
"Hei ... hei ... kau mendengarku! Ashnard!"
Ashnard membuka matanya, dan sosok putih itu muncul lagi di depan matanya. Putih polos tanpa muka itu berada terlalu dekat dengan muka Ashnard, membuatnya terlonjak kaget.
Apa yang Ashnard ingat bahwa sebelumnya sedang bermimpi, di tempat yang asing, bangunan tinggi yang aneh, cahaya yang berbeda, dan orang-orang yang tidak dia kenali. Tapi, sesaat dia menutup mata dan membuka lagi, dia sudah berada dalam dunia serba hitam ini.
Ashnard sedikit lama menatap sosok putih itu, sebelum ia berkata, "Kau siapa?"
"Lupakan namaku, tapi ada masalah yang lebih penting."
"Masalah?"
"Seseorang, tidak, sejumlah orang sedang menuju kesini. Mereka datang mencarimu. Kalau kau tidak segera pergi, tamatlah sudah."
"Kau yang memberitahuku waktu itu, kan? Tunggu, sebenarnya siapa kau? Apa yang sedang terjadi?"
"Tak ada waktu lagi."
Ashnard terbangun dari tidurnya. Hari masih gelap, tak ada tanda-tanda matahari akan muncul. Ashnard lalu mencari Nous yang tak ada di sekitar.
"Nous," panggilnya berulang kali.
Sebuah tangan yang dingin muncul dari belakang Ashnard dan menutup mulutnya. Ashnard tak bisa melihat ke belakang, tapi dia tahu itu tangan Nous.
"Sstt. Kita harus pergi sekarang," bisiknya.
Tanpa pertanyaan apapun, Ashnard dan Nous mengemasi semua barangnya. Nous menyeret tanah dengan kakinya untuk memadamkan api.
Ashnard memeriksa sekali lagi barangnya dan melihat Finn, si pemancing yang masih tertidur pulas.
"Abaikan saja. Dia tidak ada hubungannya dengan kita," kata Nous.
"Tidak. Kita tidak boleh membiarkannya sendirian disini. Kita harus membangunkannya," sergah Ashnard.
"Jika kita membawanya, dia hanya akan menjadi beban untuk kita."
"Tapi, kita tak bisa meninggalkannga begitu saja. Bagaimana jika mereka menangkapnya? Mereka bisa membunuhnya atau memaksanya memberikan informasi."
Ucapan Ashnard membuat Nous berubah pikiran. Ia tidak memikirkan itu sebelumnya karena ia hanya berfokus untuk menjauh dari mereka yang ingin menangkap Ashnard. Posisi Finn sekarang ini adalah saksi bagi orang-orang yang akan datang tersebut. Kunci untuk mengetahui lokasi Ashnard dan Nous.
Nous tak mempunyai banyak pilihan. Waktu juga sedang mengejar mereka. Ia pun membangunkan pria itu, tapi tampaknya Finn sangat terlelap dari tidurnya. Akhirnya Nous memutuskan untuk menggendongnya di belakang.
Mereka pun terus berlari hingga pagi hari. Terlihat sebuah gua, mereka menuju gua tersebut dan bersembunyi.
Finn terbangun bertepatan saat di luar terdengar langkah kaki. Nous membungkamnya agar tak menimbulkan suara. Semua suara ditahan sebisa mungkin. Semuanya menahan nafas ketika siluet seseorang berada di depan gua.
Setelah semuanya dirasa aman. Nous melepaskan tangannya dan pergi memeriksa keluar.
__ADS_1
Dengan mata melebar seperti bola, Finn yang panik bertanya pada Ashnard, "Apa yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya hewan liar yang berusaha memburu kami," jawab Ashnard berbohong.
"Aku bukan anak kecil, nak. Aku bisa mendengar dengan jelas langkah kaki dan langkah kaki itu bukan langkah kaki dari hewan. Apa kalian dikejar seseorang?"
