The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Amarah Sang Gadis Api


__ADS_3

"Aku hanya ingin luka ini tak semakin parah gara-gara aku."


Keinginan Eris itu jujur, serta kasihan atas apa yang terjadi pada Nina. Hanya itu yang bisa Eris lakukan agar mimpi buruknya tidak terjadi.


Namun, itu hanya keinginan Eris. Jika tidak terjadi apa-apa pada Eris, Nina bisa menolerirnya dan mengabaikannya. Tapi, Nina tahu masalah yang sedang terjadi pada Eris dan menurutnya itu sudah kelewatan. Nina tentu tak bisa berdiam diri saja.


Eris terbangun paginya dan terkejut saat menyadari bahwa Nina sudah tidak ada. Dia mencarinya ke segala kamar, namun Nina seperti menghilang ditelan oleh dunia.


Eris merasa cemas saat teringat kembali dengan obrolannya tadi malam. Dia lalu pergi keluar, berharap agar menemukan Nina tidak bertindak bodoh.


Bagi Nina, membela temannya tidaklah bodoh. Itu adalah tujuan mulianya yang membara dalam api semangatnya.


Nina tidak takut saat memanggil nama Wilia di tengah jalanan kota. Tidak ada cahaya redup di matanya, hanya ada cahaya api kemarahan.


Wilia yang berniat mengunjungi Reinhard, dihentikan oleh teriakan gadis berambut merah di belakangnya. Dia awalnya tidak berniat untuk meladeni Nina, tapi pikirannya berubah saat melihat wajah Nina yang serius.


"Gadis api, apa yang kau inginkan?" jawab Wilia cuek.


"Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan?" tanya Nina.


"Ya, tentu saja aku sadar, gadis bodoh. Jika hanya itu saja yang ingin kau sampaikan, aku akan pergi."


"Berarti itu benar. Kau yang menyakiti Eris. Kau yang mengutus orang-orang untuk menyakiti Eris."


"Ah, mereka? Aku memang membutuhkan tangan untuk memberi pelajaran ke kalian, lebih tepatnya Eris, tapi aku lupa memerintahkan mere-" Cynthia tiba-tiba menyela tuannya, dan berbisik sesuatu. "Jadi begitu. Mereka bergerak tanpa perintahku. Cukup disayangkan. Tapi, yang penting gadis pengadu itu sudah diberi pelajaran."


"Dengan santainya kau berkata seperti itu. Wilia!" teriakan Nina meledakkan tanah di sekitarnya, membuat pijakannya retak dan aura panas sebuah api muncul di seluruh tubuhnya. "Kau tahu apa akibatnya karena telah melukai Eris, kan? Aku akan membakarmu, Wilia!"


Tanpa Wilia sempat bereaksi, Nina melesat ke depan melancarkan pukulan yang dipenuhi api membara.


Tidak ada waktu untuk menghindar, Cynthia dengan cepat melindungi tuannya dengan menciptakan dinding es.


Tubrukan dashsyat pun terjadi. Bahkan, dinding es Cynthia tidak sanggup menahan pukulan Nina. Dindingnya meleleh dan hancur berkeping-keping seperti kaca patri.


Dengan cepat, Cynthia menggendong tuan putrinya di pundaknya dan membawanya menjauh mungkin dari Nina yang marah.

__ADS_1


Cynthia langsung menyadari betapa besar kekuatan yang Nina berikan hanya dalam satu pukulan saja. Kekuatannya itu terlalu besar baginya, bahkan mungkin bagi Wilia.


"Apa yang kau lakukan!? Turunkan aku, Cynthia! Kuperintahkan kau!" berontak Wilia, memukul-mukul punggung pelayannya.


"Disini bahaya, Nona Wilia. Anda tidak aman."


Cynthia terus berlari membawa majikannya melewati jalanan, belokan dan gang. Dia harus menjauh sejauh mungkin dari Nina agar pertarungan dapat terhindarkan.


"Apa menurutmu aku akan kalah melawan gadis api itu? Kau sudah lupa siapa aku, hah?"


"Jangan, nona-" Wilia terus memberontak hingga akhirnya terlepas dari pundak Cynthia.


