The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Darah dan Kegelapan


__ADS_3

Semua penonton bingung dengan apa yang terjadi di arena yang kosong. Beberapa masih duduk menunggu, sementara yang lainnya sudah beranjak meninggalkan arena sejak tadi.


Liliya bangkit dari kursinya dan pergi. Ketika teman-temannya menanyakan, Liliya tak menjawab. Tidak sedikitpun menoleh pada kedua temannya tersebut, yang membuat Gerlon sedikit memperhatikannya sebelum hilang di kerumunan.


Liliya menuruni tangga dan menuju ruang persiapan seperti yang dikatakan Ashnard. Di sana, ia tak menemukan Ashnard. Saat gadis itu memeriksa salah satu ruangan, langkahnya gemetar saat menginjak darah yang menggenang di lantai seperti sebuah kolam.


Darah itu berasal dari dua ranjang putih yang sudah memerah. Namun, darah yang paling banyak mengalir ada di kasur sebelah kiri. Kasur di mana Reinhard berbaring.


Liliya mendekati Reinhard yang tak sadarkan diri dengan perlahan, dengan jantung yang mendetak cepat dan pikiran yang tak fokus. Nafasnya dipenuhi aroma darah yang membuatnya pusing.


Sepasang mata terbuka kecil dan seringai lemah timbul. "Hei, sudah kubilang aku akan menang, kan."


"Rein ...."


Liliya tak tega melihat wajah Reinhard yang pucat. Ia tak berani berpikir hal yang buruk selagi menatap Reinhard. Tangan laki-laki itu terkulai lemas, bukan karena lelah tapi karena lengannya patah.


Meskipun Liliya mencoba untuk tetap tenang, gejolak ketakutannya semakin menjadi saat ia membuka seragam Reinhard dan melihat sejumlah lubang di perutnya. Sebuah pemandangan yang bukan ditujukan untuk gadis ceria sepertinya.


Detak nadi Reinhard melemah, dia juga semakin sedikit menghirup nafas. Matanya semakin menutup.


"Tidak! Kumohon, jangan tinggalkan aku, Rein!" Liliya mengangkat kepala Reinhard dan memeluknya. Gadis itu ingin memberi Reinhard kehangatannya, tapi yang justru ia rasakan adalah tubuh Reinhard yang sedingin gunung es.


"Entah kenapa aku tidak bisa merasakan sakit sama sekali," lirih Reinhard, matanya sudah terpejam.


"Bertahanlah!" teriak Liliya kembali meletakkan kepala Reinhard di bantal.


Liliya segera mengambil pedang milik Reinhard. Lalu, mengiris lengannya dengan pedang tersebut. Ia mengangkat kepala Reinhard dan menempelkan lengannya agar Reinhard dapat meminumnya.


"Minumlah! Kau harus bertahan!" teriak Liliya yang mulai panik saat tak bisa merasakan nafas Reinhard yang menyentuh kulitnya.


Dengan lemah, Reinhard mengangkat tangan kirinya dan menunjuk ke arah Arlon. "Sembuhkan dia saja dulu. Lukanya tidak terlalu parah."


"Aku akan menyembuhkannya setelah aku menyembuhkanmu!"


Seketika, tangan Reinhard terkulai lemas dan ia tak bergeming sedikitpun. Dadanya tak mengembung lagi.


"Rein? Rein! Bangunlah! Kumohon jangan sekarang," ucap Liliya sambil mengguncang kepala Reinhard dan menepuk pipinya. "Cepat minumlah! Kalau tidak ... kalau tidak kau akan ...." Air matanya menetes, tercampur ke dalam genangan darah sang lelaki.


Liliya marah, sedih tapi kesal. Ia tak terima ini. Ia tak menerima ketika Ashnard menghilang dan menyuruhnya datang untuk melihat kengerian yang tak ingin dia lihat. Liliya berpikir jika maksud Ashnard adalah memberikan perpisahan terakhirnya dengan Reinhard, ia sangat membenci Ashnard.


