The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Hutan Penuh Kehangatan


__ADS_3

Sejak masuk hutan, pandangan mata Nina selalu tertuju ke pinggang Ashnard. Ke sebuah pedang abu-abu yang tergantung. Ia melirik dengan rasa penasaran yang tinggi.


Ashnard memang sudah sadar dengan sikap Nina, tapi dia diamkan saja hingga akhirnya memutuskan untuk bertanya. "Ada apa?"


"Itu pedang yang kau pakai di saat di tes, kan? Aku penasaran kenapa kau memakai pedang yang sisinya bergerigi? Pedang itu juga agak besar untuk seukuranmu, akan sulit jika kau ingin mengayunkannya. Lalu, desain bilah dan gagangnya juga tampak sangat jauh berbeda. Pedangmu adalah pedang teraneh yang pernah kulihat," ungkapnya.


"Oh, kau paham tentang pedang?" tanya Ashnard terkejut.


"Keluarga Nina memang berasal dari keluarga pejuang. Yah, jadi dia tahu dengan hal semacam itu," jelas Eris.


"Begitu ya? Asalkan kau tahu, walaupun bentuknya aneh seperti katamu, tapi aku sangat mencintai pedang ini," jelas Ashnard.


"Bolehkah aku mencobanya? Hanya sekali dua kali ayunan," pinta Nina.


Karena pedang itu tidak akan aktif jika tidak ada perintah suara, jadi Ashnard berpikir tidak akan ada masalah jika meminjamkan pedangnya pada Nina. Ia melepaskan pengikat pedang di sabuknya, lalu menyerahkannya ke Nina.


Ketika, Nina memegang pedang itu, tiba-tiba terjatuh menghantam tanah. Pedang itu seakan-akan terbuat dari gunung atau seakan ada gravitasi yang menarik pedang itu sangat kuat hingga Nina tak sanggup untuk mengangkatnya.


Setelah ia melepaskan tangannya dari pedang itu, Nina merasa telapak tangan sakit. Nina menatap Ashnard dengan heran.


Ashnard tak memiliki jawaban untuk tatapan heran Nina. Bahkan Roc. Mereka semua tidak tahu akan apa yang terjadi.


Sementara, pedang itu terasa seringan ranting saat Ashnard yang mengangkatnya. Ia mengangkatnya seakan itu hal yang mudah dan biasa, tapi tidak untuk Nina.


"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Nina.


Ashnard yang sama bingungnya, tak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba, secara otomatis mulutnya berkata, "Itu sihir khusus agar hanya aku yang bisa mengangkat pedang itu. Ya, itu benar! Karena itu aku bilang kalau aku mencintai pedangku, kan?"


Nina menatap Ashnard lama seperti mencoba masuk ke dalam pikirannya, setelah itu, ia berkata, "Oh, itu masuk akal. Kau memakai trik sihir di pedangmu. Pedangmu memang unik. Tapi, tidak apa. Menurutku itu bagus."


"Apa kau mendapatkan pedang ini dari seseorang?" Giliran Eris yang bertanya.


"Ya, hadiah dari Ayahku."

__ADS_1


Itu hanya momen sesaat, tapi menambah banyak misteri tentang Pedang Hoku. Ashnard selama ini tidak menyadari kalau sebenarnya dia hanya tahu secuil saja dari pedangnya, atau lebih tepatnya bilah. Masih ada banyak hal yang tidak Ashnard ketahui. Dan mungkin jawabannya bukan sekarang. Jawabannya ada di masa lalu di mana sang pemilik bilah ini masih hidup.


Semakin banyak ia tahu, semakin sedikit apa yang Ashnard ketahui. Karena pertanyaan terus bertambah dan akan bertambah seiring waktu. Hidup Ashnard memang penuh pertanyaan semenjak dirinya lahir.


