
Pintu yang bentuknya, warnanya dan ketebalannya tidak jauh berbeda dengan dinding tiba-tiba menimbulkan bunyi klik. Lalu, bagian dari pintu itu bergerak, membentuk balok yang keluar dari pintu. Balok tersebut terbelah menjadi dua, dilanjutkan dengan sebuah roda yang keluar dan berputar. Setelah semua sistem rumit itu saling terbuka, terbelah, dan berputar, akhirnya pintu bergeser ke samping. Memperlihatkan seorang pria yang telah membuka pintu tersebut.
Senyumnya yang mencurigakan, dan tatapannya yang ramah, pria itu berkata dengan suara yang lembut, "Kudengar ada yang telah mengambil Mata Petunjuk salah satu penjaga. Tuk kusangka mereka adalah bocah."
Pria itu memakai jas hitam berekor panjang. Dengan ornamen emas di kancing serta bagian bahu yang memanjang ke punggung, membentuk seperti lukisan emas. Rambut hitamnya tebal dengan sejumlah poni sampingnya menjuntai ke bawah, sampai menyentuh alis lurusnya.
Ashnard hanya bisa bingung selagi pria itu tersenyum. Dari kedua sisi pria itu, muncul dua penjaga yang masuk ke dalam sel dan membawa keluar Ashnard beserta yang lainnya.
Salah satu penjaga membawa Ein dengan menarik lengannya sedikit kasar ke dekat pria yang tampaknya adalah bos mereka.
"Oh, jadi ini gadis yang sering keluar masuk alam roh? Kuakui, apa yang kau lakukan selama bertahun-tahun cukup nekat melihat tempat ini sebagai alam setelah kematian. Aku sampai hafal jika ada gerbang menuju dunia luar yang tiba-tiba muncul, itu berarti adalah ulahmu. Sebagai peringatan, tetaplah di duniamu, gadis muda, atau jika kau ingin jiwamu ada di sini secara permanen."
"Aku tidak akan berhenti mengunjungi Ibuku," balas Ein.
Pria itu sedikit terkejut. Lalu, diam sejenak seperti mengamati kedua mata Ein dan membaca melaluinya. Mata putihnya tiba-tiba bersinar dan berkedip-kedip saat ada banyak cahaya kecil berwarna ungu lainnya yang muncul di bola matanya lalu menghilang begitu saja. Cahaya-cahaya itu seperti masuk atau terhisap ke dalam matanya.
"Oh, roh wanita yang tidak terbelenggu? Irina. Aku mengerti. Kau menyayangi Ibumu. Tapi, orang hidup dan orang mati tidak bisa bertemu. Tidak bisa melanjutkan kehidupan kecil mereka. Itulah aturannya. Itulah arti dari orang mati dan orang hidup," lanjut pria itu. Senyuman yang dia berikan ke Ein, tidak terasa seperti senyuman lembut yang ramah, namun seperti sebuah ancaman.
"Maaf, tuan, siapa sebenarnya kau?" tanya Ashnard penasaran.
Pria itu mendekatkan wajahnya ke Eina, sambil melirik ke Ashnard. "Hei, Putri Irina. Kau tidak memperkenalkanku pada mereka? Jangan bilang kau tidak tahu siapa aku, meskipun sudah sering bolak-bolik ke dunia ini."
"Aku hanya tahu. Belum pernah melihatmu secara langsung," jawab Ein. "Kau adalah manusia yang diberi karunia dewa dan menjaga alam roh dari ancaman antar alam. Duw Marnaeth, Tuan Alfeus."
"Kau seorang manusia?" Saking terkejutnya, Ashnard sampai menatap begitu lama pria yang berdiri di depannya itu lalu beralih ke Roc yang sedikit terkejut. Roc justru terlihat tidak begitu peduli.
"Ya, itu aku. Aku diberi tugas oleh Yang Kematian, untuk menjaga stabilitas alam roh agar tidak ada yang namanya kebocoran antar alam satu dengan alam yang lainnya. Aku juga ditugaskan untuk mengatur dan mengepalai para penjaga agar melaksanakan tugas mereka dengan baik."
