The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Perang Besar


__ADS_3

Upaya untuk mempertahankan wilayah, semua telah dilakukan. Bahkan bekerja sama dengan dua negara yang sebelumnya saling berseteru. Dua negera tersebut tidak percaya mereka akan saling bekerja sama untuk menghadapi ancaman yang sesungguhnya.


Jika apa yang ditakuti dua negara itu sungguhan, maka tidak ada pilihan lain untuk memihak mereka. Itu lah yang dilakukan negera yang dilayani oleh Alfeus pada saat itu.


Perang besar akhirnya terjadi. Kota pusat benar-benar menjadi medan perang yang mengerikan. Bangunan runtuh, api dimana-dimana, dan keputusasaan. Perang memanglah seperti itu. Sebuah tempat dimana segala hal bisa terjadi.


Karena kehebatannya, Alfeus menjadi pemimpin salah satu pasukan yang terdiri dari 500 orang. Pasukan ini yang akan memecah formasi musuh dari arah timur, sementara pasukan lain akan menyergap kemah depan musuh pada saat yang bersamaan. Dengan rencana seperti itu, mereka yakin negara adigdaya itu akan kerepotan di serang dari kedua sisi. Saat kedua pasukan membuat sibuk musuh, pasukan utama yang akan datang dengan jumlah besar untuk mengakhiri rencana mereka.


Rencana mereka memang berhasil masuk ke tahap akhir, namun ada kejanggalan yang baru mereka sadari. Kejanggalan itu sempat dirasakan oleh pasukan yang Alfeus pimpin. Memecah formasi musuh adalah taktik agar pasukan musuh bingung dengan apa yang harus dilakukan jika tidak sesuai dengan rencana. Dengan begitu, mereka tidak terarah, takut, saling berhamburan, dan celah akan terbuka dimana-mana. Itulah tujuan dari memecah formasi musuh. Tapi, Alfeus dan pasukannya tidak menemukan itu semua saat menghadapi musuh mereka.


Musuh tidak gentar. Tidak mundur ketika di hantam dari sisi manapun. Meskipun barisannya pecah, mereka tetap mengayunkan pedang dan menghadapi pasukan Alfeus dengan gagah. Meskipun ada Ksatria Bermata Putih di hadapan mereka, mereka tidak menyerah. Mereka melihat langsung kehebatan ksatria itu saat memainkan pedangnya, lima hingga sepuluh prajurit langsung ditaklukan olehnya dengan seketika. Mereka percaya ksatria itu adalah kekuatan sesungguhnya dari pasukan musuh. Mereka tahu kalau ksatria itu kuat, tapi mereka justru melawan seperti semangat mereka berkobar-kobar.


Alfeus bingung. Karena jika musuh masih penuh semangat, bisa-bisa pasukannya sendiri yang kewalahan. Pasukan utama juga sudah dikerahkan di tempat lain sehingga tidak ada bala bantuan yang akan datang. Alfeus membuka matanya di tengah kekacauan. Dia sadar bahwa semakin lama dia dan pasukannya ada di tanah ini, maka semakin terlihat jelas kekalahannya. Sedikit demi sedikit, pasukannya tumbang. Satu per satu teman seperjuangan Alfeus juga ikut dikalahkan. Mereka lelah dengan tubuh bersimbah darah.


Herbert dan Balle mati tertusuk tombak saat mereka berusaha maju lebih dalam. Kedua pria itu dikenal selalu bersama kemanapun. Bahkan saat perang dan tombak menembus perut, mereka juga bersama-sama mengalaminya. Kemudian Greg yang kepalanya terpenggal dan tangan kirinya terpotong oleh seorang prajurit musuh yang bergerak sangat cepat. Kecepatannya itu yang membuat kepala Greg dan tubuhnya terpisah, bahkan tanpa Greg sadari sekalipun.


Yang terakhir adalah sahabat Alfeus yang paling dekat, Belroy. Dia meninggal saat berusaha melindungi Alfeus dari hujanan anak panah. Meskipun dengan lima anak panah di tubuhnya, Berloy belum terlihat untuk berhenti. Dia mengayunkan pedangnya dan berhasil menjatuhkan sejumlah musuh meskipun kesulitan. Pada akhirnya, Belroy mengembuskan nafas terakhir di pelukan Alfeus.


Sebelum meninggal, Belroy sempat mengucapkan kata-kata terakhirnya untuk sahabatnya. "Tersenyumlah, kawan. Aku sudah tidak melihatmu tersenyum lagi akhir-akhir ini. Wajah tampanmu terlihat menyedihkan saat ini. Tersenyumlah demi kematianku, Alfeus. Kelak, matahari akan menyinari negeri kita lagi." Matanya terpejam, namun mulutnya yang berdarah tersenyum lebar. "Tidak percaya aku mati tanpa mendapatkan seorang wanita sekalipun."

__ADS_1


Wajah menyedihkan yang disebut oleh temannya itu perlahan kaku saat melihat tubuh temannya melemah. Wajah yang selama ini suram dan penuh kesedihan itu, akhirnya terlihat sedikit senyuman. Hanya sedikit saja, dibanding dengan temannya yang meninggal sambil tersenyum.


Di tengah medan perang ini, jiwa Alfeus semakin menjadi kosong. Orang terakhir yang dia percayai dan dia sayangi telah meninggalkannya. Tidak ada siapapun lagi yang mengisi hatinya, selain kesedihan yang semakin melebar. Hatinya sudah dirobek semenjak kepergian adiknya, dan kematian Belroy membuat hatinya gelap seperti langit malam.


