The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Hadiah untuk Liliya


__ADS_3

Liburan akhir bulan. Pada minggu terakhir di tiap bulan, akademi akan selalu memberikan liburan untuk para muridnya. Berbeda dengan libur akhir pekan. Liburan akhir bulan memperbolehkan para murid untuk berlibur di kota atau pulang ke rumah. Namun biasanya, murid-murid banyak memilih liburan di kota.


Kota Merybloom terletak tak jauh dari akademi. Meskipun dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki saja, kebanyakan murid-murid memilih transportasi umum seperti kereta kuda yang memakan waktu 30-45 menit dari akademi.


Setiap akhir bulannya, kota ini akan selalu ramai dengan kunjungan murid dari akademi. Banyak tempat makan, toko, penginapan dan tempat hiburan yang dapat dinikmati di sana. Ditambah suasana malam di kota yang indah menambah daya tarik para anak muda.


Semua murid akan berlibur ke sana, termasuk Ashnard. Ashnard tak memiliki alasan untuk tidak pergi ke sana, lagipula dia juga harus mengistirahatkan pikirannya soal masalah yang telah terjadi.


Ashnard bersama Reinhard dan Gerlon berangkat bersama menaiki kereta kuda. Namun, setelah sampai di kota, mereka semua berpisah. Ashnard bahkan terkejut saat Gerlon berkata ada urusan dan pergi seketika setelah turun dari kereta kudanya.


Ashnard hanya sendiri menuju ke penginapan yang dikhususkan untuk para murid. Karena penginapan ini khusus murid akademi, biayanya pun ditanggung akademi alias gratis. Namun, tetap ada beberapa murid yang memilih membayar penginapan yang lebih bagus atau mewah karena lebih bebas daripada penginapan akademi yang memiliki peraturan ketat seperti di asrama.


Sementara Ashnard tak memiliki uang sama sekali, tidak seperti murid lainnya yang mendapatkan jatah sangu dari orang tua mereka. Ashnard memilih yang gratis saja.


Setelah membereskan barangnya dan berbaring di kasur, Ashnard menatap ke langit kamar. Ia merasa aneh karena biasanya ia tidur bersama orang lain. Ia terbiasa tidur dalam kondisi ramai. Tapi, saat sepi seperti sekarang, Ashnard menjadi rindu dengan teman sekamarnya padahal baru saja berpisah.


"Aku bosan," desah Ashnard menguap.


"Pergilah ke luar. Jalan-jalan atau apapun itu. Hari masih pagi, tahu," desak Roc.


Meskipun ke luar, tidak ada yang menarik di pagi hari ini selain murid-murid yang berkeliaran di sepanjang jalanan kota. Ashnard hanya berdiri mematung di depan penginapannya seperti orang yang berpura-pura menjadi patung untuk mendapatkan uang receh.


Tiba-tiba, dua gadis berseragam akademi mendekatinya. "Hei, Ashnard, apa yang kau lakukan?" tanya gadis yang berambut pendek.


Mereka adalah teman sekamar Liliya. Lena dan Meryl. Ketika mereka mendekat dan bertanya, cukup membuat Ashnard sedikit terkejut. "Uhh ... tidak ada," jawab Ashnard sederhana.


"Kau dekat dengan Liliya, kan?" tanya Lena.


"Ya. Kenapa?"


"Jadi, kau tahu hari apa ini?"


"Hari libur, hari senin?" Ashnard mengangkat bahunya.


"Apa kau bercanda? Kau tidak menyiapkan apapun?"


"Menyiapkan apa?" Ashnard semakin dibuat penasaran.


"Sepertinya dia memang tidak tahu," sahut Meryl.

__ADS_1


"Sekarang hari ulang tahun Liliya. Aku tak percaya kau tidak mengetahuinya," ungkap Lena.


Kali ini, Ashnard benar-benar terdiam membeku karena fakta yang dia tidak mengetahuinya.


"Sebaiknya kau menyiapkan hadiah atau semacamnya yang Liliya suka. Karena kalau kau memang orang yang 'dekat' dengannya, kau akan membuatnya bahagia, kan? Jangan membuatnya kecewa, oke?" Gadis itu menjetikkan jarinya, lalu pergi.


