
Alfeus datang untuk menghentikan kakak beradik yang sedang bertengkar. "Apa yang kalian lakukan? Kalian sesaudara seharusnya tidak boleh bertengkar sampai melukai satu sama lain. Ini sudah kelewatan."
"Minggirlah, manusia. Justru karena aku seorang kakak, aku harus memberi pelajaran kepada adikku yang kusayangi."
"Alfeus ... menyingkirlah. Ka-kalau tidak ...," erang Erida yang tersiksa.
Namun, Alfeus sudah membulatkan tekadnya sejak dia berdiri di depan untuk melindungi wanita itu. Apapun yang terjadi, seorang ksatria tidak pernah ragu untuk melindungi mereka yang membutuhkan.
"Dasar manusia," desah Eristhiar, menurunkan pedang yang menghadap ke dada Alfeus. "Kenapa kau meninggalkan mimpi yang sudah kuberikan padamu? Mimpi itu yang sebenarnya kau inginkan, bukan? Apakah mimpi itu kurang? Kalau begitu, katakan saja semua mimpimu. Aku akan memberikannya padamu. Itu hadiah dariku."
"Maaf, Nona Mimpi. Bukan berarti aku tidak menyukai mimpi tersebut. Aku senang. Aku justru merasa sangat bersyukur karena kau memberikan mimpi itu. Hanya saja, aku tetap harus melihat apa yang nyata di depanku. Nona Kematian dan Nona Mimpi adalah hal yang nyata bagiku."
Eristhiar terkejut, sekaligus bingung dengan maksud ucapan manusia tersebut.
"Aku tidak menolak mimpi yang kau berikan. Malahan, jika diizinkan, aku ingin mimpi itu selalu muncul di setiap tidurku. Dan aku ingin kau juga muncul di sana, agar aku tidak terlalu tenggelam ke dalam mimpiku sendiri."
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, manusia? Jangan bicara yang tak jelas!" desak Eristhiar yang masih menerka-nerka dengan maksud Alfeus.
"Apa kau tidak paham, kak? Dia menganggapmu nyata," tambah Erida yang cekikikan meskipun sedang tersiksa.
"Apa maksud kalian? Aku memang nyata! Aku Dewi Mimpi, Eristhiar!"
"Maksudnya adalah, Wahai Penguasa Mimpi, dia menganggapmu sebagai kenyataan dalam hidupnya."
Erida yang kepalanya tertunduk, berusaha melirik ke depan. Terlihat bahwa mata kakaknya membeku. Sesuatu terjadi pada dalam tubuhnya. Sesuatu yang tidak terlihat tapi mengalir dan mengendalikan tubuh setiap makhluk hidup.
Lalu, wanita bergaun putih itu berkedip dan menatap Alfeus seperti telah menyadari sesuatu. "Apa itu rayuan? Apa kau sedang mencoba merayuku sekarang juga, manusia?"
"Ti-tidak. Bukan begitu. Aku berbicara yang sesungguhnya," balas Alfeus, mencoba meluruskan maksud perkataannya.
__ADS_1
"Baiklah, aku mengerti." Eristhiar menghela nafas pasrah. "Aku akan memberikanmu mimpi tersebut, dan juga aku akan selalu muncul di mimpimu. Tapi, aku tidak akan melakukan apapun selain hanya menjadi pengingat saja, kau mengerti?"
"Terima kasih, Nona Mimpi. Jadi, sekarang bisa kau lepaskan adikmu?"
Eristhiar menghela nafas lagi. "Apa yang membuatmu berpikir aku akan melepaskan dia? Tidak ada perjanjiajn seperti itu sebelumnya."
"Kalau begitu ...." Alfeus mengambil sabit yang tergeletak di tanah sebagai arti bahwa dia tidak akan mundur. "... aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya."
Manusia melawan dewa. Hal yang konyol, ceroboh, namun sungguh berani. Sudah tidak terhitung banyaknya umat manusia yang melawan dewa. Namun, banyak dari pertarung itu selalu dimenangkan oleh para dewa, dan manusia selalu menjadi yang kalah.
