The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Keinginan


__ADS_3

Seorang pria berdiri memandang melalui jendela kaca bulat yang mengarah ke bangunan-bangunan kota tinggi. Cahaya di ruangan itu hanya berasal dari luar jendela saja, hingga tak tampak jelas bagian belakang pria tersebut.


Lalu, seseorang muncul dari belakangnya memberikan salam dengan membungkuk. "Semua sudah siap, tuan. Kami juga sudah mengonfirmasi kebenarannya."


Pria bertopi tinggi yang masih memandang ke luar itu berkata, "Kalau begitu lancarkan operasinya."


"Siap, tuan."


***


Zefiria beranjak dari rumahnya, menghampiri Ashnard yang masih berlatih di pantai.


"Bagaimana latihannya?" tanya Zefiria.


"Awalnya aku menganggap Hoku hanyalah pedang saja," kata Ashnard, memandangi pedangnya. "Sekarang aku paham kalau aku harus memperlakukannya bukan sebagai pedang biasa."


"Hoku?


"Nama pedangku."


"Kau menamai pedangmu Hoku? Kenapa Hoku?"


Ashnard menoleh dan sedikit tertawa. "Sebenarnya itu adalah nama pedang milik Roc." Kerutan masih terpampang di kening Zefiria. "Roc adalah Ksatria Bintang dari Tanah Kegelapan. Ia melakukan petualangan yang panjang karena negerinya telah hancur. Itu dari buku petualangan Roc. Cerita yang terus memotivasiku untuk bertualang."


"Baiklah, apa yang Hoku bisa lakukan?"


"Ternyata, Hoku bisa melakukan banyak hal sesuai perintahku, seperti memanjang, memendek, membesar, mengecil, terbang dan berputar."


"Sungguh? Itu senjata yang luar biasa. Reibo pasti kegirangan saat mengetahuinya."


Anak lelaki itu tak henti-hentinya memandang pedang tersebut, seperti ia jatuh cinta pada seseorang.


"Hei, mau berlatih denganku?" ajak wanita itu.


"Mau!"


Mereka pun berlatih di bawah deburan air laut yang menjangkau kaki-kaki mereka. Tombak dari karang milik Zefiria berkilau layaknya kristal yang diambil dari dasar laut. Angin meniupkan rambut panjang Zefiria dan gaunnya, menandakan ia sudah siap.


Ashnard memulai terlebih dahulu. Serangan awalnya ia menggunakan lautan sebagai senjata. Ia membuat ombak yang menerjang ke arah Zefiria. Tapi, Zefiria dengan mudahnya mendobraknya dengan tombak karang.


Lalu, air yang terciprat menjadi hujan yang memberondong dari atas. Zefiria memutar tombaknya sangat cepat untuk melindungi dirinya.


Tak berhenti sampai situ, lautan menjadi sebuah kurungan untuk sang Angin Laut. Kurungan air yang membentuk kubah. Lagi-lagi, Zefiria menghancurkannya dan sekarang dia mulai kesal.


Angin berembus sangat kencang di sekitarnya, hingga membuat air laut terkikis dan terbelah. Zefiria lalu maju dengan kecepatan penuh dan menusukkan tombaknya ke arah Ashnard.


Kini Ashnard menggunakan pedangnya untuk menangkisnya. Tombak dan pedang tersebut beradu sangat sengit, menciptakan gelombang udara dan ombak laut.


Ashnard menunduk menghindari ayunan tombak, lalu dia menegakkan pedangnya dan berseru, "Hoku, terbanglah!"


Seketika bilahnya terlepas dari gagang dan melesat ke depan, seperti anak panah. Zefiria langsung melompat. Bilah itu terbang dan menukik ke Zefiria di udara.


Saat jaraknya semakin dekat, Ashnard berteriak lagi, "Hoku, membesarlah."

__ADS_1


Dan membesarlah bilah tersebut yang awalnya seukuran lengan manusia, kini sebesar batang pohon, membuat Zefiria yang tak siap terpental ke udara.


Zefiria tak menyerah. Melalui angin ia berputar dan mengarahkan serangannya pada Ashnard. Mereka saling melemparkan serangan dan saling menghindari serangan. Hingga matahari sudah terlalu lelah.


Latihan sudah selesai. Pada latihan ini, Ashnard kalah. Tapi, ia kalah karena staminanya yang lebih sedikit daripada Zefiria dan terkuras lebih cepat. Dalam segi kemampuan, Ashnard bahkan hampir menyaingi Zefiria.


