The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Kencan Bersama Tuan Putri


__ADS_3

Dengan postur tegak dan tangan yang diletakkan di depan perut, para pelayan menunggu dengan tenang rencana sang putri. Meskipun majikan mereka mengeluarkan suara yang aneh dan ucapan yang tak pantas, mereka tetap tenang berdiri di depan ruang ganti. Mereka kenal Wilia dan mereka mematuhi segala perintahnya walaupun terkadang aneh-aneh.


Begitu pula Cynthia. Pelayan yang paling dekat dengan Wilia dan yang paling terpercaya. Ia lebih senior daripada dua pelayan pribadi Wilia yang masih sangat muda. Karena itu, ia tidak boleh bertindak gegabah dan menunjukkan kesalahannya di depan juniornya. Saat Wilia mulai menggoda Reinhard, mereka semua tetap tenang karena itu perintahnya.


Akam tetapi, saat Wilia mulai melepaskan tali dan mencopoti bajunya di depan Reinhard, suara-suara berisik yang datang dari Reinhard dan Wilia seketika lenyap. Yang awalnya di dalam ruang ganti hanya ada kehebohan dan rasa malu, tiba-tiba sunyi seperti tidak ada orang satupun.


Di saat itu, pikiran Cynthia mulai kemana-mana dan panik. Ia begitu gelisah, membuat nafasnya tidak teratur. Mata kedua juniornya selalu mengawasi gerik-gerik Cynthia untuk belajar dari ahlinya.


"Kau baik-baik saja, Nona Cynthia?" tanya salah satu pelayan yang berusia 15 tahun.


"Sst. Diam," bisik Cynthia, memenjamkan matanya dan berusaha untuk tetap tenang meskipun kakinya mulai gemetaran. "Tidak boleh berbicara atau bergerak sedikitpun tanpa perintah Nona Wilia."


"Maaf, kami mengerti," jawab kedua pelayan itu mengangguk.


Cynthia bukannya tidak bisa menaati perintah Wilia, hanya saja dia merasa khawatir pada majikannya. Apalagi, akhir-akhir ini rencana Wilia untuk mendekati Reinhard selalu berakhir gagal. Dia tidak mau Wilia terus mengalami nasib yang membuatnya sedih.


Namun, suasanya ruang ganti membuatnya gelisah. Suasana ini tidak seperti Wilia saat bertemu dengan Reinhard. Cynthia sangat hafal saat di Rabalm, Wilia tidak pernah berhenti berbicara saat bersama Reinhard. Gadis itu seperti menemukan kenyamanannya sebagai putri kerajaan di orang yang tepat.


Cynthia sudah menahan dirinya sejak tadi untuk tidak membuka tirai. Ia begitu penasaran dengan apa yang terjadi di dalam. Apakah rencananya gagal? Apakah terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan pada Wilia? Atau terjadi sesuatu di antara mereka?


Setelah ia menanti dengan sabar, hingga hampir setengah jam berlalu. Wilia akhirnya berkata, "Sudah selesai."


"Baik, nona." Cynthia tanpa basa-basi, melelehkan es yang membekukan tirai. Lalu, menyuruh kedua pelayan lainnya untuk membukanya.


Di dalam, sudah tampak Wilia dengan gaun putih dengan aksen emas yang cocok dengan rambut pirangnya. Ditambah warna putih seperti melambangkan keindahan Rabalm.


Cynthia mengamati dari bagian roknya yang tidak terlalu mekar, membuat Wilia mudah bergerak. Sedikit tembus pandang pada mata kaki hingga ke lutut, menunjukkan kefeminimannya.


Sebuah gaun yang sempurna di tubuh seseorang yang sempurna. Cynthia tak bisa berhenti berteriak di dalam hatinya, tapi di luarnya, ia hanya tersenyum dengan tenang.


"Anda sangat cocok memakainya," sanjung Cynthia sambil tersenyum.


"Terima kasih untukmu. Kau yang memilihnya," balas Wilia tersenyum puas.


Wilia lalu beranjak keluar ruang ganti dengan menggandeng tangan Reinhard. Entah mengapa, wajah Reinhard merah dan pakaiannya sedikit kusut. Cynthia yang sudah sering mengurus segala pekerjaan rumah, dapat melihat dengan detil beberapa bagian yang kusut di jas Reinhard seperti bekas cengkeraman.


