
"Apa!? Aku tidak boleh masuk?" Ashnard terbeliak tak percaya setelah mengetahui bahwa ia tidak boleh mengikuti kelas sihir dikarenakan nilai kelayakannya.
"Ya, kau dan Tuan Gerlon," kata guru wanita bernama Lorna. "Yang boleh mengikuti kelas sihir setidaknya memiliki nilai Mesis. Kalian berdua mengerti?"
"Lalu, bagaimana caraku belajar sihir kalau nilaiku tidak mencukupi?" tanya Ashnard.
"Suruh siapa kau tidak serius bertarung, dasar bodoh," ejek Reinhard yang kemudian disikut oleh Liliya. Reinhard masuk ke dalam ruangan kelas sambil tersenyum mengejek.
"Kan aku sudah bilang kau harus melawanku dengan sungguh-sungguh. Kalau aku kalah, nilaiku tidak akan berkurang, tapi kalau kau kalah, kau tidak akan mendapatkan nilai," jelas Liliya.
"Baiklah, semua murid sudah masuk. Kita akan mulai kelasnya."
Salah seorang murid berkata, "Ada satu orang yang tidak datang. Erik si anak desa tidak ada di sini."
Murid lainnya menyahut, "Tadi aku melihatnya pergi ke arah sebaliknya."
"Begitu ya. Baiklah, kita biarkan saja. Kita tetap harus melanjutkan kelas ini," ungkap sang guru.
Lorna berbalik dan menutup pintu untuk Ashnard dan Gerlon. Hanya kedua anak itu yang mendapatkan nasib sial. Ashnard yang sudah sangat berharap sekarang terangat amat kecewa.
Padahal, ia sudah sangat menunggu kelas sihir ini. Ia ingin belajar cara menggunakan sihir, selain belajar ilmu elemental. Tapi, apa daya, nasib berkata lain.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" rengek Ashnard, duduk merosot sambil memeluk kakinya.
"Kalau kau ingin belajar sihir, bagaimana kalau kita ke perpustakaan saja? Ada buku-buku tentang sihir yang kita bisa pelajari sendiri. Bagaimana?" ajak Gerlon.
Cahaya harapan kembali menyinari Ashnard dan terwujud dalam satu uluran tangan kawannya itu. Saat Ashnard meraih tangan Gerlon, ia percaya bahwa keberuntungan masih belum pergi darinya. Mereka meninggalkan kelas menuju perpustakaan akademi.
"Sihir adalah konsep buatan dari paduan beberapa unsur alam yang dapat diproyeksikan menjadi wujud nyata. Singkatnya sihir itu kekuatan buatan sedangkan elemental itu kekuatan alami."
Di depan para murid tahun pertama, Lorna membuka kedua telapak tangannya, dan seketika tercipta sebuah lingkaran ajaib yang mengambang di udara di atas telapak tangan wanita itu.
Lingkaran itu berputar dalam cahaya yang terang. Kemudian, terbentuk lingkaran kedua dengan ukuran yang lebih kecil di dalamnya. "Dengan memadukan sejumlah perangkat atau media, sebagai contoh aksara dan simbol kegunaan."
Kedua tangan wanita itu bermain di udara, di antara lingkaran bercahaya, seperti jarinya sedang menari. Jari-jarinya yang berputar itu menciptakan sebuah garis di dalam lingkaran. Garis menjadi sebuah bentuk-bentuk dua dimensi dan sebuah huruf lama yang memenuhi bagian dalam lingkaran.
"Menggabungkan semuanya dan jadilah ...." Lingkaran beserta simbol itu bergetar dan bergoyang. Lalu, muncul secara perlahan sebuah bentuk yang ajaib. Bola bercahaya keluar dari lingkaran itu dan terus melayang ke atas. "Sebuah konsep kreatif yang dinamakan sihir."
Bola itu meledak menjadi butiran debu cahaya. Jaringan-jaringan memanjang dari satu butiran ke butiran lainnya hingga semua saling terhubung.
Di ruangan yang tertutup dan jauh dari cahaya luar, seluruh mata murid-murid berfokus pada satu-satunya fenomena cahaya yang saling terhubung, berpendar, dan berputar. Sebuah tarian mungil yang indah.
