
Sekarang, orang-orang yang tahu tentang rahasianya semakin bertambah. Ashnard terpaksa memberitahu Leashira karena sepertinya dia tidak bisa menghindar lagi. Entah bagaimana caranya, Leashira berhasil menyadari keanehan dari Ashnard. Ini soal perbedaan kekuatan.
Tapi, Ashnard tak melihat ini sebagai suatu kegagalan. Malahan, dia seharusnya menjelaskan kekuatannya ke Leashira dari awal. Dia lebih seperti menyimpan banyak jawaban yang Ashnard ingin ketahui, terutama soal jiwanya.
"Awalnya, kukira keberadaan Wilia sudah cukup mengagumkan bagiku. Tapi, tak kusangka, ternyata kau yang selama ini lebih mengejutkanku."
"Jika bisa, aku ingin kau tak memberitahu Nina dan Eris, mungkin juga Wilia jangan beritahunya," pinta Ashnard.
"Kenapa? Menyimpan rahasia itu adalah suatu hal yang menyakitkan. Tanggung jawabmu akan lebih besar daripada sekedar membawanya."
"Aku hanya tak ingin mereka terseret dalam masalahku," ungkap Ashnard.
Namun, Leashira yang jeli, menyadari sesuatu dari ucapan Ashnard. Tapi, dia lebih baik tidak mengatakannya. "Aku mengerti. Jika itu maumu," ucapnya. "Seperti yang kukatakan sebelumnya, Elemagnia sama seperti makhluk elemental. Ada inti di dalam tubuh kita yang berpusat sebagai sumber dari kekuatan kita. Setiap orang memiliki satu jiwa sesuai dengan elemen mereka. Karena kau memiliki dua elemen, maka itu berarti kau memiliki dua jiwa."
"Walaupun itu kedengarannya aneh, tapi itu benar. Jiwaku yang satunya bernama Roc. Dia orang yang menyebalkan dan sekarang sedang menyuruhku agar mengatakan hal yang baik-baik soalnya," jelas Ashnard.
"Mungkin tidak banyak atau malahan tidak ada sama sekali catatan mengenai seseorang dengan dua jiwa dengan dua elemen. Karena itu, aku kebingungan saat ini. Yang ada dalam kepalaku hanya teori dan hipotesa liar, tanpa adanya pemeriksaan dan praktek secara mendalam. Aku tidak akan berkata sembarangan seolah aku yang paling tahu, tapi aku hanya ingin bertanya padamu. Bagaimana rasanya?"
Jawaban yang keluar dari bibir Ashnard adalah, "Seperti memiliki teman khayalan yang bisa diajak mengobrol. Selain itu aku hanya merasa seperti diriku yang biasanya."
Mungkin jawaban itu cukup bagi Leashira, tapi tidak bagi Roc. Dia mengomel sepanjang malam, hingga membuat Ashnard tak bisa tidur.
Roc berharap jawaban yang lebih menguntungkan baginya, seperti Ashnard telah banyak berubah saat mengetahui tentang elemen keduanya. Dia banyak memperingati Ashnard soal bahaya saat di Winfor. Kehidupan Ashnard juga banyak berubah karenanya, lebih ke berubah ke arah yang tidak baik.
Saat Ashnard tidak memiliki pilihan lain selain meladeni Roc, Ashnard justru masuk ke dalam jebakan figur putih itu.
"Hehe, aku tahu apa seleramu. Aku tahu bagaimana caranya bersenang-senang sekarang." Roc menyeringai jahil. "Kau boleh juga, kawan," ucapnya sambil menepuk lengan Ashnard.
"Apa kau ketularan bicara ngelantur seperti Tuan Flo?" heran Ashnard kesal.
Roc lalu mendekat Ashnard sambil cekikikan. "Dua kata. Punggung Nina."
Ashnard tersentak. "A-apa maksudmu?"
"Tidak usah pura-pura tidak tahu. Wajah merahmu berkata demikian. Aku tahu kau selalu memikirkan dan membayangkan punggung Nina, kan?" goda Roc.
