The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Makhluk dalam Kegelapan


__ADS_3

Ashnard membuka pintu kamarnya, dan tidak ada siapapun disana. Gerlon tidak terlihat di ranjangnya, bahkan Reinhard masih belum kembali semenjak terakhir kali berpisah dengan terungkapnya kebohongannya.


Kunci kamar ada dua di tangan Ashnard, satu miliknya dan satu milik Gerlon. Ia membawa dua kunci dan mengunci kamar sebelum patroli bertujuan agar Gerlon tidak mengambil kesempatan untuk pergi ke hutan.


Saat Ashnard kembali, jendela masih tertutup seperti kondisi sebelum ia pergi. Tempat tidur rapi dan tak ada barang-barang yang berserakan di lantai. Tidak ada yang mencurigakan selain pintu yang sudah dalam keadaan tidak terkunci. Ini menandakan Reinhard juga ikut terlibat entah bagaimana.


Ashnard bergegas ke luar dari asrama. Di kegelapan malam, tidak sulit mencari sebuah cahaya yang terang di satu titik. Dari sekian banyak cahaya yang menerangi akademi dan di langit, ada satu cahaya yang bergerak-gerak tidak normal, tidak seperti lainnya. Pandangan Ashnard berhasil menangkap cahaya merah di hutan belakang gubuk Egon.


Cahaya itu sudah pasti cahaya lentera milik Gerlon. Ashnard tanpa berpikir panjang, turun ke bawah menuju hutan. Ia secepat mungkin berusaha agar mereka tidak berada dalam bahaya karena sesuatu di hutan itu.


Ia berhati-hati melangkah menuruni anak tangga karena tidak sempat membawa lentera. Kondisi malam di hutan sangat sulit bagi penglihatannya untuk menerka ada apa saja di balik kegelapan ini.


Ketika indera manusia--salah satunya adalah mata yang berfungsi untuk memroses informasi visual tidak bisa digunakan semestinya, di saat itulah perasaan takut yang tak bisa dibayangkan muncul. Ketakutan akan ketidaktahuan. Memikirkannya saja sudah cukup membuat Ashnard merinding.


Ia berlari dengan kondisi yang setengah buta hingga akhirnya menyusul Gerlon. Gerlon membawa sebuah lentera dan di sebelahnya adalah Reinhard.


"Gerlon, sudah kubilang jangan keluar!" panggil Ashnard dengan marah.


"Ah, Ashnard akhirnya bergabung juga," sahut Gerlon senang.


"Siapa yang ingin bergabung? Aku kesini untuk membawamu kembali," ucap Ashnard kesal.


"Terlalu cepat untuk kembali. Ini akan menyenangkan kok."


"Menyenangkan darimana? Dan kenapa kau juga ikut?" tunjuk Ashnard ke Reinhard.


"Gerlon berkata kalau dia bisa menunjukkanku siapa penyerangnya. Dengan begitu aku bisa membalaskan kekalahanku waktu itu," jawab Reinhard kalem.


"Itu masalahnya. Kami tidak tahu siapa atau apa yang ada di sini? Apalagi mencarinya saat malam, bukankah itu terlalu beresiko?"


"Kita lupakan semua masalah yang telah terjadi sebelumnya. Reinhard, kau bilang kau melihat seseorang yang mencurigakan masuk ke hutan, kan? Apa kau bisa menjelaskan ciri-cirinya?" tanya Gerlon, mengabaikan ucapan Ashnard.


"Aku tak tahu banyak. Yang aku tahu pasti, orang itu memakai tudung," jawab Reinhard.


"Kenapa kalian membahas itu sekarang?"


Gerlon dan Reinhard terdiam, bukan karena amarah Ashnard, tapi karena suara di hutan yang semakin mendekat. Mereka merasakan aliran udara di hutan mendadak berubah, menandak mencekam. Atmosfirnya membuat mereka gemetaran.


"Ini dia!" seringai Gerlon lebih lebar dari apapun saat lentera meneranginya.

