The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Keanehan di Danau


__ADS_3

Ashnard menyeret Nina menjauh dari danau, lalu membaringkannya di pangkuannya. Kaki kanan Nina mengeras menjadi es hingga ke mata kakinya. Menyakitkan dan sulit digerakkan, tapi lebih rapuh daripada batu.


"Tenang, Nina. Kau baik-baik saja. Hanya kakimu yang membeku. Sebaiknya kau jangan banyak bergerak," ucap Ashnard berusaha menenangkan Nina yang panik.


Nina mengatur nafasnya sesuai arahan Ashnard. Dia juga menggenggam erat tangan Ashnard seakan ingin meremasnya hingga hancur.


"Aku baik-baik saja," lirih Nina.


"Sudah kubilang, sebaiknya kita tidak berendam kesana."


"Yah, kau ada benarnya," desah Nina sedikit tertawa ringan. "Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana danau itu bisa membekukan kakiku secepat itu? Tapi, danau itu tidak terlihat seperti danau yang dingin," heran Nina, melihat kembali ke kakinya. Berusaha untuk menggerakkan kakinya, tapi tidak berhasil. Dia lalu melihat ke arah danau dengan penuh pertanyaan.


"Aku pun sama terkejutnya. Guru Terenna memang bilang kalau danau itu akan membuatmu mati membeku, tapi kukira itu hanya untuk menakuti-nakuti saja," ungkap Ashnard, tak mengira apa yang dia tidak percayai ternyata nyata.


Nina terlihat menggigit bibir bawahnya. "Ash, kakiku tidak bisa digerakkan. Apa yang harus kulakukan? Ini sangat menyakitkan. Aku tak mau mati," lirihnya wajahnya membiru kedinginan.


Ashnard bisa merasakan tangan Nina yang menggenggam tangannya terasa sangat dingin seperti salju di puncak Gunung Putih.


"Kau tidak akan mati. Percaya padaku. Pokoknya, tarik nafas pelan-pelan dan keluarkan," ujar Ashnard. "Setelah itu, apa kau bisa menggunakan elemen apimu untuk menghangatkan tubuhmu dan melelehkan esnya?"


Nina mengikuti apa yang Ashnard katakan. Menarik nafas lalu membuangnya dengan perlahan. "Aku rasa aku bisa melakukannya. Tapi, apinya akan melukaimu."


"Aku akan menahannya. Lakukan saja."


Nina mulai memejamkan matanya. Tapi, dia tetap mengatur nafasnya dengan baik sesuai yang Ashnard katakan. Dengan begitu, Nina busa rileks dan memfokuskan kekuatannya. Tak lama, suhu tubuh Nina perlahan meningkat. Yang awalnya dingin seperti es, menjadi hangat, lalu panas. Panasnya juga dirasakan langsung oleh Ashnard yang memangku Nina dengan tubuhnya. Panas itu mulai meraba seluruh kulit Ashnard hingga merah. Es yang melapisi kaki Nina perlahan meleleh, menciptakan air dan uap yang mengepul. Nina bisa menggerakkan kembali kaki dan jari-jarinya.


"Berhasil! Kaki kembali bergerak!" seru Nina senang. Nina mendongak ke atas, melihat wajah Ashnard yang merah. "Ash, wajahmu!"


"Rasanya seperti menatap langsung ke air yang sedang dimasak dalam panci. Ini bukan apa-apa," kata laki-laki itu menengkan Nina.


"Kau benar. Danau ini berbahaya. Mungkin sebaiknya kita bisa memasang tanda peringatan. Itu bisa jadi rencana pertama pagi kita," ujar Nina yang begitu semangat saat membicarakan ide cemerlangnya.


Dan begitulah rencana Ashnard dan Nina tercipta. Sementara rencana lainnya terhadi di hutan adalah Reinhard bersama yang lainnya. Mereka menelusuri hutan hingga jauh ke dalam.


"Apa sudah sampai?" tanya Ulfang ke Reinhard yang memimpin jalan, memotong semak-semak dengan pedangnya.


"Sebenarnya mau ke mana kita?" tanya Wilia yang penasaran. Dia sibuk merapikan gaunnya dari daun dan debu. Dia menyesal karena memakai gaun di tempat seperti ini.