Lalu, ketika tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, Liliya menghisap darahnya sendiri, dan memberikannya ke Reinhard secara langsung. Liliya tidak peduli apakah Reinhard sadar dan tahu, ia tetap melanjutkannya.


Liliya menghisap darahnya lagi, lalu meminumkannya pada Reinhard hingga air matanya yang mengalir di pipinya tercampur dengan darah yang Liliya berikan.


"Ayolah. Bangunlah," ucap Liliya masih berupaya menyalurkan darah sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Kini, Liliya tidak tahu sudah berapa lama dan berapa banyak darah yang ia keluarkan. Ia sekarang merasa sangat lemas dan sulit untuk duduk dengan tegak. Nafasnya menjadi kacau, Liliya terbaring lemas di dada Reinhard dalam kesedihan.


"Bangunlah," lirihnya sudah tidak kuat lagi.


Namun, tanpa gadis yang terengah-engah itu sadari, terasa tangan melewati pinggangnya dan menekan tubuhmya dengan erat. Saat Liliya mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat, Reinhard terbangun dengan senyuman yang memberikan kelegaan tersendiri untuk Liliya.


"Aku tadi melihat cahaya," goda Reinhard masih bisa menyeringai jahil.


"Jangan menakutiku!"


Wajah Reinhard perlahan kembali cerah seperti orang sehat. Tapi, Liliya masih harus memeriksa kondisi tubuh Reinhard. Saat ia berusaha bangun, pelukan Reinhard semakin erat, membuat Liliya kembali terbaring.


"Rein, bisa kau lepaskan aku?"


"Tidak bisa. Aku masih perlu disembuhkan."


"Jangan begitu. Bajuku kena darahmu semua dan aku harus ... aku ...." Seketika Liliya kelelahan dan tak sadarkan diri.


Dalam kondisi seperti ini, Reinhard tak bisa panik, apalagi ia masih kesulitan untuk mengangkat tubuhnya sendiri. Ia merasakan perutnya masih terluka. Reinhard lalu menoleh ke samping dan melihat Arlon yang terbaring tak sadarkan diri.


Tidak ada darah di tubuhnya. Bahkan wajahnya tampak bugar. Reinhard senang karena itu berarti bahwa Liliya sudah mengurusi Arlon.


"Kau sudah melakukannya dengan baik," gumam Reinhard sambil mengelus kepala Liliya. Kemudian, ia memejamkan matanya dan beristirahat. Senyumannya yang lebar menunjukkan betapa bahagia hatinya saat ini.


Pertarungan kali ini menandakan kemenangan Reinhard atas Arlon yang ketiga kalinya. Ditambah keinginan hatinya terdalam, Reinhard akan terus menikmati dan mengingat momen ini. Jika bisa, dia ingin dunia dan waktu berhenti. Ia ingin terus bersama Liliya hingga waktu itu sendiri mati.


Ashnard menciptakan pijakan air yang meredam jatuhnya setelah melompat dari arena. Dengan kecepatannya, ia berhasil menyusul Erik.


"Tunggu!" teriak Ashnard, tapi Erik masih terus berlari masuk ke dalam hutan.


Hingga akhirnya mereka sampai di depan dinding jurang. Jalan buntu membuat Erik tak ada pilihan selain menghadapi Ashnard.


Erik awalnya kebingungan ketika sampai di dinding jurang. "Apa yang terjadi? Di mana jalannya?"


"Tidak ada jalan untuk kabur, Erik." Ashnard berhasil mengejarnya.


Erik berbalik dan melemparkan tatapan sinisnya. "Apakah kau yang membuat dinding ini?"


"Dinding? Ah, berarti benar, kau berkaitan dengan cairan kegelapan itu," sahut Ashnard.


"Ck, aku tidak tahu siapa kau, tapi kau benar-benar membuatku jengkel."


"Katakan, Erik. Apakah kau yang memberi Arlon elemen kegelapan? Bagaimana caramu melakukannya?"


"Mudah saja. Aku tinggal membuka mata dan hatinya untuk kegelapan," jawab Erik sambil cekikikan.

__ADS_1


"Elemen kegelapan adalah elemen yang berbahaya. Kau tidak boleh menggunakannya sembarangan."