__ADS_1


Ashnard, Gerlon dan Reinhard saling berpunggungan dengan penuh waspada. Mata mereka dibuka dan adanya lentera yang Gerlon bawa, mampu memberikan gambaran sekelebat yang melewati pepohonan dengan cepat.


"Di sana!" tunjuk Reinhard melihat bayangan itu masuk ke semak-semak. Reinhard segera menembakkan proyektil angin dari tangannya.


Semak-semak itu bergetar disertai gerangan yang menandai serangan Reinhard berhasil mengenainya. Reinhard bersorak senang.


"Suara apa itu?" tanya Ashnard, tapi tak ada satupun yang menjawab. Sibuk pada bayangan yang terus berpindah dari satu semak lalu ke pepohonan setelah ia terkena serangan.


Makhkuk itu terus berpindah memutari mereka dengan sangat cepat. Hingga mata mereka masih tak bisa melihat wujud sesuatu itu dengan jelas.


Ashnard dan Reinhard bekerja sama menembaki dengan serangan elementalnya dan Gerlon memberikan penerangan untuk mereka. Dan akhirnya, bayangan itu hilang setelah terkena serangan terus-menerus.


Gerlon tahu bayangan itu masih ada di sana, bersembunyi di kegelapan. Dia juga tahu kalau bayangan itu ada di balik barisan pepohonan depannya. Lalu, Gerlon mengarahkan lenteranya ke depan untuk menunjukkan wujud asli bayangan itu.


Sedikit demi sedikit kegelapan telah ditelan cahaya merah lentera. Semua yang disembunyikan oleh kegelapan, perlahan telah terungkap. Ranting, jejak kaki, semak-semak yang rusak, dan sebuah moncong. Moncong panjang dari makhluk berwarna gelap.


Barisan taringnya tampak seperti barisan prajurit dengan pedang yang tajam. Geramannya terdengar seperti ketukan yang membawa kematian. Cahaya lentera berhasil mengungkapkan semuanya, termasuk matanya yang hitam polos dan memantulkan bayangan cahaya dari lentera itu sendiri.


Makhluk seperti serigala raksasa itu mengamuk saat cahaya menyinari matanya seperti terbakar. Ia melayangkan cakarnya dan menjatuhkan lentera itu ke tanah, juga melukai lengan Gerlon dengan parah.


Makhluk itu kembali lagi ke kegelapan, namun tanpa ada cahaya di pihak Ashnard, mereka lemah. Makhluk itu menyakar seperti anak panah yang cepat dan dapat berbelok arah di udara.


Ia menyerang dari yang lebih lemah dulu. Dengan sekali ayunan cakarnya yang besar, Gerlon terbaring di tanah dengan luka cakaran di punggungnya, membuat Ashnard panik.


Ia menghampiri Gerlon yang tak sadarkan diri dan darah terus merembes seperti aliran sungai yang tidak akan pernah berhenti. Gerlon berada dalam kondisi gawat. Mereka semua berada dalam kondisi yang sangat gawat.


Makhluk itu seolah marah karena mereka telah mengusiknya atau karena telah melukainya, atau karena ia adalah makhluk buas murni yang secara alami berperilaku selayaknya makhluk buas.


Dia tak menunjukkan wajahnya dengan bulu-bulu hitam yang runcing itu. Ia bergerak melalui kegelapan dengan lihainya seolah telah menyatu.


"Reinhard, kita harus pergi!" ujar Ashnard berteriak ke Reinhard yang sedang bersiap memegang pedangnya. "Jangan menyerangnya! Kita tidak bisa melihatnya!"


Namun, Reinhard yang dibutakan oleh kegelapan, ketakutan dan obsesi untuk balas dendamnya tidak mengindahkan ucapan Ashnard.


Reinhard menyerang udara atau apapun yang ia anggap bisa mengenai makhluk itu. Tapi, tidak ada satupun serangannya yang berhasil. Justru ia sendiri yang terserang dengan brutal. Makhluk itu mencakarnya, menyabiknya dengan cepat hingga membuat tubuh Reinhard terpental di udara.


