The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Pertarungan Kenyataan


__ADS_3

Ashnard berdiri sambil memegang pedang Hoku, di hadapannya Nina juga memegang pedang logam biasa. Mereka saling bertatap-tatapan seolah menunggu gerakan pertama siapapun yang melakukannya. Gerakan penentu yang menjadi arah ke mana pertarungan ini akan berlanjut. Sementara angin sepoi-sepoi mengalir di antara mereka seperti memberi mereka sebuah ketenangan, Eris hanya duduk di samping memandangi mereka. Meskipun raut wajahnya serius tetap ada secercah kekhawatiran pada dirinya.


"Kau sudah siap?" Nina mengangguk sambil menatap tajam ke arah Ashnard. "Kalau begitu, aku akan memulai dengan dari yang kutahu terlebih dahulu."


"Tidak perlu," jawab Nina. "Langsung saja serang aku."


"Apa?"


"Lawan aku seolah aku ini musuh terbesarmu. Bertarunglah dengan serius seolah ini medan perang. Aku akan belajar sendiri berdasarkan penglihatan dan pengalaman dalam petarungan ini."


"Apa kau yakin?" Ashnard menunjukkan sedikit keraguan pada Nina, dimana seharusnya dia tidak melakukan itu.


"Aku yakin! Aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya."


Jika itu yang gadis berambut merah inginkan, Ashnard tak bisa menolaknya. Dia menarik nafas dalam-dalam, mengeratkan pegangan pedangnya dan menguatkan posisi kakinya. Setelah itu, Ashnard berjalan perlahan menghampiri Nina. Semakin lama dia berjalan cepat, lalu berlari. Pedangnya di angkat ke atas, lalu diayunkan sangat kuat ke bawah. Nina memiringkan tubuhnya untuk menghindar, membiarkan pedang itu lewat dan mengenai tanah.


"Gunakan seluruh kekuatanmu! SEMUA kekuatanmu!"


Cara Nina berteriak dengan tegas tersebut, membuat Ashnard merasa seperti dirinya yang sedang dilatih dan bukan Nina. Itu memberikan sedikit kekesalan pada Ashnard yang dikeluarkan dalam ayunan ke sampingnya.


Kali ini, Nina tidak menghindar, dia menangkisnya dengan pedangnya. Dengan begitu, dia bisa mendorong pedang Ashnard dan melanjutkan gerakannya dengan serangannya.


Pertarungan dilanjutkan dengan Ashnard yang tak mau mengalah. Awalnya Ashnard hanya melancarkan serangan yang mudah diprediksi karena dia tak ingin menyakiti Nina. Dia hanya menyerang agar Nina bisa menghindar atau menangkis. Tapi, kenaifan Ashnard justru memberikan Nina kesempatan untuk menekan Ashnard. Ashnard yang tidak menduga akan menjadi seperti ini, terpojok saat Nina menyerangnya dengan agresif.

__ADS_1


Api di pedangnya hampir memotong leher Ashnard jika Ashnard tidak menghindar tepat waktu. Tusukannya benar-benar diarahkan oleh Nina ke bagian vital Ashnard seperti jantungnya dan itu memberikan rasa takut pada Ashnard. Dia merasa tidak seperti melawan gadis berambut merah yang ceria dan penuh semangat, tapi dia seperti melawan seorang yang ingin membunuhnya.


Ashnard butuh waktu cukup lama untuk memikirkannya dan memutuskan membalas sikap Nina. Jika Nina memang berniat untuk membunuhnya, maka Ashnard mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencegah Nina agar tidak membunuhnya.


Ashnard bergerak gesit menghindari serangan Nina lalu berpindah ke belakang. Dia menendang punggungnya dengan sangat kuat, membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terguling di tanah. Ashnard langsung berlari ke arah Nina yang terbaring di tanah berniat untuk memberikan serangan terakhir, tapi saat mendekat Nina melepaskan pusaran api dari pedangnya ke arah Ashnard. Api itu melewati lehernya dan terus menembus hingga ke langit lalu oleh angin.


Ashnard gentar sesaat, tapi ketika dia ingin melanjutkan, Nina sudah bangkit dan melesat untuk menerjang Ashnard.


"Mereka sangat bersemangat sekali."


Di lain sisi pihak yang sibuk mengerahkan seluruh tenaga dan keringat mereka untuk menjatuhkan satu sama lain, ada senyum dari seorang gadis yang menikmati pemandangan tersebut. Eris tersenyum karena dia tidak perlu khawatir lagi karena Nina telah menunjukkan semangatnya. Dia juga tidak perlu khawatir pada Ashnard yang sempat menjadi ragu untuk membantu Nina. Ashnard pada akhirnya bersungguh-sungguh melakukannya. Eris merasa mengabaikan kedua orang itu dan melanjutkan aktivitasnya sendiri seperti biasa tidak akan menimbulkan masalah besar. Pada akhirnya, mereka akan saling bahu membahu untuk bisa berdiri tegak.


Pedang menjadi besar dan panjang. Saat itulah, Nina tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Jika menangkisnya, dipastikan pedangnya akan patah dan serangan Ashnard akan menembus mengenainya. Pilihan terbaik yang bisa dia lakukan adalah menghindari serangan tersebut. Namun, pertanyaannya, sampai kapan dia bisa menghindari serangan Ashnard?


