The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Riak Masa Depan


__ADS_3

Riak air muncul dengan sendirinya tiap bayangan memudar diganti dengan bayangan baru yang merefleksikan kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.


Dapat terlihat, satu per satu bayangan mereka berubah. Mulai dari Reinhard yang bayangannya menampakkan bahwa Reinhard berada di suatu gurun dengan seseorang bertudung hitam. Reinhard sendiri tidak bisa menebak bayangan tersebut, karena bukan merupakan bagian dari keinginannya.


Apapun itu, yang jelas Reinhard dan Liliya sudah tidak perlu dikhawatirkan lagi karena menunjukkan masa depan yang berbeda daripada yang ditakutkan.


Ashnard mungkin masih bisa memahami kenapa Reinhard menjadi salah satu orang yang ingin diselidiki Kepala Akademi. Dia berasal dari salah satu keluarga tersohor, Asberion. Serta kemampuannya yang Ashnard akui saat bertarung melawan Arlon.


Namun, yang membuat Ashnard penasaran adalah Liliya. Dia bukanlah sosok petarung seperti Arlon atau Reinhard. Dia adalah gadis yang ingin bahagia seperti pada umumnya. Mungkin alasannya Kepala Akademi memasukkan Liliya adalah karena darah spesialnya. Ashnard tidak kaget jika Kepala Akademi mengetahui rahasia Liliya. Tapi, pertanyaan yang Ashnard pikirkan adalah apakah kekuatan darah penyembuhan berpotensi menjadi ancaman kehidupan daripada pembawa harapan.


Bahkan Ulfang juga menjadi salah satu kandidat yang ditakuti Kepala Akademi. Ashnard semakin bertanya-tanya apa yang membuat seseorang harus diwaspadai olehnya. Apakah karena kekuatannnya? Apakah karena pengalamannya? Apakah karena kenalan yang dia miliki?


Ashnard hanya tahu bahwa Ulfang selalu setia mengikuti kemanapun dan apapun yang Reinhard lakukan. Reinhard adalah sosok idola di matanya. Tingkatan tertinggi yang ingin dia capai. Ashnard bahkan berani bilang kalau Ulfang jauh di bawah kekuatannya. Atau mungkin itu penilaian Ashnard saat dulu di Winfor. Dan sekarang Ulfang telah mendapatkan kekuatan elemennya. Masih ada kemungkinan lainnya yang Ashnard belum mengetahui secara pasti.


Ulfang mendapatkan bayangan ketika dia memakai jubah robek-robek, membawa pedang besar dan berada di tempat yang gelap. Ulfang di refleksi danau itu terlihat sedang melawan ular raksasa.


"Aku akan sekuat itu? Apa itu sungguh aku?" gumamnya, membeku menatap bayangannya sendiri.


Ulfang melihat dirinya menjadi sosok yang kuat adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Itu berarti mimpinya pasti terwujud. Dia tidak perlu berharap lagi atau takut tertinggal jauh dari Reinhard. Ulfang menjadi semakin percaya diri setelah melihat tayangan masa depannya.


Begitu pula sang pelayan. Dia melihat kebahagiaan sendiri sama seperti Ulfang saat melihat bayangan masa depannya. Cynthia diakui dan dikagumi bahkan oleh Kepala Akademi karena pengendalian elemennya yang mencapai skala masif. Karena statusnya yang seorang pelayan itulah yang membuat orang-orang tidak percaya akan kekuatannya. Kekuatannya itu berkata bakatnya yang dia asah terus dan dibantu oleh majikannya hingga menjadi sekarang ini. Orang-orang tidak akan kaget jika Cynthia adalah seorang bangsawan keturunan dari Eskalsia atau Albens.


Ketika Cynthia melihat dirinya yang tetap berada di sisi Wilia yamg sudah menjadi ratu, dia tidak melakukan apapun selain tersenyum dengan lebar. Mengetahui masa depan dimana dia masih melayani Wilia sudah cukup untuk membuatnya bahagia.