__ADS_1
"Menakjubkan, bukan?" Lorna tersenyum, berhasil menakluk perhatian para murid dengan aksinya.
Liliya merasa sangat menyesal karena membuat Ashnard tak bisa mengikuti kelas ini dan melihat keajaiban. Liliya berpikir untuk menunjukkan aksi ajaib seperti ini pada Ashnard sebagai permintaan maafnya karena pertarungan.
Ashnard hanya bisa menunggu usaha Liliya, sementara dia menuju satu bangunan lain di akademi yang tak kalah besarnya dengan arena.
Perpustakaan akademi terletak di sudut utara akademi. Bagian depannya saja sudah menunjukkan pilar-pilar besar dan pintu besar yang menyambut pengunjung. Meskipun besar, tapi pintu itu terasa ringan saat di dorong.
Di dalamnya, tentu saja hanya ada buku. Ratusan buku dari ratusan rak mengisi seluruh ruangan. Bahkan masih ada rak-rak lain di lantai atas yang terlihat dari bawah.
Buku-buku yang menyimpan segala informasi, panduan, hiburan dan pengetahuan yang tak terhitung jumlahnya ini setara dengan tempat penyimpanan emas. Nilainya bahkan lebih mahal daripada uang.
Di kanan ruangan, dekat pintu masuk, disanalah sang penjaga perpustakaan berada. Duduk dengan tenang sambil membaca buku atau bacaan apapun. Dan jika ada satupun pengunjung yang menimbulkan suara, ia akan bertindak dengan tegas--mengerikan jika perlu.
Ashnard dan Gerlon menghampiri penjaga perpustakaan untuk mencatatkan kunjungan mereka di buku pengunjung.
"Apa nilai kelayakan kalian?" tanya penjaga wanita itu, merendahkan kacamatanya.
"Nol," jawab Ashnard dan Gerlon.
"Perlu diketahui bahwa ada seksi-seksi yang tidak diperuntukkan untuk murid bernilai Nol. Jika kalian melanggarnya, kalian akan mendapatkan hukuman," ucapnya memperingati.
"Apa? Disini juga? Bukankah itu diskriminasi nilai?" Ashnard mulai kesal.
"Terima kasih," jawab Ashnard cuek, mengambil kertas itu dan meninggalkan sang penjaga dengan tatapan sinisnya.
Jalan di antara rak-rak yang tersusun tinggi seperti dihimpit oleh raksasa. Gerlon menyusuri pandangan ke kiri, kanan, atas, bawah. Sementara Ashnard masih sibuk memandangi kertas dengan heran.
"... dilarang menggunakan arena di luar jam pelajaran. Dilarang bergabung atau mengikuti kegiatan klub, acara besar seperti festival, dan kegiatan di luar akademi lainnya. Tidak diperbolehkan untuk ke luar akademi saat hari libur. Sebelum malam hari, harus sudah berada di kamar. Apa-apaan ini? Kenapa banyak sekali peraturannya? Ini sama saja dengan kita dibuang, ya kan!"
Gerlon tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya yang ringan.
Di depan mereka terdapat sebuah persimpangan yang cukup lebar. Masih di penuhi dengan rak-rak yang panjang dan tinggi. Ada sebuah penanda yang bertuliskan Mesis.
"Sepertinya batas untuk Nol hanya sampai disini," gumam Ashnard.
"Mau coba ke sana?" ajak Gerlon tersenyum dengan santainya seolah tidak ada masalah baginya.
"Jangan!" bentaknya. Seketika suara desisan menyuruh mereka mengecilkan suara. "Aku tak mau melanggar apapun lagi," bisik Ashnard.
Gerlon hanya menurut saja dan mengikuti ke mana arah Ashnard.
__ADS_1
Di salah satu lorong rak, Ashnard meletakkan telunjuknya pada punggung buku. Menelusuri segala macam judul yang bisa ia temukan. Panduan menggunakan elemen-elemen tertentu, ringkasan sejarah akademi, kisah cinta paling romantis, pengenalan makhluk-makhluk elemental, biografi keluarga-keluarga terkenal semua ia temui.
