
[Peringatan: Berisi konten dewasa]
Tiba-tiba saja, pintu putih besar terbuka dari luar dengan keras, menimbulkan suara yang mengejutkan Reinhard. Pintu dibuka oleh dua orang yang memakai pakaian pelayan, dan ditengah mereka merupakan sosok sang majikan, Putri Wilia.
Dengan senyuman khasnya yang siapapun akan merasa terhina jika melihatnya, Wilia melangkah masuk dengan angkuh seolah toko-lebih tepatnya dunia-adalah miliknya.
Wilia menghampiri wanita pemilik toko gaun dan mengambil gaun yang ingin Reinhard beli dari tangannya. "Tidak usah kau suruh, aku akan memakainya," ucap Wilia yang lalu pergi ke ruang ganti.
"Aku tidak percaya? Ternyata gaun itu untuk Putri Wilia. Aku seharusnya sudah menduganya dan mempersiapkan sambutan, dasar bodoh aku," gumam sang penjaga toko, memarahi dirinya sendiri.
Melihat Wilia yang tiba-tiba mengambil gaunnya, Reinhard dengan kesal menyusul Wilia hingga ke ruang ganti. Reinhard menarik lengan Wilia, tapi Wilia menarik pakaian Reinhard hingga mereka berdempetan di dalam ruang ganti. Seketika, ketiga pelayan Wilia menutup tirai.
"Oh, ada apa, Tuan Asberion? Kau sudah tidak bisa menahannya? Tunggu! Jangan, Tuan Asberion! Kita tidak bisa melakukannya di tempat umum. Bagaimana kalau orang lain mendengarnya, dan kabar tak enak mulai menyebar." Wilia mengatakan omong kosong di balik tirai seolah ingin memberi tahu orang-orang yang ada di dalam toko.
Wajah Reinhard langsung memerah ketika Wilia membuat perkataan yang tak pantas soal dirinya, apalagi ia adalah seorang putri. "Apa yang kau katakan, Wilia? Diamlah!" tegurnya sambil berbisik.
"Aku tak menyangka, Tuan Asberion sangat agresif. Tunggu sebentar, jangan robek pakaian kesayanganku. Tidaak!" teriaknya masih berlanjut. "Apakah tubuhku terlalu menggoda bagimu, hingga kau tak bisa menahan perasaanmu seperti makhluk buas di musim kawin? Baiklah, aku siap. Tapi, pelan-pelan saja, karena ini pertama kalinya bagiku." Wilia masih saja mengatakan omong kosong. Padahal di balik tirai, Wilia sedang tersenyum licik ke Reinhard yang tidak melakukan apapun.
Sementara itu, sang penjaga toko menggigiti jari-jarinya sembari berpikir, "Jika Tuan Asberion dan Putri Wilia dari Rabalm melakukan itu disini dan mereka memiliki anak, itu berarti tokoku akan menjadi terkenal di antara dua keluarga dan semakin banyak bangsawan yang akan datang."
"Ah, tidak! Sudah masuk!" erang Wilia.
Wanita itu langsung mengusir semua pelangannya saat itu, termasuk Ulfang yang mengira Reinhard terpengaruh sihir putri licik hingga benar-benar melakukan itu, dan Ulfang berusaha menyelamatkan temannya. Namun, wanita penjaga toko ternyata lebih kuat dari Ulfang saat mendapatkan penglihatan kesuksesannya.
"Nikmati waktu kalian berdua, Tuan Asberion dan Putri Wilia. Aku menjamin kenyamanan dan privasi kalian berdua di tokoku," ucap sang penjaga toko mengunci pintu dari dobrakan Ulfang.
Di balik tirai yang penuh kebohongan dan rencana licik, Reinhard terjebak bersama sang putri. Ia berusaha keluar dari ruang ganti, tapi tirai yang menutupnya tiba-tiba menjadi sekeras es. Salah satu pelayan Wilia membekukan tirainya dengan elemen esnya agar Reinhard tidak kabur.
"Kami harus menjaga rencana Putri Wilia agar sukses," ucap Cynthia, salah satu pelayan Wilia yang oaling terpercaya.