Sementara Eris berbeda dari apa yang dia sangat harapkan. Dia tidak menjadi seorang ahli hukum seperti ayahnya. Tapi, dia hanya duduk memeluk lutut di ruang gelap sambil menangis. Tidak ada yang tahu penyebabnya dan kenapa danau menampilkan hanya sekilas masa depan Eris.

__ADS_1


"Eris ... kau menangis?" Nina menatap temannya itu. Dia terenyuh.


Eris yang berpikir tenang, menjawab, "Ya, aku bisa melihat dengan jelas. Namun, itu bukan diriku yang sekarang. Itu bisa saja besok, lusa atau puluhan tahun ke depan. Kau tidak perlu khawatir, Nina."


"Apa kau tidak penasaran kenapa kau yang di masa depan menangis?"


Setelah dipikirkan, Eris memang sangat penasaran. Apakah ada kejadian yang menyakitkan menimpanya? Apakah seseorang yang dia sayangi meninggalkannya? Atau sesuatu yang lain?


Saat Eris semakin memikirkannya, dia menggenggam erat tangan Nina. Tangannya gemetar. "Semoga bukan hal yang sangat buruk," kata gadis itu. Dia lalu melempar pandangannya ke danau. "Jadi, danau ini bisa menunjukkan masa depan kita? Aku tidak tahu ada sihir semacam ini. Nina, bagaimana dengan bayanganmu?" tanya Eris ke Nina.


Saat Nina menjulurkan kepalanya ke danau, saat itulah Ashnard terlihat resah di mata Eris. Sebenarnya, Ashnard tidak siap untuk ini. Dia sudah melakukan segala cara untuk menyiapkan dirinya seperti mengungkapkan perasaannya pada Nina dan membuatnya bahagia, tapi itu masih kurang. Ashnard tidak siap untuk kenyataan pahit. Dia berharap lebih dari siapapun.


Lalu, muncul lah bayangan yang dinanti-nantikan. Air bergejolak seperti api yang menyambut sang bayangan muncul. Dari riak-riaknya, memunculkan dan menyatukan tiap kepingan menjadi satu gambar utuh. Cahaya danau bersinar saat menampakan Nina yang tersenyum lebar dan ada air mata yang mengalir di pipinya. Bayangan tersebut hanya menampilkan wajahnya saja seolah menyimpan sisanya untuk kejutan nantinya.


"Apa itu tadi?" Eris bertanya-tanya.


Hasil itu tentunya membuat Ashnard sangat lega. Sampai dia tiba-tiba memeluk Nina dengan sangat erat, tanpa mempedulikan orang-orang yang melihatnya. Harapannya terwujud dan Ashnard merasa bersyukur akan hal itu. Dia tidak perlu merasa khawatir lagi. Tidak perlu takut atau harus menggunakan kekuatannya untuk mencegah malapetaka.


"A-Ash, a-ada apa?" bingung Nina yang tiba-tiba dipeluk oleh Ashnard. Tubuhnya ditekan ke dalam pelukan hingga suaranya teredam.


"Aku ... aku sebelumnya takut, kini aku merasa lega. Terima kasih," jawab Ashnard.


Ada kesedihan sekaligus kebahagiaan yang Nina rasakan dari ucapan Ashnard. Hal itu membuat Nina menjadi takluk. Walaupun, saat ini Nina merasa malu dipeluk oleh Ashnard di depan banyak orang, Nina melingkarkan tangannya tuk membalas pelukan Ashnard, seolah tak peduli dengan tatapan orang-orang.


Ada beberapa orang yang ikut bahagia, ada juga yang merasa tak nyaman. Salah satunya adalah Wilia yang ingin juga dipeluk oleh Reinhard di depan umum. Wilia berdeham. "Dasar, kalian berdua. Masih sempat-sempatnya kalian bermesraan. Aku ingin juga, tahu!" Dia melirik ke arah Reinhard.

__ADS_1


"Omong-omong, danau apa sebenarnya ini?" sela Eris memulai pembicaraan yang serius.