"Sebagai pelayan pribadiku, kau tidak boleh mengambil keputusan sendiri," tegur Wilia sambil menepuk gaunnya dan bersiap.


"Mundurlah, nona! Biar aku saja yang menghadapi Nona Vantalion," ujar Cynthia.


Sebagai pelayan yang dilatih segala hal untuk majikannya, Cynthia tentu tak ingin Wilia yang bertarung satu lawan satu melawan Nina. Latihannya sebagai pelayan yang selalu siap segala hal akan menjadi percuma jika dia tidak melindungi Wilia. Dia sudah berlatih cukup keras untuk tujuan ini.


Datanglah Nina tak lama kemudian. Berlari tanpa lelah seperti seekor macan yang mengejar mangsanya. Dia tidak akan berhenti sebelum musuhnya telah diberikan hukuman yang pantas dengan kedua tangannya sendiri.


Wilia berdiri dengan tegap di depan Cynthia, tidak menunjukkan sedikitpun rasa takut. Dadanya yang dibusungkan dan tangannya yang direntangkan kesamping seolah memberitahukan bahwa dia siap menerima semua serangan Nina. "Siapa yang kabur? Aku ada di sini. Majulah!"


Saat jarak Nina semakin dekat, pergelangan tangan Wilia menyala. Muncul sebuah lingkaran sihir dari kedua pergelangan tangannya. Lingkaran sihir itu berbentuk seperti gelang piring bercahaya kuning yang trasnparan. Lalu, muncul simbol dan huruf kuno di lingkaran itu yang bergerak mengelilinginya.


Wilia merapalkan sebuah sihir. Energi Wilia mengaktifkan lingkarannya, lalu menyalurkan dalam bentuk sebuah rantai sihir yang langsung mengikat kaki dan tangan Nina. Kemudian, Nina menambahkan rantainya hingga cukup untuk meliliti seluruh tubuh Nina.


Sihir Wilia membuat Nina tidak bisa bergerak sama sekali, meskipun ia berusaha menghancurkannya dengan paksa. Rantainya menekan tubuhnya bahkan membuat tulangnya berderak. Selain tak bisa bergerak, sihir Wilia yang menutupi seluruh tubuh Nina, membuatnya kesulitan bernafas.


"Rasakan itu, gadis api! Kau terlalu mengutamakan amarahmu." Wilia merasa bangga karena telah merasa berhasil mengalahkan Nina. Namun, Cynthia tetap merasa cemas pada majikannya yang berjalan mendekati Nina.


Terdengar suara geraman dan gumaman dari balik lilitan rantai yang terlihat seperti kepompong. Saat Wilia mendekat, suara itu semakin jelas berasal dari Nina. Lalu, Wilia membuka sedikit rantainya agar Nina bisa bebas berbicara.


Terdengarlah suara yang seperti tercekik. "Kenapa kau melukai Eris?"


"Pada dasarnya, bukan aku yang melukai Eris mu itu, kau tahu. Aku hanya mengajak mereka membantuku, tapi mereka yang bergerak lebih dulu," ungkap Wilia.

__ADS_1


"Tetap saja. Kau selalu membencinya, kan? Karena kau seorang putri, kau takut jika orang-orang disekitarmu tahu bahwa kau melanggar."


"Siapa bilang? Apa kau tidak bisa lihat kita sekarang ada dimana? Kita di tengah jalanan dan orang-orang menatap kita dengan bingung. Jadi, jangan seenaknya saja kau bilang kalau aku takut orang-orang melihatku melanggar sesuatu."


"Lalu ... waktu itu ... kau mengancam Eris ...." Nafasnya semakin sesak, Nina semakin sulit berbicara. "Apa ... sebenarnya ... niatmu?"


"Niatku? Aku hanya ingin agar dia berhenti bersikap sok mengatur. Eris mu itu berisik, tahu! Orang-orang berhak mengatur hidupnya sendiri, bukan dia. Jika memang mereka salah dan harus dihukum, ya biarkan saja, itu kesalahan mereka dan dia seharusnya tidak ikut campur."


