The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Pembawa Harapan


__ADS_3

Demi menyelamatkan teman-temannya, Liliya melukai lengannya untuk mendapatkan darah ajaib. Ia perlahan menyayat lengannya dengan pisau, rasa sakit sudah menjadi makanan sehari-hari yang ia pelajari sejak kecil oleh ayahnya. Darah mengalir seperti sebuah sungai merah segar dan dituang ke dua buah cangkir.


Lalu, diminumkannya pada Reinhard dan Gerlon. Tiga luka di punggung Gerlon perlahan menutup dengan cara yang ajaib. Seolah waktu berjalan cepat, lukanya beregenerasi dengan cepat dan tumbuh kulit baru seperti sedia kala.


Namun, Reinhard tampaknya memerlukan lebih banyak darah ajaib Liliya. Setidaknya dibutuhkan tiga cangkir darahnya agar seluruh lukanya tersembuhkan dengan total. Tidak ada bercak atau memar sedikitpun.


"Aku tidak pernah melihat keajaiban ini seumur hidupku," ucap Egon terkagum.


Egon menyaksikan dengan mata kepala tuanya sendiri. Melihat betapa menakjubkan kemampuan darah Liliya. Hanya dengan meminumnya saja mampu mengembalikan tubuh siapapun yang terluka parah ke kondisi semula. Kemampuan ini adalah sesuatu yang baru ia lihat. Dan saat ia melihat Liliya, ia melihatnya seperti personifikasi dewi yang turun dari langit. Seorang pembawa harapan.


Dengan kekuatan seperti itu, Liliya pasti akan diagung-agungkan, dihormati dan disembah layaknya dewi. Namun, di satu sisi juga, akan ada banyak orang yang mengincar kekuatan itu untuk dirinya sendiri. Orang yang rakus dan tidak peduli apapun selain dirinya sendiri.


Kematian, wabah, rasa sakit, penderitaan, luka perang. Semua itu akan dengan mudah Liliya atasi dengan darahnya saja. Tidak akan ada lagi yang namanya luka. Orang tidak akan mati lagi karena luka yang tidak ada obatnya. Dan ada kemungkinan, rumah sakit akan terhapuskan, jika dunia tahu keberadaan Liliya.


Egon melihat Liliya seperti berada di antara dua hal. Antara menolong orang karena dia ingin atau menolong orang karena dunia membentuknya seperti itu.


Gadis ceria berambut pirang itu adalah sebuah harapan. Sebuah pembawa perubahan besar. Tergantung dirinya sendiri, apakah dia mampu untuk menempuh jalan itu atau tidak.


Ashnard seharusnya tahu, kalau kekuatan Liliya ini harus disembunyikan, seperti kekuatannya. Hanya saja ia tidak punya pilihan lain. Dan semua sudah terjadi. Tak ada waktu kembali.


Demi Liliya, Ashnard menyuruh Egon untuk tak memberitahu siapapun. Untuk merahasiakannya agar tak ada orang yang mengincar kekuatan Liliya.


"Kau tahu apa alasan harta karun selalu berhasil ditemukan?" tanya Egon.


Ashnard menggeleng.


"Karena disembunyikan. Tidak perlu mengumbar kekuatan gadis itu di depan orang banyak. Itu hal yang merepotkan. Kelak dunia sendiri yang akan mengungkapkannya, tinggal menunggu waktu saja," jelas pria tua itu.


"Aku tahu itu."


"Tapi, aku masih tak percaya gadis itu lebih efektif daripada sihir Dokter Nora. Mungkin di luar sana memang ada banyak sekali kekuatan yang menakjubkan. Dan hanya saja, aku yang terlalu tua untuk menyaksikannya."


"Kenapa tidak pensiun saja dan pergi berpetualang? Jika aku menjadi kau, aku akan melakukannya," tanya Ashnard.


"Seperti kataku, aku sudah tua. Aku rapuh dan lemah. Pikir saja terlebih dahulu, jika kau ingin menjadi aku, nak," jawab Egon.


