The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Pertarungan Ashnard


__ADS_3

Nama Asberion sudah seperti menjadi sebuah jantung bagi pemiliknya. Jika jantung itu berhenti berdetak, maka pemiliknya mati.


Reinhard selalu memegang teguh nama Asberionnya seperti ia memegang dunia. Tak akan ia lepaskan, tak akan ia lupakan, dan tak akan pernah ia hancurkan.


Namanya berarti tinggi. Begitu pula keinginannya. Dia tidak akan menyerah hingga mencapai keinginannya tersebut sebagai seorang Asberion.


Walaupun hanya sekedar pertarungan untuk tes biasa.


Reinhard dan Arlon di bawa ke ruang persiapan. Arlon yang tak sadarkan diri, di baringkan pada ranjang di salah satu kamar untuk menjalani sejumlah perawatan dari Nora--guru yang ditugaskan menjadi tenaga medis.


Sementara Reinhard menolak perawatan lebih lanjut. Ia didudukkan di kursi meskipun sekujur tubuhnya penuh luka. Nora mengarahkan telapak tangannya ke depan, seketika cahaya keemasan bersinar layaknya matahari dari telapaknya.


Cahaya itu menenangkan Reinhard. Meredakan seluruh rasa sakitnya juga membersihkan segala kotoran. Luka-luka kecilnya perlahan tertutup, tapi tidak untuk luka yang besar.


"Perutmu harus diperban, mengerti?" kata guru berambut pendek tersebut.


Dari luar ruangan, terdengar teriakan khawatir dan langkah kaki yang dari dua orang yang familiar. Kedua orang itu, Liliya dan Ulfang mendatangi Reinhard yang terduduk lemas.


"Reinhard! Kau berhasil menang!" seru Ulfang dengan girang. Senyumannya tak pernah selebar ini selebumnya.


"Kau ada di sini itu berarti kau sudah mendapatkan elemenmu, ya," lirih Reinhard seraya menahan rasa sakitnya.


"Begitulah."


Liliya berjongkok menawarkan diri membantu Nora untuk memerban Reinhard. Nora memberokannya karena ia juga masih harus mengurus Arlon.


Liliya mengambil kain perban dan meliliti pada perut Reinhard. "Jangan banyak bergerak dulu, kau masih terluka," kata Liliya.


"Kau tak perlu melakukannya?" geram Reinhard dengan rona merah tipis di pipinya yang berusaha ia sembunyikan dari Ulfang. "Aku memerlukannya segera, Liliya."


Liliya mengangguk dan sempat berhenti sesaat sebelum melanjutkan lagi.


Tak lama kemudian, murid lainnya datang menjenguk Reinhard. Mereka tidak lain adalah Wilia dan Nina.


"Pertarungan yang bagus, Reinhard Asberion," sapa Wilia dengan senyuman lembutnya. "Kau masih saja serius seperti dulu."


"Oh, tak kusangka tuan putri akan datang mengunjungiku," ucap Reinhard.


"Kau masih mengingatku, ya. Karena kita sudah lama tidak bertemu, lain kali, minum tehlah bersamaku lagi," ajak gadis berambut pirang tersebut.


Lalu, dari belakang Wilia, si rambut merah muncul dengan penuh semangat. "Hei, Reinhard, bagaimana denganku? Apa kau masih mengingatku?"


"Mana mungkin aku lupa dengan gadis api sepertimu," jawab Reinhard mendengus.


"Omong-omong, siapa gadis disebelahmu itu?" tanya Wilia menunjuk ke Liliya.


Liliya bangkit, berbalik dengan senyuman. "Salam kenal, Nona Wilia, aku Liliya dari keluarga Nerefelon. Aku temannya Rein."


Wilia menyipitkan matanya. "Teman? Aku tak tahu Reinhard punya teman gadis sepertimu."


Ada sedikit gelombang intens di sekitar Reinhard. Ia yang sudah terluka tak mau mencampuri urusan tersebut.


Beruntungnya, Terenna datang tepat waktu setelah membantu Nora dari kamar Arlon. Ia menyuruh yang lainnya untuk pergi karena pertarungan selanjutnya akan segera dimulai.

