
Pesta prom tidak lama lagi dimulai. Salah satu perayaan di akademi yang sangat ditunggu oleh kebanyakan murid. Mereka percaya perayaan pesta ini akan membuat masa depan baru, kisah baru, dan pendamping yang baru. Mereka percaya mereka akan mendapatkan sosok yang diimpikan pada perayaan ini. Cinta dan ikatan adalah makna dari pesta ini. Kedua individu disatukan oleh takdir dalam sebuah pesta dansa romantis. Tidak ada siapapun yang tidak bisa menolak hal semacam ini. Mereka yang menginginkan cinta sangat menggantungkan masa depan mereka pada pesta ini, karena mereka yakin mereka akan mendapatkan cinta mereka.
Pesta prom adalah puncak acara pada perayaan festival tahunan akademi. Acara lainnya diantara lain berbagai macam lomba akademik maupun non akademik, kunjungan ke kota, libur panjang dan pesta dansa. Banyak yang menunggu kunjungan ke kota karena ada banyak kios makanan dan hiburan di kota itu selama festival diadakan, tapi banyak juga yang lebih menginginkan liburannya saja daripada serangkaian acara tersebut.
Acara ini diadakan selama tiga minggu. Satu minggu untuk perlombaan, dua minggu untuk liburan di kota, dan hari terakhir tentunya untuk persiapan pesta dansa yang diadakan saat malam hari di Aula Putih. Pengumuman pemenang lomba juga dilakukan setelah pesta dansa sekaligus menutup akhir acara.
Persiapan biasanya dilakukan jauh sebelum acara pertama dimulai. Tapi, tidak jarang dilakukan gladi kembali sembari liburan berlangsung.
Para murid diwajibkan untuk bisa berdansa karena itu adalah bagian paling penting. Jika tidak bisa berdansa, maka akan mengecewakan pasangan. Jika pasangan kecewa, maka tidak ada akhir yang baik. Perayaan yang berjalan panjang dan melelahkan harus dihadiahi dengan akhir yang baik. Jika tidak mendapatkan akhir yang baik, maka perjuangan yang telah dilakukan hanya sia-sia semata.
Mungkin bagi para gadis yang anggun, gemulai, periang, dan lekat dengan kehidupan romansa tidak akan mempermasalahkan ini. Tapi, bagi para lelaki yang bukan keahlian mereka dan menganggap berdansa itu memalukan, sangat mempersalahkan latihan ini. Memang benar mereka ingin mendapatkan pasangan hidup mereka, tapi mereka tak ingin melaluinya dengan berdansa. Itulah hal yang harus dilalui para lelaki.
Kemudian, masalah kedua yang harus dilalui oleh para lelaki adalah pasangan berdansa mereka. Mereka harus mencari seorang gadis untuk diajak berdansa. Kedengarannya memang mudah. Tapi, kenyataannya itu sangat sulit. Mengajak berdansa itu seperti mengungkapkan perasaan secara tidak langsung. Di mana hal seperti itu memang sulit dilakukan dan terkadang memberikan kesan canggung. Jika mereka tidak memberanikan diri, mereka akan kalah. Mereka akan didahului. Gadis yang ingin mereka ajak kencan akan direbut terlebih dulu oleh orang lain. Namun, bagi mereka yang sudah memiliki pasangan, mereka hanya tinggal berlatih langsung bersama pasangan mereka. Salah satunya adalah Ashnard.
Ketika di Winfor, Ashnard memang pernah diajarkan berdansa sewaktu kecil. Tapi, semua ingatannya tentang berdansa sudah pudar oleh bertambahnya ingatan baru. Ashnard merasa kaku dan canggung saat mencoba berlatih berdansa.
"Kalian para lelaki benar-benar payah," ucap seorang instruktur dansa untuk para murid laki-laki di ruang latihan. "Reinhard, sekarang giliranmu. Tunjukkan pada mereka seperti apa gerakanmu."
Reinhard bangkit dari kursi penonton lalu turun ke depan, menghampiri instruktur pria dengan baju dan celana ketat itu. Sang instruktru menggenggam pundak Reinhard, sementara tangan satunya lagi menggenggam tangan Reinhard.
Reinhard merasa tak gentar saat tubuhnya dipegang oleh seorang laki-laki yang gemulai. Matanya menatap serius dan dingin, seperti tatapan seorang laki-laki yang sudah pernah melalui hal paling berat dalam hidupnya. Reinhard lalu meletakkan tangan kirinya pada pinggang sang instruktur. Mereka pun mulai bergerak secara bersamaan dan berputar dengan indah selayaknya penari profesional.
"Bagaimana Reinhard bisa tenang seperti itu?" ucap salah seorang murid di kursi penonton.
__ADS_1
"Yang membuat gerakan kita aneh itu karena pasangan latihan kita, bukan karena kita tidak bisa berdansa, ya, kan? Coba saja bukan pria aneh itu, tapi anak cewek yang berlatih bersama kita, aku pasti semangat berlatih!" tutur murid lainnya.
Instruktur dansa yang mendengarnya, menatap tajam ke arah murid tersebut, lalu berkatan, "Selanjutnya, kau! Aku akan membuatmu bisa berdansa meskipun kakimu telah patah sekalipun."
"Pria itu mengerikan," pikir Ashnard.
Bunyi ketukan langkah yang berirama terus meramaikan suasana ruang latihan hingga waktu latihan telah berakhir.