Ucapan Ashnard soal kekuatan Liliya yang bisa terkuak kapan saja ada benarnya. Ketika memikirkannya, ia juga berandai apakah kekuatannya juga suatu saat akan terbongkar.


Saat itu terjadi, Ashnard tidak bisa mengelak dari itu. Jika ia berada dalam kondisi dimana ia harus menggunakan kekuatannya di depan orang lain, ia tidak akan ragu.


Ashnard lalu beranjak ke dapur, menghampiri Liliya yang sedang membasuh lukanya. Ia mengkhawatirkan gadis itu.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja? Kau tadi mengeluarkan banyak sekali darah."


"Aku baik-baik saja. Terima kasih telah mengkhawatirkanku, Ash," jawab Liliya dengan senyuman khasnya yang membuat Ashnard berpikir kalau Liliya memang baik-baik saja.


Ashnard melihat lengan Liliya yang sedang dibasuh, tidak ada bekas luka satupun. Ashnard saat itu berpikir, jika mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk menanyakan segala pertanyaan yang ingin dia ajukan saat itu.


"Lenganmu sembuh. Apa itu berarti kau meminum darahmu sendiri?" tanya Ashnard untuk yang pertama.


Liliya seketika tertawa, menganggap konyol pertanyaan Ashnard. "Tidak, Ash. Karena darah ini sudah ada dalam tubuhku, aku tidak perlu meminumnya untuk sembuh. Aku bisa langsung sembuh sesuai keinginanku. Tapi, biasanya aku menolak menggunakan kekuatanku dan membiarkan lukaku sembuh dengan sendirinya."


"Kenapa?"


"Kata Ayahku, itu agar orang lain tidak curiga dan menganggapku seperti orang biasa yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh."


"Dan bagaimana cara kau mengatur ingin sembuh cepat atau tidak? Apakah kau memerintahkannya seperti pelayanmu atau hanya memikirkannya saja?"


"Aku hanya memikirkan agar tidak sembuh saja. Seperti kau memfokuskan energi elementalmu pada satu titik, tapi ini darah. Entahlah, mungkin penjelasan itu tidak masuk akal. Aku tidak bisa menjelaskan secara pasti."


"Jadi, kau tidak pernah sakit?"


Liliya kemudian mengelap lengannya dan menatap Ashnard. Menandakan kalau ia siap untuk melayani semua pertanyaan Ashnard. "Pernah, tapi itu langsung sembuh."


"Bagaimana jika aku meminum darahmu? Bukankah itu berarti darahmu tercampur dengan darahku? Dan itu juga berarti aku mendapatkan kekuatan yang sama denganmu."


"Lalu, bagaimana jika kau meminum darahku?"


"Semua pertanyaanmu sungguh konyol," sahut Reinhard yang terbangun dari kondisi kritisnya. Ia bangun juga gara-gara mendengar dan terusik dengan pertanyaan Ashnard.


Ashnard menghampiri kamar Egon yang dijadikan tempat untuk mengistirahatkan Reinhard dan Gerlon.


"Daripada kau, bangun-bangun sudah menganggu saja," balas Ashnard kesal.


Reinhard bangkit dari tempat tidurnya dan menatap Ashnard tajam. "Justru kau yang mengganggu, bodoh! Kalau kau tidak berisik, aku pasti tidak akan terbangun."


"Aku harap kau tidak akan terbangun untuk selamanya."


"Apa kau bilang!?"


"Diamlah!" bentak Egon. Ia memukul keras Ashnard dan Reinhard dengan tongkatnya. "Kalian berdua masih saja berisik."


Di kasur yang sama, Gerlon terbangun dengan mata yang terbuka lebar dan nafas yang terengah-engah. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia hanya teringat soal makhluk itu, tapi tidak dengan darah Liliya.

__ADS_1


Ia juga terlihat tidak peduli dengan bagaimana cara dirinya masih bisa selamat dan sembuh, tapi ia peduli dengan bagaimana cara dirinya terluka. Matanya lebar penuh akan semangat yang menggebu-gebu. Ia tak bisa menahan seringai lebarnya.


