The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Pecahan Pedang Kuno


__ADS_3

Ashnard membuka buku tua itu selama perjalanan kembali ke hutan. Meskipun Reibo selalu menempel padanya, Ashnard tetap fokus pada tulisan yang luntur dan hampir tak bisa dibaca.


Sebuah legenda kuno yang lebih tua daripada peradaban Winfor selama ribuan tahun. Ditulis dan diceritakan oleh seseorang yang tidak diketahui pada masa lampau. Lalu, terbawa melalui waktu dan generasi.


Dikatakan pada ribuan atau mungkin ratusan ribu tahun yang lalu, susunan tanah bumi masih menjadi kesatuan yang padat dan utuh. Lalu, terpecah-pecah, sungai membelah benua, laut memisahkan daratan menjadi pulau, dan lempeng terbentuk. Ini disebabkan karena perang besar yang terjadi pada saat itu.


Dulunya ada sebuah ras suci, berpenampilan seperti manusia dengan empat sayap dipunggungnya. Seluruh tubuhnya polos dan bentuk bintang bersudut empat menggantikan mata, hidung, dan mulut di wajahnya. Tubuh mereka sangat besar dan tinggi-tinggi. Bahkan tubuh mereka masih bisa terlihat, meskipun kaki mereka berada di dasar samudera. Nama ras tersebut adalah Uthras.


Para Uthras tinggal di kerajaan langit, berdampingan dengan para dewa. Hubungan mereka baik-baik saja. Tak ada yang tahu kenapa, tapi suatu ketika terjadilah perang di antara mereka. Perang tersebutlah yang menyebabkan bentuk bumi saat ini dan kepunahan ras Uthras.


Para Uthras memiliki sebuah senjata yang unik yaitu pedang yang hanya merespon pada pemegangnya saja. Pedang itu dikatakan sangat besar dan menyimpan kekuatan luar biasa.


Menurut legenda, saat perang tersebut terjadi, sisa pertempuran dan pecahan pedang milik ras Uthras terjatuh di bumi. Namun, banyak yang hancur dan terbakar saat memasuki atmosfer bumi. Ada yang bilang hanya ada satu yang berhasil selamat dan jatuh dengan utuh di Winfor. Karena itu, banyak manusia yang berusaha mencarinya dan membuktikannya, tapi tak ada yang berhasil menemukannya.


Reibo termasuk salah satu orang yang berusaha mencarinya.


Saat perang melawan kegelapan berlangsung, dan semua senjata kesulitan mengalahkan monster-monster kegelapan, Reibo berusaha mati-matian mencarinya, tapi gagal. Ia pun membuat senjatanya, Pedang Nebulius berdasarkan kekuatan pedang tersebut.


Tapi, tak disangka, pedang itu ternyata terkubur di bawah kegelapan dan akhirnya ditemukan oleh Ashnard.


Nous berkata, "Dengan pedang itu ditanganmu, maka kau bisa meningkat jauh lebih kuat lagi."


"Apakah cerita ini sungguhan? Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Ashnard tak yakin.


"Hei, aku seorang penempa. Aku memiliki banyak catatan mengenai pedang-pedang legendaris, entah itu nyata ataupun tidak. Kalau kau tak mau, berikan saja padaku. Aku dengan senang hati menerimanya," timpal Reibo.


"Enak saja! Aku bukannya tak mau menyimpan pedang ini, hanya saja semua ini terasa terlalu besar dan seperti buku dongeng saja."


"Pada akhirnya, semua hal yang tidak kau yakini akan menjadi nyata, dan semua hal yang kau yakini ternyata hanya kebohongan belaka," jawab Nous.


Ashnard mengangkat pedangnya dan mengamati bilah tersebut. Bilah ini tak terbuat dari perak atau logam manapun yang pernah ia atau Reibo lihat. Tapi, pantulannya seperti sedang melihat ke permukaan air. Mata pedangnya juga berantakan dan tak rata, tapi Ashnard tak percaya jika pedang ini bukan buatan manusia.


