The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Rencana Diam-Diam Eris


__ADS_3

Eris menarik pintu ke dalam dengan sangat perlahan hingga tak ada suara satu pun yang tercipta. Langkah kakinya sangat sunyi seperti dia tidak menapak lantai lorong yang sangat gelap. Lampu-lampu dibiarkan menyala tidak terlalu terang pada malam hari itu.


Langkahnya yang seperti bayangan menuntun Eris kek kamar paling pojok. Dia mencoba memutar gagangnya. Terdengar bunyi ceklik yang menandakan suatu komponen pintunya tergerak. Ketika, Eris mendorongnya, pintu tertahan. Tidak semudah itu untuk menyelonong ke kamar seseorang yang terkunci apalagi adanya peraturan sekarang. Eris memutuskan untuk kembali ke kamarnya sebelum ada yang menemukannya.


Walaupun matahari kembali muncul dan menerangi seisi sudut hutan hingga lorong yang gelap, tak berarti membuat Eris mengurungkan niatnya. Dia tidak akan semudah itu menyerah hanya karena sulit bergerak diam-diam di bawah cahaya matahari.


Eris sudah terlanjur membulatkan tekadnya. Dan budaya keluarga Menriotte adalah tidak akan mundur jika tujuan utama sudah dipegang teguh.


Awalnya, Eris hanya penasaran saja. Tapi, rasa penasarannya terlalu kuat hingga Eris tak bisa menahannya lagi. Apalagi, saat dia sedang mengamati Ashnard dan Nina yang bermesraan di perpustakaan, Eris menyadari sesuatu.


"Menurutmu bagaimana?" tanya Nina, menutup halaman terakhir buku yang dipegangnya.


"Bagus. Caramu bercerita tidak membosankan. Suaramu juga lembut," jawab Ashnard tersenyum.


"Hei! Isi ceritanya. ISI CERITANYA yang kumaksud!" tegur Nina. Mengangkat bukunya di atas kepalanya dan bersiap untuk memukulkannya ke Ashnard.


"Ya sudah kubilang dari awal. Tidak ada angin yang bisa mengalahkan angin di Winfor. Angin disana terasa luar biasa. Aku tidak pernah bosan duduk di depan rumah pada pagi hari sambil menikmati sepoi angin pagi. Semuanya sangat memberiku kesan sampai ...." Cahaya di wajah Ashnard perlahan terlihat pudar. Matanya menunjukkan sorot kesedihan. "Yah, bagiku, cerita buku itu biasa saja. Aku jujur mengatakannya. Mungkin, satu-satunya yang bisa kunikmati adalah ...." Ashnard mengangkat kembali kepalanya. Dia tak melanjutkan kata-katanya bukan karena sengaja, tapi karena dia tak sanggup untuk melanjutkannya.


Mata Ashnard yang menatap Nina, terasa begitu dalam. Nina langsung salah tingkah saat berpikir apa yang Ashnard maksud adalah dirinya. Nina menjadi lupa dengan perkataan Ashnard sebelumnya, tapi tidak dengan Eris.


Eris tidak berada di posisi Nina, jadi dia tidak merasa malu dan pikirannya juga tidak menjadi kosong karenanya. Gadis berkacamata itu mendengar apa yang Ashnard katakan sebelumnya. Matanya yang tajam melihat suatu hal yang Ashnard sembunyikan dari siapapun. Rasa penasaran menjadi lebih sejak saat itu.


Eris menggunakan waktunya memasak sarapan untuk mencari informasi.


"Hei, Cynthia, kau kan pelayan pribadi Wilia. Apakah kau tidak khawatir tidak bisa memeriksa Wilia di kamarnya lagi gara-gara peraturan itu?"


"Aku tidak pernah berhenti khawatir pada Nona Wilia. Kadang sikapnya dia berlebihan, ceroboh, dan terlalu blak-blakan. Tapi, aku tetaplah seorang pelayan biasa. Aku diperintahkan untuk menuruti peraturan di mana Nona Wilia ikut serta ke dalamnya, jadi aku tak bisa melakukan banyak hal lagi termasuk memeriksa Nona Wilia," jawab Cynthia.

