperkokoh kuda-kuda kakinya. Lalu, dengan sekali tarikan nafas, ia berkata, "Hoku, memanjang dan membesarlah."


Dalam sekejap, bilah pedang di tangan Ashnard membesar lalu memanjang hingga menerobos dinding itu dan menghancurkannya dengan mudah. Bilah itu kembali menyusut ke ukuran normalnya.

__ADS_1


Tidak ada yang melempar pandangan ke sebuah celah di balik dinding yang gelap, namun mereka semua tertuju ke Ashnard dan terkagum dengan kejadian yang tak di duga berasal dari Ashnard.


__ADS_2