The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Hari yang Tenang


__ADS_3

Di tiap asrama, ada satu ruangan khusus untuk para penghuni asrama berlatih kekuatan elemental mereka. Di sana tidak seluas arena dan peralatannya terbatas, tapi sudah cukup untuk digunakan sebagai latihan biasa.


Arlon menggunakan ruangan itu untuk latihan khususnya. Bahkan hingga malam, ia masih berlatih dengan keras. Ia membuat sebuah bongkahan batu raksasa dari elemennya. Batu itu lebih tinggi darinya dan tentunya lebih berat dan tebal.


Lalu, dengan pedangnya ia mengayunkannya sekuat tenaga hingga bisa memotong batu tersebut. Sudah berjam-jam ia lakukan, tapi torehan yang ia lakukan tidak cukup dalam.


Nafasnya sudah di ambang, tapi Arlon mengepalkan tinjunya dan menghantam batu tersebut hingga menimbulkan retakan. "Masih kurang," geramnya penuh amarah.


"Sungguh orang yang pantang menyerah." Bersandar di pintu masuk dengan senyumannya adalah murid bertudung.


"Ck, kau lagi. Pergilah! Jangan mengangguku!" usirnya.


"Aku hanya ingin sedikit bercerita." Murid itu masuk ke dalam dan duduk di kursi dekat pintu. "Aku dulunya hanyalah anak seorang petani biasa di desa yang jauh dan terpencil. Aku orang kecil tapi mempunyai mimpi yang besar. Kau tahu apa mimpiku?"


Arlon tak menjawab, masih sibuk mengikis batu dengan pedangnya.


"Mimpiku hanyalah mimpi anak kecil biasa, menjadi ksatria elemagnia yang kuat untuk melindungi desaku. Hanya itu saja. Apakah menurutmu mimpiku terlalu berbahaya?"


Arlon berhenti dan melirik ke belakang. "Tidak," jawabnya.


"Tidak, kan. Tapi, kenapa seseorang berduit dan berjas mewah mendatangiku ketika aku mendapatkan surat rekomendasi, dan berkata untuk membelinya dariku? Tapi, kenapa saat aku menolaknya, dia malah menyakiti keluargaku dan mengancam seluruh desa agar aku memberikannya sebuah kertas yang kudapatkan karena kemampuanku?


"Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Aku diusir dari desa. Lalu, selama perjalananku ke akademi, semua kota, semua toko, semua orang memandangku rendah. Aku pernah diusir, dikejar, dituduh maling. Padahal aku hanya anak tak berdaya yang kelaparan saja." Ia lalu berdiri dan menendang boneka sasaran. "Aku benar-benar muak!"


"Sudah kukatakan padamu, hanya karena kau bernasib malang, jangan memaksa orang lain merasa bersimpati padamu," ucap Arlon menasihati.


"Lantas apa kau telah bersimpati padaku?"


Arlon tak menjawab.


"Sudah kuduga. Aku membenci kalian para bangsawan beserta semua kebusukan asli kalian yang tersembunyi dibalik harta dan ketenaran!"


"Kalau kau membenciku, pergilah. Tidak ada alasan lain untukmu ada di sini." Arlon sekali lagi masih mencoba mengusir orang itu, namun tetap tak berhasil.


"Tidak, masih ada alasan. Memang aku membencimu, tapi kita juga membenci orang yang sama. Kau membenci Reinhard, kan? Maka dari itu tujuan kita sama," ungkapnya.


"Apa yang Reinhard perbuat padamu?" tanya Arlon, ia berbalik menatap murid bertudung itu.


"Keberadaannya. Ketenaran itu akan membawa banyak masalah di belakang. Aku akan menghancurkannya dan memperlihatkan pada mereka bagaimana rasanya ada di bawah," jelas murid itu. Bola matanya yang hitam melebar penuh tekad.


"Kau ingin mengalahkan Reinhard? Mimpi! Sebaiknya kau menyerah saja."


Murid itu perlahan berjalan mendekati Arlon dan menjulurkan tangannya. "Karena itu bekerja samalah denganku, kita akan mengalahkannya bersama."