Wilia terus mengoceh hal yang senonoh. Bahkan, Reinhard harus menutup mulut Wilia saat ia membuat suara ******* yang seharusnya memalukan. "A-apa yang kau lakukan, Wilia? Kau itu seorang gadis. Jangan memalukan dirimu sendiri."
Wilia menurunkan tangan Reinhard. "Jika kau yang mendengarnya, aku tidak masalah," ucapnya sambil tersenyum menggoda.
__ADS_1
Reinhard menggelengkan kepalanya, lelah menghadapai semua perilaku Wilia yang menyebalkan. "Hentikan. Dan juga berikan gaunnya. Gaun itu bukan milikmu."
Meskipun Reinhard sudah menjelaskannya, Wilia masih bersikap seolah dia yang berkuasa. "Tidak usah bohong. Aku tahu kau ingin membelikannya untukku."
"Apa? Jangan bercanda! Apa yang membuatmu berpikir aku membelikanmu gaun?"
"Ini buktinya!" Wilia membentangkan gaunnya, dan mengarahkan bagian dada gaun itu ke depan muka Reinhard. "Lihat! Ini ukuranku."
"Hah?" Reinhard lalu mencuri celah untuk mengintip buah dada Wilia. Dan memang benar. Menurut insting laki-lakinya, ukuran dada gaun itu sama dengan ukuran dada Wilia. "A-aku tidak tahu itu, sumpah. Aku hanya memilih gaun yang menurutku bagus saja. Aku tidak paham soal ukuran dadanya."
"Percuma saja bohong, Reinhard. Kau tahu ukuran dadaku. Kita pernah tidur di kasur yang sama waktu di Rabalm, kau bahkan pernah memegang dadaku saat itu. Kau pasti tahu."
Semua ucapan yang keluar dari mulut Wilia sangat tidak pantas untuk dibicarakan dan diumbar di depan umum. Daripada Wilia yang merupakan seodang gadis muda, justru hanya Reinhard lah yang merasa malu dan panik.
"Memang benar kita tidur di kasur yang sama, tapi aku tidak melakukan hal tidak sopan seperti itu," sanggah Reinhard.
"Kenapa kau berbohong terus? Jelas-jelas aku bisa merasakan tanganmu yang meremas dadaku. Aku tidak berteriak atau menyingkirkan tanganmu karena aku takut jika suasana di antara kita menjadi lebih canggung. Jadi, aku berpura-pura tidak menyadarinya dan membiarkanmu *******-***** dadaku," jelas Wilia.
Reinhard tak bisa berkata apa-apa lagi, karena memang itulah kenyataan. Rahasianya terbongkar dan ia sudah tak bisa mengelak. Rasa malunya semakin memuncak saat Wilia memberitahunya kejadian dua tahun yang lalu. Yang berusaha Reinhard lupakan, tapi tak bisa.
Reinhard berjongkok dengan semua rasa malu yang terukir di wajah merahnya yang berusaha ia tutupi. Tak bisa melihat lagi, karena saking malunya. Ia seolah ingin dunia mengambil nyawanya atau berharap kalau ini semua mimpi.
"Jadi, kau menyadarinya?" gumam Reinhard.
Wilia mendekati Reinhard yang berjongkok malu. "Tentu saja. Siapa yang tidak akan sadar jika ada seorang laki-laki yang meremas dadamu hingga pagi?"
"Ah, Wilia!" rengek Reinhard yang sudah tidak kuat lagi menahan rasa malunya. "Aku hanya tak bisa tidur saat tidak ada guling. Tubuhku bergerak sendiri seolah kau itu guling. Sungguh, aku menyesal. Maafkan aku. Seharusnya aku melepaskan tanganku waktu aku langsung sadar. Aku tidak tahu apa yang merasukiku saat itu!"
Wilia lalu berusaha menenangkan Reinhard dengan memberinya belaian di kepalanya. "Tenang saja. Aku tidak marah. Lagipula, kau itu cowok. Kau tidak boleh menyesal, kau seharusnya bersyukur karena telah memegang dadaku."
