
Eris harus berjalan dengan hati-hati dari kamar Ashnard hingga menuju kamar Wilia. Dari ujung ke ujung. Jika dia tidak bisa mengontrol suara langkahnya, semua orang yang kamarnya di lewati akan terbangun dan menangkapnya.
Beruntungnya, kaki Eris dan postur tubuhnya yang kecil mampu untuk menghindari segala kemungkinan dirinya bisa diketahui. Segera dia sampai di depan pintu kamar Wilia, dia memasukkan kunci cadangannya. Eris mendorong pintu ke dalam setelah mendengar suara ceklik pintu. Dia pun masuk.
Aroma wewangian bunga langsung menusuk hidung Eris begitu masuk. Dia juga terpana dengan dekorasi kamarnya yang sangat berbeda dengan kamarnya dan kamar Ashnard. Benar-benar lebih mewah dan berkelas, lengkap dengan tembok yang dilapisi motif bunga emas. Eris tidak meragukan selera Wilia.
Eris melihat ke sekeliling. Tidak menemukan apapun selain sang putri yang tertidur di tengah ranjang yang seharusnya cukup untuk lima orang tersebut.
"Dimana dia menyembunyikannya?" gumam Eris.
Eris lalu pergi ke samping ranjangnya, dimana terletak sebuah lemari besar terbuat dari kayu putih seperti gading. Sembari membungkukkan badannya, dia membuka perlahan lemari tersebut. Hanya ada tumpukan pakaian-pakaian mewah sang putri yang sudah tersusun rapi sedemikian rupa. Eris masih tak menemukan benda yang mencurigkan di lemari tersebut. Dia mulai khawatir apakah dugaannya selama ini salah.
Eris terus memikirkan lagi kemungkinan-kemungkinan tempat yang cocok untuk menyembunyikan benda. Pikirannya berakhir ke kolong ranjang Wilia. Saat Eris menundukkan kepalanya untuk mengintip ke bawah kolong, ada tangan yang memegang pundaknya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku? Dan bagaimana bisa?" Wilia ternyata bangun dan menyadari keberadaan Eris.
"Aku ...." Eris tertangkap basah. Dia berpikir tak ada gunanya lagi untuk merahasiakannya. "Baiklah, aku akan jujur. Aku sebenarnya sedang mencari pedangmu. Aku tidak bermaksud mencurinya darimu. Aku hanya menaruh curiga pada tempat ini."
"Apa yang kau curigakan?" tanya Wilia, matanya melek.
"Kamarmu ini. Ini pasti kamar yang didesain untuk seorang putri sepertimu, kan? Padahal ini sebuah villa, tapi setiap kamarnya berbeda. Kamarku dan kamarmu berbeda. Bahkan, di lemari ada pakaian dan barang-barang yang tidak pernah kubawa dari asrama. Aku berpikir jika pencipta villa ini membuatkannya khusus untuk kita," jelas Eris yang berusaha sekecil mungkin mengeluarkan suaranya agar hanya dirinya dan Wilia saja yang mendengarnya.
"Bukankah itu bagus? Kita jadi tidak perlu beradaptasi dengan lingkungan asing lagi."
"Itu masalahnya. Siapapun yang menciptakan villa ini tidak hanya mengetahui tingkat permukaan dari kita, tapi lebih dalam lagi. Seseorang itu tahu lebih banyak daripada karakteristik luar kita. Seperti semua pakaian yang kita miliki, bahkan pakaian dalam juga, barang pribadi, dan aroma ruangan yang sama dengan kita. Semua itu asli, bukan duplikat."
"Jadi, tujuanmu datang ke kamarku adalah memeriksa apakah pedangku juga ada di sini atau tidak?" tanya Wilia memastikan.
"Ya. Apakah ada atau tidak? Karena jika ada, itu berarti orang itu juga tahu rahasia yang terdalam dari kita seperti pedang keluargamu."