Reibo ikut memandang pedang itu dengan penuh gairah penempanya. "Tapi, sungguh, bagaimana bilah pedang ini terpasang sangat kuat pada gagangmu seolah itu cocok, membuatku ingin menelitinya."


"Apa kau bisa memperbaiki pedang ini?" tanya Ashnard ke Reibo.


"Hmm ... kurasa tidak. Selama aku tidak tahu bahan dasar bilahnya, aku tak bisa memperbaikinya. Aku juga tak mau menambalnya dengan logam biasa, itu akan mengurangi nilai pedangnya."


"Payah. Omong-omong, bolehkah aku berlatih di guamu? Aku ingin mencoba kekuatan pedang ini."


Reibo terkejut. "Kau ingin berlatih lagi?"

__ADS_1


"Memangnya tidak boleh? Bukankah akan lebih bagus jika aku menjadi lebih kuat lagi?"


"Yah ...." Reibo melempar pandangan ke Nous. "Jawabannya tidak, nak. Di tempatku terlalu sempit untuk berlatih. Bagaimana jika berlatih di tempat Zefiria?"


Mata Ashnard berbinar. "Kau benar! Ada lautan terbuka, jadi akan lebih aman berlatih disana. Kalau begitu, aku pergi dulu."


Ashnard pun pergi dengan cepat. Reibo dan Nous khawatir pada Ashnard. Mereka takut jika Ashnard menjadi tergila-gila dengan kekuatan.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Reibo pada Nous.


"Tentang Ashnard?"


"Sampai sekarang aku tak menyangka bagaimana ia bisa terlibat sampai sejauh ini," kata Reibo. "Aku tak yakin jika ini semua karena ada unsur ketidaksengajaannya."


"Maksudmu, dia adalah kunci dari semua ini?" Nous memandangnya heran.


"Ayolah, Nous. Kau seharusnya yang lebih berpikiran maju dari kami semua. Kau biasanya selalu tahu apa yang ada di depan, dan bahkan sebelum itu terjadi. Apa gara-gara kau kalah dengan kegelapan, instingmu menjadi tumpul?" ejek pria berjanggut itu.


Nous menatap temannya dengan kesal.


"Hei, kenapa kau melihatku seperti itu? Jangan marah, kawan." Reibo berusaha menepuk punggung Nous, tapi Nous dengan cepat menghindarinya dengan melompat.


"Haha, aku bercanda, kawan," Reibo tertawa sambil memegang perut buncitnya. "Kau sudah sangat berubah daripada dulu. Kau itu dulu orang yang pendiam dan selalu menjauhi orang-orang. Bahkan, dulu kau selalu ngomong dengan singkat dan intinya saja lalu pergi begitu saja."


"Dunia berubah, manusia juga."


"Ya, omonganmu selalu singkat seperti itu," Reibo tertawa lagi. "Sekarang, kegelapan sudah tidak ada. Tugas kita seharusnya sudah selesai, kan? Apa yang akan kau lakukan sekarang?"


Nous terdiam sejenak. Ia tidak pernah memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah semuanya aman dan damai. "Mungkin aku akan mengawai sekitar."


"Ayolah, kawan. Kau harus beristirahat, carilah kehidupan baru, tinggal di rumah dan berkeluarga," ujar Reibo. Ia merasa kasihan pada temannya itu. Ia sangat mengenali Nous yang tidak pernah beristirahat sekalipun karena tugasnya yang lebih berat daripada yang lain.


"Kalau kau?" Nous bertanya balik agar dirinya tak perlu menjawab.


"Aku ingin mendalami seni menempa senjata. Belajar dari para penempa legendaris dan membuat senjata terkuat. Setelah itu aku akan membuat toko tempaku sendiri. Sangat menguntungkan, bukan? Hahahaha." Reibo terlihat gembira sangat mengutarakan keinginannya.


"Beristirahat, ya ...."


"Kalau kau membutuhkan bantuanku lagi, datang saja ke tempatku. Kau selalu seperti itu, kan?" ucap Reibo yang lalu meninggalkan Nous.


