
Ashnard ingat di tempat ini, dia dan Gerlon saling bercerita mengenai masalah pribadi mereka di akademi ini. Ashnard ingat bunyi ranting pohon dan daunnya yang berayun serta bunyi aliran sungai yang mengelilingi mereka seperti alunan musik yang menenangkan. Ashnard setuju dengan Gerlon dari saat itu hingga sekarang.
Melihat apa yang sudah terjadi membawa banyak perubahan pada Ashnard. Tak hanya kesedihan saja yang dia rasakan, kekosongan, dan kesunyian sudah seperti bagian dari hidupnya sekarang. Jika dulu, Ashnard menoleh ke belakang akan melihat Gerlon yang tersenyum lebar dengan tatapan mencurigakannya, tapi sekarang hanya rumput kosong yang akan terus tumbuh karena tidak ada orang yang menggunakannya sebagai alas duduk.
"Jika suatu saat nanti aku harus berhadapan dengan Gerlon, aku akan melakukannya. Aku pastikan itu." Ucapan itu keluar dari mulut Ashnard yang setengah bersedih setengah bertekad.
"Lalu, bagaimana dengan Ibumu?" tanya snag gadis berkacamata yang penasaran.
Ashnard diam sesaat seperti sedang mendengarkan bisikan angin. "Aku percaya Ibuku masih hidup. Mereka hanya ingin membuatku kehilangan harapan, dan memutuskan gabung dengan mereka karena tak mempunyai pilihan lain. Aku tidak akan percaya dengan mereka sebelum aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."
Nina sudah menungggu waktu yang pas untuk mengatakan sesuatu pada Ashnard, tapi ketika suasana menjadi sedih seperti ini, Nina menjadi ragu. Seharusnya Nina lah yang menjadi sosok bagi Ashnard untuk menuangkan kesedihannya. Seharusnya Nina lah yang merangkul Ashnard dan memberikannya kenyamanan karena masih ada orang yang peduli padanya. Namun, Nina justru bersikap egois dengan mementingkan kebenciannya pada Ashnard.
Sudah terlalu lama dia mengabaikan Ashnard dan sekarang dia ingin peduli lagi. Nina menunjukkan bahwa tekadnya sudah bulat dengan menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskannya sebagai simbol dia membuang segala pemikiran negatifnya.
"Ashnard ...." Nina memanggil nama Ashnard lengkap sebagai tanda bahwa dia tidak ingin bersikap cukup dekat dengan Ashnard untuk sekarang. "... aku turut menyesal dengan semua yang terjadi padamu. Memang aku salah karena seharusnya aku menjadi orang menenangkanmu. Karena itu aku ingin meminta maaf sepenuhnya. Tapi, permintaan maafku tidak semudah itu. Besok kembalilah kesini, dan bertarung denganku."
Ashnard awalnya senang saat Nina berkata ingin memaafkannya, namun setelah dia lanjut mendengarkannya hingga akhir, laki-laki itu terkejut. "Bertarung denganmu?"
"Keluarga Nina mempunyai tradisi untuk menentukan dalam hal apapun melalui pertarungan. Bisa merebutkan makanan, kepemilikan barang, hingga posisi kepemimpinan. Dalam hal ini, jika Nina kalah, itu berarti dia mengakuimu sebagai orang yang layak untuk dicintai," jelas Eris.
Jika keluarga Asberion mengakui anggotanya dengan jumlah prestasi dan seberapa besar pengaruhnya, keluarga Vantalion menggunakan kekuatan. Siapapun yang menang dalam tradisi pertarungan maka akan diakui sesuai dengan hasil yang telah ditentukan sebelumnya.
Ashnard melihat itu sebagai harapan terakhirnya untuk kembali bersama lagi dengan Nina. Dia mengangguk, tidak akan mundur.
"Kau berjanji?"
Ashnard menjulurkan jari kelingkingnya sebagai tanda janjinya. Lalu, Nina juga menggunakan jari kelingkingnya dan melingkarkannya sebagai tanda dia menerima janji Ashnard.
Janji ini harus Ashnard pegang hingga akhir hidupnya.
***
"Kemungkinan, kau mengalami peningkatan gairah seksual yang cukup tinggi." Seorang guru yang sekaligus dokter menjelaskan kepada muridnya soal masalah yang sedang dia alaminya.