__ADS_1
"T-tidak! Jangan sok tahu kau!" sergah Ashnard.
"Tidak apa, Ash. Kau tidak perlu malu. Laki-laki lain mungkin setuju denganmu, tapi seleraku berbeda. Seleraku adalah seorang dewi. Jadi, aku tidak peduli soal punggung Nina mu atau semacamnya. Kau bisa menikmatinya sendiri. Aku bisa menjaga privasimu."
"Baiklah, sudah cukup. Aku keluar." Ashnard mendadak hilang dari Ruang Kosong, mengabaikan Roc yang tampak senang menikmati kejahilannya.
Ashnard lalu berusaha melupakan Roc dan memaksa agar dirinya bisa tidur dengan tenang malam ini. Dia terlalu capek. Dia harus beristirahat sebisa mungkin untuk memulihkan tenaganya. Ashnard menarik nafas dalam-dalam, kemudian memejamkan matanya erat-erat.
Saat ia membuka matanya kembali, terpampang sangat jelas gambaran punggung Nina beserta luka bakarnya seolah-olah ada di depan matanya. Ashnard yang bingung mengucek matanya, lalu bangkit.
Awali pagi dengan yang segar-segar. Begitu kata setiap orang untuk menyemangati pagi mereka. Tapi, tak disangka hal itu terjadi langsung pada Ashnard.
"Sudah kuduga," ucap Roc, tersenyum lebar.
Ashnard masih berusaha mengabaikan perkataan Roc. Dia menganggap Roc sebagai iblis yang berusaha menghasutnya, dan dia harus mengabaikannya jika tidak ingin tersesat.
Jalan-jalan pagi di kota adalah pilihan Ashnard untuk menyegarkan dirinya yang sesungguhnya, serta upayanya untuk mengabaikan bisikan iblis Roc.
Udara pagi segar masuk melalui sistem pernapasannya, memberikan sensasi sejuk luar dan dalam. Sembari menghirup udara, Ashnard berjalan keliling kota, menikmati pemandangan orang-orang lewat atau toko-toko roti yang baru buka. Pemandangan ini mengingatkannya tentang Winfor.
Ashnard segera menghampiri wanita itu karena tampaknya ada sesuatu yang dia ingin katakan padanya.
"Kebetulan sekali kau lewat. Aku sebenarnya ingin memberimu gaun yang waktu itu," ucapnya.
"Tapi, bukankah aku tak berhasil membawa yang kau minta?"
"Setelah kalian berusaha membantuku waktu itu, memang hasilnya mengecewakan. Tapi, dunia ternyata memberiku harapan baru. Temanku yang dari Rabalm, menawariku untuk bekerja bersamanya. Dia memiliki toko bunga yang cukup terkenal. Jadi, aku tidak perlu khawatir soal gaji atau kebutuhanku yang lainnya. Rabalm juga menjadi salah satu tempat yang sangat ingin kukunjungi. Kudengar, pemandangan di sana sangat cantik dan bunga-bunganya terlihat jauh berbeda dengan bunga di tempat lainnya," jelasnya penuh semangat. "Karena itu, aku ingin memberikan kau gaun karena berusaha untuk membantuku. Gaun yang lainnya mungkin akan kubagikan ke orang-orang atau kujual lagi di Rabalm."
Wanita itu masuk ke dalam tokonya, lalu kembali memberikan sebuah gaun biru yang sudah dibungkus ke Ashnard.
"Gaunnya masih bagus seperti sebelumnya. Jika ada bagian yang ingin kau ubah, bilang saja padaku," ucap wanita itu.
"Minta padanya, bagian punggung dibuat lebih terbuka," bisik Roc.
"Tidak! Ma-maksudku, terima kasih." Ashnard langsung pergi setelah berpamitan pada wanita penjaga toko itu.
