
Egon mengambil ember berisi air dan menggunakanya untuk membasuh luka-luka Reinhard dan Gerlon. Ia memoles kain basahnya perlahan dengan tangan yang gemetaran, melihat bekas luka yang begitu mengerikan.
Mata layunya terbuka lebar mengamati daging dan kulit yang robek. Bentuk luka itu sangat dalam dan terlihat brutal. Di punggung Gerlon ada empat sayatan yang besar. Mengiris dengan sempurna kulit punggungnya. Sementara luka di Reinhard lebih parah. Lehernya terkoyak dan bagian rusuk kanannya hancur. Egon bahkan tak mengerti bagaimana dia masih bernafas dalam kondisi seperti ini.
"Apa yang sebenarnya menyerang kalian?" gumam Egon terbeliak.
Egon berpikir ini bukan pekerjaan manusia. Ini ulah dari sesuatu yang lebih mengerikan daripada manusia. Dan sesuatu itu ada di akademi sekarang.
Tak terasa, kain yang dia gunakan kini menjadi merah penuh darah. Satu kain dan satu ember air saja tidak cukup. Dia butuh lagi. Dia tak tahu apakah semua kain dan semua air miliknya akan cukup hingga Ashnard tiba.
***
Dengan tergesa-gesa, Ashnard menaiki tangga asrama hingga ia sempat terpeleset. Sikunya terbentur dan lecet. Tapi, itu tak membuatnya berhenti.
Ashnard tiba di depan pintu depan asrama yang tertutup. Saat ia mencoba mendorongnya, ternyata sudah terkunci. Eris sudah berpatroli dan mengunci asrama.
Meskipun Ashnard sudah menggedor-gedornya, tentu saja tidak ada yang akan menjawab di malam buta ini.
Saat harapan Ashnard perlahan pupus dan ia merasa tak ada tujuan lagi, pintu tiba-tiba terbuka. Di balik pintu adalah Eris yang masih memakai seragam akademi.
"E-Eris? Kau masih ... ?" Ashnard terkejut.
"Ada apa?" tanya Eris dengan wajah jutek seperti biasanya.
"Kau masih belum selesai patroli?"
Eris memberikan tatapan tajam di balik kacamatanya. "Aku tidak akan pernah berhenti untuk mengawasi asrama. Selama aku bertugas sebagai prefek, aku akan mengawasi murid perempuan dari ancaman apapun," jawabnya tegas.
"Apa mungkin kau tidak tidur? Sebaiknya kau jangan memaksakan diri."
"Jangan bilang kau datang untuk menasehatiku."
"Tidak. Aku memerlukan Liliya secepatnya. Sekarang juga. Aku harus menemuinya!" desak Ashnard.
"Kau tidak boleh! Aku tidak akan membiarkan siapapun keluar saat malam dan berada dalam bahaya."
"Kumohon."
Di belakang Eris, dengan gaun tidurnya dan rambut merah khasnya, Nina muncul memanggil nama Eris.
Gadis itu yang awalnya berniat menemani Eris menjaga asrama, terkejut saat melihat Ashnard berada di depan pintu asrama. Wajahnya yang serius merubah tujuan semula Nina.
"Ada apa?" tanyanya.
"Aku harus menemui Liliya. Teman-temanku saat ini sedang terluka dan membutuhkan pertolongan darinya. Jika tidak, mereka akan semakin parah. Kumohon, izinkan aku masuk."
Nina berpikir jika wajah serius Ashnard bukanlah tanpa alasan. Wajah seriusnya menandakan ucapannya juga serius, dan masalahnya benar-benar serius.
__ADS_1
Ia lalu memegangi kedua pundak Eris dan menariknya ke dekatnya.
"Tunggu, Nina, apa yang kau lakukan? Kita tak boleh membiarkan anak laki-laki masuk ke asrama perempuan," berontak Eris yang semakin membuat pegangan Nina semakin kuat. Nina semakin melingkarkan lengannya dan menahan Eris dengan memeluknya dari belakang.
