The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Dinding Asberion


__ADS_3

Dalam catatan sejarah keluarga Asberion, selalu saja ada kisah yang besar, penting dan menarik untuk disaksikan dan bisa dibanggakan.


Dalam perang di perang perebutan tambang di bukit Hilfork, Asberion membantu sekutu dalam memenangkan perang. Kepiawaian dalam memainkan pedang dan tenang dalam memimpin pasukan. Jenderal Ragus Asberion adalah salah satu tokoh yang lekat dalam catatan ketenaran Asberion.


Lalu, salah satu ksatria yang diakui sebagai Asberion terkuat seumur hidup. Dia adalah satu-satunya Asberion yang menggunakan elemen selain angin. Kemampuan berpedangnya sangatlah hebat. Pedang merah itu seperti sebuah taring di genggamannya. Dari sanalah julukannya berasal. Si Taring Merah yang ikut membantu Ksatria Api Fei dalam pemberontakan melawan pemimpin tiran.


Dan kini, giliran Reinhard untuk mencetak sejarahnya. Untuk mengukir namanya di dinding ketenaran dan dikenang sebagai Asberion. Bukan sebagai orang yang gagal dan tak berguna.


Ketika Reinhard yang masih kecil menatap dinding yang mengukir sejarah panjang keluarganya, ia hanya dibuat kagum.


Mimpi kanak-kanaknya membawanya membayangkan bagaimana jika namanya ada di sana di antara leluhurnya.


"Kakekmu pernah berkata ke Ayah, tak ada hal yang lebih membanggakan selain memiliki nama terukir di dinding tersebut. Bukan cinta, kekayaan, atau kekuasaan," kata ayah Reinhard yang menemukan putranya memandangi dinding ketenaran. "Saat kau sudah layak sebagai Asberion, kau akan diberikan Belati Kehormatan. Kau menggunakan pisau itu untuk mengukir namamu di dinding ini. Ayah juga melakukannya saat itu."


"Bisakah aku menjadi seperti kakak, Ayah, kakek dan yang lainnya?" tanya Reinhard. Matanya yang begitu polos menatap ayahnya dengan sejuta mimpi yang tinggi.


"Tentu. Itu harus. Sebelum namamu ada di sini, kau bukanlah Asberion. Kau belum lulus kedewasaan. Kau masih anak-anak yang bermimpi setinggi langit. Tapi, saat namamu sudah ada, saat itulah aku melepaskanmu, Reinhard. Kau harus mengukir sejarahmu sendiri dengan kedua tanganmu. Mengerti? Karena jika tidak, kau mengecewakanku. Kau mengecewakan Ibumu dan para Asberion lainnya."


Akan tetapi, perjuangan untuk mendapatkan pengakuan tidaklah semudah ia bermimpi. Ia telah melakukan banyak hal. Mulai dari berlatih bersama kakaknya dari pagi hingga malam.


Pedang masih terlalu berat bagi tubuh kecilnya. Reinhard belajar cara memegang tongkat kayu yang ringan. Dan cara untuk menyerang atau menghindar dengan pemahaman yang mudah.


Daripada latihan, lebih terlihat seperti sedang bermain. Melihat kegembiraan adiknya saja sudah cukup bagi Bernhard.


"Genggamanmu kurang kuat, Reinhard," ucap Bernhard memantu membenarkan posisi tangan adiknya dalam memegang senjata. "Kau lihat saat aku berlatih dengan Ayah?" tanya Bernhard, berjongkok di depan Reinhard.


Reinhard mengangguk.


"Ayah mengajarkanku bahwa memegang pedang sama seperti memegang takdirmu sendiri. Kau tidak akan tahu kapan dan bagaimana pedangmu akan terlepas dari genggamanmu. Tapi, ketika kau sudah menggenggamnya sangat kuat, kau bisa membawa takdirmu ke mana saja. Mengerti?"


"Aku mengerti, ayo lakukan lagi, kak," ajak Reinhard bersemangat.


"Latihannya sampai sini saja. Aku capek," kata Berhnard sambil memegang punggungnya.

__ADS_1


"Tidak mau! Aku harus menjadi seperti Ayah! Aku Asberion! Dan Asberion tidak akan menyerah selama angin masih berembus!"