__ADS_1


Lalu, obrolan mereka mendadak dihentikan oleh seorang murid tahun ketiga. Seorang prefek--murid yang diberi tugas untuk berpatroli di asrama.


"Apa yang kau lakukan? Ini sudah malam. Kembalilah ke kamarmu, Erik!" perintah laki-laki itu, tapi tatapannya hanya menuju ke murid bertudung, tidak ke Arlon.


"Pikirkan baik-baik," bisik murid bertudung sebelum meninggalkan Arlon.


Murid bertudung itu berjalan keluar, berpapasan dengan sang prefek, ia menatap tajam.


Prefek itu sontak langsung mendorongnya. "Kau orang desa tidak usah bersikap sok!" bentaknya.


Kemudian, prefek beralih ke Arlon dan membungkuk. "Maaf menganggu latihanmu. Silahkan lanjutkan."


Arlon terkejut menyaksikan hal itu yang membuat terlarut dalam pikirannya. Genggamannya menjadi longgar, pedangnya akan terlepas. Dan saat pikirannya kembali, ia mengeratkan lagi genggamannya.


***


Pagi hari seperti biasa, Ashnard dan Gerlon berjalan di lorong menuju kelas. Tampak raut wajah Ashnard yang tak sabar menantikan kelas ini, yaitu kelas sihir.


Murid-murid lain yang berpapasan dengan mereka justru sudah mengumbar kebencian di awal hari. Kebencian itu mereka tujukan pada Gerlon yang merupakan anak dari panti asuhan.


Sejak kedatangan yang terlambat itu, memang Gerlon juga menjadi sorotan karena latar belakangnya. Daripada sorotan yang positif, ia mendapatkan bagian yang negatifnya.


Bagi mereka, semua murid selain dari keluarga bangsawan adalah hal yang tidak layak untuk ada di akademi. Seperti murid bertudung dan Gerlon.


Seperti itulah bangsawan yang dibenci Erik. Akan tetapi, tidak semua bangsawan sombong dan jahat. Ada beberapa yang tentunya menjunjung kebaikan dan menganggap setara dengan rakyat jelata.


Gerlon melihat itu dan bergegas menolong murid itu yang tidak lain adalah Erik. Gerlon membantunya berdiri.


"Hei kau lihat itu, dua orang kampung sedang saling menolong. Wow, aku sungguh sangat terharu."


"Hei, kalian berdua! Hentikan itu!" Ada teriakan dari seorang gadis di ujung lorong di belakang Ashnard.


"Lari! Itu si kacamata penjilat!" Kedua perundung itu lari sementara Eris mengejar mereka. Mereka berusaha lari sekuat tenaga menjauh dari tangkapan sang gadis disiplin, karena jika mereka tertangkap, takdir buruk akan menghampiri mereka.


Sungguh pagi yang berisik di lorong. Ashnard mendesah dan berharap jika hal-hal ramai dan berisik seperti ini cukup terjadi sekali saja. Kembali terulang dan pasti hanya akan terjadi kekacauan.


Ashnard lalu menghampiri Gerlon dan Erik. "Kau tak apa?" tanyanya pada murid bertudung itu.


Erik tak menjawab, tapi dalam sesaat waktu singkat mata mereka saling bertemu sebelum ia berbalik pergi. Ashnard sempat melihat bola mata hitam Erik dan langsung membuatnya kesakitan. Tubuh Ashnard meriang dan kejang hebat seperti sebuah zat beracun merusak seluruh saraf dan jaringan tubuhnya selama beberapa saat hingga akhirnya ia pulih kembali dengan sendirinya.


"Apa itu tadi?" tanya Ashnard ke Roc.


"Mata murid itu menyimpan kekuatan yang besar," jawab Roc. "Mungkin dia merahasiakan sesuatu. Bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu, tapi saat aku melihat mata hitamnya, aku merasa seperti tenggelam di suatu tempat. Perasaan itu tampak familiar, seperti ... kekuatan di Jurang Kegelapan."


"Jika itu benar, dia memiliki elemen kegelapan, sebaiknya kau berhati-hati padanya."


Ashnard kemudian bisa bernafas seperti semula lagi. Rasa sakit yang ia alami seketika lenyap begitu saja, bersamaan dengan perginya murid bertudung misterius. Ashnard bangun dibantu oleh Gerlon.