Pada akhirnya, api yang membakar semangat Nina padam oleh air Ashnard yang arusnya begitu dalam dan kuat. Nina terbaring tak berdaya di tanah, sementara Ashnard di atasnya sambil menancapkan pedangnya persis di samping kepala Nina.


Mereka saling menatap lekat satu sama lain, sambil berusaha mengatur nafas mereka kembali. Nina yang berada di bawah merasakan dominasi yang begitu kuat dari Ashnard. Ia seperti bisa melihat secara jelas seolah-olah langit tertutup oleh tatapan Ashnard yang terasa banyak arti di baliknya, seperti amarah, kebanggaan, kekesalan, kekuatan, semangat dan rasa sakit. Dia seperti makhluk buas yang berhasil menerkam mangsanya yang sekarang berada di bawahnya. Namun, tatapan itu juga memberikan sensasi lain di hatinya yang terpacu kuat.


"Aku menang." Suara Ashnard begitu dingin seolag bukan seperti sosok aslinya. Nina kini tahu seperti ini sosok Ashnard ketika bertarung mati-matian. Laki-laki itu memberikan dampak positif serta negatif pada Nina secara langsung ataupun tidak langsung.


Namun, dari semua itu, rasa sakit di hatinya yang paling kuat menggerogoti hatinya seperti virus. Melihat kekalahannya di depan Ashnard itu membuktikan bahwa dia masih sangat lemah. Dia masih tidak memiliki kekuatan yang sesungguhnya. Dia masih tidak layak untuk menjadi Vantalion. Latihannya selama bertahun-tahun ini sia-sia.


Air mata mengalir deras dari matanya. Kekecewaan memenuhi hatinya dan penyesalan menutupi segalanya. Nina seolah-olah merasa sangat lemah sekarang, sangat renta, seperti anak kecil yang kesepian di dunia yang luas ini. Hanya menangis yang bisa dia lakukan.

__ADS_1


"Aku ... Aku ka-kalah. Kenapa aku masih lemah?"


Nina menekan matanya sendiri dengan tangannya dan menggosok-gosoknya berharap air matanya segera berhenti, tapi ternyata sia-sia. Air matanya terus mengalir sangat deras karena dia masih mengakui dirinya lemah sampai-sampai pipinya basah.


Ashnard yang melihat gadis di bawahnya tiba-tiba menangis, langsung terkejut dan panik. Dia melepaskan pedangnya dan menengok ke kiri dan kanan berharap dengan menengok bisa menenangkan Nina. Lalu, saat matanya berhenti ke Eris yang duduk dengan santai, Eris membuat gestur seperti menyuruh Ashnar yang melakukannya dengan tangannya. Ashnard mengangguk yakin.


Seketika, Ashnard menyelipkan tangannya di bawah Nina, lalu mengangkatnya dan memeluknya. Nina terkejut sesaat tapi kemudian membalas memeluk Ashnard meskipun tangisannya masih berlanjut dan membasahi bahu Ashnard.


Dalam momen tersebut, Ashnard ikut bersedih karena dia sama sekali tak memahami apa yang membuat Nina menangis. Dia hanya tahu bahwa ini adalah latihan agar membuat Nina menjadi kuat. Tapi, kenapa dia sampai menangis seperti itu? Bukankah semua orang kuat berawal dari lemah? Padahal, latihannya masih bisa dilanjutkan lagi ke depannya untuk semakin mengembangkan kemampuannya.


Tiba-tiba Eris muncul berdiri di samping sambil melihat Ashnard dan Nina. Lalu, ia berlutu dan kemudian ikut memeluk mereka.


"E-Eris? Apa yang kau lakukan?" tanya Nina saat merasa punggungnya tiba-tiba menjadi berat.


"Tidak apa, Nina. Kadang kenyataan tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Saat itu terjadi, kita harus menerima semua itu dan meneruskan hidup dengan apa yang bisa kita pegang sekarang," ucap Eris.


"Tapi ...." Ucapan Nina terhenti sejenak. Dia memikirkan sesuatu.


"Sudah kubilang tidak apa. Tidak selamanya menyerah itu hal yang buruk. Kadang menyerah itu bisa menjadi hal baik demi kita, demi dirimu. Aku akan ada di sampingmu, benar-benar di sampingmu saat itu terjadi."


Kenyataan yang bisa Nina terima bukanlah kenyataan tentang dirinya yang lemah, tapi kenyataan akan Eris yang ada di sampingnya untuk membantunya. Kenyataan itu cukup bagi Nina untuk meredakan tangisannya dan kembali mendapatkan semangat.


Sesuai dengan apa yang sudah terjadi, Nina kalah dalam pertarungan ini. Dan begitulah akhirnya yang tak bisa dia ubah. Dia menyerah, tapi bukan karena dia tak ingin melawan, tapi karena dia ingin menghadapi kenyataan tersebut. Tidak apa jika orang tuanya akan memarahinya, membentaknya atau menyiksanya, dia tetap akan menjalani hidup sebagaimana mestinya, namun dengan sosok seperti Eris di sisinya membuat semua rasa sakit itu hilang menjadi kebahagiaan permanen.

__ADS_1


Itu bukan akhir yang Nina inginkan, tapi akhir yang seharusnya dia lakukan. Dia sudah tidak merasa takut lagi. Dia tidak gelisah atau terus kepikiran lagi. Jiwanya, hatinya sekarang menjadi lebih lega seperti diangkat oleh angin ke atas langit yang lebih cerah.


__ADS_2