Bukan berarti kemampuan Zefiria terlalu lemah. Ia tidak mungkin mengerahkan seluruh kemampuannya hanya untuk latihan saja. Apalagi lawannya adalah seorang anak kecil.


Karena langit sudah menjadi jingga, Zefiria mengajak Ashnard untuk beristirahat terlebih dulu, dan ia akan segera membuatkan makanan.


Zefiria menghidangkan makanan dari laut. Ashnard bukan penggemar makanan laut, tapi sebagai tamu ia tak boleh menolak apa yang sudah disajikan. Ashnard pun menghabiskannya secara perlahan.


"Sebelum malam semakin larut, sebaiknya kau pulang sekarang saja," ujar Zefiria setelah menyeruput tehnya.


Ashnard merenung sejenak, lalu menjawab. "Bolehkah aku menginap di sini? Untuk sementara waktu saja."


Zefiria tersentak. "Kenapa?"


Alasan Ashnard tak ingin pulang karena ibunya. Dia kesal pada ibunya yang tak menyetujui untuk mewujudkan mimpinya. Itu juga menjadi alasan kenapa Ashnard keluar pada hari ini.


Saat Ashnard mengingatnya kembali, semakin membuatnya hatinya benci dan semakin membuatnya tak ingin pulang. Ia bahkan sempat berpikir untuk kabur dari rumah dan langsung berpetualang saja sesuai dengan mimpinya.


"Ibumu hanya takut. Itu perasaan yang wajar bagi seorang Ibu. Apalagi, kau selama ini benar-benar mempertaruhkan nyawamu demi Winfor," ungkap Zefiria.


"Tapi, kenapa harus memaksakan keinginannya? Ibu hanya masih menganggapku lemah. Padahal, aku telah berjuang sekuat tenagaku selama ini. Apa Ibu tak bisa melihatnya?"


"Bukan begitu. Ibumu itu sayang padamu. Ia memikirkan semua hal yang terbaik untukmu, bahkan jika keputusannya kadang tak sesuai dengan keinginanmu."


Ashnard berdecak, bibirnya menguncup ke depan. "Tetap, aku tak ingin pulang."


Ashnard tak menjawab. Ia justru keluar dan melanjutkan berlatih lagi.


Di sepanjang pantai berpasir putih, hanya ditemani sinar bulan dan ombak yang menerjang. Angin di daerah itu memancarkan ketenangan. Seiring ayunan ia kerahkan, seiring emosi yang ia keluarkan.


"Baiklah, kau boleh menginap di sini, tapi sesegera mungkin, kau harus kembali, mengerti?"


Ashnard diam. Zefiria menganggap itu sebagai iya.


"Apa kau pernah berpikir untuk berkeluarga dan punya anak?" tanya Ashnard pada wanita bergaun seputih susu itu.


Zefiria mendongak ke arah bulan yang bergantung di antara bintang. "Ya, bersama Sefenfor."


Ashnard terkejut, tak menduga jawaban itu keluar dari mulut Zefiria. Ia pun menghentikan latihannya. "Kau menyukai pria itu?"


Pipi Zefiria memerah terkena cahaya bulan. "Aku menyukainya. Tapi, karena tugas yang kami emban terlalu berbahaya, aku tak bisa memikirkan kebahagiaan seperti itu. Kebahagiaan yang diinginkan seluruh wanita."


"Sekarang kegelapan sudah tidak ada. Kau bisa mendapatkannya," tutur Ashnard merasa senang.


"Aku ... tak tahu apakah aku bisa melakukannya atau tidak," jawab wanita itu ragu. "Lagipula, aku sudah menganggap Liliya sebagai putriku sendiri."


"Liliya pasti sangat bangga jika memiliki Ibu sepertimu. Dia selalu melihatmu dengan kagum."


"Itu membuatku senang," jawab Zefiria sambil tersenyum manis dengan rona merah di pipinya.

__ADS_1


"Omong-omong soal Liliya, apa kau tahu tentang kekuatannya?" Ashnard mengganti pertanyaan.


"Oh, kau sudah tahu rupanya. Baguslah. Liliya tak pernah memberitahu siapapun tentang kekuatan keluarganya tersebut."


"Apa Liliya juga memberitahumu?"


"Tidak, kami tahu dari leluhurnya."


"Aku baru ingat kalau kau sudah tua," ejek Ashnard.