"Eris tidak berisik!" bentak Nina, menggetarkan rantai yang mengurungnya. "Dia adalah orang yang baik. Tujuannya bukan demi dirinya sendiri, tapi demi semua orang. Meskipun, banyak orang yang selalu membencinya, dia selalu berusaha untuk selalu kuat dan tetap tegar."


Wilia muak mendengar ocehan soal Eris dari mulut Nina. Dia tahu bahwa Nina dan Eris memiliki hubungan yang sangat dekat. Wilia hanya membenci Eris. Dan dia juga membenci Nina, karena Nina terlalu menempel pada Eris.


Wilia berbalik karena merasa sudah berakhir. "Biar kuberi tahu kau sesuatu. Kau itu terlalu membangga-banggakannya. Kau mungkin sudah buta karena yang ada dipikiranmu hanya Eris saja. Berpikirlah yang jernih, gadis api, jangan termakan emosimu," ucapnya berjalan pergi, serta melepaskan rantai sihirnya.


Nina langsung ambruk ke tanah setelah terlepas dari rantai sihir Wilia. Dia tidak sekarat karena masih ada api kecil yang menyala di jiwanya. Nina mencengkeram pasir dan berupaya untuk berdiri.


Di setiap nafas yang terbuang dengan rasa sakit ada marah yang tercampur. Hatinya sudah panas sejak dia mengetahui apa yang terjadi pada Eris. Tidak ada yang bisa meredakan panas di hatinya dengan mudah. Nina tahu bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini bukan dengan mengobrol, tapi dengan pertarungan.


Bekas jeratan di leher dan lengannya tidak membuat Nina berhenti untuk bangkit. Dia bahkan tidak peduli jika semua anggota tubuhnya terluka. Selama jiwanya masih ada, dia akan terus mengembara untuk menuntaskan tujuannya.


"Aku ... tidak menerima omong kosong dari seseorang yang telah membuat Eris menangis. Sampai kapanpun itu, aku akan membalas perbuatan yang telah kau lakukan kepada Eris."


Kakinya yang sudah gemetaran mampu menciptakan tekanan pada tanah yang retak. Semburan energi besar keluar dari tubuh gadis yang marah itu seperti ledakan api. Membakar tanah dan udara di sekitar.


Ledakan itu membuat dorongan yang mendorong Wilia terhempas jatuh ke tanah. Saat Cynthia berusaha menolongnya, dia dipukul oleh Nina dengan cepat. Membuat pelayan itu terlempar jauh di ujung jalan.


Pada saat itu, pikiran Nina seperti dikonsumsi oleh api. Membuatnya bergerak begitu agresif, tanpa memperhatikan penduduk sekitar.


Nina mencengkeram leher Wilia, dan mengangkatnya tinggi di udara hingga kakinya tidak menapak lagi. Sekarang Wilia bisa merasakan apa yang Nina rasakan sebelumnya. Tercekik sangat kuat hingga terasa seperti tenggorokannya akan tercabut. Tak bisa bernafas atau berbicara. Ditambah sensasi terbakar di tangan Nina yang menyakitkan baginya.


"Aku sudah memperingatkanmu untuk tak menyentuh Eris sedikitpun, tapi kau tetap melakukannya. Inilah balasannya!" bisik Nina yang semakin menekan leher Wilia.


Tidak ada tanda bahwa Nina akan menghentikan niatnya. Sorot matanya benar-benar berbeda daripada Nina sehari-harinya. Saat ini, Nina lebih terlihat seperti sosok yang berbeda.


Namun, memang seperti itulah Nina yang seharusnya. Dia bersikap seperti layaknya api yang tidak bisa disentuh dan akan langsung terluka jika dekat-dekat dengannya. Api yang merupakan pencipta dari luka bakar di punggungnya.

__ADS_1


Tinggal beberapa detik lagi sebelum Wilia kehabisan nafas, terdengar panggilan familiar di belakangnya yang berusaha menghentikan Nina. Raut wajah gadis di belakangnya penuh dengan ketakutan dan penyesalan. Eris berharap bahwa dia tidak terlambat.


__ADS_2