"Kau tahu, banyak orang menganggap pedang hanyalah sebuah alat saja. Itu sangat salah! Seorang ksatria, ahli pedang ataupun penempa pedang percaya kalau pedang adalah sesuatu yang istimewa. Aku juga percaya kalau pedang adalah bagian dari jiwa seseorang. Sama seperti pasangan hidup, seorang ksatria tidak akan merasa hidup jika tidak ada pedang." Nina mulai berbicara ketika ia membuka semak agar dirinya dan Eris bisa lewat.


Di hutan ini, tidak ada jalan setapak yang mereka temui. Oleh karena itu, mereka harus membuat jalan sendiri.


"Aku juga sama!" seru Ashnard senang. Ia lalu mempercepat langkahnya hingga ia dapat mengobrol tepat di sebelah Nina. "Aku juga berpikiran sama sepertimu. Aku memperlakukan pedangku tidak hanya sebagai pedang, tapi sebagai bagian dari diriku yang lain. Karena itu, aku memberi nama pedangku, yaitu Hoku."


"Sungguh? Itu bagus! Di keluargaku, ada sebuah tradisi dimana jika seorang Vantalion sudah mencapai tingkat kekuatan yang diakui, maka sebuah pedang akan diturunkan kepadanya. Pedang itu sebagai penanda untuk menjadi seorang pemimpin keluarga. Pedang itu masih di tangan ayahku. Jika nanti aku sudah mendapatkannya, aku juga akan memberikan nama."


"Wow, kalian sungguh cocok," celetuk Eris yang merasa seperti disingkirkan dari obrolan tersebut.


Ashnard dan Nina terus mengobrol sepanjang jalan. Mereka mengobrol tentang pedang, teknik berpedang, atau curhat soal latihan mereka. Ashnard senang saat mengetahui bahwa Nina ternyata juga paham dan sependapat dengan dirinya.


Sementara Nina cukup kagum terhadap Ashnard yang awalnya ia kira sebagai laki-laki biasa yang hanya bisa memegang pedang, tapi ternyata dia cukup paham banyak hal.


Karena, Ashnard sudah merasa nyaman dan senada dengan Nina. Ia berpikir tidak masalah jika menerimanya. Ia juga berpikir, mungkin berlatih dengan Nina akan menambah pengalamannya. Tapi, tentu saja bukan saat ini. Sekarang mereka harus fokus ke tujuan sebelumnya.


Di balik tawa dan senyuman yang terpancar dari dua orang di depannya, ada Eris yang tidak merasa senang, tapi ia justru merasa hampa dan sendirian. Dia tidak bisa mengikuti obrolan mereka. Sekalipun bisa, Eris berpikir mengobrol dengan dirinya tidak akan seru. Karena itulah hatinya terasa sakit saat Nina dan Ashnard saling mengobrol dengan puas.


Cepat atau lembat, Nina pasti akan menyadari kesedihan temannya itu. Ia sadar kalau obrolannya dengan Ashnard telah membuat Eris merasa terasingkan. Meskipun Eris ada di depan atau di belakangnya, Nina akan tahu. Lalu, ia memikirkan sebuah rencana agar temannya tidak terus bersedih.


"Kita istirahat disini terlebih dulu. Aku akan melihat apakah ada jalan di sekitar yang bisa kita lalui."


Semua langsung setuju dengan keputusan Nina. Karena memang, mereka kesulitan untuk berjalan melewati semak-semak yang tebal.


Nina pergi sementara Ashnard dan Eris menunggu sambil beristirahat duduk di atas batu yang cukup besar. Cahaya remang hutan dan suasanya yang sunyi menyertai mereka. Duduk di antara keheningan, jelas akan menciptakan rasa canggung.


Ashnard paham dengan sifat Eris yang kaku. Eris hanya akan berbicara ketika menegur orang atau menjelaskan peraturan. Ashnard juga penasaran dengan kejadian sebelumnya di kota. Oleh karena itu, dia mengajak mengobrol terlebih dulu.