Ashnard bukan lupa dengan ulang tahun Liliya, tapi tidak tahu sama sekali. Sejak di Winfor, ia tidak pernah membahas atau bertanya tentang ulang tahun Liliya karena disibukkan dengan latihannya. Dan sekarang Ashnard bingung.


"Apa yang harus kulakukan?" Ashnard berputar-putar di bawah lampu jalan dengan panik.


"Tenanglah. Cuman hadiah ulang tahun, kan? Kau bisa membeli apa saja yang lucu atau manis," ujar Roc.


"Tidak, tidak boleh seperti itu. Aku harus membelikannya sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang membuatnya berkesan dan terus mengingat hari ulang tahunnya."


"Apapun hadiahnya, selama kita tulus memberikannya, orang akan suka. Apa kau tidak ingat kalau Liliya hanya memberimu rangkaian bunga saja, padahal kau bukan pencinta bunga, tapi kau senang, kan?"


"Kau ada benarnya, sih. Tapi, tak bisa seperti itu!" Ashnard tidak sengaja meninggikan suaranya, membuat orang lain menganggap Ashnard aneh karena berbicara sendiri. Ashnard lalu menuju gang kecil dan berbisik. "Dia sudah banyak membantuku, jadi hadiah biasa itu kurang. Aku harus memberikannya hadiah yang berarti."


Sekali lagi, Roc tidak bisa mencegah Ashnard karena dia hanyalah penonton saja. Jika Ashnard terus kerasa kepala, rencananya mungkin tidak akan berjalan sempurna, apalagi Ashnard lupa kalau dia tidak memiliki uang. Roc kembali di Ruang Kosongnya, terpaksa menonton semua tayangan yang tidak ingin dia lihat.


Ashnard berjalan sepanjang jalan, menengok ke kiri dan ke kanan. Ia mendekati sebuah toko, melihatnya dari luar, lalu berlanjut ke toko lainnya. Begitu seterusnya hingga lebih dari lima toko sudah ia lewati.


Eris berada jauh di belakang Ashnard, tapi tak menutup matanya dari orang-orang yang tidak menaati peraturan. Ketika, Eris melihat gerak-gerik Ashnard yang mencurigakan di depan toko pakaian wanita, ia segera berlari ke Ashnard, meninggalkan Nina yang sibuk dengan kucing di jalanan.


"Berhenti di sana!" teriak Eris.


Ashnard tidak berlari karena ia merasa tidak bersalah. Ia hanya sedikit bingung dan terkejut.


"Aku akan melaporkanmu karena perencanaan pencurian dan pelecehan!"


"Pencurian dan pelecahan? Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya melihat saja, kok," ungkap Ashnard.


"Melihat pakaian wanita seperti itu juga dapat memberikan ketidaknyamanan bagi para warga, kau tahu."


"Tapi, aku tidak berniat buruk. Sumpah." Ashnard masih bersikeras. "Aku hanya ingin mencari hadiah saja."


"Hadiah?" sahut Nina yang akhirnya berhasil menyusul.


"Sebenarnya, Liliya hari ini ulang tahun dan aku ingin membelinya hadiah."

__ADS_1


"Bagaimana jika kita mencarinya bersama? Aku dan Eris juga tak tahu Liliya berulang tahun sekarang. Jadi, kami tak menyiapkan apapun."


Melihat itu sebagai rencana yang bagus, Ashnard pun langsung mengiyakan. Ia juga berpikir, dengan bersama Eris dan Nina akan lebih mudah mencari barang karena juga merupakan gadis, jadi mereka pasti tahu apa yang cocok untuk Liliya.


Namun, rencananya tidak semudah itu. Eris menolak.


"Kita kan sudah memiliki rencana," rengut Eris ke Nina.


"Hei, apa kau tidak ingin membuat Liliya senang di hari lahirnya?" ujar Nina memarahi Eris. Di mata Ashnard, mereka terlihat seperti ibu dan anak. "Lagipula, kita masih ada waktu seminggu di sini, kan?"