"Biarkan saja dia. Lagipula, dia tidak mungkin datang ke sini saat tengah malam dan berkata seperti itu dengan panik. Aku tahu dia tidak akan berniat jahat. Dia hanya ingin menolong temannya saja," jelas Nina.
Nina paham betapa gentingnya masalah yang Ashnard hadapi. Dan Nina paham rasanya berusaha untuk menolong teman dengan sungguh-sungguh. Niat baik itu adalah hal yang wajar dan harus dilakukan seorang teman.
Meskipun berlawanan dengan prinsip sahabatnya, Nina lebih mementingkan pertemanan daripada peraturan. Bagi Nina, saat melihat Ashnard yang berusaha menolong temannya, adalah hal yang bodoh untuk mencegahnya.
"Tapi-"
Nina lalu mendekatkan bibirnya di telinga Eris dan membisikkan sesuatu yang menjadi penyebab wajah Eris memerah panas.
"Apa yang kau bisikkan?" tanya Ashnard penasaran.
"Kalau kau ingin menjinakkan Eris, cukup belikan saja buku romansa," ungkap Nina tersenyum jahil.
"Nina!" bentak Eris, wajahnya semakin memerah malu.
"Pergilah, anak laki-laki yang kalah dari gadis! Aku akan menahan gadis kecil ini. Tenang saja, dia suka dipeluk, kok."
"Terima kasih."
Ashnard lalu bergegas menaiki anak tangga menuju lantai atas. Ia tidak tahu apakah suara langkah kakinya terlalu berisik dan membangunkan para murid perempuan atau tidak. Namun, Ashnard tidak berhenti sampai ia tiba di depan pintu yang memiliki papan nama Liliya. Ashnard mengetuknya dan memanggil nama Liliya.
Gadis yang tidur di kasur sebelah paling kiri, terbangun. "Meryl, ada seseorang di depan. Kau saja yang buka pintunya," lirihnya sambil mengusap mata.
"Siapa?"
"Tidak tahu. Suaranya seperti ... anak laki-laki. Anak laki-laki?" Mata mereka terbuka lebar saling menatap.
"Liliya! Ini aku, Ashnard," teriak Ashnard di balik pintu yang masih mengetuk-ngetuk pintu.
Dengan wajah yang masih mengantuk, Liliya membuka pintu. Ia dibangunkan dengan tiba-tiba oleh teman-temannya, ia masih menguap dan memakai gaun tidurnya. Rambutnya juga berantakan.
"Reinhard dan Gerlon terluka."
Hanya dengan penjelasan itu saja membuat Liliya tak perlu berpikir lagi dan segera mengikuti Ashnard. Ia paham tujuan Ashnard mencarinya demi kekuatannya saja, Liliya akan melakukannya. Ia tak mengganti pakaian, merapikan rambut atau membawa perlengakapan apapun karena ia tahu betapa gawatnya masalah yang menimpa. Semakin lama justru membuat Reinhard dan Gerlon semakin parah. Liliya tak mau itu terjadi.
Sementara Nina masih memeluk Eris dari belakang, meskipun Ashnard sudah masuk ke dalam. Kedua lengannya menyilang di bagian dada Eris sambil menahannya erat.
"Dia sudah masuk. Kenapa kau masih memelukku?" gerutu Eris yang tak bisa berbuat apa-apa dalam pelukan Nina.
"Tentu saja memelukmu. Kau suka dipeluk olehku, kan?" goda Nina.
"Tidak!"
__ADS_1
"Tidak usah berbohong. Aku tahu hari-harimu semakin berat, semakin keras dan kau perlu untuk melepaskan semua bebanmu. Anggap saja ini kesempatanmu untuk rileks dan melupakannya."
"Aku ...."