Alfeus perlahan membaringkan tubuh temannya di antara kedua pasukan yang saling berseteru. Lalu, dia bangkit menatap wajah temannya yang pucat dan penuh darah sambil menggenggam erat pedang bergagang putihnya. Sang Ksatria kembali menebas musuh-musuhnya satu per satu, namun dengan perasaan yang berbeda, yaitu amarah.


Setiap ayunan dan tebasan pedangnya dipenuhi kemarahan dan emosi. Kasar dan terlalu barbar. Bukan cara bertarung ksatria yang sesungguhnya. Meskipun begitu, amarahnya berhasil membawa dirinya lebih jauh ke dalam barisan musuh, sementara pasukannya sendiri tertinggal. Akan tetapi, kemarahan Alfeus dianggap sebagai teriakan perang untuk menyemangati mereka. Karena melihat pemimpin mereka berhasil mencapai titik terjauh, semangat mereka meningkat dan mereka mengerahkan seluruh tenaga untuk menyusul pemimpin mereka. Pasukan Alfeus berhasil membalikkan kondisi.


Selama menerobos ke dalam pasukan musuh, Alfeus berhasil mengalahkan semua prajurit yang membunuh temannya. Dia menghafal wajah, serangan, dan keberadaan mereka hingga akhirnya dia berhasil membalaskan dendam kematian teman-temannya.


Kemudian, seorang ksatria dengan armor hitam keabu-abuan yang berkebalikan dengan armor perak Alfeus berdiri menghalangi jalannya. Ksatria itu memakai armor yang tebal, membuatnya terlihat lebih besar. Wajahnya tidak diketahui karena tertutup pelindung kepala, tapi Alfeus tahu kalau pria itu ada di pihak musuh.


"Ini adalah perang. Aku tidak peduli dengan kehormatan lagi. Aku akan mengalahkan semua musuhku. Dengan begitu, aku yang akan menang," jawab Alfeus. Tatapannya bukan tatapan seseorang yang penuh kelembutan lagi, namun pembunuh keji yang menuntut dendam.


"Kalau begitu, kau sudah gagal menjadi seorang ksatria. Pergilah. Larilah dan cari tempat bersembunyi. Aku tidak sudi menghadapai barbarian yang hanya mementingkan membunuh sepertimu."


"Aku tidak akan lari. Mataku sudah menatapmu dan aku tidak akan pernah melepaskanmu dari pedangku."


Pertempuran pun tidak terhindarkan. Pedang bergagang putih dan pedang dengan batang silang berbentuk bintang saling beradu dengan sengit. Setiap serangan yang mereka lancarkan penuh dengan kekuatan dan kesungguhan. Tidak ada satupun dari mereka yang mengalah.

__ADS_1


Di antara semuanya, hanya dia yang tidak langsung kalah melawan Alfeus. Bahkan, ksatria hitam itu seimbang atau lebih. Dia berhasil melancarkan serangan yang kuat dan cepat meskipun memakai baju besi yang berat. Ini pertempuran terberat yang Alfeus hadapi selama hidupnya.


"Kau tidak layak mati di pedangku, wahai Ksatria Bermata Putih. Kau layak menjadi pakan anjing-anjing liar atau diikat di tiang sambil dibakar hidup-hidup," ucap pria itu sambil menangkis sekaligus memberikan serangan. Antara tujuannya adalah mengancam Alfeus atau mengejeknya.


"Siapa sebenarnya kau? Sombong sekali bicaramu! Ini perang. Kesombongan hanya membuatmu celaka."


Alfeus saat itu telat menyadari. Saat menghadapi sang ksatria berarmor itu, dia merasakan atmosfir yang berbeda di sekeliling medan pertempuran. Alfeus melirik ke sekitarnya dan melihat pasukan musuh yang berteriak penuh semangat, serta pasukan yang ada di belakang berlari untuk membantu melawan musuh.


Semangat mereka memuncak sambil berteriak, "Kemenangan ada di pihak kita!"


Terdengar konyol bagi Alfeus mendengar teriakan yang belum tentu hasil akhirnya terjadi sesuai keinginan. Tapi, saat itulah dia menyadari sesuatu. Prajurit yang muncul dari belakang pria di hadapannya itu tidak membantunya sama sekali. Mereka bahkan berlari ke arah bawahan Alfeus seolah tidak mempedulikan sang ksatria hitam tersebut. Padahal kerja sama juga hal yang penting.


Perlahan semua masuk akal. Mereka mengabaikan sang ksatria hitam karena mereka mengakui kekuatannya. Ksatria itu adalah pemimpin mereka. Ini adalah pertempuran antara kedua pemimpin pasukan. Sayangnya, Alfeus terlalu ceroboh. Dia tidak memperhitungkan semuanya dengan matang. Dia tidak menyadari kekuatan sebenarnya dari pasukan musuh, yaitu keberadaan sang ksatria hitam yang memberikan semangat bagi pasukannya.


Saat itu, langit yang semula tertutup dengan awan hitam, mendadak cerah. Langit malam terlihat sangat jelas di matanya, dilengkapi dengan para bintang. Ada satu bintang yang bersinar paling terang, kilauan cahayanya membentuk silang. Sangat indah.


Lalu, kemudian, Alfeus sudah menemukan dirinya sendiri terkapar di sebuah rerumputan sambil menatap langit. Alfeus awalnya bingung, tapi perlahan sadar saat melihat pedangnya yang patah di sebelah kirinya. Dia kalah. Perang telah berakhir dan negerinya telah hancur.


Nafasnya begitu tenang walaupun seluruh dunia di matanya telah binasa. Dia mengamati bintang-bintang seperti telah menemukan sesuatu di atas sana.

__ADS_1


__ADS_2