The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Pria Luka


__ADS_3

"Akhirnya ...." Pria misterius itu menyeringai. "... kita bertemu juga, Anak Yang Mendapatkan Dua Elemen."


"Siapa kau?" tanya Ashnard.


"Untuk itu, aku tak bisa menjawabnya, tapi yang pasti, kami datang untukmu. Kemarilah. Jika kau ikut kami dengan tenang, maka kami tak akan keras denganmu."


Diajak oleh seorang pria dengan penuh luka yang menyeramkan, tidak akan ada siapapun yang mau menerimanya. Ashnard bahkan hampir membuang ludah di depannya.


"Kalian yang menculik Ibuku? Katakan dimana dia? Apa yang ingin kalian lakukan ke Ibuku?"


"Ibumu, bisa dibilang, bagian penting dalam proses transaksi ini-"


"Transaksi apa?" sergah Ashnard.


"Wanita itu ditukar denganmu. Cukup adil, kan?"


"Kau ...." Ashnard berlari ke orang itu, melancarkan sebuah tusukan ke depan.


Pria itu dengan mudahnya menahan tusukan Ashnard dengan satu tangannya. Dari telapaknya, cahaya merah menyala muncul disertai hawa panas. Cahaya itu semakin terang hingga menciptakan sebuah ledakan api.


Dengan cepat, Nous menarik Ashnard menjauh. Menciptakan sebuah tembok angin dari kakinya yang mendorong Pria Luka dan para Noir.


Setelah membawa Ashnard ke belakang, ke tempat yang aman bersama Finn, Nous berbalik dan menuju Pria Luka. Ia mengayunkan pisaunya dari samping, memotong udara dan pilar angin, tapi berhasil ditangkis oleh Pria Luka.


Nous melanjutkan serangannya. Ia tak berniat mengalahkannya di sini, ia hanya ingin melihat sejauh mana kemampuan dari musuhnya itu. Karena dari yang dia amati, para Noir tunduk padanya menunjukan bahwa pria tersebut bukanlah Elemagnia biasa.


Dari semua serangan dan tangkisan tersebut, Nous berpendapat jika pria itu masih belum menunjukan kemampuannya. Teknik pedangnya benar-benar tak boleh diremehkan. Seolah-olah pria itu tak perlu menunjukkan elemennya hanya untuk menang.


Akan tetapi, gerakan Nous yang semakin cepat seiring waktu, membuat pedang pria itu semakin kerepotan. Lalu, tanpa disadarinya, Nous ternyata mengalihkan serangannya ke Noir di samping. Saat Pria Luka sibuk dengan semua serangan beruntun Nous, disitulah Nous mengambil kesempatannya.


Nous melempar pisaunya ke Noir yang berada di kiri, lalu ia melesat ke Noir di sebelah kanan. Menendang dada Noir itu, menciptakan tekanan angin yang mendorong Noir ke belakang dan mendorong Nous ke atas.


Nous melesat di udara dan mendarat pada Noir dikiri, untuk mengambil pisau yang tertancap di dada Noir tersebut. Lalu, melemparkannya ke Noir satunya. Rencananya pun telah berhasil.


"Kau boleh juga," puji Pria Luka.


"Teknik berpedangmu juga lumayan. Apakah aku boleh menebaknya?" pinta Nous dengan sopan.


Pria Luka hanya tersenyum saja, tak mengatakan iya ataupun tidak.


Nous melirik terlebih dulu pada Ashnard yang masih di tempat. Memastikan agar anak itu baik-baik saja, juga memastikan untuk tidak mendengar ucapannya.


Dari posisinya, Ashnard tak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan. Hal itu membuatnya geram. Saat ia ingin mendekat, Pria Luka tiba-tiba tertawa setelah mendengar ucapan Nous yang Ashnard tak sempat mendengarnya.


"Apa yang terjadi?" teriak Ashnard.

__ADS_1


"Tak ada. Hanya saja, ini menarik," jawab Pria Luka masih cekikikan.


Ashnard berdecak kesal. "Kau datang untuk membawaku, kan? Untuk apa? Menguasai semua kekuatan elemen?"


Pria Luka langsung menatap Ashnard dengan tatapan terkejut. "Bagaimana kau bisa tahu?"


"Aku tidak akan menjawabnya sebelum kau memberitahuku dimana Ibuku."


"Ayah dan anak sama saja." Pria Luka itu menggeleng-geleng.


"Kau tahu ayahku?" Ashnard bertanya penuh penasaran.


Pria Luka menyeringai. "Aku sangat mengenalnya."


Lalu, tanpa basa-basi, ia berlari menuju Ashnard. Mengangkat tinggi pedang hitamnya di udara dan Ashnard menahannya dengan pedangnya.


Dari pedang milik pria tersebut, sebuah cairan hitam bergerak menggeliat seperti makhluk hidup. Berusaha merambat pada Pedang Hoku dan Ashnard.


"Apa ini? Hoku!" perintah Ashnard panik, membuat Hoku berdenting sangat keras.


Pria Luka bersama cairan hitam itu merasa kesakitan mendengar suara nyaring. Pria itu mengerang sembari menutup lubang telinganya, sementara cairan hitam di pedangnya bergetar dengan cara yang aneh.


Setelah suaranya hilang, pria itu kembali bangkit namun dengan kondisi yang kesulitan untuk berdiri.


"Pedangmu itu sangat menganggu," geram Pria Luka.


"Kalau begitu, aku harus menghancurkan pedangmu terlebih dulu."


Pertarungan pun kembali dilanjutkan. Tapi kini, Pria Luka yang tampak marah menunjukkan kekuatannya yang bukan merupakan tandingan Ashnard. Matanya menyala semerah api yang terang. Dari tubuhnya, muncul sekelebat kobaran api yang membara.