Makhluk itu tidak memakannya, ia justru mempermainkan mangsanya hingga membuat mereka dalam kondisi yang kritis. Bagian dada Reinhard dan lehernya terluka parah. Kulitnya sobek dan dagingnya teriris. Namun, Ashnard tahu Reinhard masih hidup.


Reinhard dan Gerlon tidak akan hidup lagi jika Ashnard tidak menemukan cara untuk mengatasi makhluk ini.

__ADS_1


Ia lalu menancapkan pedangnya di tanah dan berbisik, "Berdentinglah, Hoku!"


Seketika bilah pedang Ashnard bergetar, menimbulkan suara nyaring yang hanya sang musuh saja yang dapat mendengarnya. Suara itu memekakkan telinga makhluk itu. Merambat melewati kegelapan, lalu menusuk pendengarannya dengan amat menyakitkan. Pada akhirnya, berhasil membuat makhluk itu kabur, meninggalkan Ashnard dan dua temannya yang kritis.


Ashnard mengalami sedikit gejala kepanikan saat melihat teman-temannya yang terluka parah.


"Kau harus tenang, Ash. Berpikirlah sesuatu," ucap Roc menenangkan Ashnard.


"Aku mengerti. Aku harus cepat bertindak," lirih Ashnard, nafasnya begitu berat hingga ia terengah-engah.


Ashnard memikirkan soal Liliya. Ia membutuhkan kekuatan penyembuhan Liliya saat ini. Namun, jika dirinya pergi, meninggalkan Gerlon dan Reinhard disini akan sangat berbahaya. Ia juga tak akan bisa membawa mereka bersamaan menemui Liliya.


Harus cepat berpikir. Ashnard memaksa dirinya untuk berpikir lebih cepat. Tapi, justru itu menyakiti dirinya sendiri. Ia berpikir apa saja dan terus menerus, tak sadar kalau waktu juga ikut berjalan selagi ia duduk berpikir.


"Lakukan sesuatu, Ash! Tidak ada gunanya kau berpikir lama!"


"Aku bilang, aku mengerti!" bentak Ashnard.


Karena terlalu sibuk berpikir, di belakang Ashnard ada pergerakan yang mendekatinya. Pergerakan itu membelah semak-semak dalam wujud pria tua yang bertudung. Ashnard mempersiapkan pedangnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Sosok itu membuka tudungnya dan memperlihatkan dirinya, Egon.


"Tuan Egon? Untung kau muncul. Aku membutuhkan bantuanmu, pak," ucap Ashnard yang berhasil mendapatkan suatu ide.


"Tidak! Kau harus menjelaskan alasan keberadaanmu disini. Jika tidak, aku akan melaporkanmu pada Kepala Akademi," tolak Egon.


"Tunggu! Teman-temanku sedang terluka. Aku harus mencari pertolongan."


Egon lalu mengarahkan lenteranya ke bawah dan melihat tubuh Reinhard dan Gerlon yang berceceran darah. "Astaga! Apa yang terjadi disini? Apa yang telah kau lakukan?"


"Bukan, bukan aku. Kami tadi diserang oleh makhluk buas-"


"Makhluk buas apa?"


"Dengarkan aku, Tuan Egon, kau harus menjaga mereka. Aku akan pergi mencari bantuan dan kembali secepat mungkin. Kumohon."


Setelah mempertimbangkannya, Egon setuju untuk menjaga Reinhard dan Gerlon. Ia dan Ashnard lalu membawa mereka ke rumah Egon di luar hutan.


"Mintalah bantuan Dokter Nora," ujar Egon menyarankan.

__ADS_1


"Tidak. Aku tahu siapa yang bisa membantu."


Ashnard lalu bergegas ke luar gubuk. Ia berlari dengan cepat sambil membawa lentera pinjaman Egon. Ia tak peduli seberapa jauh tempat yang ditujunya, yang terpenting ia harus cepat. Ashnard berlari melewati jembatan sungai dan menaiki tangga ke bagian atas lembah. Tujuannya adalah asrama perempuan.


__ADS_2