Eristhiar dan Erida mengakui jika apa yang dilakukan oleh Alfeus adalah hal yang cukup berani. Menentang perintah dewa bukan perkara mudah, apalagi menghadapinya satu lawan satu di alam sendiri.
Tanpa melihat jauh ke masa depan sekalipun, semua orang pasti tahu jika Alfeus tidak akan berdaya.
Eristhiar sempat penasaran dengan semua keputusan yang Alfeus ambil. Dia bisa menyimpulkan Alfeus mengambil keputusan tersebut tanpa berpikir matang, yang terpenting langsung bertindak. Namun, kenapa dia terus melakukannya. Serta tatapan yang pria itu berikan berhasil membuat hatinya bergetar. Padahal Alfeus hanyalah manusia, tapi tidak langsung tunduk dan mengiyakan semua yang dikatakan Eristhiar.
"Jawab pertanyaanku manusia, apa arti kami, para dewa, bagimu?"
Alfeus bukan berasal dari keluarga yang memiliki keyakinan kuat pada agama. Kehidupannya tidak bergantung pada apa jawaban atau respon yang diberikan dewa yang dia sembah. Keyakinannya hanya terhadap manusia itu sendiri. Dia seorang ksatria, dia mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk manusia. Karena itu yang paling dekat dan paling memberikan pengaruh pada hidupnya.
Pemikirannya itu berakhir pada satu kesimpulan yang ia jadikan sebagai jawaban dari pertanyaan Sang Mimpi. "Apa arti kalian bagiku, ya? Jika kau bertanya padaku, itu berarti kau tidak masalah dengan jawaban yang akan kuberikan, bukan? Bagiku, kalian bukanlah sosok yang mutlak dan sempurna. Kalian sama sepertiku, memiliki kisah dan masalah masing-masing. Kalian memang memiliki sifat dan cara berpikir yang aneh, tapi itulah yang namanya perbedaan. Aku menganggap kalian semua adalah kenyataan bagiku. Maka dari itu, aku tidak akan melupakan tentang keberadaan kalian dan apa yang telah kalian lakukan demi umat manusia."
"Lalu, apa arti Kematian dan Mimpi bagimu?"
Konsep atau entitas nyata di depannya. Alfeus menganggap pertanyaan itu bukanlah sebuah filosofi semata, namun apa yang hatinya rasakan sekarang terhadap kedua pemegang nama tersebut. "Arti Kematian dan Mimpi bagiku adalah kalian. Kalian adalah wanita yang luar biasa. Kalian tidak lebih dari sekedar kakak adik yang memiliki hubungan rumit itu saja."
Dua pertanyaan yang wanita itu berikan dan dua jawaban yang tidak sesuai harapannya. Wanita mendecak kesal sambil menatap adiknya di belakang sang pria yang berdiri dengan gagah. "Apa yang kau perbuat pada manusia itu?" herannya ke sang adik.
"Memang seperti itulah dia. Aku tidak melakukan apapun pada pikirannya," jawab Erida sambil tersenyum walaupun tangan dan kakinya tertancap oleh tombak emas yang membuatnya tak bisa bergerak kemanapun.
__ADS_1
"Kau mungkin masih tidak mengerti. Kalau begitu, aku akan menunjukkan padamu apa arti sebuah mimpi bagiku." Eristhiar menghilangkan pedangnya seketika di udara kosong. Lalu, kedua tangannya di depannya dadanya seperti sedang berdoa. Ada cahaya emas yang bersinar di antara telapak tangannya yang saling berhadapan. Cahaya emas itu menyebar ke seluruh tubuh wanita itu. Saat dia kemudian merentangkan tangannya, tanah dan langit bergetar.
"Alfeus! Jangan jauh-jauh dariku!" teriak Erida. Alfeus seketika mundur dan berdiri di sebelah Erida sambil merangkulnya.