Saat mata Reinhard tidak sengaja berpapasan dengan mata Cynthia, ia sontak langsung mengangkat sedikit sisi rok pelayannya ke samping, lalu membungkuk tanpa boleh sambil melihatnya. Sebuah sikap yang harus para pelayan lakukan saat bertemu dengan anggota keluarga yang sudah dikenalinya.


Reinhard tidak menyapanya seperti biasa, ia justru memalingkan mukanya seolah menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


Setelah Reinhard dan Wilia keluar dari ruang ganti, Cynthia langsung menyuruh kedua pelayan juniornya untuk membereskan dan membawa pakaian Wilia. Melihat dari wajah majikannya yang bahagia, tampaknya Wilia akan langsung menggunakan gaun barunya itu.


Karena sesuatu terjadi di luar perkiraannya, Reinhard mau tidak mau harus membayar dua gaun. Satu untuk Liliya dan satu lagi gaun yang dipakai Wilia. Reinhard tidak mempermasalahkan, masalahnya adalah ia masih tak bisa lepas dari cengkeraman Wilia.


"Putri Wilia sangat cantik sekali. Aku berharap 'dia' akan seperti kalian," ucap sang penjaga toko tersenyum puas.


Wilia juga membalasnya dengan senyuman yang sama lebarnya. "Tentu. Terima kasih."


Sementara, Reinhard kebingungan dengan apa yang penjaga toko itu maksud dan kenapa Wilia memahaminya. Apapun itu, Wilia menarik Reinhard keluar toko sebelum ia sempat berpikir.


"Reinhard, kau baik-baik saja?" Terlihat Ulfang yang masih menunggu Reinhard di depan toko.


Reinhard menitipkan gaun untuk Liliya ke Ulfang, lalu beralih ke Wilia untuk berpamitan. "Baiklah, kau seharusnya puas sekarang. Kau sudah mendapatkan gaunmu. Sampa jumpa."


"Tunggu!" teriak Wilia, menarik lengan jas Reinhard. "Aku masih belum puas. Ajak aku berkeliling! Itu harus!" pintanya dengan gaya sombong khasnya.


"Tak bisa. Aku sibuk saat ini. Kapan-kapan saja," tolak Reinhard.


"Aku maunya sekarang!" rengutnya manja seperti anak kecil. Lalu, tatapannya mendadak berubah seratus derajat. "Kalau tidak ... Aku akan memberitahu semua orang," ancamnya sambil menyeringai.


"Kau benar-benar putri yang jahat."


Wilia benar-benar membuat Reinhard Asberion tak bisa berkutik. Reinhard seperti ada dalam permainannya sekarang. Jika dia menolak untuk bermain, permainan akan berakhir. Satu-satunya pilihan adalah mengikuti permainannya dari awal hingga akhir. Tidak ada keraguan, tidak ada kemunduran.


"Baiklah, kau yang menang," jawab Reinhard pasrah.


"Keputusan yang bagus!" Wilia yang senang langsung melompat dan memeluk lengan Reinhard. "Sekarang, karena kau sudah memasuki permainanku, kau harus panggil aku, Wilia sayang."


"Ba-baik, Wi-Wilia sayang," jawab Reinhard malu.


"Terima kasih, Asberionku yang manis." Tidak seperti Reinhard, Wilia justru yang menikmati permainannya sambil menggoda Reinhard.


Sebelum Reinhard sempat memberitahu Ulfang untuk membatalkan rencananya, ia sudah ditarik Wilia terlebih dulu ke tempat lain. Ulfang tidak ada pilihan lain selain membuntuti mereka di belakang dan jauh di belakang para pelayan Wilia yang sedang menjaga agar tidak ada yang menghancurkan rencana sang majikan.


Dengan tangan Wilia mengait ke lengan Reinhard, mereka berjalan siang itu di pinggir jalan kota. Reinhard menuntun Wilia dengan tenang dan gagah layaknya pria terhormat menunjukkan sopan santunnya di hadapan seorang wanita, meskipun pikirannya sedang kacau saat ini.


