The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Ramalan


__ADS_3

Kembali lagi di akademi, tepatnya Servulius dan Gerardus membawa Ashnard ke ruang Kepala Akademi. Tepat tengah malam, akademi begitu sunyi. Kekacauan yang telah terjadi pun sudah reda dengan sendirinya. Semua murid kembali ke asrama masing-masing dan beristirahat dengan pulas.


Kesunyian ini tidak hanya Ashnard, tapi juga membuat Kepala Akademi lega dan tenang. Dia bisa memfokuskan diri ke masalah yang lebih utama, selain mengurusi para murid.


Ia mendudukkan Ashnard di kursinya, dan Ashnard mulai menjelaskan semuanya. Semua ceritanya bermula di Jurang Kegelapan.


"Di Winfor, Ashnard seharusnya dikenal sebagai pahlawan. Mereka hanya belum membuka mata mereka lebar-lebar," tambah Gerardus yang dari ucapannya menandakan ia memihak Ashnard, bahkan saat persidangan. "Ashnard telah mendapatkan kepercayaan Empat Penjaga Angin dan berhasil mengusir kegelapan di jurang. Karena itu aku memberinya surat rekomendasi."


"Bukan aku yang menyebabkan kegelapan di jurang lenyap. Aku bersumpah," bantah Ashnard.


"Lalu, siapa?" tanya Servulius menghampirinya. Ashnard terlihat seperti sedang di interogasi.


"Aku tidak tahu. Aku terjebak di reruntuhan gua, dan saat aku berhasil keluar, kegelapan sudah hilang," jelas Ashnard.


"Tidak mungkin kegelapan sebesar Sungai Yor menghilang begitu saja."


Ashnard membentak meja dan berdiri menatap ke arah Kepala Akademi. "Kenyataannya memang seperti itu!" Lalu, ia kembali duduk. "Aku juga penasaran dengan apa yang terjadi. Mungkin saja itu ulah ordo atau semacamnya," duga Ashnard putus asa.


"Ordo? Apa hubungannya?" Servulius menatap heran.


"Aku tidak tahu pasti, tapi aku melihat seseorang dengan zirah perak dan logo bintang di dadanya berjalan di jurang sebelum kegelapan hilang."


Servulius membuka matanya tidak percaya, meskipun sudah ia lemparkan ke adik tirinya yang duduk di kursi. "Aku tidak paham. Untuk apa Ordo Ksatria mendatangi Jurang Kegelapan? Bukankah sudah diputuskan kalau itu urusan Winfor dan negara lain tidak boleh ikut campur? Kau yang menanda tangani perjanjian itu kan, saudaraku?" tanyanya ke Gerardus.


"Ya, aku dan beberapa perwakilan negara lainnya. Jika itu benar salah satu anggota Ordo Ksatria yang kau lihat, itu berarti mereka telah melanggar perjanjian," jawab Gerardus lebih santai daripada kakaknya.


"Mustahil! Aku tidak percaya Ordo Ksatria akan melakukan hal memalukan seperti itu."


"Kau tahu sendiri, kan, kalau salah satu petinggi Ordo Ksatria adalah anggota Gereja Cahaya. Ordo dan gereja sudah menjadi hal yang tak bisa dipisahkan. Dan gereja sangat membenci apapun yang melawan keyakinan cahaya. Mungkin mereka akhirnya mengutus seseorang untuk mengurusi masalah yang Winfor tidak pernah selesaikan," Gerardus menjelaskan lebih banyak, terutama ke Ashnard yang masih belum mengerti.


Berdirinya Ordo Ksatria memang tak lepas dari campur tangan Gereja Cahaya. Gereja Cahaya banyak memberikan bantuan fisik maupun rohani ke Ordo. Posisi Ordo Ksatria dan Gereja Cahaya merupakan dua hal yang vital di Astria. Kehilangan salah satunya saja akan memberikan dampak yang menyakitkan bagi para warga.