Terdengar suara dengusan meremehkan dari Roc yang berdiri dengan santai, meskipun lengannya masih dipegang oleh penjaga. "Menjaga agar tidak ada kebocoran? Fakta bahwa kami ada disini, berarti tugasmu sudah gagal."
__ADS_1
"Itu karena aku dilarang untuk mengusik kehidupan di luar, roh tidak sempurna. Aku tidak bisa keluar begitu saja. Keberadaanku di sini sangatlah penting bagi alam roh," ucap Alfeus masih mempertahankan senyuman lembutnya. "Tapi, jika disini, aku memiliki kuasa. Karena itu, untuk yang pertama dan terakhir kalinya, kalian harus kembali ke dunia nyata. Kalian bukan orang mati dan tidak seharusnya berada di dunia orang mati. Aku memaksa."
"Tidak bisa!" sergah Ashnard melepaskan diri dari pegangan penjaga yang kuat. "Aku harus mencari Ibuku. Membuktikan apakah dia masih hidup atau tidak. Aku datang untuk itu. Kami akan pulang. Kami janji. Tapi, setelah aku menemukan jawaban dari keberadaan Ibuku."
Tatapan mata Ashnard yang penuh tekad itu, membuat senyuman Alfeus pudar. Ada suatu perasaan yang sama dia rasakan dari Ashnard. Perasaan itu berkumpul di hatinya sudah sekian lamanya dan kini menyebar. Berisi ingatan masa lalu yang penuh dengan naik turunnya kehidupan sang pria yang sekarang menjelma menjadi sosok lain.
Para Duw Marnaeth adalah pelayan dewa. Mereka mengerahkan seluruh jiwa, raga dan kesetiaan mereka untuk melayani para dewa serta menjalankan tanggung jawab yang sudah diberikan. Itulah fungsi mereka. Itulah tujuan dari dipilihnya seorang manusia untuk menggunakan potensi mereka demi dunia.
Sebagai seorang pelayan Kematian, Alfeus harus memulangkan Ashnard dan yang lainnya kembali ke alam mereka. Walaupun kehidupannya bukan lagi yang dilakukan para manusia, tapi darah manusia masih mengalir di tubuhnya. Manusia yang saling menguatkan, membela dan membantu satu sama lain. Alfeus merasa setidaknya dia ingin memberikan bantuan sebelum memulangkan mereka.
"Kalau kau sudah menemukan Ibumu, kau janji akan meninggalkan alam roh?"
"Aku janji."
"Apa janjimu juga berarti putri Irinia tidak akan kembali ke alam roh lagi?"
Ashnard saat itu melirik ke arah Ein yang tak menunjukkan ekspresi apapun saat ini. Ein hanya melihat Ashnard seolah tidak ingin mengatakan apapun. Ashnard tentunya merasa bingung harus menjawab apa.
"Begitu ya. Kurasa itu urusan yang berbeda." Setelah menghela nafas, Alfeus menyuruh kedua penjaganya untuk melepaskan Ashnard dan yang lainnya. Ia lalu mencabut Mata Petunjuk di salah satu kepala penjaganya dam memberikannya ke Ashnard. "Gunakanlah dengan bijak. Aku hanya memberimu satu bantuan satu mata untuk satu petunjuk."
"Terima kasih." Ashnard menerimanya dengan sepenuh hati.
Di tempat itu juga, di depan ruangan yang memenjarakan mereka sebelumnya, Ashnard langsung menggunakan kekuatan dari batu tersebut. Ashnard meletakkan batu itu tepat di keningnya, di antara matanya. Batu itu tiba-tiba menyatu dengan keningnya seolah itu bagian dari tubuhnya.
Dipikiran Ashnard hanya ada satu. Seorang wanita bernama Edda Raegulus. Ibunya. Dia tidak memikirkan apapun selain Ibunya. Bahkan dia berhenti untuk berpikir soal bernafas, soal dirinya serta dunia. Seakan-seakan alam pikirannya hanya berisi Ibunya saja. Dengan begitu, Mata Petunjuk akan aktif sesuai dengan keinginan pemiliknya.