"Sekarang kau yang justru membuat suasana ini canggung," kata Reinhard, bangkit dan mulai menarik nafas pelan-pelan. "Sekarang teman-temanmu juga tahu rahasiaku. Dan penjaga toko."
"Pelayanku? Mereka sudah tahu lama, kok. Aku menceritakannya pada mereka."
__ADS_1
"Kenapa kau masih bersikap tenang? Apa kau tidak merasakan apapun?"
Tentu saja Wilia tidak bisa bersikap tenang sama sepertinya. Dia hanya telah berhasil menekan rasa malunya dan senang dalam waktu yang bersamaan. Khususnya pada kejadian waktu itu. Dia seperti gadis pada umumnya yang takut jika sesuatu mendadak berubah drastis di tubuhnya atau di sekelilingnya.
Beruntungnya, ada seseorang seperti Cynthia yang mau mendengarkan dan memberikan saran untuk Wilia, meskipun usia Cynthia sama dengan majikannya pada saat itu, yaitu 16 tahun. Hanya dengan bermodalkan buku, ia berkata jika itu adalah hal yang normal di lakukan laki-laki jika menyukai seorang perempuan. Laki-laki akan meremas dada pasangannya sebagai pelepas stres.
Cynthia juga menyarankan agar Wilia mengakui saja ke Reinhard secepatnya agar kedua pihak saling mengerti dengan keinginan masing-masing dan akhirnya dapat melakukannya dengan serius. Dengan begitu, ikatan Wilia dan Reinhard mungkin akan bisa lebih dekat dari sebelumnya. Tapi, itu bukan hal yang mudah bagi Wilia. Hatinya belum sanggup untuk mengatakannya pada Reinhard sampai saat ini.
Sementara itu, harga diri Reinhard benar-benar hancur. Ia tidak bisa lagi melihat dirinya sebagai seorang Asberion yang terhormat.
"Argh, aku berharap aku melupakan semua ini!" kesal Reinhard. Ia lalu mengambil gaun di tangan Wilia. "Tetap saja, ini bukan gaun untukmu. Aku tidak membelinya untukmu."
"Lalu, untuk siapa?" tanya Wilia.
"Liliya. Hari ini ulang tahunnya," jawab Reinhard.
Seketika, Wilia tertunduk dan menarik ujung seragam Reinhard. "Kenapa selalu Liliya?" Suaranya gemetar. Saat kepalanya terangkat kembali, terlihat pipi Wilia yang merah dan matanya yang berlinang air mata. "Kau jahat! Aku akan menyebarkan semua rahasiamu, termasuk ke Liliya," ancamnya. Setelah itu, ia merengek seperti bayi yang manja.
"Oke, oke, aku akan membelikanmu gaun, tapi bukan yang ini," ucap Reinhard tidak ada pilihan lain.
Dengan sangat cepat, Wilia kembali tersenyum lebar seolah tidak terjadi apa-apa. Reinhard lagi-lagi dipermainkan oleh Wilia yang licik. Sekarang mau tak mau, ia harus membeli gaun satu lagi.
Tanpa menunggu perintah majikannya, Cynthia langsung memilih satu gaun yang menurutnya cocok untuk Wilia. Ia tidak kebingungan atau bertanya mana yang bagus ke penjaga toko. Pandangan matanya sudah tertuju pada gaun itu semenjak ia masuk ke toko. Saat hatinya sudah terpikat saat itulah ia yakin Wilia akan menyukainya.
Sang pelayan lalu memberikan gaunnya ke Wilia. "Ini, Tuan Putri."
"Terima kasih. Sekarang aku akan mencobanya," ucap Wilia yang mulai membuka kancing seragam akademinya.
"Tunggu, Wilia. Aku masih disini, kau tahu. Aku seharusnya tak boleh disini," ujar Reinhard panik.
"Justru aku mau kau disini."
"Tapi, kau sedang ganti baju."
__ADS_1
Wilia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Reinhard, cukup dekat hingga Reinhard bisa merasakan detak jantung Wilia yang tak kalah cepatnya dengan detak jantungnya. Wilia berbisik, "Jika ini terakhir kalinya aku bisa bersamamu. Aku ingin kau memperhatikanku baik-baik."