Karena kedua hal itu vital, maka banyak tindakan Ordo Ksatria yang diambil berdasarkan keyakinan Gereja Cahaya. Seperti melakukan penyucian atas nama cahaya, atau membasmi kejahatan karena tujuan mulia sang cahaya. Bahkan dalam pengaruh politik sekalipun, Gereja Cahaya juga ikut andil.


"Kita tidak tahu pasti akan hal itu. Tapi, bagaimana dengan Pria Luka? Tampaknya dia tidak ada kaitannya dengan Ordo dan gereja," Servulius lalu mengganti topik pembicaraan.


"Dia menganggap aku yang memiliki dua elemen adalah penyelamat umat manusia karena telah berhasil melewati batas yang dewa tentukan. Tapi, aku masih tidak mengerti. Kenapa aku? Kenapa Ibuku? Apa sebenarnya 12 Kebancuran itu?," respon Ashnard diakhiri dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Untuk menjawab pertanyaanmu itu, kita harus kembali ke ribuan tahun yang lalu. Era dimana para dewa masih memimpin manusia."


"Apakah ada kaitannya dengan dinding itu?" tunjuk Ashnard ke dinding yang memiliki ukiran seperti ramalan.


"Bukan, itu ramalan untuk yang lainnya. Tapi, aku akan menceritakan ramalan lain yang jauh lebih penting." Servulius mengangguk, memberikan pertanda agar Gervulius menggunakan sihirnya untuk melayangkan satu buku ke meja.


Buku itu terlihat tua. Tidak ada judul atau lukisan di halaman depannya. Hanya cokelat polos yang sudah berjamur. Ketika, Ashnard membuka bukunya, halamannya kosong.


"Buku apa ini?" tanyanya.


"Ini adalah salah satu bagian dari ramalan Penyihir Klo yang sudah disalin. Semua bagian diserahkan ke beberapa orang penting, tapi untuk salinan penuhnya disembunyikan di tempat yang tidak bisa ditemukan oleh siapapun. Beruntungnya, akademi memiliki satu bagian pembuka dari ramalannya tentang Dua Belas Kehancuran," jelas Servulius.


"Hanya bagian pembukanya saja?"


"Sayangnya, iya." Servulius lalu membuka halaman terakhir dari buku itu dan terdapatlah satu halaman yang tidak kosong.


"Kenapa ditulis di belakang?" tanya Ashnard penasaran.


"Ini depannya, nak. Kau salah membuka halamannya," jawab Servulius sederhana.


Di halaman yang sudah lapuk dan coklat kekuningan itu, Ashnard mulai membaca kata per kata, kalimat per kalimat, baris per baris dengan seksama. Meskipun sudah malam, dan ia lelah, Ashnard tak merasakan kantuk sama sekali. Justru ia sangat fokus saat membaca tulisan yang hampir sulit dibaca tersebut.


"Ini adalah ramalan terakhir Penyihir Klo sebelum dia mati," ungkap Servulius.


"Penyihir Klo?" tanya Ashnard.


"Dia adalah penyihir terhebat pada masanya. Banyak orang yang meminta bantuan kepadanya, karena ramalannya yang selalu tepat. Karena kekuatannya, tidak sedikit orang yang menganggapnya dewi. Dia adalah seorang Oneiromancer-artinya semua ramalannya berdasarkan mimpinya, termasuk ramalan Dua Belas Kehancuran," jelas Servulius.


"Rentang waktu Klo mendapatkan ramalannya dan ramalannya terjadi biasanya dalam waktu dekat. Hanya ramalan Dua Belas Kehancuran yang belum pernah terjadi. Itulah yang membuat banyak orang melupakannya dan menganggap ramalan itu gagal," sambung Gervulius.


"Bagaimana dengan Dua Belas Kehancuran? Siapa mereka?" Ashnard bertanya lagi.


