
Ashnard melihat ke jendela, mendapati Finn yang dikerumuni oleh para petualang. Entah karena apa, petualang-petualang itu tampak marah.
"Kita harus membantu Finn!"
Nous mencegahnya. "Apa kau tidak ingat kata gurumu? Jangan menarik perhatian orang-orang," ucapnya mengingatkan kembali.
"Ya, tapi Finn dalam masalah." Ashnard menarik dirinya dan bergegas turun ke bawah. "Aku akan membantunya."
Nous tak berhasil mengejar Ashnard. Anak itu sekarang telah keluar dan menuju kerumunan.
"Finn! Apa yang terjadi?"
"Siapa kau?" tanya salah satu petualang itu. Ia terlihat mencolok karena kepala botaknya.
"Aku temannya," jawab Ashnard.
"Kalau begitu, katakan pada temanmu untuk mengganti rugi barang yang telah dia pecahkan."
"Sudah kubilang, aku tak sengaja." Finn yang terpojok ke dinding, bersikeras memberitahu para petualang itu.
"Barang apa?" tanya Ashnard penasaran.
Lalu, petualang botak itu menunjukkan sebuah pecahan-pecahan dari benda yang asing. Pecahan tersebut berwarna emas-coklat, memiliki guratan-guratan unik hingga tampak seperti ukiran yang sudah tidak jelas, dan tampak sangat tua.
"Ini artefak yang kami temukan di gua. Serikat berkata kalau kami boleh membawanya karena kami berhasil mendapatkannya dengan susah payah. Di pasar gelap, harga artefak ini sangat mahal, tahu!"
Petualang itu pun menjelaskan apa yang terjadi. Finn menambahkan sesuai dengan sudut pandangnya. Saat keluar untuk mencari makanan--sesuai dengan ucapannya--Finn merasa senang karena mendapatkan makanan yang lezat untuk dibagi bersama Ashnard dan Nous. Saking senangnya, ia tak sengaja menabrak kelompok petualangan yang baru saja kembali setelah menyelesaikan misi. Finn tak sengaja menjatuhkan dan memecahkan artefak berbentuk seperti lempengan logam yang cukup lebar.
Petualang tersebut berkata kalau lempengan bernilai sangat mahal, dan mendapatkannya sangatlah susah. Dia berkata kalau gua tempatnya menemukan lempengan itu dijaga oleh monster-monster yang buas.
"Kami awalnya, hanya mengambil misi dari serikat untuk menutup gua tersebut. Salah satu dari kami melihat benda berkilau, jadi kami mengambilnya. Lagipula, serikat tak melarangnya," ungkap sang petualang.
"Memangnya berapa nilai benda itu?"
"100 Merium emas."
Finn menganga tak percaya. "Jangan bohong! Bukankah itu seharga satu rumah?"
"Mana mungkin kami bohong. Justru itu lebih murah daripada biasanya," tegas si petualang.
"Tapi, aku hanya ada 20 Merium perak saja," ucap Finn panik.
"Mau mengambil artefak yang lainnya atau menjual diri, itu terserahmu! Yang penting kau harus mengganti rugi. Jika tidak, aku akan menuntutmu ke pengadilan."
"Artefak yang lain?" tanya Ashnard.
"Iya, sebenarnya, di gua itu masih ada banyak artefak yang lain. Tapi, kami tak mau kembali ke sana. Mengambil satu artefak saja sudah hampir membuat kami mati," jelas salah satu anggota petualang tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku pergi ke sana, mengambil artefak yang lain untuk menggantinya?"
"Kau masih anak kecil, lho. Kau yakin?" tanya petualang itu meremehkan Ashnard.
Ashnard mengangguk dengan tatapan yang penuh keyakinan.
"Ya sudah. Terserahlah. Aku tak peduli bagaimana cara kalian mendapatkannya. Tapi, jangan menghantui kami jika kalian mati."
Setelah diberitahu lokasi guanya yang terletak cukup dalam di hutan, Ashnard pun segera menarik Finn ke sana. Semakin jauhlah ia dari jurang dan dari tujuannya.