Semangatnya sudah terlihat jelas sejak dini. Gerwin yang melihatnya menaruh banyak harapan pada Reinhard.


Saat pertemuan antar keluarga bangsawan atau anggota kerajaan, Reinhard menawarkan dirinya untuk ikut. Meskipun dia belum paham dengan semua agenda politik dan semacamnya, ia tetap memaksa untuk ikut.


Di sanalah dia bertemu dengan bermacam-macam keluarga bangsawan. Ulfang dari Ruishorn adalah yang paling sering bertemu dengannya dan kini menjadi teman terdekatnya.


Pesta perayaan malam tahun baru adalah saat pertemuan pertamanya dengan keluarga Nerefelon. Di bawah bulan terakhir yang menyelinap ke dalam ruangan, menyinari senyuman seorang gadis yang lebih terang bahkan bagi cahaya bulan sekalipun. Reinhard mulai mengenal Liliya, kekuatan keluarganya serta perjanjiannya.


"Hei, aku Liliya, kau pasti putra Asberion, ya? Salam kenal," sapanya saat itu. Penuh kelembutan dari senyumnya yang semanis madu berkualitas tinggi.


"Namaku Rein-" Belum saja Reinhard melengkapi kalimatnya, Liliya menarik tangan anak lelaki itu dan membawanya ke serambi kediaman yang terbuka.


"Lihat, bulannya indah, kan?" tunjuk Liliya ke atas.


"Kenapa tiba-tiba melihat bulan?" tanya Reinhard yang heran.


"Padahal, kau bisa saja bilang terlebih dulu."


Gadis itu mendongakkan kepalanya pada sang bulan. "Maaf, aku hanya terlalu bersemangat. Aku sudah lama tidak keluar rumah soalnya."


"Sudah lama?" Reinhard menoleh dan melihat wajah yang merindukan sesuatu pada gadis itu. Bersinar cerah karena bulan, tapi masih terlihat kesedihan dan perasaan tertekan dari wajahnya.


Awalnya, sesama keluarga bangsawan dalam satu raja yang sama. Kemudian, mulai keluar ke negeri lain. Di Rabalm, ia bertemu Wilia Walhemstein. Di Agnar, ia bertemu Nina Vantalion. Dan di Magnolia, di sanalah pertemuan pertamanya dengan Pangeran Arlon dan terjadinya duel tak resmi yang memicu kemarahan Arlon hingga saat ini.


Sedikit demi sedikit, Reinhard belajar. Ia belajar dari apapun atau siapapun. Tapi, guru terbaiknya ialah Bernhard. Bernhard mengajari tata krama, komunikasi, berpedang, ilmu sosial, bahkan hal paling licik pun juga telah ia ajarkan pada adiknya.


"Selama kau bisa melakukannya dan namamu ada di sana. Itu bukan masalah besar," kata kakaknya saat ia berpamitan pada Reinhard di malam hari yang tenang. Pergi ke tanah yang jauh dan akan pulang untuk membawa sejarah.


4 tahun Reinhard berlatih sendirian dan menunggu Bernhard kembali pulang. Dan saat ketiadaan kakaknya itu, Reinhard mendapatkan kekuatan elemennya. Elemen ini adalah kunci untuk Reinhard membuka pintu masa depannya.


Ia sangat bangga. Ayahnya sangat bangga. Reinhard yang berusia 14 tahun, tak sabar menanti kepulangan kakaknya. Banyak hal yang ia ingin ceritakan tentang gadis yang ia sukai atau kekuatannya yang ia dapatkan.

__ADS_1


Kemudian, hari kepulangan Bernhard pun datang. Saat itu hanya kegembiraan di wajah Reinhard yang menyambut kakaknya. Tidak dengan sang ayah. Matanya merah dan tangannya mengepal seperti ingin meninju seseorang. Sementara yang ada di hadapan ayahnya, adalah Bernhard seorang.