__ADS_1
Sekarang Ashnard bingung harus melakukan apa pada gaun itu. Dia tidak sempat untuk memikirkannya, karena terlalu terburu-buru sebelum Roc semakin menggodanya.
Mungkin pilihan pertama Ashnard adalah memberikannya pada Liliya. Karena sedari awal, Ashnard menginginkan gaun itu sebagai hadiah ulang tahunnya. Tapi, Roc menghasutnya untuk memberikannya pada Nina.
"Kau sendiri yang bilang Nina sangat cocok dengan gaun itu. Kenapa tidak kau berikan saja gaun itu padanya? Lagipula, Liliya sudah mendapatkan hadiahnya, dan kau belum memberikan Nina hadiah karena telah membantumu."
Hasutan Roc tampaknya mulai dan berhasil mempengaruhi Ashnard. Terlihat dari wajahnya yang melunak dan langkahnya yang semakin pelan.
Tiba-tiba, persis di depan Ashnard, Nina muncul tanpa dia duga. Bersama Eris seperti biasanya. Ashnard diam membeku saat dua gadis itu menyadarinya dan mendekat.
"Ke-kenapa tiba-tiba muncul?" Ashnard panik, berusaha kabur, tapi kakinya sulit bergerak. Karena saat melihat Nina, terbayang langsung penglihatan di hutan yang berusaha dia lupakan pagi ini.
"Ini yang namanya takdir, kawan. Terima saja. Sedangkan aku, akan menikmati tontonan menarik ini. Semangat!" Cekikik Roc begitu puas.
"Hai, Ash, kita bertemu lagi. Entah mengapa, kita selalu bertemu akhir-akhir. Kurasa ini yang namanya takdir," sapa Nina, ceria seperti biasanya.
"Aku juga memiliki pertanyaan yang sama," sahut Eris.
Nina menyadari kantung tas yang berusaha Ashnard sembunyikan di belakangnya. Tanpa basa-basi, dia langsung bertanya, "Apa yang kau bawa itu?"
Keberadaan Nina di depannya cukup membuat Ashnard gelisah. Dia semakin tidak bisa menghilangkan ingatannya soal punggung Nina. Semakin dia memejamkan matanya, semakin jelas. Ingatan akan terus muncul karena bisa saja ingatan tersebut sangat penting atau orang tersebut yang menginginkan apa yang ada dalam ingatan tersebut.
"Eh, ini ...." Ashnard pasrah. Dia akhirnya mengakui dan mengarahkan tas kantungnya ke Nina. "I-ini hadiah untukmu karena telah membantuku waktu itu. Sebuah gaun. Wanita penjaga toko itu memberikanku secara gratis."
Nina terkejut, sedikit terlihat rasa senangnya. Gadis itu bingung harus berkata apa, karena terlalu mendadak baginya. "Te-terima kasih," jawab Nina.
Ashnard merasa tidak enak hanya memberikan hadiah ke Nina. Dia juga tidak mungkin meminta lebih kepada wanita penjaga toko karena gaun biru itu hanyalah sebuah hadiah.
Lalu, Ashnard baru menyadari Eris yang tidak memakai kacamata dan pita karena insiden dengan Wilia beberapa hari yang lalu.
"Maaf, aku tidak membawa hadiah untukmu, Eris. Tapi, aku akan mencari cara agar bisa membelikanku kacamata dan pita baru," ujar Ashnard.
"Hutangmu sudah lunas saat membantuku menenangkan Nina. Jadi, kau tidak perlu memberikanku apapun. Dan juga, aku puas karena kau memberikan Nina gaun biru itu. Aku senang kau memiliki selera yang bagus," balas Eris.
Akhirnya, Ashnard bisa bernafas lega. Namun, karena adanya pengaruh dari Roc yang membisikinya melalui Ruang Kosong, ingatan Ashnard kembali. Mau tidak mau, kedua gadis itu menyadari keanehan saat melihat wajah Ashnard yang memerah.
__ADS_1
Tinggal masalah waktu saja hingga orang lain tahu rahasia Ashnard.