Mulut gua tersebut ternyata sudah ditutup dengan papan kayu seperti yang petualang itu katakan. Ashnard lalu memerintahkan Finn yang masih kelelahan untuk membantunya membuka papan kayu tersebut.
"Kenapa aku juga harus kesini?" tanya Finn, nafasnya terengah-engah.
"Aku tak ingin melakukan semuanya sendirian. Kau juga harus bertanggung jawab," jawab Ashnard cepat. "Sekarang, ayo bongkar kayu-kayu ini dan segera cari benda apapun itu yang berkilau."
"Kita minta bantuan ayahmu atau siapapun dia saja. Petualang itu bilang di tempat ini banyak monster buasnya."
"Jangan, kalau aku ketahuan aku akan di marahi olehnya," tolak Ashnard.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanpa mereka sadari, Nous muncul di belakang mereka. Berdiri dengan tatapan yang seperti meminta penjelasan.
"Ahahaha ... k-kami tadinya ingin memberitahumu, tapi ...," ucap Ashnard panik sekaligus malu karena tertangkap basah.
"Aku sudah mendengar semuanya." Nous berjalan mendekati Ashnard. "Tak kusangka kalian sebodoh ini."
"Kalian tak berhak mengganti rugi barang-barang tersebut, karena barang itu tak berkepemilikan. Bukan milik siapa-siapa. Dan juga, petualang itu belum menjualnya, apalagi ia memilih untuk melakukan transaksi secara ilegal yang tak akan mendapatkan keuntungan kepemilikan. Barang itu bukan sah miliknya dan mereka tak akan bisa menuntut kalian."
"Ohhh ...." Ashnard dan Finn terlihat seperti orang bodoh dengan penjelasan Nous.
"Tapi, karena sudah terlanjur disini. Kita lakukan saja."
Sebuah keajaiban datang. Padahal, Nous sudah menjelaskan alasan untuk tak melakukan ini, tapi dia justru ingin melakukannya. Ashnard dan Finn saling melempar pandangan tak percaya dan bertanya-tanya apa yang membuat Nous berubah. Mungkin dia ingin mengambil artifak untuk dirinya sendiri atau dia hanya ingin menyenangi hati Ashnard.
Ashnard menundukkan kepalanya saat Nous semakin dekat dengan dirinya. Ia tahu akan kesalahannya, karena itu ia tak mau menatap wajah Nous.
"Maaf," gumam Ashnard.
Lalu, Nous menyodorkan sebuah pedang milik Ashnard yang tak terbawa. "Dan jangan pernah melupakan pedangmu."
Saat itulah, Ashnard berani menatap kembali wajah Nous. Ia mengira jika Nous akan marah. Tapi, yang ia lihat hanyalah wajah tersenyum.
"Jangan salah. Aku tahu masalah yang telah terjadi. Aku hanya ingin menyelesaikan semua ini agar tak merepotkanku lagi."
Nous mengepalkan tangannya ke belakang. Mengumpulkan energi angin di kepalannya, lalu melepaskannya ke papan kayu tersebut hingga hancur.
"Kalian berlindung di belakangku saja," ucap Nous. Ia lalu mengangkat lentera yang ia bawa, dan memimpin jalannya.
__ADS_1
Mereka memasuki tempat gelap seperti itu. Lorongnya sangat lebar dan panjang. Tak ada ujung yang bisa terlihat, apalagi semakin banyak jalan bercabang.
Nous menganggap lorong itu memiliki bentuk yang aneh. Tak seperti pada gua-gua biasanya yang memiliki bentuk batuan di langit ataupun lantainya yang kasar, runcing dan tak rata. Lorong di gua ini justru sangat rapi, terlihat seperti dibuat oleh sesuatu, yang jelas bukan karena proses alam.
Dari dua cabang di sisi kiri dan kanan, muncul segerombolan laba-laba raksasa berwarna hitam. Laba-laba itu merangkak di langit-langit menuju mereka.
"Bersiaplah!" perintah Nous pada Ashnard.