Dan di antara buku-buku itu, ada sekumpulan buku yang sangat ia hafal. "Petualangan Ksatria Roc!" seru Ashnard senang ketika melihat sejumlah edisi buku yang ia miliki ternyata ditemukan juga di perpustakaan.
"Oh, kau pernah membacanya?" tanya Gerlon.
"Ya, aku sangat menyukainya. Mimpiku sama seperti Roc, yaitu berpetualang mengelilingi dunia. Meskipun telah banyak hal yang terjadi hingga saat ini, tetap aku tidak akan melupakan mimpiku." Tatapan mata Ashnard yang berbinar menunjukkan kesungguhan hatinya.
Beberapa lama kemudian, mereka akhirnya menemukan sebuah buku yang dicari. Buku bersampul cokelat itu memiliki judul "Panduan Dasar-Dasar Sihir dan Cara Mempraktekannya."
Buku itu berukuran cukup besar dan berat. Saat diletakkan di meja, menimbulkan suara keras yang membuat sang penjaga berdesis sekali lagi. Ashnard dan Gerlon pun mulai membaca buku itu dengan fokus.
Halaman pertama buku yang tebal itu mulai menjelaskan pengertian sihir secara ringkas. Di mana sihir adalah energi eksternal yang lebih kompleks daripada kekuatan elemental.
Sihir diciptakan bagi orang-orang yang tak mendapatkan kekuatan elemental. Bagi mereka, sihir adalah alternatif. Suatu kekuatan yang mampu mereplika elemental, meskipun tidak memiliki kekuatan yang sama.
Elemen yang diciptakan melalui sihir akan lebih lemah daripada elemen murni. Akan tetapi, sihir lebih bervariasi, kompleks dan bebas daripada kekuatan elemen.
Sihir lebih mudah digunakan bagi siapapun. Petani, anak kecil, bahkan orang renta sekalipun. Hanya bermodalkan usaha dan kreativitas saja siapapun dapat menggunakan sihir. Berbeda dengan kekuatan elemen yang mendapatkannya saja sangatlah sulit.
Ada banyak cara dan macam kekuatan sihir. Tapi, cara termudahnya adalah dengan simbol dan huruf. Huruf yang digunakan adalah huruf kuno yang mengandung kekuatan sihir misterius.
Perpaduan simbol dan huruf tersebut akan menciptakan sebuah proyeksi sesuai yang diinginkan. Setiap simbol dan huruf memiliki makna yang berbeda dan jika digabungkan juga akan menghasilkan makna yang berbeda. Karena itu, setiap kombinasi huruf dan simbol harus diperhatikan.
"Untuk pemula, biasanya menggambarkan lingkaran sihirnya melalui kertas atau tanah, atau media lain yang dapat terlihat jelas," jelas guru itu.
Lorna memberikan masing-masing murid sebuah kertas putih kosong.
"Gambarlah satu lingkaran sihir untuk menciptakan replika objek apapun berdasarkan lima elemen dasar. Tapi, jangan terlalu besar. Mengerti?"
Lalu, di bagian ruangan kelas yang luas, para murid mulai menggambar lingkaran sihir mereka dengan tinta hitam.
Ashnard mendekati Liliya dan berniat untuk menggambar bersama. Teman-teman Liliya yang menyadari niat asli Reinhard langsung menjauh. Namun, di belakang kerumunan ada mata yang menyalakan api cemburu, datang dari seorang putri yang meremas kertas miliknya.
Putri itu harus ditenangi oleh kedua temannya sebelum ia melakukan tindakan di luar batas.
"Sepertinya kau kalah, tuan putri," bisik Nina mengejek Wilia.
"Diam kau!" sergah Wilia.
"Kalau kau tak bisa melakukannya, aku bisa membantumu," ucap Reinhard yang sedikit memalingkan mukanya.
__ADS_1
"Hehe, terima kasih, tapi aku bisa melakukannya sendiri," balas Liliya dengan senyuman khasnya.
Liliya yang sedang sibuk menggambar sebuah pola, tanpa sadar sesuatu yang cepat terlempar ke arahnya. Sebuah bongkahan batu yang tak sengaja terlempar dari lingkaran sihir salah satu murid. Reinhard dengan sigap menangkap objek itu dengan tangan kosong tepat sebelum mengenai wajah Liliya.