Ashnard berusaha menutup mulutnya rapat-rapat selagi pria itu terus memaksanya untuk menjawab pertanyaan.
Nous pun kembali. "Sepertinya sudah aman. Ayo."
"Tunggu," cegah Finn. "Jika kalian berada dalam masalah, kalian bisa cerita padaku. Karena kalian telah menolongku saat itu, aku pasti akan membalas kalian."
"Simpan saja kebaikanmu. Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan seorang pemancing."
"Hei, perkataanmu membuat harga diriku sebagai pemancing jatuh."
Nous tak membalasnya. Ashnard juga begitu, mengikuti Nous dengan tak membuka mulutnya. Mereka terus melanjutkan perjalanan, sementara Finn masih saja berkoar-koar pada Nous.
"Baiklah, jika kalian tak ingin menjawabku. Aku juga tidak peduli," dengus Finn.
"Baguslah," jawab Nous dengan santai.
"Apa? Seharusnya kalian merasa kasihan padaku dan memutuskan untuk memberitahu rahasianya."
"Mana mungkin."
Sebuah noda hitam yang sudah tak asing lagi bagi Ashnard dan Nous. Noda hitam tersebut menandakan keberadaan sosok yang mengejar mereka. Ashnard menduga, noda itu berasal dari prajurit Noir seperti yang dia lawan bersama Zefiria dan Ozark.
Noir berwujud seperti manusia, karena itu mereka mendengar langkah kaki dari sosok yang berkaki dua dan berjalan tegap.
"Pemancing, kau bisa menjelaskan ini?" tanya Nous hanya menguji Finn saja.
"Itu ... hmm ... kurasa itu tinta dari cumi-cumi," tebaknya.
"Sudah kubilang kau tak akan tahu," Nous menyeringai senang, membuat Finn kesal.
Noda tersebut menandakan musuh tahu keberadaan mereka sekarang. Tempat ini seharusnya tak lagi aman. Ashnard khawatir dan bertanya, "Bagaimana sekarang?"
Keputusan berada di tangan Nous. Ia yang paling mengerti dengan kondisi Ashnard dan paling berpengalaman. Ia harus menentukan pilihan yang tepat dan terbaik untuk anak itu.
"Jika kalian berusaha menghindari seseorang, kenapa tidak menunggu saja hingga orang tersebut menyerah," celetuk Finn yang mendengar pertanyaan Ashnard.
"Justru itulah yang mereka ingin kita berpikiran seperti itu. Kita harus lebih maju beberapa langkah dari mereka," ungkap Nous.
Ashnard yang teringat sesuatu, mendekat ke Nous dan berbisik. Ia membisikkan soal mimpinya yang selalu memberinya peringatan. Ashnard berpikir jika ia bisa memanfaatkan mimpinya lagi, lalu memutuskan langkah selanjutnya.
Nous langsung paham dengan apa yang Ashnard jelaskan tentang mimpinya. Meskipun banyak hal yang mengisi pikirannya dengan pertanyaan, tapi dia tak ingin membuat Ashnard tertekan karena semua pertanyaan yang belum terjawab tersebut.
__ADS_1
"Tapi, tak aman jika kita bermalam disini," kata Nous.
"Kalian dengar itu?" tanya Finn. Ia yang kesal karena tak bisa mendengar bisikan mereka, berjalan-jalan ke depan dan tak sengaja mendengar sesuatu. Suara hiruk pikuk sebuah permukiman.
"Itu desa! Kita bisa bermalam di sana," ucap Ashnard senang.
Sayangnya, ada masalah lain yang sedang mereka hadapi. Baik Ashnard maupun Nous tak membawa uang sepeserpun. Alasan Nous sangat jelas, karena dia hidup di hutan. Sementara Ashnard beralasan kalau dia tak memikirkan hal tersebut.
