
Wilia diberitahu oleh ayahnya bahwa pedang ini sudah merupakan warisan turun temurun yang diserahkan pada setiap generasi. Jika seorang Walheimstein sudah layak, pedang itu akan diturunkan padanya.
Wilia baru sadar bahwa yang dimaksud layak itu bukan berarti dirinya kuat, karena dia telah mengakui kekalahan dan kelemahannya selama melawan Nina. Ternyata, pedang itu diberikan saat seorang Walheimstein sudah berusia dewasa.
Menurut penjelasan Leashira, pedang ini memungkinkan siapapun menggunakannya tanpa batasan umur atau seberapa kuat penggunanya. Pedang itu hanya meminta satu saja, yaitu darah segar.
Bukan sembarang darah, tapi khusus darah keluarga Walheimstein yang diduga keturunan langsung Euka. Karena jika ada orang diluar keluarga Walheimstein yang menggunakannya, pedang itu akan menolak dan justru memberikan racun yang ditusukkan melalui durinya ke dalam tubuh orang tersebut, dan berakhir mati.
"Oke, jadi apa yang kau rasakan saat ini?"
Leashira menghadapkan kepalanya ke Wilia, menanyakan pertanyaan-pertanyaan penting sembari mengamati gerak-gerik tubuh Wilia. Mereka berdiri di tempat yang lebih terbuka. Sementara yang lainnya menonton di pinggir.
"Bingung. Sangat bingung dengan apa yang terjadi. Mungkin juga capek," jawab Wilia, berdiri di tengah seperti orang canggung dengan gaunnya yang sudah diganti. Wilia beruntung karena memiliki Cynthia yang akan melakukan semua hal termasuk kembali ke kota dan mengambil pakaian baru untuk tuan putri.
"Apa kau pernah merasakan emosi atau merasa ekspresif seperti marah, sedih, bahagia, benci, jijik, cuek?"
Wilia tersentak dan merasa bahwa itu pertanyaan yang konyol. "Ya, tentu saja! Tanya saja Cynthia kalau tidak percaya!" Ekspresi kesal di wajahnya menjawab pertanyaan Leashira.
"Bagaimana dengan tubuhmu? Apa kau pernah merasa ada yang aneh dari tubuhmu?"
Wilia lalu mendekati kepala Leashira yang turun, dan membisikkan sesuatu. Sesuatu yang tidak akan lainnya ketahui.
"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Ashnard.
"Sesuatu yang semua gadis rasakan. Sebaiknya kau tidak perlu penasaran, Ash," jawab Nina.
"Yah, karena kau berkata seperti itu, aku jadi tahu maksudnya."
"Pada dasarnya, manusia ciptaan dari kekuatan Euka berbeda dengan manusia boneka. Sementara manusia boneka dibuat tidak memiliki ekspresi dan emosi seperti manusia, manusia ciptaan Euka lebih mirip manusia," lanjut Leashira menjelaskan.
"Lalu, bagaimana cara membedakannya?" tanya Wilia.
"Dengan operasi, tentu saja, agar hasilnya lebih jelas. Tapi, itu akan lebih sulit dengan kondisiku yang sekarang. Jadi, aku menyarankan cara yang lebih efektif namun sedikit merepotkan. Apa kau mau mencobanya?"
"Kau dan aku bisa mengendalikan tanaman, kan? Apakah tidak bisa membuktikannya dengan cara kau memerintahkanku?"
"Masalahnya adalah jika benar kau manusia buatan, kau sekarang tidak termasuk ke kategori tanaman juga tidak ke manusia. Kau berada di kategori makhluk hidup baru, jika kau benar manusia buatan."
__ADS_1
Akhirnya,Wilia memutuskan untuk mengikuti rencana Leashira. Rencana tersebut dibutuhkan kondisi yang lebih privasi dan tertutup daripada sebelumnya.
Leashira membuka kulit kayunya ke arah samping seperti pintu raksasa. Di baliknya ada ruangan kosong yang cukup bagi Wilia. Ruangan tersebut seharusnya merupakan bagian dalam rongga tubuh Leashira yang tidak ada apapun karena tubuhnya yang sekarang adalah buatan dari batang kayu saja. Wilia masuk ke dalam tubuh Leashira, lalu kulit kayunya kembali tertutup.