"Mungkin, ini danau berkaitan dengan era kuno? Ada banyak tempat di dunia yang memiliki sihir kuno, kan? Seperti Jurang Kegelapan," sahut Reinhard.


"Yang pasti, hanya satu orang yang tahu jawabannya. Dan orang itu adalah ...." Tiba-tiba, Eris mengarahkan jari telunjuknya tepat ke arah Ashnard tanpa ragu. "Kau, Ashnard. Kau tahu jawabannya, bukan?"


Mereka yang tidak tahu menatap Eris lalu ke Ashnard dengan bingung. Bagi mereka yang tahu, sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kaget.


"Apa maksudmu?" tanya Ashnard, menajamkan tatapannya.


"Ya, Eris. Apa maksudmu?" Nina berdiri menghalangi arah tunjukan Eris sambil mengguncangkan bahunya.


"Jawab saja, Ashnard. Apa kau tidak kasihan dengan Nina? Aku melihat ekspresi dan tingkahmu yang berubah setelah melihat masa depan Nina. Kau tahu sesuatu, bukan? Mungkin semua ini berkaitan dengan Nina. Karena itu kau mendekatinya. Kau ingin memanfaatkan Nina. Jawablah, Ashnard Raegulus! Atau kau ingin aku sendiri yang menjawabnya?"


Eris berdiri tegak dengan kebenaran yang dia pegang di tangannya dan kesaksian di matanya. Hatinya selalu bulat seperti semangatnya tidak akan goyah hanya karena tersangka adalah seseorang yang sangat dicintai oleh sahabatnya. Eris sudah bertekad untuk membongkar semua kebohongan saat ini juga.


"Sebaiknya, kita akhiri ini-" Ashnard berjalan ke arah Villa, namun di hadang oleh Liliya.


"Apa itu sungguhan? Kau berbohong padaku, pada kami? Sama seperti kau berbohong soal kau yang tiba-tiba menghilang saat pertarungan Reinhard dan Arlon? Apa ucapan Eris benar?" Kini, Liliya yang sudah muak berdiri tegak menagih jawaban dari Ashnard. "Pagi tadi, aku melihat pintu kamarmu terbuka. Apa yang sebenarnya kau lakukan? Apa kau melanggar peraturan yang telah kau buat? Apa api unggun ini sebenarnya hanya rencanamu saja?"


"Liliya, kumohon-"


"Tidak usah memelas!" bentak Liliya. "Aku hanya ingin kau jujur, Ashnard. Untuk kali ini saja. Katakan dengan jujur apa yang sebenarnga terjadi. Apa yang sebenarnga terjadi padamu dan Ibumu? Kenapa kalian menghilang tidak ada kabar satupun? Katakan dengan jujur apa yang sebenarnya kita lakukan disini. Danau itu, kubah merah, dan hukuman ini."


Liliya selama ini hanya diam saja. Hanya bisa mengamati dibalik senyuman cerianya. Dia sebenarnya peduli dengan sekitarnya. Terutama Ashnard yang paling dia khawatirkan daripada yang lainnya. Namun, semenjak kejadian hilangnga kegelapan di Winfor, sedikit demi sedikit Liliya merasa ada yang berbeda dari Ashnard. Keberadaannya bahkan sikapnya setelah pertarungan di arena yang seolah-olah berusaha menjaga jarak darinya. Dan sekarang, Liliya bisa merasa jarak yang begitu jauh dari Ashnard, sementara Ashnard sendiri menjadi dekat dengan Nina dan Eris. Sebagai seorang gadis, Liliya tentu merasa hatinya sakit.

__ADS_1


Dipojokkan oleh orang-orang yang dipercayai oleh Ashnard, membuatnya tidak memiliki pilihan lain. Ashnard bisa menganggap bahwa dirinya gagal karena orang lain mencurigainya. Dan seharusnya dia yang menjaga mereka, bukannya membuar mereka merasa gelisah atau takut.


"Maafkan aku. Aku tak ingin kalian berada dalam bahaya," jawab Ashnard yang tertunduk, tangannya yang tergantung di sisi tubuhnya mengepal erat.


__ADS_2