Kini giliran Nina muncul dari belakang dan bertanya pada Ashnard. "Hei, anak yang kalah melawan gadis, apa kau melihat Eris? Dia tadi bersamaku dan tiba-tiba menghilang begitu saja."


"Dia kesana," tunjuk Ashnard ke lorong depan.


"Baiklah, terima kasih. Lain kali bertarunglah denganku, ya?" ucap Nina yang lalu berlari ke arah Eris pergi.


"Kudengar dia pengguna elemen api yang hebat. Kalau kau ingin melawannya, berpikirlah terlebih dulu," kata Gerlon memperingati Ashnard.


"Apa? Siapa juga yang mau bertarung? Aku tidak menjawab iya. Lagipula, memangnya boleh mengajak orang lain bertarung begitu saja di akademi?" tanya Ashnard heran.


"Boleh, kok. Ada yang namanya pertarungan resmi dan tidak resmi. Pertarungan resmi itu berarti kau bertarung dalam acara penting dan disaksikan oleh banyak orang-orang penting. Sementara untuk yang tidak resmi, bebas bertarung dimana saja dan dengan siapa. Khusus untuk di akademi, kau harus mendapatkan izin dari guru-guru yang terkait."


Penjelasan Gerlon itu cukup membuat Ashnard paham. Tapi, tetap Ashnard tidak ada niatan untuk bertarung. Jika dia mengalami pertarungan resmi maupun tidak resmi, itu akan menarik banyak perhatian dan membuat tujuannya sia-sia saja. Daripada memikirkan tentang pertarungan, lebih baik bergegas menuju ke kelas.


Hari yang diharapkan tenang ternyata belum terjadi. Tepat saat Ashnard ingin melangkahkan kakinya, seseorang memanggil namanya. Gadis yang lebih cerah daripada bunga manapun.


"Ash," panggil Liliya dengan lembut melambaikan tangannya.


Suara dan kehadiran Liliya langsung membuat hari Ashnard kembali berbunga-bunga. Namun, disebelah gadis itu, ada Reinhard yang kembali membuat hari Ashnard mendung.


"Kenapa dia harus bersama Liliya?" kesalnya dalam benaknya.


Sementara di belakang Reinhard, muncul orang lain lagi yang semakin meramaikan pagi hari--dalam artian yang buruk.


Wilia muncul dengan anggun sambil melingkarkan lengannya pada lengan Reinhard. "Selamat pagi, Reinhard. Ini kelas pertama kita bersama, ya. Aku tak sabar menantikannya."


Kemunculan Wilia diikuti dengan gerombolan murid-murid yang hebohnya seperti anjing liar saat melihat kedua pasangan yang diidam-idamkan jalan bersama menuju kelas.


"Lepaskan aku, Wilia. Kau seorang putri, kau tidak boleh bersikap seperti ini." Reinhard berusaha melepaskan lengan Wilia.


Tidak ada yang lebih ramai daripada sejumlah murid tahun pertama yang menuju ke kelas yang sama. Tidak ada ketenangan untuk hari ini, atau setidaknya itulah yang Ashnard pikirkan.


Ashnard merasa lorong yang aslinya lebar dan luas ini mendadak sempit dan penuh. Apalagi semenjak datangnya Reinhard, Liliya dan Wilia yang diikuti murid lainnya.


"Aku salah mengira kelas sihir akan menyenangkan," desah Ashnard kecewa.


Gerlon tersenyum dan membalas, "Tapi, menurutku keramaian ini justru yang membuat berkesan. Saat kita lulus nanti, pasti kita akan merindukan keramaian ini."

__ADS_1


"Aku setuju dengannya. Aku juga rindu masa sekolahku," balas Roc. "Kau nikmati saja masamu selagi sempat."


Ashnard berpikir mungkin seperti ini yang Ozark dan Nous inginkan. Kehangatan akan keramaian, sebuah perasaan yang membekas, dan kenangan-kenangan yang akan terukir. Kedua pria itu menginginkan semua hal itu dirasakan oleh Ashnard. Dan Ashnard akan berusaha untuk menikmati masa sekolahnya sebaik mungkin.


__ADS_2