"Sampai disini adalah rahasia antara aku dan Wilia. Mengerti?"
Ashnard dan yang lainnya mengangguk meskipun mereka bingung sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi.
Leashira tidak hanya menyembunyikan Wilia di dalam tubuhnya, tapi dia juga bergerak menjauh dari yang lainnya. Leashira menuju ke arah sungai.
Ashnard melihat ini kesempatan untuk mencari tahu jawaban ke Cynthia. Laki-laki itu penasaran tentang Wilia yang selalu mengatakan Reinhard. Karena tidak ada majikannya di sisinya, Ashnard berharap Cynthia menjawab dengan jujur.
"Nona Wilia menyukai, maksudku sangat mencintai Tuan Asberion," jawab Cynthia dengan tenang. Berdiri tegak sambil kedua tangan di depan perutnya, selayaknya sikap para pelayan.
Bagi Cynthia, ini bukan menjadi rahasia lagi. Tidak ada alasan untuk tidak menjawab pertanyaan Ashnard. Karena memang tidak ada perintah dari Wilia untuk melakukannya.
"Tunggu, apa dia tidak tahu kalau Reinhard menyukai Liliya?" sahut Nina, penasaran.
Eris yang duduk paling jauh dari Cynthia, juga mengarahkan pandangannya ke Cynthia. Dia sama penasarannya seperti yang lain.
"Ya, Nona Wilia tahu. Meskipun begitu, Nona Wilia masih sangat mencintai Tuan Asberion apapun kondisinya. Nona rela menjadi nomer dua atau kekasih sampingan asalkan bisa bersama Tuan Asberion."
"Aku bisa mengatakan bahwa dia sepenuhnya sadar. Bahkan, Tuan Asberion tidak mengelak tentang perasaannya terhadap Nona Wilia."
"Jadi, maksudmu Reinhard menyukai Liliya juga Wilia?"
Cynthia mengangguk dengan pelan, tersenyum lembut. "Begitulah yang kukatakan. Meskipun Tuan Asberion masih menganggap Nona Nerefelon lebih penting dan utama dari siapapun, aku bisa merasakan bahwa dia juga tidak bisa menolak Nona Wilia."
"Bagaimana dengan Liliya?"
"Sayangnya aku tidak memiliki jawaban soal itu. Maafkan aku," ucap pelayan itu membungkukkan badannya hingga membentuk sudut sembilan puluh derajat.
Jawaban dari Cynthia memberikan banyak penjelasan yang Ashnard tidak ketahui. Membuatnya diam lebih lama daripada saat mengagumi punggung Nina. Ashnard membuat pikirannya terlarut seolah ini masalah yang besar.
"Apa yang ingin kau lakukan sekarang?" tanya Eris. Dia tahu apa yang Ashnard pikirkan sekarang.
Jawabannya tetap sama. Ashnard tidak akan mengubah pikirannya semudah itu. Dia tidak boleh labil dalam mengambil keputusannya. Jika dia sudah menarik satu benang, dia harus menyelesaikannya sampai mencapai ujungnya.
__ADS_1
"Tenang saja. Aku tetap pada pilihanku sebelumnya. Aku sadar aku tak bisa berubah semudah itu," jawab Ashnard.
Eris tersenyum puas mendengar jawaban dari Ashnard.
Terlepas dari apa yang Ashnard pilih untuk masa depannya, dia dan lainnya masih harus fokus ke hal yang ada di depan matanya saat ini.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Leashira kembali. Ular raksasa itu berhenti lalu mengangkat bagian tubuh depannya cukup tinggi. Kulit kayunya terbuka menyamping, mengeluarkan Wilia yang tampak berbeda dari sebelumnya.
Wilia keluar dari perut ular itu bukan dalam bentuk kotoran tapi dalam bentuk dirinya yang paling bahagia. Wajahnya cerah berseri-seri. Senyumannya seperti seseorang yang baru menyicipi makanan terlezat di dunia, penuh kebahagiaan.