Ashnard pergi ke kota karena ada jadwal kencan bersama Nina pada malam hari. Pemandangan kota lebih meriah dari sebelumnya. Banyak cahaya dari lampu-lampu yang digantung dengan tali di atas jalanan sehingga tampak menerangi seluruh isi kota.
Ornamen-ornamen cantik dari bunga menghiasai bangunan-bangunan dan bendera menambah ragam warna yang semakin memperkaya pemandangan kota ini. Tidak seperti sebelumnya, alun-alun kota menjadi lebih padat dengan bertambahnya kios permainan dan makanan. Tidak hanya ada murid-murid yang berseliweran, berjalan dengan bahagia di kota ini, tapi warga biasa sampai wisatawan dari negeri asing juga ikut meramaikan suasana.
Ketika Ashnard sampai di tempat tujuan, dia melihat Nina dengan gaun birunya berdiri di bawah lampu jalan seperti tokoh utama yang disorot oleh cahaya panggung. Gaun biru yang Ashnard belikan memang tampil sangat sempurna di tubuh gadis berambut merah itu. Ashnard yang sudah semangat dan terpuaskan pikiran dan hatinya, langsung mempercepat langkahnya menghampiri Nina. Disaat sudah dekat, muncul Eris dari belakang Nina melambaikan tangannya dan tersenyum riang.
"Apa maksudmu? Tentu saja, aku ingin jalan-jalan," jawab Eris.
"Tapi, Nina tidak bilang akan mengajakmu juga."
"Aku yang memaksa ikut."
Ashnard menatap mata Nina seolah menuntut jawaban lebih darinya tentang kehadiran yang tidak terduga ini. Dia menganggap ini adalah waktu khusus dirinya dan Nina, tapi tak menyangka Eris juga ikut. Meskipun memang, Nina dan Eris sudah tidak terpisahkan satu sama lain, tapi tetap ada perasaan kecewa pada Ashnard.
"Tidak apa. Semakin ramai semakin seru, kan?" kata Nina meyakinkan Ashnard.
__ADS_1
Lalu, muncul satu lagi seorang gadis berambut bergelombang yang datang dari arah belakang Ashnard. Dia langsung terengah-engah habis berlari kencang. "Oh iya, Abe juga ikut," kata Eris.
Rencana yang seharusnya menjadi kencannya dengan Nina, mendadak berubah menjadi jalan-jalan bersama Nina, Eris, dan Abertha. Ashnard hanya bisa mengeluh kecewa sambil menikmati pemandangan Nina yang tampak anggun.
Ketika berjalan bersama pun, Ashnard yang berjalan di sisi Nina sesekali melirik untuk mengamati lebih jelas penampilan Nina dengan gaun yang memukau tersebut. Gaun itu tentunya memperlihatkan bagian belahan dada lebih jelas seolah-olah ukuran asetnya yang terlalu besar, tapi kenyataannya tidak. Justru bagian dada gaun itu yang dibuat dengan kain tebal pada bagian depannya sedangkan bagian dalamnya tipis, sehingga memperlihatkan ukuran yang lebih saat dilihat dari depan, tapi saat di lihat dari atas, itu akan jauh lebih jelas dan terbuka karena kain bagian dalamnya tipis.
Ashnard terlalu fokus pada bagian itu hingga dia tidak sadar bahwa Eris dan Abertha juga ada di sebelahnya. Eris melepaskan sengatan listrik kecil yang merambat di belakang Nina dan menyetrum kening Ashnard.
"Aku tahu apa yang kau lihat," bisiknya sambil membuat gestur seolah matanya tertuju pada Ashnard.
Mereka sampai di sebuah kios dengan tenda berwarna biru. Ada seorang pria di dalam kios itu yang mengajak Ashnard dan lainnya untuk bermain permainannya. Di belakangnya ada sejumlah papan target. Permainannya cukup sederhana. Siapapun yang berhasil mengenai titik tengah target dengan panah yang sudah disediakan akan mendapatkan hadiah. Hadiahnya bisa berupa boneka, baju, perhiasan, panah sungguhan, kupon, dan beragam hadiah menggiurkan lainnya.
"Aku mau itu!" tunjuk Nina ke sebuah kupon. "Aku mau kupon diskon untuk makan sepuasnya."
"Kalau begitu, biar aku saja." Ashnard menawarkan diri.
"Tidak perlu. Aku bisa," ucap Nina penuh tekad di matanya.
Sementara itu, Eris dan Abertha memutuskan untuk pergi ke tempat lainnya. "Baiklah, kami pergi dulu. Kami akan bermain yang lainnya. Kalian bersenang-senanglah," ucap Eris melambaikan tangannya ke Nina dan perlahan semakin jauh.
Akhirnya Ashnard merasa lega karena bisa berduaan dengan Nina. Dan sekarang dia bisa kencan dengan sesungguhnya.
Nina mengambil sebuah busur yang diberikan oleh pria penjaga. Busur kayu itu menjadi pegangan untuk Nina agar bisa meraih titik yang tertinggi yaitu hadiahnya. Ketika dia berhasil mendapatkan hadiah tersebut, dia percaya, itu akan membuktikan bahwa dia sudah menjadi kuat.
__ADS_1
Pertama-tama, Nina harus mengincar targetnya. Mengenali bentuknya, warnanya, aromanya dan tujuan benda itu digunakan. Setelah semua itu menempel pada ingatannya, Nina kemudian melupakan semua pemandangan di sekitar dan hanya fokus pada satu benda itu. Semua yang tidak dia tuju harus dihilangkan dari pandangan mata, termasuk Ashnard. Dengan begitu, panahnya hanya tertuju pada satu arah saja.