Tanah yang semula penuh dengan rerumputan hijau dan hutan yang rimbun, tiba-tiba terbelah. Seperti buku yang dibuka dari tengah halaman, atau laut yang terbelah karena kuasa dewa. Seluruh tanah dan langit bergerak, terbelah, terbuka dan dibalik menjadi sebuah bentuk yang baru. Tanah menjadi sebuah pijakan memanjang berwarna merah gelap dengan titik atau bercak berkilauan seperti bintang berwarna ungu. Pijakan itu memanjang, membentuk jalan ke sebuah bangunan berbentuk kastil jauh di ujung jalan.
Sementara langitnya menjadi biru gelap, namun pucat. Ada seperti gumpalan awan yang melingkar dan membentuk bulatan di ujungnya. Awan tersebut tidak seperti awan pada umumnya yang berbentuk kapas, namun lebih terlihat seperti lukisan minyak. Bintang di tempat itu memiliki ukuran yang beragam daripada sekedar titik di langit. Ada sebuah bintang besar berwarna kuning yang berpendar selayaknya lilin yang akan habis batangnya. Sama seperti awan, bintang itu tidak berbentuk padat dan nyata, melainkan seperti lukisan dua dimensi.
Eristhiar Sang Penguasa Mimpi berdiri di batu merah besar yang seperti sebuah mimbar baginya. Dia merentangkan tangannya dan berserun "Selamat datang di mimpiku! Selamat datang di Dunia Mimpiku!"
"Ini alam tempat kakakku tinggal. Di sinilah semua mimpi berasal," jelas Erida kepada Alfeus yang belum berhenti untuk terpesona.
"Ini sangat indah," kagum Alfeus. "Tapi, juga membuatku merinding."
"Itu hal yang wajar dirasakan manusia," ucap Eristhia.
Eristhia lalu melepaskan tombak yang menusuk tangan dan kaki adiknya. Erida yang terjatuh langsung dibantu oleh Alfeus. Luka tusukan di tubuh Erida perlahan tertutup kembali dengan cepat. Namun, dia masih kesulitan bergerak karena tombak emas itu yang memiliki kekuatan untuk melumpuhkan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alfeus yang memapahnya.
"Ini masih lebih baik. Terakhir kalinya dia memarahiku, aku di tahan di tengah taman para dewa dengan tanganku dan kakiku yang dibuka lebar dan di tancap dengan tombaknya. Itu sangat memalukan," jelas Erida.
"Ya, dan aku juga membuatmu telanjang saat itu. Sungguh pemandangan yang indah. Seperti di kebun binatang. Aku sebenarnya berencana melakukan yang sama padamu di Dunia Mimpi sebagai mimpi indah bagi para manusia." Eristhiar tertawa dengan niat jahatnya.
"Kau tidak boleh seperti itu, Nona Mimpi. Itu sudah keterlaluan. Dia bisa saja trauma," bela Alfeus.
"Tidak perlu khawatir. Tidak ada dewa ataupun dewi yang bernafsu dengan tubuh Sang Kematian. Yah, walaupun memang ada, tapi mereka pasti tidak ada di taman saat itu. Bersyukurlah padaku, karena masih ada dewa dan dewi baik yang memujimu, Erida."
"Kakakmu benar-benar gila," bisik Alfeus ke Erida.
__ADS_1
"Memang seperti itulah dia. Dia selalu menggunakanku sebagai bahan kegilaannya."
Alfeus terkejut karena dia bingung dengan satu hal. Eristhiar berkata kalau adiknya adalah kegilaan karena selain psikopat, juga menyukai mayat dan suka mengutak-atik menjadi mainannya. Namun, Erida bilang jika kakaknya gila karena suka menggunakan adiknya sebagai ulah kejahilannya atau untuk tindakan senonohnya. Sebenarnya siapa yang gila, ataukah kedua adik kakak itu memang gila dan Alfeus lah yang selama ini salah. Mereka memang ditakdirkan untuk selalu bertengkar, karena itulah mereka gila. Jika itu benar, maka siapa sebenarnya ibu yang menciptakan anak-anak yang gila tersebut?