"Hei, kau memiliki teman yang baik seperti Nina. Maksudku, saat di toko antik, dia berusaha melindungimu."

__ADS_1


"Nina memang selalu melindungiku dari segala hal, termasuk orang-orang yang membenciku," ucap Eris tanpa menoleh ke Ashnard. Wajahnya juga tidak tampak senang, tapi muram.


"Kenapa? Kau tidak senang akan hal itu?"


"Orang-orang yang membenciku bukan takut pada diriku atau takut pada konsekuensi dari perbuatan mereka. Mereka takut ke Nina. Itu membuatku kesal karena aku sama sekali tidak berguna. Apalagi Nina juga menjadi sasaran kebencian orang-orang."


"Orang-orang yang membencimu itu, salah satunya Putri Wilia, kan?" tanya Ashnard memastikan.


Eris perlahan mengangguk, tapi masih belum menatap mata Ashnard. "Dia memaksaku untuk menghapus semua catatan pelanggarannya. Dia juga mengancamku dan berkata kalau Nina tidak akan selamanya ada untuk melindungiku. Saat itu, aku tahu kalau aku tak bisa apa-apa tanpa Nina."


Ashnard melihat itu sebagai Eris yang mulai terbuka secara perlahan. Lalu, dia sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Eris untuk menunjukan dirinya kalau dia tertarik dan siap mendengarkan. "Kau harus tahu, Eris, bahwa ada orang yang tidak membencimu. Aku menyukaimu, kok. Eh, ma-maksudku bukan suka dalam hal percintaan."


Eris akhirnya menoleh ke Ashnard, meskipan dengan ekspresi yang terkejut. Ia lalu tertawa saat Ashnard mengubah maksud dari kata-katanya. "Aku tahu. Yang kau sukai Liliya, kan?"


"Yah, a-aku ... Kenapa kau tiba-tiba membahas itu?" Ashnard yang malu mengalihkan pembicaraan.


Akhirnya rencana Nina agar dapat membuat Eris membuka hatinya pada orang lain berhasil. Ashnard dan Eris menikmati obrolan mereka. Bahkan, Ashnard lah yang membuka hati Eris dan membuat Eris nyaman meskipun dia adalah orang yang serius.


Di balik pohon di belakang Eris dan Ashnard, ada Nina yang mendengar pembicaraan mereka. Nina merasa sangat senang sekali ketika melihat senyuman dan tawa Eris. Seolah hatinya terenyuh dan air ingin tumpah dari matanya. Eris tak pernah menunjukkan perasaannya kepada orang lain. Tapi, Ashnard berhasil membuka hati Eris dengan mudah.


Saat Nina memandangi Ashnard dari balik pohon, ia tidak percaya bisa bertemu dengan seorang laki-laki yang luar biasa sepertinya. Ashnard seperti penyelamat yang akan mengubah kehidupannya dan Eris.


"Hei, kau suka baca buku, kan? Aku juga suka," ucap Ashnard mengganti topik pembicaraan.


"Kebanyakan buku yang kubaca adalah buku romansa. Salah satu judul yang paling kusukai adalah Putri Bulan dan Pangeran dari-"


"Putri Bulan dan Pangeran dari Bintang," sahut Ashnard. "Ya, aku tahu buku itu. Aku juga pernah membacanya."


"Sungguh?" Senyuman Eris semakin lebar menandakan ia semakin nyaman berbicara dengan Ashnard.


Sekali lagi, Nina dibuat kagum oleh Ashnard. Tidak hanya memiliki pemikiran yang sama dengan Nina, Ashnard bahkan memiliki hobi yang sama dengan Eris.


"Aku benar-benar senang bertemu denganmu, Ashnard," gumam Eris. Ia tak bisa memalingkan pandangannya dari Ashnard yang membuatnya takjub.

__ADS_1


__ADS_2