Wilia lalu berlari menyusul Reinhard hingga berjalan bersebelahan dengannya. Tangannya yang berayun berusaha menggenggam tangan Reinhard, tapi tidak berhasil. Wilia tahu bahwa sebenarnya Reinhard sedang mengabaikan dirinya.

__ADS_1


"Dasar. Kalau kau tak mau melakukannya akan kuberitahu yang lainnya," ancam Wilia yang cemberut kesal.


Sontak, Reinhard tak bisa menahan dirinya. "Kalian tunggu lah disini. Sebentar saja," suruhnya ke Ulfang dan Liliya. Lalu, Reinhard menarik lengan Wilia, dan membawanya sejauh mungkin. Di balik bebatuan yang besar, tersembunyi dari yang lainnya.


"Padahal aku hanya ingin pegangan tangan saja," gerutu Wilia.


Reinhard lalu mendorong Wilia ke batu besar sedikit keras, tapi dia menggunakan tangannya untuk melindungu kepala Wilia agar tidak terbentur. "Aku ingin kau jangan menempel padaku saat ada Liliya. Tapi, lebih baik jika kau tidak berniat untuk selalu menempel."


"Apa? Kenapa tidak boleh?"


"Pokoknya, jangan."


"Baiklah," balas Wilia memalingkan mukanya. "Lalu, kapan aku boleh menempel ke kamu? Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu."


"Aku tidak tahu. Mungkin, sebaiknya tidak usah."


"Cih, dasar! Oke, aku mengerti. Tapi, aku ada satu permintaan mumpung kita disini." Jantung Reinhard berdegup kencang saat Wilia menyeringai lebar. Dia merasakan sesuatu yang tidak beres dari seringai gadis itu. "Karena kau menyuruhku untuk tidak dekat-dekat denganmu, jadi aku minta agar kau memberiku tanda ciuman. Supaya aku bisa terus mengingatmu sehingga aku tidak perlu mendekatimu lagi. Bagaimana?"


Reinhard sudah menduga Wilia akan meminta sesuatu yang tidak beres semacam itu. Namun, jika dia melakukannya, dia bisa memiliki waktu lebih leluasa bersama Liliya. Reinhard menganggap jika pertukaran itu setimpal. Walaupun memalukan, tapi ini lebih baik daripada Wilia terus mengganggunya.


"Baiklah," jawab Reinard dengan pipi yang memerah malu.


"Tidak bisa! Orang lain bisa melihatnya," tolak Reinhard.


"Kalau begitu ...." Wilia lalu membuka dua kancing bajunya, dan menarik kerahnya ke samping. "Disini saja. Hasilnya akan terlihat seperti aku memakai kalung." Tunjuk Nina ke leher bagian bawahnya, tepat di antara dua tulang selangkanya.


Wilia membuka bagian atas bajunya lebar-lebar, dan mengangkat kepalanya supaya seluruh leher dan dada bagian atasnya terbuka semua untuk Reinhard.


Saat mulai menyentuhkan bibirnya, Reinhard memikirkan saat dia menghisap darah Liliya. Reinhard menghisap leher Wilia seolah ada darah yang mengalir dan dia harus menyedotnya hingga habis.


Wilia meletakkan tangannya di belakang kepala Reinhard dan menekannya. Meskipun Reinhard fokus pada leher Wilia, tapi dia bisa mendengar ******* Wilia yang begitu bergairah.


Reinhard lalu mengakhirinya dengan kecupan. Terlihat bekas merah tepat di tengah leher Wilia seperti kalung permata delima yang begitu merah. Wilia tampak senang dengan bekas itu, meskipun basah karena air liur Reinhard.


"Kenapa kau mendesah? Nanti yang lainnya bisa mendengarmu," tegur Reinhard kesal.


Namun, senyuman puasnya tidak berakhir begitu saja. Dia tersenyum seolah menagihkan sesuatu yang lebih. "Aku ingin lagi."


Di sisi lain, Liliya dan Ulfang menunggu cukup lama hingga mereka bosan. Ulfang mulai resah, menendang batu dan mencabuti daun-daun semak. Dia mengkhawatirkan Reinhard jika terjebak dalam masalah gara-gara Wilia.

__ADS_1


"Tenanglah. Kau tidak perlu mengkhawat-" Mata Liliya seketika terpaku ke arah sudut hutan, tidak berkedip sedikitpun. Dia mengakhiri ucapannya, lalu bergerak ke arah sudut yang dia lihat seperti tubuhnya bergerak sendiri.