__ADS_1


"Bagaimana kalau diam-diam masuk ke kamar Wilia?" Eris merapatkan jarak antara dirinya dengan Cynthia, dan mengecilkan suaranya. "Selama tidak ada yang menemukanmu, kau akan baik-baik saja, kan?"


Sontak, Cynthia berhenti mengaduk sup yang sedang dimasak karena terkejut mendengar ucapan Eris. "Eh, tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan itu. Nona Menriotte kan seorang prefek. Memberiku saran seperti itu tidak seperti sikap anda pada biasanya."


"Aku hanya berkata saja." Eris mengangkat bahunya, lalu mengambil satu per satu piring di lemari. "Aku juga terkadang mengkhawatirkan Nina. Biasanya kami sekamar. Jika aku menjadimu, aku akan diam-diam memeriksa ke kamar Wilia. Karena tujuanku dari awal tidaklah buruk, dan aku juga melakukannya atas sumpah setiaku kepada Wilia," ungkap Eris.


"Meskipun ingin, kamar Nona Wilia pasti dikunci. Berbeda dengan di Rabalm, disini aku tak memegang kunci kamar Wilia," ucap Cynthia yang sibuk menuangkan supnya ke piring-piring yang sudah Eris siapkan.


"Memangnya tidak ada kunci cadangan?"


"Ada. Tuan Raegulus yang menyimpannya. Saat hari pertama sampai di sini, Nona Wilia membuka satu per satu kamar. Kami melihat satu kamar yang memiliki satu gantungan penuh kunci di dindingnya. Kami yakin kamar itu yang dipakai oleh Ashnard," ungkapnya. "Memangnya kenapa?"


"Um, tidak ada. Aku hanya bertanya saja," jawab Eris dengan tenang.


"Kalau begitu, ini sarapannya. Bantu aku meletakannya di meja." Cynthia lalu memberikan nampan dengan sejumlah piring berisi sup pada Eris. Dia sendiri juga membawa satu nampan lainnya dan bersiap untuk mengantarkannya ke meja makan.


Namun, Eris tak bisa mengambil kunci itu dengan mudah. Dia benar-benar harus waspada. Untuk masuk ke kamar Ashnard, dia harus memikirkan rencana untuk mendistraksinya. Dan satu orang yang ada dipikirannya saat memikirkan Ashnard adalah Nina.


Sore harinya adalah waktu yang tepat untuk bebas bersantai. Eris menggunakan kesempatan itu untuk menjelaskan maksud dan tujuannya kepada Nina. Dia menjelaskan jika rencananya ini mungkin bisa membantu memecahkan jawaban dari hukuman mereka, bahkan bisa juga menjawab kubah merah atau danau beku tersebut, meskipun resikonya besar jika ketahuan. Eris menceritakan tentang keinginannya untuk mengambil kunci, tapi untuk bisa masuk ke kamar dan mengelabui Ashnard butuh bantuan Nina.


"Jika kau yakin akan mendapatkan jawaban dari ini, aku akan membantumu," ungkap Nina penuh tekad. "Tapi, apa yang harus kulakukan?"


Eris tersenyum jahil saat Nina bertanya padanya. "Apa kau ingat adegan saat Putri Elaina dirasuki roh mantan kekasih Pangeran Rayles?"


Nina tentu saja tidak akan melupakan adegan intens dan sangat intim. Itu adalah pertama kalinya ada adegan dewasa di semua buku romansa yang pernah dia baca dulu. Nina bahkan berhenti selama membaca buku itu selama berhari-hari karena terus membayangkan dimana sang putri mendorong tubuh sang pangeran ke ranjang, lalu pangeran membiarkan putri tersebut menciumi bahkan menggigit hingga banyak sekali bekas di seluruh tubuhnya, meskipun putri tersebut dirasuki oleh roh mantan kekasihnya. Bagi Nina itu terlalu agresif, dan dia tidak bisa melakukan seperti itu ke Ashnard.