Wilia menyibak rambutnya dengan bangga dan berkata, "Sudah kubilang, aku ini bukan palsu. Aku Putri Wilia Walheimstein! Asli dan sudah tidak diragukan lagi kecantikannya."
"Nona Wilia memang hebat!" sorak Cynthia bertepuk tangan.
Manusia yang diciptakan dari kekuatan Euka hanyalah untuk menyempurnakan saja. Hanya sebagai sebuah pengganti. Walaupun bentuknya sangat mirip seperti manusia, tapi tidak bisa disebut sebagai manusia. Karena tujuan penciptaannya berbeda dengan tujuan manusia diciptakan, ada kekurangan yang dimiliki manusia buatan tersebut.
Alam dan tanaman sudah lama menjadi simbol kehidupan bagi seluruh makhluk hidup. Itulah makna kekuatan dari Ras Enkalis. Apapun yang berhubungan dengan kehidupan sangatlah penting. Namun, sayangnya itu tidak bisa diterapkan pada manusia buatan.
Wanita dan alam sudah menjadi hal yang melekat sejak lama. Ibu dan alam. Orang-orang menyebutnya Ibu Alam. Seorang ibu mampu menciptakan kehidupan dari rahimnya. Sementara alam adalah sumber dari segala kehidupan. Karena itu, makna ibu dan alam selalu berkaitan satu sama lain dan sulit untuk dipisahkan.
Karena manusia buatan kehilangan kemampuan untuk melahirkan kehidupan selayaknya seorang ibu pada umumnya. Tentu saja apa yang dilakukan Leashira untuk membuktikan teori terhadap Wilia berhubungan dengan kehidupan yang dimaksud. Leashira melakukan percobaan apakah Wilia memiliki kemampuan tersebut atau tidak. Dan hasilnya sudah tergambar sangat jelas di raut wajahnya.
"Cynthia! Aku sudah melihat bunga Erastion itu. Menurutku ... itu benar-benar bunga paling indah yang pernah kulihat. Hanya dan putiknya saja, luka-lukaku langsung sembuh. Aku heran kenapa tidak ada bunga seperti itu di Rabalm?" gumam Wilia, tidak bisa menahan semangatnya.
"Apa kita harus mengambilnya dengan paksa, Nona Wilia?" ujar Cynthia dengan muka tenangnya.
"Itu tidak boleh, anakku. Kalau tidak, aku akan mengamuk," sahut Leashira bercanda. "Dan kau, Wilia. Meskipun, kau sudah terbukti bukan manusia buatan, tapi masih ada banyak misteri tentang kau dan keluargamu yang tidak kumengerti. Kau bukan Ras Enkalis, juga bukan manusia buatan, tapi kau memiliki kekuatan yang sama dengan Ras Enkalis mengalir di darahmu."
"Mungkin bukan saat ini rahasia tersebut terungkap. Aku juga masih harus belajar banyak, terutama cara menggunakan kekuatanku tanpa pedang tersebut. Aku tak ingin kalah dari gadis api itu. Tapi, untuk hasil sekarang sudah cukup. Aku puas. Ayo, Cynthia, kita pulang." Wilia berbalik meninggalkan padang bunga biru diikuti Cynthia.
"Baik, Nona Wilia."
"Aku tidak sabar bertemu dengan Reinhard dan memberitahunya kalau aku adalah manusia!"
Melihat Wilia dan Cynthia pergi, memang sudah waktunya untuk kembali ke kota. Nina dan Eris juga memutuskan untuk kembali karena masalah sudah selesai.
Terkecuali Ashnard yang masih berdiri di tempat, memandangi punggung Nina yang semakin menjauh. Di balik baju baru yang Eris bawakan dari kota untuk Nina pakai, Ashnard masih tidak menyangka telah menyentuhnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Leashira melihat Ashnard yang tidak pulang seperti yang lainnya. Dia pun mendekatinya dan berkata, "Aku sudah menunggu saat kita sendiri. Saat aku berkata kalau Nina dan Wilia memiliki kondisi tubuh yang istimewa, sebenarnya kau juga, kan? Kau tidak hanya menggunakan air saja untuk meredam amarah Nina. Apa yang sebenarnya kau lakukan?"