"Ga-gairah seksual?" Reinhard terkejut dengan matanya yang melotot seakan hampir keluar.
__ADS_1
Sementara, Liliya merasa bersalah karena mendengarnya. Dia seorang gadis dan seharusnya dia tidak mendengar pembicaraan pribadi seperti ini, jika bukan karena dipaksa oleh Reinhard.
"Aku bilang kemungkinan. Dari yang Liliya jelaskan mengenai perubahan sikapmu, nafas yang berat, tindakan yang agresif atau kasar, kontak mata yang dalam, banyak memberikan sentuhan, serta perilaku mencium pasangan yang intens. Itu semua adalah tanda kau sedang bergaira-"
"Se-sepertinya dokter salah. A-aku tidak mungkin seperti itu!" desak Reinhard. Tak sengaja menatap Liliya, wajah kedua orang itu langsung memerah dan menundukkan kepala mereka.
"Aku belum selesai. Seperti yang kubilang, kau memang memiliki kondisi seperti yang sudah kuucapkan barusan. Namun, kehilangan ingatan bukan salah satunya. Apalagi kau sedang tidak dalam keadaan mabuk," sambung sang dokter.
Nafas lega akhirnya bisa Reinhard embuskan setelah mendengarnya, tetapi dia justru semakin penasaran. "Jadi, apa yang sebenarnya terjadi denganku?"
"Sayangnya, aku masih belum menemukan jawabannya. Kembalilah kesini jika ada sesuatu yang aneh dengan tubuhmu. Lalu, untuk Liliya, jangan terlalu jauh darinya. Awasi Reinhard dan segera bawa ke tempatku. Kusarankan kau tidak menerima dan menikmati perilaku yang Reinhard berikan padamu. Mengerti?" Dibalik kacamatanya, Nora menatap serius ke Liliya yang tertunduk malu.
"A-aku mengerti."
"Walaupun kalian sudah dewasa untuk melakukan itu dan aku tidak berhak untuk melarang hubungan kalian, tapi hingga kita tahu apa penyebabnya, kalian harus bersabar."
Liliya keluar masih menundukkan kepalanya seolah tak ingin melihat dirinya percaya diri lagi setelah ditegur secara halus oleh Dokter Nora. Dia merasa bersalah karena saat Reinhard secara tak sadar menciumnya, dia justru menikmatinya dan menganggap itu hal yang harus dilakukan. Saat itu, sebenarnya Liliya sudah sadar akan keanehan pada diri Reinhard, tapi dia tidak mempedulikannya dan bertindak hanya berdasar keinginan pribadinya.
Sementara Reinhard yang menyusulnya di belakang, keluar dengan wajah yang lebih bahagia daripada saat masuk. Dia lega karena terungkap bahwa gejalanya bukanlah karena hawa nafsunya saja. Dia juga tidak ingat telah mencium Liliya dan melakukan perbuatan yang tidak senonoh. Dia merasa tidak bersalah karena bisa dibilang yang bersikap agresif pada Liliya bukan dirinya, melihat kondisi Reinhard yang linlung setelahnya.
"Mau ke mana?" sergah Liliya kesal. "Kalau kau ingin membawaku kembali ke gudang, aku akan memarahimu!" rengut Liliya.
"Kau kira aku orang mesum? Tidak. Aku mengajakmu ke kantin. Ini sudah sore dan aku belum makan siang."
"Aku tak masalah kalau ingin pergi ke kantin, tapi tidak usah menyentuhku." Liliya berjalan mendahului Reinhard sambil memalingkan mukanya.
Reinhard mempercepat langkahnya sehingga bisa menyusul Liliya. "Apa kau masih marah soal aku tak ingat apapun?"
Liliya masih menolak untuk menjawab. Bahkan saat di kantin, saat menunggu makanan hingga selesai makan pun Liliya masih bersikap cuek ke Reinhard. Dia tak berkata makanannya enak, suasana sore harinya cerah, atau apapun. Hal itu semakin membuat Reinhard cemas.
"Kalau kau masih bersikap seperti ini, ya sudah. Aku akan pergi," balas Reinhard dengan sikap cueknya.