Wilia langsung menepuk pundak Reinhard saat di depan terlihat sebuah kios roti kecil. "Reinhard, apa itu?" tanyanya tak bisa menghentikan semangatnya.


"Itu ... hanya roti. Kau tidak pernah melihat roti sebelumnya?" ledek Reinhard.

__ADS_1


"Tentu saja pernah, bodoh! Aku hanya belum pernah melihat roti berbentuk seperti itu." Karena kesal, Wilia menginjak kaki Reinhard. "Sekarang, bawakan roti itu padaku. Aku tertarik untuk mencobanya," suruhnya ke Reinhard.


"Kenapa kau tak menyuruh pelayanmu saja yang beli?"


"Hei, ini kencan! Harus kau yang membelikannya untukku."


"Kau bilang hanya ingin berkeliling saja."


"Kalau begitu, kuubah kata-kataku. Aku ingin kau mengajakku berkencan keliling kota. Puas?" ucapnya sambil menyilangkan tangannya di depan dada.


"Ugh, menyebalkan! Kenapa dulu aku menyukaimu?" gumam Reinhard sendiri, berusaha mengecilkan suaranya sekecil mungkin agar tidak didengar Wilia.


Selagi Reinhard membeli sebuah roti untuk sang tuan putri, Cynthia yang dari awal mengikuti cukup jauh dari belakang, mendekati Wilia. Ia sebenarnya masih penasaran dengan apa yang terjadi sebelumnya.


"Nona, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanyanya ke gadis yang tak bisa berhenti tersenyum memandang Reinhard.


"Ya, tentu saja."


"Apa yang terjadi di ruang ganti? Aku tidak bisa mendengar suara Tuan Asberion atau suara nona. Dan kenapa Tuan Asberion selalu menuruti kata nona? Apa dia sudah berubah pikiran?"


Wilia menatap mata pelayannya dengan serius. "Kami melakukan banyak hal," jawabnya.


"Banyak hal seperti apa?"


Tiba-tiba, Reinhard sudah kembali dan menyerahkan sebuah bungkusan berisi roti yang hangat. "Kami tidak melakukan apapun," sahut Reinhard.


"Dia bohong, Cynthia. Dia hanya malu saja. Dia bahkan tidak-"


Reinhard langsung menutup mulut Wilia dari belakang lalu menariknya ke dekatnya. "Yang benar saja, Wilia! Kau bilang kau akan menjaga privasiku! Apa itu tadi?" bisiknya.


Reinhard membuka sedikit tangannya, tapi tetap tidak menjauh dari mulut Wilia untuk berjaga-jaga. "Maaf, aku hanya senang menggodamu," balasnya ikut berbisik.


Dari sudut pandang Cynthia, ia melihat majikannya dan Reinhard berbicara cukup dekat. Bahkan tangan Reinhard yang hanya bertujuan menahan Wilia, terlihat seperti ia sedang memeluk Wilia di mata Cynthia. Hal itu cukup untuk memberinya penjalasan.


Ia berpikir jika rencana majikannya telah sukses. Dan apapun yang terjadi di antara mereka saat di ruang ganti, Cynthia cukup tahu saja, dan sebagai pelayan biasa, dia tak ingin mengusik privasi mereka berdua.


"Maafkan aku, Nona Wilia dan Tuan Asberion. Aku menanyakan hal yang lancang pada kalian. Aku tidak akan mengusik kesenangan kalian lagi." Cynthia lalu berbalik dan kembali ke jarak yang cukup jauh untuk tetap menjaga majikannya.


Reinhard dan Wilia lalu melanjutkan jalan-jalan, atau bisa dibilang kencan mereka. Setelah banyak hal yang terjadi saat dari toko gaun hingga kios roti, pandangan Reinhard terhadap Wilia berubah. Ia tak bisa melihat Wilia sebagai sosok yang anggun, ceria dan banyak bicara lagi.

__ADS_1


Saat dia melihat Wilia, dia akan mengingat semua hal yang tidak ingin dia ingat. Reinhard tidak menyukai ingatan yang seperti itu. Karena dia hanya ingin mengingat satu orang di kepalanya, gadis sama yang saat ini berada di depannya. Di depan toko bunga, Liliya memandangi sebuah bunga seperti sambil menunggu kehadiran seseorang.


__ADS_2