"Kau tidak bisa menyangkalnya, kan? Aku sahabatmu. Aku tahu semua yang terjadi padamu. Semua yang mereka lakukan padamu, aku tahu dan sangat membencinya. Tapi, tenang saja, aku ada dan akan selalu ada di sisimu."
Eris terdiam dengan kata-kata lembut Nina yang masuk ke dalam telinganya seperti sebuah nyanyian lembut sang penyanyi yang menenangkan hatinya. Ia tidak bisa menyembunyikan kebohongan dan Nina hafal betul sikap temannya itu.
Gadis itu tidak berbohong bahwa ingin dipeluk oleh Nina. Bahunya perlahan turun dan mengakui semuanya. Kekesalannya, keletihannya, ia melepaskan semuanya dalam pelukan hangat gadis berambut merah. Wajahnya telah menunjukan semua itu dan ia tidak lagi memberontak.
"Lagipula, aku juga butuh asupan pelukan."
"Tapi, kau selalu memelukku saat tidur!"
"Sudah. Diamlah dan jadilah anak baik." Sambil memeluk, Nina menggoyangkan tubuh Eris ke kiri dan kanan secara perlahan dan mengelus untuk menenangkannya. Seperti menenangkan bayi kecil.
Liliya yang turun dan menuju pintu luar, heran melihat Nina yang masih memeluk Eris di dekat pintu.
"Hei, apa yang kalian lakukan? Dan kenapa kau memeluknya?" tanya Liliya ke Nina.
Nina menjawab dengan riang, "Dia memang gadis yang manja."
"Aku tidak manja," lirih Eris, kepalanya tertunduk malu.
Setelah itu Liliya berpamitan dan berterima kasih ke Nina dan Eris yang telah mengizinkannya ke luar. Liliya dan Ashnard keluar dari asrama dengan cepat. Meninggalkan kedua gadis itu yang masih bersenang-senang hingga rasa kantuk menguasai mereka.
"Ini akan menjadi malam yang panjang," kata Nina.
Di gelapnya malam, Ashnard menuntun Liliya menuju gubuk Egon. Di sana, sebuah pemandangan mengerikan yang gadis itu berharap tidak akan melihatnya lagi. Semua merah dan terasa sangat dekat, seolah cairan darah itu ada di nafasnya.
Jantungnya berdegup, memompa darah ke seluruh tubuhnya hingga ke bola matanya yang melebar. Kakinya yang melangkah gemetaran setiap mendekati sosok yang ia kenal terkapar dengan mengerikan.
Tidak bergerak, tapi dia tahu dirinya lah yang harus bergerak sesegara mungkin. Meskipun Egon sudah memberikan perawatan pertama, tapi darah tetap mengalir dari luka yang lebar.
"Siapa dia? Kenapa kau memanggil dia?" heran Egon yang menghampiri Ashnard sambil bertumpu pada tongkatnya.
"Ini Liliya. Dia satu-satunya yang aku tahu dapat menyembuhkan luka mereka," jawab Ashnard.
"Menyembuhkan luka mereka? Bagaimana? Kau tidak lihat seberapa mengerikan luka mereka? Sihir penyembuhan Dokter Nora bisa menyembuhkan mereka, walaupun tidak secara total, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali."
"Aku tahu, aku tahu. Ini kedengarannya aneh, tapi kekuatan yang dimiliki Liliya bisa menyelamatkan mereka. Dia ... um ... dia memiliki ... darah," ucap Ashnard yang bingung merangkai kata yang tepat.
"Aku tahu itu, anak bodoh! Semua orang punya darah. Lalu, apa?"
"Yah, bisa dibilang darahnya berbeda. Darahnya ... memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka."
Salah satu mata Egon terbuka lebar menatap ke arah Liliya dengan bingung. Mencoba menerka-nerka apa maksud dari perkataan Ashnard. Entah mengapa, ia tidak yakin dengan ucapan anak itu sama seperti saat Ashnard pertama kali mengatakan kalau dia adalah siswa rekomendasi.
__ADS_1