Urat mendadak muncul dari kening wanita yang sedang marah tersebut. "Kau masih saja tak sopan," geramnya. "Keluarganya Liliya, Nerefelon memiliki kekuatan darah yang luar biasa. Karena kekuatannya tersebut, banyak orang yang mengincarnya dan mengeksploitasinya, menjadi obat-obatan, menjadi budak, bahkan sebagai bahan eksperimen. Selama ratusan tahun, keluarga Nerefelon berusaha hidup dengan sembunyi-sembunyi hingga sampailah di Winfor. Awalnya sikap para bangsawan dengan para Nerefelon tidak jauh berbeda. Seiring berjalannya waktu, bangsawan dan Raja Winfor memutuskan untuk melindungi keluarga Nerefelon. Tentu saja sebagai gantinya, mereka harus menyetorkan darah mereka untuk para bangsawan sebagai bayarannya."


Ashnard sangat terpukul mendengar cerita tersebut. "Bukankah itu terlalu kejam? Kenapa kalian tidak melakukan sesuatu?"


"Dulu, kami tidak akan mencampuri urusan manusia. Kami hanya melakukan hal yang memang harus kami yang melakukannya, meskipun kami tahu ada kekejian dan kelicikan di dalam kota ini."


"Jadi, karena itu ayah Liliya menyuruhnya untuk merahasiakan kekuatannya? Mereka takut jika ada orang lain yang ingin menggunakan kemampuan penyembuhannya."


"Yah, begitulah. Kau harus memperhatikan gadis itu mulai sekarang."


Ashnard mengangguk, tapi wajahnya tampak risau.


"Apa kalian ada masalah?


Ashnard lalu menjelaskan pada Zefiria tentang bagaimana Liliya menyikapi Ashnard sekarang.


"Yah, itu keputusan ayahnya demi yang terbaik untuk Liliya sendiri."


Lagi-lagi keputusan orang tua yang berlawanan dengan keinginan anaknya. Ashnard menghela nafasnya.


Setelahnya, Ashnard pun diizinkan untuk tidur di rumah Zefiria. Tidurnya sangat nyenyak hingga membuatnya bermimpi.


Sesosok wujud manusia dengan seluruh tubuhnya berwarna putih bercahaya muncul di mimpi Ashnard tersebut. Sosok itu keluar dari sebuah celah di langit, dan meski tanpa mulut, ia berkata, "Akhirnya aku berhasil menghubungimu. Dengarkan aku, Ashnard. Ini sangat penting. Ada yang mengincarmu. Kau harus bangun sekarang! Kau harus mencegah mereka membawa Ibumu!"


Ashnard terbangun dan melihat Zefiria yang mengendap-endap di ruang tengah.


"Ada apa?"


"Sst," desis Zefiria. "Ada sesuatu datang," bisiknya.


Tiba-tiba, sebuah benda logam berbentuk bola seukuran buah apel terlempar ke dalam melalui jendela. Bola itu berkedap-kedip warna merah, lalu meledak.


Zefiria dengan cepat membentuk perisai angin yang melindungi dirinha dan Ashnard. Angin tersebut justru membuat api lebih besar. Zefiria lalu menghempaskannya anginnya agar api tersebut hilang.


Ashnard menelungkup ketakutan di lantai sambil bergumam panas berulang kali. Ia gemetaran.


Zefiria mengangkat Ashnard dan menyadarkannya. "Tenanglah, Ashnard, apinya sudah hilang."


Lalu, sekelabat hitam muncul di bayang-bayang malam. Zefiria menyadarinya dan mengejar. Bayangan hitam tersebut bergerak sangat cepat, hingga Ashnard yang sudah baik-baik saja melepaskan bilahnya ke sosok tersebut.


Terlihat sesosok berwujud manusia hitam yang memakai topeng tergeletak di tanah dengan perutnya yang terbelah. Tak ada darah yang keluar, sosok itu lenyap menjadi butiran debu hitam.


"Sekarang, apa-apaan ini?" Zefiria bertanya-tanya.

__ADS_1


Ashnard tersentak dan menyadari sesuatu. Ia pun langsung menuju ke kota, menuju ke rumahnya dengan sangat cepat. Berlari tanpa henti dalam gelapnya malam. Ia tak ingin memikirkan apapun selama perjalanannya, yang terpenting ia harus sampai secepat mungkin.


Ia pun sampai di rumah. Lampu-lampu rumahnya menyala terang, tapi tampak sepi. Ashnard pun memeriksa satu per satu ruangan rumahnya dan tak menemukan siapapun. Ibunya telah hilang.


__ADS_2