Eris terlihat pasrah dengan wajah merengutnya. Namun, ia dengan cepat mengganti wajah lesunya dengan semangat dan tegas kembali. Ia seperti gadis dengan perubahan suasana hati yang mendadak.


Perubahan suasana hatinya bukan karena penyakit atau kondisi mentalnya yang terganggu, tapi ia hanya sudah terbiasa hidup secara serius. Eris diajarkan sejak kecil untuk selalu fokus pada apa yang sedang dituju dan tak boleh merengek.


Itulah yang Eris pegang teguh selama ini. Bahwa dirinya harus bersikap profesional dalam menghadapi apapun. Sikapnya yang terlalu serius itu yang membuat banyak murid-murid lain tidak menyukainya.


Karena Nina yang merupakan satu-satunya temannya telah memutuskan untuk membantu Ashnard, dia mau tak mau harus ikut, walaupun ada sedikit kekesalan dan kekecewaan.


Tidak hanya Ashnard, Nina, dan Eris yang pergi mencari hadiah untuk ulang tahun Liliya, Reinhard salah satunya.


Ia sudah menantikan waktu liburan ini untuk mencari pengganti hadiah terbaik. Ia juga sudah memikirkan rencana matang bersama Ulfang, tinggal barang dan eksekusinya saja.


Sesuai dengan informasi yang dia dapatkan dari Liliya itu sendiri, Reinhard mencari sebuah gaun. Dia menuju toko gaun paling terkenal dan terpercaya di kota. Mereka menemukan toko itu berkat bantuan Ulfang yang juga mengumpulkan informasi dari para murid lainnya.


Tampilan luar dan dalam toko itu saja tidak mengecewakan Reinhard. Ada banyak lapisan-lapisan emas dan perak yang menghiasai bagian dalam ruangan itu. Ketika cahaya matahari masuk ke dalam, lapisan emas dan perak itu akan memantulkan kilauan ke luar toko, yang langsung menarik perhatian pengunjung.


Akan tetapi, Reinhard datang bukan karena lapisan perak atau emas yang berkilauan. Ia datang karena kualitas gaun di toko ini yang tidak dapat diragukan lagi.


Saat Reinhard masuk, ia sudah disambut oleh sang pemilik toko yang merupakan seorang wanita paruh baya yang tampak berkelas. Wanita itu memakai banyak perhiasan di leher dan gelangnya, serta gaunnya yang lembut hanya dengan dilihat saja.


Wanita itu mengangkat dagunya, dan memajukan dadanya. Ia ingin menunjukan bahwa dirinya lebih dominan, lebih hebat, atau lebih unggul dengan segala pernak-pernik serta riasannya di hadapan Reinhard. Ia melakukan itu karena ia tidak begitu menyukai murid-murid akademi. Wanita itu menganggap bahwa tokonya hanya untuk murid-murid khusus saja.


Tapi, setelah Ulfang memberi tahu bahwa Reinhard adalah seorang Asberion yang terkenal, wanita itu langsung membungkukkan tubuhnya dan bersikap ramah.


"Aku ingin gaun yang berkualitas paling tinggi dengan motif bunga," ucap Reinhard.


Segera, wanita pemilik toko gaun itu mengeluarkan semua gaun bermotif bunga miliknya. Dari desain, motif, jahitan, dan kain yang digunakan memang tidak perlu diragukan lagi. Reinhard tinggal memilih gaun mana yang cocok.


Ada gaun merah dengan mawar putih, ada gaun putih dengan warna merah, serta gaun hitam dengan ornamen bunga-bunga di bahu dan rok. Reinhard memikirkan dengan serius kombinasi warna dan gaun apa yang akan Liliya sukai. Akhirnya pilihan Reinhard jatuh ke gaun yang berada paling ujung di kanan. Gaun yang menurut sang pemilik toko adalah gaun yang paling spesial.

__ADS_1


Dengan raut wajah yang cerah dan mata yang berbinar, ia berkata penuh percaya diri tanpa mempedulikan biayanya, "Aku ambil yang itu."


__ADS_2