"Yah, padahal kalau kau mau, kalian akan menjadi lebih dekat dari sebelumnya," ucap Eris, menghela nafas kecewa.

__ADS_1


"Tapi, aku akan menanggung malu seumur hidup!"


"Aneh. Kenapa malah malu? Kalau memang menyukainya, seharusnya kau senang kan melakukannya?"


Nina sangat ingin menyumpal mulut sahabatnya itu. Eris tidak tahu bagaimana perasaan Nina yang campur aduk saat kejadian kemarin di perpustakaan atau saat Ashnard tidur di pangkuannya. Ini lebih nyata dan lebih sulit daripada apa yang terjadi seperti di buku yang Nina baca.


"Pokoknya aku tidak mau kalau disuruh melakukan seperti itu." Nina bangkit dari kasurnya dan menuju ke pintunya untuk ditarik kembali oleh Eris hingga terbaring kembali di kasurnya.


"Bagaima jika seperti ini?" Eris memegang pipi Nina dan menatap Nina sambil tidur berhadapan di kasur yang sama.


Nina mendorong muka Eris dan berusaha menarik diri. "Ini tidak jauh berbeda! Apapun yang di kasur, aku tidak bisa melakukannya!"


"Oh, bagaimana jika terkunci berdua di lemari? Saling berdempetan-dempetan. Seluruh tubuh seolah-olah menjadi satu. Kamu bisa merasakan tubuhnya dan kehangatannya. Tangan kalian berdua bisa menjangkau ke masing-masing bagian tubuh yang ingin disentuh. Bagaimana? Mendebarkan, bukan?"


"Sejak kapan kau mesum?"


Eria tertawa dalam hatinya mendengar pertanyaan Nina yang seharusnya gadis itu sudah ketahui jawabannya. Eris tidak akan menjawabnya, karena jika dia menjawab, Nina akan tahu cara mengatasi kejahilan Eris.


Mereka terus memikirkan beragam cara untuk menyukseskan rencananya. Tapi, semua rencana yang keluar dari mulut Eris membuat Nina tak bisa berkata-kata. Rencananya selalu bertujuan membuat Nina dan Ashnard saling menempel hingga melakukan aktivitas intim dari yang ringan seperti sentuhan, tatapan, hingga mencium.


Sementara, Nina terus berulang menolak rencana yang sangat berat baginya. Pengalaman pertama seharusnya benar-benar dilakukan dengan suasana yang sempurna dan bukan karena ada niatan tertentu. Meskipun Nina sadar perasaannya terhadap Ashnard telah tumbuh, tapi dia tetap tidak bisa langsung melakukannya.


"Apakah kita tidak bisa berbohong saja ke Ashnard dengan menyuruhnya memeriksa suatu tempat agar kita bisa menyelinap masuk ke kamarnya?" heran Nina.


"Justru itu yang membuat niat kita sangat terlihat jelas. Bagaimana jika Ashnard sudah mencapai tujuan dan tidak ada apa-apa disana? Dia pasti akan langsung tahu, kembali ke kamarnya dan menemukan kuncinya tidak ada," jelas Eris. "Sejak Ashnard menyembuhkan luka bakar di punggungmu, dia selalu bertingkah aneh, kau tahu? Saat di akademi, terkadang aku melihat dia melirikmu. Terkadang juga pipinya tiba-tiba berubah merah setelah melirikmu. Aku tidak tahu dia memikirkan apa saat melihatmu, tapi aku yakin dia pasti tidak bisa berhenti memikirkanmu."


"Benarkah?" Ujung bibir Nina sedikit meninggi, tapi jantungnya berdegup sangat kencang.

__ADS_1


"Karena itu, kau sangat penting untuk mengalihkan perhatian Ashnard. Kalau kau masih tak bisa melakukan apa yang kukatakan sebelumnya, kau cukup mengulang kejadian seperti kemarin di perpustakaan. Ashnard tampaknya sulit untuk melihat ke arah lain kalau kau membacanya cerita dengan posisi seperti itu. Saat kau sibuk mengalihkan perhatiannya, aku akan diam-diam mengambil kuncinya."


__ADS_2