Saat itu, Reinhard pun paham betapa pentingnya dinding Asberion. Betapa sakralnya hingga tak boleh keburukan apapun mencorengnya. Hanya satu saja kegagalan yang terjadi tapi menghapus semua prestasi. Reinhard sekarang tahu betapa kejamnya hukum Asberion jika tidak berhasil mendapatkan pengakuan.


Bernhard Asberion tak diperlakukan sebagai putranya lagi. Ia justru diperlakukan sebagai pelayan atau budak oleh ayahnya sendiri. Tak ada yang melawan bahkan mampu mengubah hal tersebut, seolah hukum Asberion lebih kuat daripada hukum manapun.


Reinhard tak pernah berpikir apa yang terjadi jika ia gagal. Dan saat ia mulai mengerti, ia ketakutan. Ia berulang kali berpikiran untuk mencoba kabur dari rumahnya. Tapi, tak bisa. Seperti kakinya, tubuhnya seluruh jiwanya terikat oleh sesuatu yang kuat.


Dia hidup dalam ketakutan dan kekangan Asberion di balik kehebatan mereka. Satu-satunya pilihan adalah melakukan apa yang mereka inginkan. Reinhard bertekad dalam ketakutan yang tersembunyi di belakang mimpinya. Ia harus--mau bagaimanapun caranya tidak akan menjadi Asberion yang gagal.


Hingga akhirnya Ashnard Raegulus muncul di depan jalan yang ditempuhnya. Dan semua hal yang berusaha ia dapatkan, musnah karena anak laki-laki yang bukan siapa-siapa baginya. Reinhard ingin menjadi orang yang menyelesaikan masalah di Jurang Kegelapan. Tapi, hal tersebut akan terjadi jika tidak ada Ashnard.


Ia gagal sama seperti kakaknya. Ketakutannya menjadi kenyataan.


Ketika ia gagal menjatuhkan Ashnard, ayahnya menyeretnya ke dalam kamarnya dan mengatakan, "Aku tahu kau berusaha untuk mencari prestasimu sendiri. Aku tahu ini sulit bagimu, bagi kakakmu. Kalian berdua gagal."


"Maaf, aku berjanji aku tidak mengulanginya lagi." Reinhard mengupayakan ayahnya agar tidak menyerah padanya.


"Kau masih ingin berusaha? Apa kau sungguh tak tahu bagaimana perasaan Ayah? Kedua putra Ayah telah melakukan yang selama seratus tidak pernah terjadi. Ayah lah yang menerima semua beban ini sebelum namamu tertulis di sana, Reinhard. Apa yang terjadi jika Ibu melihat kalian? Aku tidak akan membiarkannya melihat kegagalan kalian."


"Lalu, apa yang harus kulakukan?" tanya Reinhard dalam kebingungan yang tercampur ketakutan.


"Katakan pada Ayah, Reinhard, apa kau masih ingin menjadi Asberion? Atau melepas namamu dan mengembara tanpa tujuan di luar sana? Asal kau tahu, sesungguhnya aku sebagai ayah kalian, tidak tega melihat kalian gagal. Tidak tega melihat kalian dipermalukan. Aku masih sangat menyayangi kalian dalam lubuk hatiku. Rasanya sakit jika aku harus membuang kalian, darah dagingku sendiri."


Tentu saja, Reinhard tidak akan pernah menyerah. Dia tidak akan memilih menyerah dengan semua perjuangannya. Itulah yang Gerwin sukai dari Reinhard. Keteguhan hatinya sebagai Asberion sekokoh gunung dan tidak akan luntur oleh apapun.


"Kalau begitu, ikutlah denganku."


"Ke mana?"


"Jika kau masih ingin menjadi Asberion, jangan mencari pengakuan dari Asberion, tapi carilah pengakuan pada yang lainnya. Kita akan menuju Asteria. Kau harus membuktikan dirimu terhadap Ordo Ksatria. Kau akan dianggap tidak hanya sebagai Asberion, tapi seorang ksatria jika kau berhasil mendapatkan pengakuan dari mereka. Kau mengerti, kan?"


Jika hanya itu yang bisa dirinya lakukan, maka Reinhard tak akan ragu untuk mengambilnya dan memperjuangkannya. Demi namanya, sebagai Asberion juga sebagai seorang ksatria.

__ADS_1


__ADS_2