"Berbahaya? Tidak!" Erik lalu membuka tangannya dan memunculkan sebuah energi hitam yang bergeliat seperti api. "Lihat? Ini tidak berbahaya. Kekuatan ini menenangkanku. Kekuatan ini menyelamatkanku dari orang-orang jahat."


"Kekuatan kegelapan bisa merusak pikiranmu, Erik. Tidak hanya dirimu sendiri, tapi juga dapat berpengaruh pada orang sekitar."


"Memang itu niatku."


Ashnard tak bisa mendekati Erik, karena saat ia melangkahkan satu kakinya ke depan, Erik semakin memperbesar energi kegelapan di tangannya.


"Sekarang giliranku bertanya? Siapa kau?"


"Aku Ashnard."


"Salah. Siapa sebenarnya kau ini? Kenapa kau bertindak sebagai pahlawan untuk mereka? Orang yang berpura-pura menganggap dirinya pahlawan membuatku jijik."


"Aku bukan pahlawan. Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar," jawab Ashnard sedikit menurunkan pedangnya.


"Bukankah itu yang biasanya pahlawan ucapkan?" Melihat Ashnard menurunkan siaganya, Erik juga melepaskan energi kegelapannya. "Pahlawan mengakui dirinya sebagai pembela kebajikan. Tapi, ketika seseorang dirundung dan dihina, pahlawan tidak datang? Bukankah itu berarti pahlawan hanyalah tukang bohong?"


"Aku bukan datang untuk berdebat denganmu."


"Lalu, kenapa kau datang?"


"Untuk menghentikanmu." Tanpa Erik sadari, kakinya terikat oleh rantai air yang Ashnard ciptakan saat menurunkan siaganya. Tujuan Ashnard sebenarnya juga untuk menurukan kewaspadaan Erik. Dan ketika Erik terpancing, ia mengalirkan air dari sungai untuk dijadikan sebuah rantai. Ashnard menarik rantai, membuat Erik terseret ke arahnya. Saat sudah dekat, Ashnard menancapkan pedangnya tepat di sebelah kepala Erik untuk menggertaknya. Lalu, ia mencengkeram kepala Erik dan menggunakan kekuatan keduanya.


"Apa yang kau lakukan?" berontak Erik.


Ashnard meletakkan lututnya di dada Erik, menginjak lengan Erik dengan kaki kirinya dan mencengkeram kepala Erik dengan tangan kirinya. Erik seketika tak berkutik.


"Aku akan menyelamatkanmu dari kegelapan."


Dengan kecepatan yang tak dapat dihindari, sesosok makhluk melokpat dari semak-semak dan menerjang Ashnard. Membuat Erik terbebas.


Itu makhluk yang sama saat Ashnard dan yang lainnya bertemu di hutan. Seekor serigala misterius yang lebih cepat dan lebih kuat daripada Raivolka. Serigala raksasa itu mendorong Ashnard hingga menabrak pohon.


Kepala besarnya menekan tubuh Ashnard, tapi tidak dengan kakinya. Ashnard mengumpulkan elemen air di kakinya dan menendang bagian tengkorak belakang makhluk itu. Tekanan besar diikuti cipratan air yang membuat makhluk itu terlempar ke samping.


"Tampaknya makhluk itu menyukaimu," ejek Erik yang berjalan dengan energi hitam di kedua tangannya.


Ashnard menarik nafasnya dalam-dalam dan bersiap untuk pertarungan terberatnya. Ia harus melawan dua makhluk. Tapi, serigala itu hanya menunjukan taringnya ke Ashnard, menandakan ia dan Erik memang saling berkaitan.


Sambil menunjukan mata hitamnya, Erik tertawa cekikikan seolah Ashnard hanyalah komedi baginya. "Aku akan menunjukkan kekuatan kegelapan padamu dan kupastikan kau akan langsung berubah pikiran."


"Tidak perlu kau tunjukkan untuk memberitahuku kegelapan itu berbahaya."

__ADS_1


Hanya dengan dengusan dari Erik saja, serigala itu melancarkan serangannya ke Ashnard.


__ADS_2