"Identitas mereka tidak diketahui. Apakah mereka sudah ada atau belum, tidak ada yang tahu. Bisa siapa saja. Namun, Klo berkata kalau kedatangan mereka yang menjadi kehancuran dunia."


Ashnard lalu tertunduk agar pikirannya terlarut sejenak. Ia mulai menyambungkan semua hal yang ia dapatkan dari perkataan Pria Luka dan Kepala Akademi. Ia paham mengenai peran dirinya yang merupakan satu-satunya orang dengan dua elemen. Karena kekuatannya, ia diincar oleh Pria Luka yang menyebabkan ibunya diculik.


Rencana Pria Luka adalah menggunakan Ashnard sebagai bahan eksperimen agar dapat menciptakan pasukan yang mampu mencegah para 12 Kehancuran. Erik adalah salah satu purwarupanya.

__ADS_1


Servulius memegang pundak Ashnard dan menatapnya serius. "Jangan percaya dengannya! Melakukan eksperimen ke anak kecil dengan parasit kegelapan adalah sesuatu yang keji. Apapun caranya, kekuatanmu tidak boleh jatuh ke tangan yang salah!"


"Lalu, bagaimana dengan Ibuku? Orang itu masih menahannya."


"Untuk sekarang, kau pikirkan dirimu sendiri, Ashnard! Kekuatanmu adalah sesuatu yang penting bagi mereka, maka dari itu jangan sampai jatuh ke tangan musuh," sahut Gervulius.


Servulius lalu duduk di kursinya sambil memijat keningnya. "Ini semakin rumit dari yang kukira," gumamnya.


"Apakah kita harus melaporkannya ke Ordo Ksatria?" Gervulius bangkit dari kursinya dan mendekati meja kakaknya.


"Jangan sekarang. Masih banyak yang harus dipertimbangkan," ucap Servulius.


"Mempertimbangkan apa?" Tiba-tiba, Ashnard menyergah. "Ibuku, temanku terluka gara-gara pria itu. Jika dibiarkan, tidak hanya akademi, tapi Winfor, Astria, Magnolia, semuanya akan dikendalikan oleh parasitnya!"


"Tenanglah, Ashnard," ucap Gervulius berusaha menenangkan Ashnard.


"Soal Ibumu, kau mengharapkan bantuan ke orang yang tepat. Ozark adalah muridku, dan dia juga teman Ayahmu. Mereka berdua adalah murid yang hebat. Kau tak perlu khawatir, dia pasti akan menemukan Ibumu," ucap Servulius.


"Tapi, aku tidak bisa diam saja."


"Bersabarlah. Kau akan mendapatkan peranmu sendiri."


Ashnard kemudian terdiam, mencoba menenangkan dirinya. Ia paham dengan perkataan Kepala Akademi dan Gervulius. Ia juga mempercayai Ozark. Hanya saja, Ashnard sudah lama tak bertemu Ibunya dan ia khawatir.


Ia sadar kalau ia telah bersikap terlalu berlebihan di hadapan Kepala Akademi. Ashnard memutuskan untuk bersabar.


"Bagaimana dengan temanku? Apakah mereka berhak tahu akan hal ini? Terutama Liliya."


"Sebaiknya, tetap jadikan ini sebagai rahasia. Kita tidak tahu siapa saja yang berada di pihak musuh," jawab Kepala Akademi.


"Sama seperti Ibumu, temanmu juga akan berada dalam bahaya jika mengetahuinya," tambah Gerardus.


"Aku mengerti."


"Sekarang kembalilah dan beristirahat. Jika ada kabar baru, aku akan memanggilmu."


Meskipun Kepala Akademi berkata kepada Ashnard untuk bersabar dan beristirahat, Ashnard tidak bisa tidur. Ia terus terjaga hingga pagi sambil memikirkan masalah yang telah terjadi.

__ADS_1


Sambil menatap langit-langit kamar dengan mata merahnya, Ashnard berkata, "Aku membencimu, Roc."


__ADS_2