Manusia adalah makhluk yang penuh hasrat dan keinginan. Pikiran manusia berisi semua hal tersebut yang sudah dicapai hingga yang ingin. Tidak akan pernah keinginannya puas di satu hal saja. Karena itu, Mata Petunjuk menginginkan hal yang lebih spesifik, lebih khusus, lebih utama seolah-olah tidak ada hal lain.
Tidak seperti para penjaga yang merupakan makhluk yang tidak hidup. Mereka diciptakan hanya untuk tujuan yang telah diberikan. Mereka tidak perlu menginginkan hasrat apapun. Mata Petunjuk itu dibuat untuk mereka karena lebih mudah menggunakannya daripada bagi manusia.
__ADS_1
Mata Petunjuk akan bercahaya saat pemiliknya sudah mendapatkan keinginan utamanya. Keinginan Ashnard sungguh lah kuat, sama seperti keinginan Ein untuk mencari Ibunya. Cahaya dari batu itu bersinar dan menerangi penglihatan Ashnard. Ketika matanya terbuka, sang mata akan menuntunnya ke arah hasratnya berada. Ashnard seperti roh yang bergerak dan melayang dengan sangat cepat menyusuri seluruh tempat. Tapi, dia tidak bisa berhenti.
Ashnard mulai panik. Penglihatannya semakin cepat dan terlalu cepat. Saking cepatnya dia tidak tahu apa saja yang batu itu sudah perlihatkan padanya. Seperti ribuan informasi yang masuk ke kepalanya, namun tidak bisa dicerna dengan sangat lancar.
"Aku tidak bisa menghentikannya! Apa yang harus kulakukan?" tanya Ashnard panik.
Ketika Roc dan Ein bingung apa yang harus dilakukan, saat itu Alfeus langsung menarik paksa batu dari kening Ashnard meskipun pencariannya belum selesai.
"Apa yang terjadi?" tanya Ashnard sambil memegang keningnya. Nafasnya terengah-engah.
Alfeus mengangkat batu itu di udara dan menerawangnya. Lalu, memasangkannya kembali di penjaganya. "Tampaknya Ibumu tidak ada di sini."
"Sungguh?" Seketika Ashnard merasa senang. Beban berat dari pikirannya luntur menjadi rasa lega. Bahkan dia menjadi lupa dengan nafas terengah-engahnya. Karena dia tahu, jika ibunya tidak ada di sini, itu berarti ibunya masih hidup.
Sementara Roc dan Ein ikut merasa senang dengan kabar itu, Alfeus tidak menunjukkan senyuman lembutnya yang sebelumnya.
"Maaf menganggu kelegaanmu. Jika aku boleh bertanya, apa yang sebenarnya terjadi pada Ibumu?"
"Seseorang menculik Ibuku. Aku tidak tahu dimana Ibuku berada sekarang. Tidak ada kabar. Tidak ada petunjuk. Hingga akhir-akhir ini, kawan dari penculik Ibuku berkata jika Ibuku sudah meninggal," jelas Ashnard.
Pria itu memandang Ashnard dengan serius. Sama seperti Ein, mata pria itu mengeluarkan cahaya putih saat menatap mata Ashnard. Ashnard sendiri merasa gelisah di tatap oleh mata putih tersebut.
"Edda Raegulus?"
"Kau kenal Ibuku?"
Tatapan mata Alfeus mendadak berubah menjadi penasaran dan penuh tanya. "Tidak. Aku melihat ingatanmu. Kau ... aku tak tahu harus berkata apa soalmu, anak muda. Kau sesuatu yang belum pernah kutemui. Kau ini ... apa?"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Aku melihat melalui ingatanmu. Ada dia." Pria itu menunjuk ke arah Roc. "Aku melihatmu maka aku melihat ke dalam dia juga. Kau terikat dengan roh tak berwujud itu. Kalian berdua satu! Dua jiwa dalam satu tubuh. Sepertinya aku harus mengujimu terlebih dulu."