Nous mengambil pisaunya untuk menggantikan Ashnard berhadapan secara langsung. Api membakar udara disekitar, membuat Nous sedikit kesulitan untuk mendekatinya.


Dari satu tebasan ke bawah, tercipta api yang menyembur ke arah Nous. Nous berputar menciptakan pusaran angin yang menolak semburan api tersebut.


Sementara Ashnard di belakang, memberikan bantuan dengan melepaskan Hoku. Dengan kombinasi Ashnard dan Nous, berhasil membuat Pria Luka terpojok, tapi justru membuatnya semakin marah.


"Ini berjalan tidak baik, ya," lirih Pria Luka yang menundukkan kepalanya dengan tangannya yang terkulai lemas.


"Ya, kau benar. Sebaiknya beritahu aku sebelum aku membunuhmu," ancam Ashnard.


"Membunuhku?" Pria itu tertawa mendengar ancaman dari Ashnard. "Yang benar saja! Bagaimana cara bocah sepertimu membunuhku?"


"A-aku tidak akan membocorkan rencanaku pada musuh," ucap Ashnard berkilah.


"Ya, ya. Aku memaklumi kalian karena tak tahu apa-apa."

__ADS_1


"Tahu apa?" desak Nous.


Pria itu mengangkat sedikit mukanya, melihat ke Nous lalu beralih ke Ashnard. "Musuh kalian yang sebenarnya."


"Musuh? Aku tak mengerti," jawab Nous.


"Hei, Dewa Angin Hutan, kau tahu tentang 12 Kehancuran? Dewa yang menawarkan kekuatan untuk menjadi dewa pada dirimu dan teman-temanmu seharusnya sudah menjelaskannya," tanya Pria Luka pada Nous.


"Ya, itu sebuah ramalan. Ramalan kehancuran dunia yang akan datang." Nous melihat ke Ashnard yang penasaran. Ia tak ada pilihan lain untuk menjelaskan ramalan yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja. "Dalam ramalan tersebut, dikatakan bahwa 12 sosok yang mewakili 12 elemen lahir untuk menghancurkan dunia yang sudah terpuruk ini. Mereka akan menghancurkan lalu membangun kembali dunia sesuai keinginan mereka."


"Tepat sekali. Bahkan kekuatan mereka yang sangat besar hingga mampu menciptakan kembali dunia, bukanlah tandingan para dewa."


"Tapi, ramalan itu sudah berusia 5000 tahun yang lalu. Kebenarannya bisa saja sudah berubah selama waktu yang panjang tersebut."


"Memang benar ramalan bukan suatu hal yang pasti. Tapi, bagaimana kalau itu benar dan sudah dimulai sekarang?" Pria Luka melirik ke arah Ashnard.


"Apa yang kau ....?" Mata Nous membelalak tak percaya. "Itu mustahil! Anak ini bukan salah satu dari ramalan itu. Ramalan itu mengatakan perwujudan dari satu elemen, sedangkan Ashnard memiliki dua elemen," bantah Nous.


"Aku tak bilang dia salah satunya."


Nous terdiam. Memilih mendengarkan penjelasan dari pria di hadapannya tersebut.


"Kami sebagai manusia yang tunduk di bawah kuasa dewa, tak ingin tanah tempat tinggal kami hancur. Oleh karena itu, kami ingin mencegah ramalan itu, jika suatu saat ramalan itu terjadi. Seperti kata orang-orang, sedia payung sebelum hujan, kan?


"Kami ingin melawan perwujudan elemen tersebut dengan elemen kami sendiri. Melawan api dengan api. Dan Ashnard adalah kunci untuk itu.


"Anak itu adalah bukti nyata di mana manusia yang lemah ternyata bisa melanggar aturan dari para dewa. Dari sini kalian paham, kan? Kekuatan yang melanggar dewa, berarti kekuatan tersebut berada paling atas. Dengan begitu, kita bisa menghentikan kehancuran yang akan terjadi."


"Dengan kata lain, kau akan menjadikan Ashnard sebagai eksperimen. Ia bisa saja mati demi hal yang bisa saja tidak akan terjadi. Itukah yang ingin kau katakan?" tanya Nous.


"Ya, anggap saja semua penjelasanku barusan adalah hadiah perpisahan anak itu denganmu dan juga agar mata kalian terbuka dengan ancaman yang sesungguhnya. Lagipula, pengorbanan satu orang lebih baik daripada kehancuran semuanya."


"Tetap, aku tidak akan menyerahkan anak ini," tegas Nous.


Selama mereka saling melemparkan penjelasan tersebut, tak ada yang bisa Ashnard lakukan selain diam. Memroses, merenung dan berpikir. Semua hal itu membuatnya pusing.


"Kau benar-benar tidak paham, ya," bisik Pria Luka.


Lalu, Pria Luka mengambil sebuah bola sebesar buah apel dari sakunya. Bola tersebut ia lemparkan di antara Ashnard dan Nous.


"Awas!" teriak Roc melalui pikiran Ashnard.


Ashnard mengetahui bola tersebut, tapi ia telat untuk menghindar. Bola tersebut meledak sangat hebat, hingga melemparkan Ashnard ke sungai di jurang.


Finn yang masih berada di tempat pertarungan tersebut, melihat Ashnard yang terlempar ke bawah. Ia berusaha menangkapnya tapi sia-sia. Ashnard tenggelam dalam sungai.

__ADS_1


"Ah, sial! Aku terlalu terbawa suasana," geram Pria Luka ke dirinya sendiri. Ia lalu melarikan diri setelah ledakan tersebut.


__ADS_2