__ADS_1
Melihat ekspresi Eris yang begitu penasaran, Wilia langsung membuka selimut yang menyelimuti seluruh ranjang dan tubuhnya. Di baliknya, tampak sebilah pedang dengan gagang kayu ikut di baringkan di ranjang. Pedang itu adalah jawaban yang Eris cari hingga dia berani meresikokan dirinya.
"Aku juga berpikir sama sepertimu. Pedang ini hanya aku, kau, gadis api, Cynthia, Ashnard dan Reinhard saja yang tahu. Jika ada orang lain selain kita yang tahu, itu berarti kondisi kita lebih serius." Wilia lalu mengangkat pedangnya. "Tidak diragukan lagi, pedang ini adalah pedang milikku. Ia memiliki kekuatan yang sama dan bahkan juga mengenali darahku."
"Jika aku menjawab ulah semua ini adalah Guru Terenna dan Kepala Akademi, bagaimana menurutmu?"
Wilia yang juga mencurigai sesuatu seperti Eris, menjawab dengan santai, "Aku tidak akan terkejut."
"Bagaimana kalau kubilang Ashnard juga ikut terlibat?"
Pertanyaan yang ini membuat Wilia terkejut, dan bisa dibilang cukup berani. Tapi, saat dia melirik ke laci sebelah kirinya yang menyimpan kunci kamarnya masih tertutup dan pintu yang terbuka, memberikan sebuah kesinambungan.
Wilia menatap Eris dengan tidak percaya. "Kau mengambil kunci cadangan dari kamar Ashnard?" Wilia bertanya pertanyaan yang sudah dia ketahui dari keberadaan Eris di kamarnya.
Awalnya, Wilia memang menganggap Eris adalah gadis kaku yang suka merusak kesenangan orang lain dan cerewet soal aturan dan tata tertib. Semua yang keluar dari mulutnya selalu menganggu kenyamanan telinganya. Namun, dia tak tahu Eris adalah gadis pemberani atau bisa dibilang nekat juga.
Wilia percaya kalau semua ini adalah ulah para guru, tapi dia harus berpikir dua kali jika Ashnard juga ikut terlibat. Ashnard tidak terlihat seperti orang yang berniat jahat.
"Aku tahu. Sulit rasanya berpikir jika Ashnard ternyata tidak dipihak kita. Dia adalah orang yang sangat baik. Namun, justru kebaikannya itu yang membuat kita lengah. Itulah yang harus kita waspadai sekarang!"
Cara Eris yang mengucapkan itu dengan wajah tenang dan mata yang masih tajam tanpa ada kantung mata dan bola mata yang merah, membuat Wilia bertanya-tanya apakah gadis berkacamata di depannya adalah sosok sama yang dulunya dia rundung atau bukan. Karena saat ini, Wilia melihatnya seperti sosok yang dewasa dan tidak memiliki keraguan sama sekali. Walaupun sedikit, ada perasaan kagum yang dirasakan oleh Wilia terhadap Eris.
"Jadi, kubah merah dan danau beku itu juga bagian dari rencana mereka?" tanya Wilia.
"Aku tidak tahu pasti soal kubah merah. Dari yang kulihat, Ashnard sepertinya tidak tahu soal itu. Dia panik sama seperti kita. Namun, yang aneh adalah danau beku. Kita bisa asumsikan danau beku itu adalah bagian dari rencana mereka. Tapi, apa yang sebenarnya mereka ingin lakukan pada kita dengan danau beku tersebut?" Eris justru memberikan kembali pertanyaan ke Wilia yang sama tidak tahunya.
Semuanya tetap kembali ke satu pertanyaan, untuk tujuan apa? Meskipun mereka mendapatkan satu demi satu keping puzzle. Tapi, semua itu hanya untuk membentuk satu keping puzzle lagi.
Semakin dipikirkan, semakin rumit. Ditambah lagi, sekarang tengah malam. Tengah malam bukan waktu yang tepat untuk memikirkan semua ini, mereka butuh tidur. "Begini saja, besok kita tetap bersikap normal seperti tidak terjadi apa-apa. Kita tunggu gerak-gerik Ashnard yang mencurigakan. Kita akan membongkar semuanya jika kita ada kesempatan. Bagaimana?"