Laba-laba itu melompat dengan kaki belakangnya, mengarahkan taring berbisanya pada Ashnard. Tapi, laba-laba ini lawan yang lebih mudah daripada Raivolka. Ashnard menghindar lalu menyerang.
Nous membuat angin dari telapak tangannya yang memisahkan sejumlah laba-laba tersebut hingga terpencar.
Tanpa upaya yang berlebihan, Ashnard dan Nous pun berhasil mengalahkan para laba-laba Mereka dengan cepat menghabisinya, seperti menghabisi sekerumunan serangga kecil.
Tak jauh di depan, kilauan seperti yang dikatakan para petualang mulai terlihat. Kilauan di antara kegelapan itu berasal dari sebuah lempengan logam berbentuk oval. Jumlahnya ada banyak, dan menyebar tak hanya di satu ruangan.
Finn penasaran dengan logam ini. Ia memeriksa ruangan lain, berharap mendapatkan sesuatu yang lebih berharga. Tapi, apa yang dilihatnya cukup membuat jantungnya copot.
Seekor ular raksasa sedang tertidur pulas di ruangan yang sangat luas itu. Tubuhnya melingkar untuk menciptakan kehangatan bagi ular tersebut. Sisiknya berkilau emas dan coklat. Kilauan dan warnanya sama dengan lempengan logak tersebut. Begitu menyadari adanya makhluk raksasa itu, Finn berjinjit pelan keluar dari ruangan tersebut.
"Ada apa?" tanya Ashnard yang heran melihat Finn keluar dengan keringat yang membasahi seluruh wajahnya.
"Tak ada. Ayo, cepat. Kita ambil beberapa saja dan segera pergi dari sini," bisik Finn.
Setelah mengambil beberapa lempengan logam atau yang Finn ketahui sebagai sisik ular raksasa tersebut, mereka kembali menuju ke desa dan memberikan sejumlah benda itu pada si petualang botak.
Petualang itu tak bisa berkata-kata melihat jumlah benda berkilau yang begitu banyaknya. "B-bagaimana kalian bisa mendapatkan semua ini?"
Ashnard mendengus mengejek, "Monster buas apanya, itu hanya segerombolan laba-laba liar saja. Tugas ini terlalu mudah bagiku."
Para petualang itu menatap Ashnard dengan tak percaya. Kata-kata yang keluar dari mulut Ashnard membuat harga diri mereka sebagai petualang berpengalaman terkoyak habis. Malu karena kalah dari seorang anak kecil.
Ashnard, Nous dan Finn kembali ke penginapan. Mereka membicarakan tentang hal yang telah terjadi. Tapi, Finn tidak pernah membuka mulutnya lagi tentang apa yang telah dilihatnya, karena dia terlalu ketakutan untuk memikirkan makhluk itu. Sekarang, rahasia artefak itu hanya dia yang tahu.
"Kenapa tidak mengambil beberapa benda logam saja buat kita? Pria itu bilang harganya sangat mahal, kan?" tanya Ashnard ke Nous.
"Berapa kali harus kubilang, tujuan kita bukan untuk menjadi kaya. Tapi ...," ucapan Nous terpotong.
"Menuju ke akademi tanpa ketahuan oleh siapapun," jawab Ashnard yang mulai bosan dengan alasan tersebut.
"Menuju ke akademi?" Anak itu lupa jika ada Finn di sebelahnya, dan Finn telah mendengar apa yang seharusnya dirahasiakan.
Nous mengesah lelah karena kecerobohan Ashnard. Kali ini, ia tak bisa membantunya. Harus Ashnard sendiri yang menyelesaikannya.
"Ya ... sebenarnya ... aku ... omong-omong, aku sudah lelah. Aku tidur duluan, ya." Ashnard dengan cepat berkilah lalu menarik selimutnya untuk menyembunyikan dirinya dari rasa penasaran Finn.
Finn melempar pandangannya ke Nous. Nous berjalan ke luar ruangan dengan tenang, tanpa menjawab apapun seolah dia tak mendengarkan apapun.
__ADS_1