"Liliya, ada apa?" heran Ulfang. Dia pun mengikuti ke arah yang Liliya lihat, dan menemukan api merah yang melayang di udara.


Objek api tersebut berada di antara pohon-pohon yang berjarak tidak terlalu jauh, tapi tidak ada tanda-tanda kebakaran disana. Apalagi cara api tersebut yang menyala dan melayang di udara tanpa media atau apapun yang menciptakannya cukup aneh. Hanya perasaan merinding yang Ulfang rasakan saat melihat api itu, tapi tubuhnya justru ingin mendekati api itu.


"Apa itu?" tanya Ulfang. Semakin dekat dengan apinya, Ulfang semakin terpesona.


"Aku tidak tahu, tapi sebaiknya jangan disentuh," ujar Liliya. "Yang jelas ini bukan api biasa."


"Ini yang Reinhard ingin cari. Dia berkata padaku melihat cahaya merah di kegelapan hutan saat di kereta tadi malam. Dia pikir dia salah lihat. Karena itu dia ingin mengeceknya pagi ini," jelas Ulfang.


Liliya tanpa berpikir panjang langsung berteriak memanggil Reinhard. Karena hal ini yang ingin laki-laki itu lihat, Liliya harus memberitahunya. Liliya memanggilnya sekian kali. Beberapa menit kemudian, Reinhard datang bersama Wilia.


"Jadi, ini yang kulihat tadi malam," gumam Reinhard, sama terpesonanya dengan Ulfang saat melihat api di udara.


"Omong-omong, kenapa lama sekali? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ulfang melempar tatapan penuh pertanyaan ke Reinhard, Liliya juga sama penasaran.


Reinhard tentunya tidak akan memberitahu yang lainnya. Dia melirik dengan canggung Wilia yang tersenyum bahagia dari tadi, tak peduli bahwa ada fenomena aneh di depannya.


"Reinhard cuman ingin membagikan rahasia terdalamnya," jawab Wilia dengan santai.


"Rahasia apa?" tanya Liliya dengan cepat.


Wilia berdengus mengejek. "Mungkin, aku harus menjelaskan padamu apa arti dari rahasia itu."


"Kenapa Reinhard ingin memberikan rahasianya padamu daripada aku? Apa yang telah kau lakukan pada Reinhard?" Ulfang mendekati Wilia dengan tatapan yang penuh curiga.


Wilia yang terkejut mundur perlahan ke belakang karena tiba-tiba merasa seperti semua orang sedang berusaha memojokkannya.


"Hentikan, Ulfang!" tegur Reinhard yang berdiri di depan Wilia dan menahan Ulfang untuk tidak semakin maju lagi.


Tindakan Reinhard tentu saja memberikan reaksi tidak terduga dari Ulfang. Dimana seharusnya Reinhard tidak berdiri untuk membela Wilia yang telah merusak rencana mereka saat ulang tahun Liliya.


Reinhard sangat tahu betul akan sifat Ulfang yang mudah terpancing emosinya hanya karena masalah sederhana saja. Dia juga tahu bahwa Ulfang sangat mempercayainya. Karena itu, dia ingin menunjukkan bahwa kepercayaan Ulfang itu tidaklah sia-sia.


"Aku tidak membelanya. Aku hanya berusaha untuk menghentikan kalian dari ketidakfokusan akan apa yang ada di depan mata kita. Api itu, sekarang adalah masalah yang utama. Kau mengerti?"


Hanya dengan memberikan keyakinan saja sudah cukup bagi Ulfang itu menuruti perintah Reinhard. Reinhard adalah panutan baginya, temannya. Dia dan keluarga mereka memiliki ikatan yang tidak pernah terpatahkan oleh apapun. Ulfang akan membuang semua emosinya agar ikatannya dari dulu masih tetap terjaga.

__ADS_1


Reinhard perlahan mengarahkan ujung pedangnya ke api itu untuk memeriksanya. Namun, api itu menyala semakin terang dan berkobar semakin besar saat ujung pedang Reinhard menyentuhnya. Seketika lapisan cahaya merah kekuningan muncul dari api yang meledak itu. Terus memanjang hingga membentuk kubah yang mengelilingi hutan sekitar mereka.


__ADS_2