Ashnard lalu mendatangi rumah Zefiria. Ia menjelaskan kedatangannya untuk berlatih dan wanita itu mengizinkannya. Ia juga menjelaskan apa yang ia, Nous, dan Reibo temui di jurang.

__ADS_1


"Ada kemungkinan apa yang kau lihat saat di Jurang Kegelapan adalah pengaruh dari kegelapan saja. Bisa saja salah satu ksatria ordo itu hanyalah ilusi yang dibuat melalui pikiranmu," jelas Zefiria.


Bagi Ashnard itu lebih masuk akal, karena tidak ada siapapun yang bisa dengan mudahnya berjalan di jurang, dan apa pula yang dilakukan ordo di tempat yang hanya berisi kegelapan saja.


"Bagaimana dengan jejak tersebut?" Ashnard menanyakan pendapat Zefiria.


"Kalau itu aku tak bisa menjawabnya. Raivolka yang menyeret manusia ke jurang, itu sangat aneh. Kurasa, jawaban ini masih harus kita selidiki lebih lanjut."


Di depan lautan yang luas itu, Ashnard berdiri menghunus pedangnya. Ombak menerpa mencapai kaki telanjangnya. Ia merilekskan diri dengan alunan bunyi lautan, lalu mengayukan pedangnya.


Buku pemberian Reibo itu mengatakan bahwa pedang itu merespon pemegangnya. Tapi, Ashnard tak tahu bagaimana cara mengaktifkannya.


"Aku sudah membaca buku itu. Jadi, meskipun ras Uthral tidak memiliki mulut, mereka tetap bisa mengeluarkan bentuk suara nyaring yang dimana itu berpengaruh pada pedang mereka. Karena itulah ras mereka sangat lekat dengan elemen suara."


"Ya, lalu?"


"Dulu saat kami masih mengembara, tidak seperti elemen astral, kami pernah bertemu denggan pengguna elemen suara. Ia bisa memanipulasi suara apapun dan memanfaatkannya menjadi apapun. Karena kekuatan mereka berdasarkan suara, maka mereka harus mengeluarkan suara sendiri jika di sekitar terlalu hening. Elemagnia yang kami temui berteriak sembarang untuk menggunakan kekuatannya."


"Maksudmu aku harus berteriak?"


"Coba saja."


Meskipun Ashnard berpikir itu konyol, tapi ia tetap melakukannya. Ia menarik udara dan mengisi paru-parunya hingga penuh, lalu mengeluarkannya bersama teriakan lantangnya yang memecah ombak. Tidak terjadi apa-apa.


"Sepertinya salah. Mungkin ... elemen suaranya bukan darimu tapi dari pedang itu."


Ashnard menatap bingung Zefiria yang berdiri di belakangnya.


"Kau kan tidak memiliki elemen suara, tapi pedang itulah yang punya. Pedangmu lah yang seharusnya memanfaatkan elemen suaranya, bukan dirimu."


"Oh, maksudmu seperti komando yang diberikan jenderal pada bawahannya? Jenderal itu aku dan bawahannya itu pedangku, begitu kan?"


Zefiria mengangguk dengan puas. "Cerdas," pujinya. "Tapi, berikan saja perintah yang mudah dan tak terlalu rumit."


Ashnard lalu teringat kembali saat di gua, saat pedang itu seketika berdenting. Itu memberikannya sebuah ide. Ia pun mempersiapkan pedangnya ke depan dan memasang kuda-kuda.


Tarikan nafasnya disusul dengan sebuah teriakan, "Berdentinglah!"


Bilah pedang itu tiba-tiba bergetar hebat, dan yang awalnya sunyi seketika suara yang sangat nyaring muncul. Suara dentingan menyebar ke pantai dan laut. Menganggu burung-burung laut yang sedang melayang. Suara itu membuat Zefiria harus menutup telinganya. Tampaknya, Ashnard tidak terpengaruh sama sekali.


Ashnard dan Zefiria saling melempar pandangan setelah bunyi tersebut lenyap.

__ADS_1


__ADS_2