"Tunggu!" cegah Liliya, mengakui kekalahannya. Dia mendesah kesal. "Duduklah, aku akan menjawab pertanyaanmu."
Sikap Liliya yang cuek seperti ini mengingatkan Reinhard dengan Wilia yang dulu. Reinhard sudah biasa dengan sikap cuek Wilia, tapi saat Liliya yang bersikap seperti itu dia merasa aneh.
__ADS_1
"Kau ingin tahu alasanku mengabaikanmu, kan?"
Reinhard kembali duduk di kursi, dan mencoba mendengarkan baik-baik.
"Dari yang pertama, karena kau tiba-tiba menciumku. Kedua karena kau tiba-tiba lupa. Ketiga karena kau justru bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa sementara aku yang terus kepikiran. Bagaimana, kau sudah mengerti?"
"Ohh, maaf ...." Reinhard merasa malu saat menyadarinya dia bersikap kekanak-kanakan padahal dia sendiri yang telah berbuat salah.
Melihat tingkah konyol Reinhard, Liliya tak bisa terus menerus memarahinya. "Dasar! Dokter Nora menyuruhku untuk mengawasimu. Jika kau mulai bersikap aneh, aku akan segera membawamu," tegasnya.
Langkah tegas Liliya untuk mengawasi Reinhard adalah pilihan yang tepat. Namun, yang dia tidak sadari adalah keanehan Reinhard muncul kembali saat dia terluka.
Saat itu, Liliya dan Reinhard ingin kembali ke asrama. Sebelum berpisah, bahu Reinhard tergores dengan ranting semak-semak yang tajam. Lukanya tidak terlalu lebar, tapi tetap masih ada darah yang mengalir.
Tepat sebelum Liliya pergi, Reinhard memohon pada Liliya untuk meminum darahnya. Karena Liliya merasa kasihan saat melihat Reinhard yang menderita dan meringis kesakitan. Liliya tak ada pilihan lain untuk memberikannya darah.
Mereka mencari tempat yang cukup sepi, tapi untungnya akademi saat itu telah mencapai pergeseran waktu sore ke malam. Sehingga hampir semua tempat tidak ada orang.
Liliya awalnya ingin membawa Reinhard ke klinik yang cukup privasi. Namun, saat perjalanan, Reinhard untuk yang kesekian kalinya menarik Liliya dengan paksa dan membawanya ke ruang kosong yang lain. Ruang yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan berbagai macam peralatan akademi.
Liliya sadar bahwa saat ini gejala aneh Reinhard kembali, namun dia terlambat menyadarinya. Dia menyadari ketika dia sudah ada di lantai sementara Reinhard ada di atasnya. Pupil matanya yang membesar dan nafasnya yang terengah-engah seperti memberi tahu Liliya bahwa dia akan berakhir seperti sebelumnya.
Liliya semakin tak bisa memberontak saat kedua tangannya di tahan ke lantai. Liliya langsung takluk dengan cara Reinhard menciumnya. Namun, tidak hanya di bibirnya, bahkan Reinhard turun hingga ke leher.
Apa yang Liliya rasakan saat ini bukan sensasi geli di lehernya, tapi bagaimana darahnya terasa sangat panas seperti air yang mendidih. Karenanya, ikut membuat jantungnya berdetak sangat kencang.
Semua momen intens itu memuncak saat ada rasa sakit dan darah mengalir dari lehernya. Reinhard menggigit leher Liliya hingga berdarah, lalu menghisapnya dengan puas.
Ada perasaan yang campur aduk saat Reinhard menghisap darah di lehernya. Namun, terlalu banyak rasanya darah yang Reinhard hisap, hingga Liliya merasa sedikit lemas.
Lelaki itu sadar kembali. Dan sama seperti sebelumnya, dia bingung dengan apa yang dilihatnya. Reinhard yang panik saat melihat darah di leher Liliya dan mulutnya langsung mundur hingga menabrak dinding di belakangnya.
"Li-Liliya ... su-sungguh aku tidak tahu ...."
Luka Liliya memang menutup kembali karena kekuatannya, tapi wajahnya yang merah menggambarkan semua perasaannya, malu, marah, kesal.
__ADS_1
"Aku membencimu," gerutu gadis itu.