Finn yang melihat mereka kesusahan, tersenyum seolah menjelaskan bahwa ini kesempatannya untuk unjuk gigi. Ia menunjukkan sebuah kantung dari tasnya. Kantung tersebut bergemerincing saat di goyangkan. Dengan pandangan licik dan senyuman yang bangga tapi menjengkelkan, dia berkata, "Aku punya uang, lho."
Akhirnya Ashnard dan Nous pun tak memiliki pilihan lain.
Letak desa tersebut berada di atas jurang. Nous menggunakan kekuatan anginnya untuk mengangkat semuanya ke atas.
"Aku masih tak percaya kalian ternyata Elemagnia," ucap Nous.
"Tentu saja." Ashnard berkacak pinggangnya. Merasa bangga dengan pencapaiannya, apalagi jika Finn tahu bahwa dirinya memiliki dua elemen. Kesombongan Ashnard mungkin sudah melalang buana.
"Kalian benar-benar sangat beruntung daripada aku," kesal Finn.
Mereka pun sampai di desa. Desa yang tak terlalu besar dan bangunannya dapat dihitung dengan jari. Lumbung, pasar, toko senjata, dan kedai tampak membuat desa tersebut menjadi ramai. Terlihat banyak sekali orang-orang yang bersenjata lengkap, tapi bukan prajurit.
"Mereka itu dari serikat petualang," Finn menjelaskan. "Mereka tidak hanya berkelana ke berbagai tempat, tapi juga membantu menyelesaikan komisi-komisi yang di pasang oleh seseorang. Jika kau berhasil menyelesaikan komisi tersebut, kau akan mendapatkan bayaran."
Mata Ashnard berbinar melihat orang-orang dari serikat petualangan yang berkumpul di jalanan. Pakaian mereka, senjata mereka, kelompok mereka begitu terang di mata anak itu. Motivasinya meningkat drastis.
"Bagaimana caraku bergabung ke sana?" tanyanya. Ia masih tak percaya jika saat ini hal yang menjadi keinginannya ada di depan matanya. Ia ingin sekali pergi ke sana, tapi ia tahu bahwa ia masih memiliki misinya sendiri.
Finn menatap heran. "Eh, kau tidak tahu? Apakah di Winfor tidak ada serikat petualangan?"
"Tidak ada. Kurasa karena di Winfor ada Jurang Kegelapan, jadi terlalu berbahaya jika ada aktivitas semacam itu terjadi di sana," jelas Ashnard. Sesekali melirik ke Nous, berharap jawabannya benar.
Finn tersentak. "Lho, Jurang Kegelapan? Mungkinkah yang kita lewati dari kemarin itu Jurang Kegelapan?"
"Kau aneh. Lagipula, jurang yang kita lewati hanya sambungannya saja."
Finn menganggut-anggut setelah Ashnard menjelaskan. "Pantas saja aku merasa aneh dengan tempat itu."
"Omong-omong, kita harus mencari penginapan terlebih dulu," sela Nous. Ia tak ingin pembicaraan ini terus berlanjut dan semakin banyak rahasia mereka yang sedikit demi sedikit tak sengaja terkuak.
Setelah mereka menemukan tempat penginapan, Finn membayarnya hanya untuk satu malam. Penginapan itu biasa dan tak terlalu mencolok. Cocok dengan alasan mereka agar musuh tak curiga.
Di kamar yang mereka pesan, ada tiga ranjang. Ashnard langsung berbaring di ranjang tersebut dan mencoba untuk tertidur. Akan tetapi, tidak semudah itu untuk memaksakan tidurnya. Ashnard bangun dan menggeleng pada Nous.
"Mungkin kita harus bersabar sedikit saja," ujar Nous.
Tiba-tiba, dari luar terdengar kericuhan yang membuat Ashnard penasaran. Kericuhan tersebut tepat berada di depan penginapannya. Salah satu dari orang yang terlibat dalam kericuhan tersebut adalah Finn yang sebelumnya pamit untuk membeli makanan.
__ADS_1