"Tuan Egon, apakah anda melihat makhluk buas di sekitar sini?" tanya Gerlon ke Egon, tanpa basa-basi.


"Aku sudah mengatakannya ke dia." Egon mengangkat dagunya, menunjuk ke Ashnard. "Jika ada makhluk buas disini, aku seharusnya tahu."


Egon sudah sangat lama bekerja sebagai penjaga di akademi. Ia selalu berpatroli memeriksa bagian lembah akademi dari apapun. Sejak muda, ia sudah menjadi bagian dari akademi. Dan sejak itu juga, semua hal tidak pernah luput dari pemeriksaannya. Termasuk celah yang berisi aliran kegelapan.


Ia tidak pernah menemukan atau berpapasan dengan makhluk buas yang menyerang Reinhard dan Gerlon. Tapi, bukan berarti ia tidak peduli. Ia pun mengambil jubah dan lenteranya, lalu berkata ingin memeriksa hutan ini.


"Jangan, Tuan Egon. Di luar sana berbahaya, kau bisa terluka," cegah Ashnard.


"Aku sudah mengenal akademi ini bahkan sebelum kalian lahir. Kalian tunggu saja di sini hingga aku kembali. Di laci dapur, ada camilan jika kalian lapar." Egon lalu menutup pintu dan ke luar. Ia juga mengunci pintunya agar Ashnard dan yang lainnya tidak pergi.


Gerlon terlihat mengamati Egon yang menuju hutan melalui jendela.


"Sebaiknya kau juga jangan ikutan," ujar Ashnard memperingati Gerlon. "Apa kau ingin terluka lagi?"


"Baiklah," balas Gerlon lesu.


Di gubuk tua yang sempit, tak ada yang bisa mereka lakukan. Reinhard duduk di kursi sambil memainkan tanaman layu di meja. Sedangkan, Gerlon melanjutkan tidurnya setelah mengetahui ia tidak diperbolehkan ke luar.


Ashnard kembali dari dapur, memberikan segelas air kepada Liliya yang duduk di lantai kayu bersandar pada dinding. "Minumlah." Ashnard lalu juga duduk di sebelahnya.


Liliya meneguk air itu hingga habis. "Apa kau tidak kedinginan?" tanya Liliya yang semakin merapatkan lututnya ke dadanya.


"Tidak. Kau kedinginan?"


Liliya mengangguk. "Mungkin karena baju tidurku," duganya.


Melihat Liliya yang kedinginan, Ashnard tanpa pikir panjang melepas jas seragamnya lalu menyelimuti Liliya. Reinhard yang melihatnya, menarik selimut dari Gerlon dan memberikannya juga ke Liliya. Ashnard sedikit terkejut dengan tingkah Reinhard.


"Selimutku!" Gerlon terbangun dan menolak untuk tidur tanpa selimut.


"Maaf, Gerlon," ucap Liliya merasa bersalah.


Seketika Gerlon langsung tersenyum. "Oh tidak masalah. Pakai saja. Aku sudah tidak mengantuk lagi."


Gerlon bosan dan memutuskan untuk mencari makanan di dapur. Bahkan dapurnya juga sama reyotnya dengan ruangan yang lainnya. Ia melihat peralatan-peralatan yang sudah terlalu kuno, tanaman hias yang sudah layu, dan kotak atau botol usang.


Gerlon membuka salah satu laci dan menemukan banyak sekali toples kosong. Ia mencari toples yang berisi camilan seperti kata Egon. Ia membuka satu per satu lacinya dan akhirnya menemukan toples yang tidak kosong. Ia menemukan toples berisi penuh dengan cacing, toples berisi semacam tanaman atau akarnya yang direndam dalam cairan berwarna hijau, lalu sebuah toples yang berisi sesuatu yang terlihat seperti usus yang bergeliat.

__ADS_1


"Apa ini yang disebut camilan? Bagaimana caraku memakannya?" Gerlon menatap bingung.


__ADS_2