__ADS_1
"Kau benar. Kita pikirkan saat sore."
Sudah cukup dengan semua hasil yang dia dapatkan, Eris pun menuju pintu. Tapi, tangannya berhenti di gagang saat Wilia memanggil namanya.
"Aku ...." Wilia yang duduk di tepi ranjangnya, terlihat gelisah. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. "Aku hanya ingin minta maaf. Soal semuanya. Aku minta maaf," ucapnya secara mengejutkan.
Eris tentunya terkejut saat kata-kata itu keluar dari mulut Wilia. Dia selama ini salah melihat Wilia. Dia hanya menggambarkan Wilia dalam benaknya adalah seorang putri arogan yang tidak tahu diri. Dia lupa kalau putri arogan di depan matanya adalah seorang manusia juga. Seorang yang pernah berbuat salah dan suatu saat menyadari kesalahannya dan berusaha untuk menebusnya.
"Aku sudah memikirkannya selama ini. Aku salah. Aku memang membencimu karena kau selalu mencatat kekurangan orang lain daripada perbuatan baiknya. Menurutku itu sangat menganggu. Jadi, yah, seperti yang kau alami waktu itu. Aku sadar kalau aku telah berlebihan. Karena itu, aku minta maaf. Sebagai seorang putri Rabalm dan sebagai Wilia."
Mendengarnya saja sudah cukup membuat Eris lega. Karena itu berarti, manusia masih ada dan menjadi dirinya. Orang yang pernah mencapai titik kejahatan tertinggi sekalipun suatu saat pasti akan sampai di sebuah padang kedamaian. Orang-orang akan pergi untuk berbuat salah dan kembali untuk menebusnya.
Seorang ahli hukum bertugas bukan untuk menghakimi tapi untuk memberi kesempatan orang lain agar berbenah diri. Itu yang diajarkan sang ayah padanya. Eris bangga bisa meneruskan jalan ayahnya. Dan Eris bangga karena pandangannya pada dunia dan manusia tidak berubah hanya karena setitik noda di lembaran kertas putih.
Eris tersenyum dengan penuh kelembut saat menatap Wilia yang sudah berani untuk meminta maaf, lalu berkata, "Permintaan maaf sudah cukup bagiku. Aku menerimanya dengan sepenuh hati."
Wilia merespon dengan senyuman penuh kelegaan. Dia tak mengira Eris akan memaafkannya semudah itu. Tapi, hasilnya tampak cukup memuaskan.
"Tidak ada maksud aneh dibalik permintaan maafku. Aku sungguh berpikir sepertinya aku harus melakukannya jika waktu masih sempat, kau tahu, dengan kondisi yang sekarang ini. Dan juga, aku hanya ingin ... um ... aku hanya ingin ... ber-berteman denganmu de-dengan cara yang lebih resmi." Awalnya, dia bersikap bak putri yang bijaksana, lalu perlahan merunduk seperti kucing pemalu.
"Tentu," jawab Liliya tanpa ragu.
Seketika, Wilia berdiri dan mendekati Eris dengan canggung. Dia merentangkan kedua tangannya ke samping, lalu tiba-tiba memeluk Eris yang tidak siap.
"Jika kita terjebak disini hingga akhir hidup kita. Setidaknya aku ingin mendapatkan seorang teman dengan cara yang normal," ucapnya.
Itu cukup memberikan alasan bagi Eris untuk tidak menolaknya. Dia membalas pelukana Wilia dengan pelukannya sebagI tanda bahwa dia menerima Wilia sebagai temannya.
Mungkin, malam ini tetaplah sebuah misteri yang Eris dapatkan, tapi dia juga mendapatkan hasil yang menghangatkan. Dia meninggalkan kamar Wilia dengan senyuman bahagianya.
__ADS_1