__ADS_1


Wilia, Nina, Liliya dan Ulfang pun beranjak menuju ke luar. Tapi, tak di sangka, mereka berpapasan dengan Ashnard dan Gerlon yang baru saja keluar dari kamarnya setelah bersiap-siap.


Mata semua orang saling terkunci dalam diam. Wilia yang berada di depan rombongan, menatap sinis tapi bukan untuk Ashnard. Di sebelah Ashnard, yaitu Gerlon yang merupakan bukan berasal dari keluarga bangsawan.


Gerlon adalah aib bagi para bangsawan yang memiliki harga diri tinggi karena berada di sekolah elit yang awalnya di khususkan untuk bangsawan saja.


Wilia adalah orang seperti itu. Ia tak bisa menerima bagaimana orang yang buka bangsawan dan hanya anak panti asuhan bisa diterima di sekolah yang sama dengannya.


Sedangkan, Gerlon tak terlalu mengurusi tatapan sinis Wilia.


Setelah Wilia melewati mereka, di belakangnya adalah Nina yang tersenyum saat matanya berpapasan dengan mata Ashnard. "Kau selanjutkan, kan? Semoga beruntung," ucap gadis itu.


Sejenak Ashnard merasa kaget dan bingung karena tiba-tiba gadis itu berbicara padanya. Ia hanya tidak menduganya saja.


Tapi, yang berdiri kemudian di depannya adalah Liliya. Kedua anak muda itu bertatapan dengan canggung satu sama lain. Ada banyak sekali yang ingin mereka bicarakan saat ini juga. Tapi, mereka tak bisa untuk memulai pembicaraan duluan padahal ingin berbicara.


"Maaf," lirih Liliya sambil menundukkan kepalanya.


Ashnard hanya bisa tersenyum lembut padanya, karena ia tahu bahwa ia tak bisa memaksakan Liliya untuk cerita. "Aku mengerti. Kau memiliki alasanmu sendiri, kan? Lagipula setelah ini giliranku."


"Aku akan mendoakanmu."


"Aku pasti akan menang."


"Apa kau yakin akan mengenakan pedang jelek itu?" Tak jauh di belakang Liliya, ada Reinhard yang sudah diperban sedang duduk di kursi. Dia membicarakan tentang Pedang Hoku Ashnard yang menurutnya tidak layak disebut sebagai pedang.


Ashnard tidak peduli apa kata orang mengenai pedangnya. Ia menghampiri Reinhard karena untuk memastikan satu hal.


"Saat itu, kau benar-benar tidak serius saat melawanku. Apakah itu benar?" tanya Ashnard ke Reinhard.


"Aku tak percaya kau menahan diri," gumam Ashnard. "Kau meremehkanku." Reinhard menyadari kepalan tangan Ashnard yang memerah karena ditahan.


Reinhard tak menjawab apapun lagi. Ashnard berbalik dan menuju arena. Tapi, sebelum keluar, ia berbalik lagi pada Liliya yang masih di sana dan melambaikan tangannya ke arah gadis itu.


"Liliya, jangan lupa tonton pertarunganku, ya! Dan jangan dekati Reinhard, dia orang yang kasar."


Reinhard berjalan tertatih-tatih sambil memegangi perutnya menuju Liliya yang sedang memandangi Ashnard semakin menjauh. Liliya yang melihat Reinhard masih kesakitan, langsung memapahnya.


Dalam keheningan di antara mereka itu, Reinhard melirik ke sang gadis. "Apa kau tak penasaran dengannya?"


"Penasaran apa?"


"Keluarga Raegulus mendadak hilang, dan tiba-tiba Ashnard muncul di sini. Apa kau tak penasaran akan hal itu?"


Liliya tertawa terkekeh-kekeh. Keceriaan gadis itu yang manis bagai bunga, membuat Reinhard sedikit tersipu. "Jangan berpikiran negatif pada Ashnard! Aku tahu kau tak menyukainya, tapi aku berharap kalian bisa akrab satu sama lain," jawabnya dengan nada yang penuh kelembutan.


Ashnard berdengus mengejek. "Akrab dengan Ashnard? Tidak mungkin."


Sudah saatnya. Cahaya dari obor raksasa menyapanya setelah keluar dari ruangan. Langit-langit berdiri di atasnya dan patung-patung yang seolah sedang menyaksikan pertarungannya.


Ashnard mengisi nafasnya dan membuangnya kembali, lalu ia menuju ke posisi. Kebesaran dan kemegahan arena disertai penonton membuat Ashnard sedikit gelisah. Ia tak bisa membayangkan jika saat ini ditonton lebih banyak orang.


Roc menenangkan hatinya. Itulah yang bisa Roc lakukan saat ini dan Ashnard mensyukurinya.

__ADS_1


Di depannya, pria berambut putih panjang itu berdiri sebagai lawan tandingnya. Mereka kemudian menunggu aba-aba dari sang wasit.


"Kau sudah siap, Ashnard Raegulus?"


"Tentu."


Wasit berteriak, "Mulai!"


Kedua orang itu memegang gagang pedangnya masing-masing bersiap untuk menariknya dan melancarkan serangan terkuat mereka dalam sekali serang.


Mereka memikirkan hal yang sama. Yang paling cepat dialah yang menang.


Ashnard sudah mencodongkan tubuhnya, tapi tertahan oleh interupsi dari seorang pria yang tampan dan menawan datang dari gerbang masuk.


Sang Kepala Akademi datang untuk menghentikan pertarungan. Ia berkata, "Maaf, Raegulus muda, tes mu harus terganggu olehku. Ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan. Oleh karena itu, aku membutuhkan bantuan dari lawanmu. Tuan Gerardus ikutlah denganku."


Gerardus yang mendengar perintah sang atasan pun harus menerimanya. Ia membungkuk pada Ashnard sebelum pergi. "Sayang sekali pertarungan kita harus ditunda. Mungkin lain kesempatan."


"Mungkin murid-murid disini bisa menawarkan diri untuk menjadi pengganti Tuan Gerardus. Apakah ada yang mau?" tanya Kepala Akademi.


Tak ada yang mengangkat tangan mereka. Semua orang tak ada yang ingin membuang waktu mereka melawan orang yang menurut mereka tidak sehebat Reinhard.


Tak lama kemudian, satu tangan terangkat dari kursi penonton. Tangan Liliya.


Ashnard dan Reinhard lah yang paling terkejut. Tak ada yang menduga datang dari gadis seperti Liliya.


"Baiklah, kau bisa segera bersiap-siap turun ke bawah untuk menjadi lawannya, Nona Liliya."


Kepala Akademi dan Gerardus pun pergi meninggalkan arena dengan sangat cepat. Meninggalkan para murid dalam pertanyaan.


Namun, di arena itu sendiri adalah sesuatu yang tidak terduga. Ashnard tidak menduga ini. Ia bingung harus melakukan apa ketika di depannya seorang gadis yang terlihat polos, manis dan lembut sedang memegang sebuah pedang yang ditujukan untuknya.


"Aku akan membantumu, Ash. Karena itu bertarunglah dengan serius," ucap Liliya.


"Bertarung dengan serius? Itu tidak mungkin."


Pertarungan pun di mulai. Liliya mendahului Ashnard yang masih ragu. Liliya dengan gencarnya melemparkan berbagai serangan dari pedangnya atau dari elemen anginnya.


Ashnard yang tak fokus pun telah kewalahan dengan sangat cepat hanya untuk menghindar saja.


"Aku tak bisa menyerangmu, Liliya."


"Kau harus melakukannya!" Liliya berteriak seperti seorang petarung sejati.


Sementara Ashnard sama sekali tak memberikan serangan satu pun. Justru ia lah yang dijadikan samsak oleh Liliya. Ashnard berulang kali berteriak kalau dia tak bisa menyerang Liliya, kalau dia tak tega untuk melukainya.


Para penonton kecewa. Mereka menggelengkan kepalanya tak percaya dan mencemooh Ashnard.


"Dasar pengecut!"


"Apa yang dia lakukan, sih!"


"Orang itu memang payah."

__ADS_1


Pada akhirnya, Ashnard kalah dan pemenangnya adalah Liliya. Sebuah pertarungan yang tidak terduga dengan hasil yang juga tak terduga. Bagi para penonton, sebuah pertarungan yang tidak layak.


__ADS_2