
Kecerobahan Alfeus membawanya menuju kekalahan yang tidak terhindarkan.
Ketika dia terlalu bangga dengan kekuatannya, lalu membantai habis semua yang ada di depan matanya, saat itu dunia memberikannya lawan yang sesungguhnya. Seorang ksatria yang menyembunyikan identitasnya.
Di sebuah tenda besar dengan warna ungu dengan sebuah simbol pohon emas, seorang ksatria berzirah abu-abu gelap memasuki tenda yang dijaga dua prajurit di depan pintu masuknya. Dua prajurit itu tidak menahan sang ksatria karena mereka tahu dan mereka mempersilahkan untuk sang ksatria keluar masuk tempat penting tersebut.
Di dalam tenda yang terang karena sebuah batu bercahaya yang diletakkan di dalam lentera, ada tiga orang yang sedang berkumpul di meja berlapis emas dengan ornamen piramida di tengahnya. Salah satu orang yang sedang berdiskusi itu adalah wanita bergaun putih dengan kerah kuning keemasan yang terhubung dengan garis berwarna sama di dada sampai pahanya.
Sang ksatria menuju kursi wanita itu.
"Ah, ksatria setiaku. Beristirahatlah yang puas sekarang. Kita akan menyerang besok," ucap wanita itu. Seketika tersenyum seperti menunggu lama kedatangan ksatria tersebut.
"Bagaimana dengan negeri itu? Mereka tidak sengaja masuk ke dalam peperangan ini. Mereka adalah korban. Apa kita harus menyerangnya juga?" tanya sang ksatria.
"Itu tidak bisa dihindari. Ksatriaku, ini adalah perang. Siapapun yang menghalangi rencana kita untuk merebut artifak suci adalah musuh kita. Bahkan negara yang tidak sengaja masuk ke dalam kekacauan ini."
Perkataan dari wanita itu adalah mutlak bagi sang ksatria. Walaupun hatinya menolak, perintah tetaplah sebuah perintah. Hingga akhirnya dia harus berhadapan dengan Ksatria Bermata Putih yang terkenal.
Dari kejauhan, dia melihat ksatria tersebut. Dia kecewa melihat cara bertarungnya yang brutal dan kasar. Ayunan pedangnya sembarang seperti pemula yang tidak tahu cara memegang pedangnya, tapi tetap mematikan. Hanya demi memuaskan keinginan balas dendam dan amarahnya saja. Cara bertarung itu tidak seperti yang dikabarkan, tidak seperti yang dia duga.
Pertempurannya dengan Ksatria Bermata Putih pun tidak dapat dihindarkan.
Dia mengangkat pedangnya ke atas saat tahu bahwa kemenangannya sudah terlihat. Pedangnya bercahaya seperti bintang utara yang paling terang di langit. Awan hitam membuka langit untuk pedang tersebut seperti menyambutnya. Dengan segenap tenaga, dia mengayunkan pedangnya sebagai serangan terakhirnya. Namun, dia menahan diri.
Dia melihat kesedihan di mata sang ksatria saat detik-detik terakhir. Menyebabkan dia mengubah tebasannya yang awalnya berniat untuk membelah ksatria tersebut menjadi memotong bahu kanannya. Sang ksatria tergeletak dengan darah dan pedangnya yang patah.
Satu tebasan yang mengakhiri semuanya. Begitu orang-orang menyebutnya. Perang berakhir dengan jumlah korban pihak musuh yang lebih banyak.
Setelah mencapai akhir, medan perang menjadi sunyi. Alfeus yang sekarat di rerumputan mengarahkan pandangannya ke langit berbintang. Dia tahu bahwa dia kalah dan sekarang dia ditinggalkan di medan pertempuran sendirian di antara sisa-sisa perang.
Sebagai seseorang yang masih diberikan waktu sejenak sebelum mengembuskan nafas terakhir, Alfeus menatap lama langit seperti kepalanya hanya bisa menatap satu hal saja. Dia tak bisa merasakan tubuhnya yang terluka lagi, bahkan juga tak bisa bergerak. Sang ksatria hanya menyesali kekalahannya itu yang disebabkan karenanya.
Semua teman, rekan seperjuangannya dan pasukannya telah mati. Padahal ada banyak cara untuk menghindari kematian, tapi tetap selalu berakhir di medan perang. Alfeus tersenyum saat memikirkan bahwa dirinya sendiri tidak bisa luput dari kematian. Apakah dengan kematiannya, Kematian yang sesungguhnya akan datang menjemputnya seperti yang terjadi pada seorang pria di pinggir jalan tersebut? Ataukah dirinya tetap bernasib sial saat kematiannya?
__ADS_1
Alfeus mengaburkan harapan tersebut karena dia tidak bisa lagi merasakan detak jantungnya. Dia mengganti harapannya menjadi ingin bertemu adiknya kembali. Dengan begitu, kematiannya tidak berakhir begitu buruk. Alfeus pun memejamkan matanya karena dia bisa merasakan tinggal beberapa detik lagi hingga dia mati kehabisan darah.
Sudah terlalu lama dia memejamkan matanya. Dia membuka kembali untuk melihat apakah sudah selesai atau belum? Namun, yang dia lihat adalah seorang wanita berjubah hitam dengan mata bermata merah delima yang menunduk dan tersenyum lembut padanya.
"Kau akhirnya bangun," sapa wanita bersuara lembut seperti angin di pagi hari.
Seketika, pikiran Alfeus berhenti, lalu perlahan bekerja kembali. Dia seharusnya tidak perlu terkejut karena memang wanita itulah Sang Kematian. Seharusnya dia memang muncul saat orang mendekati ajalnya.
"Nona Kematian. Kukira kau tidak datang menjemputku," sahut pria itu membalas senyumannya.
Alfeus masih tak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya, tapi dia bisa merasakan kalau sekarang dia terbaring di pangkuan wanita itu di padang rumput yang masih sama.
"Oh, kau menungguku?"
"Tadinya. Aku berharap seperti itu. Namun, aku berpikir kau tidak akan datang karena terasa sangat lama."
Sambil tersenyum, wanita itu terkekeh. "Terima kasih sudah menungguku. Maaf, ada masalah yang membuatku tidak langsung menemuimu."
"Masalah apa? Apakah masalah yang sama saat kau mengembalikanku, mengabaikanku, dan membuatku tidak bisa bermimpi?"
Alfeus memang tidak mengerti pola pikir Sang Kematian, karena itu dia meminta jawaban. Dia menginginkan kejelasan atas semua yang telah terjadi. "Bisakah kau ceritakan padaku? Hidupku sudah berakhir. Aku hanya ingin kau menjawab keinginanku dan bercerita semuanya padaku sebelum aku berakhir di alam lain. Tidak bisakah kau menjawab keinginanku, Nona Kematian?"
Sebagai sosok yang memegang kematian seluruh makhluk hidup, Erida menerima keinginan Alfeus sebagai permintaan maafnya sekaligus hadiah untuk kematiannya.
"Waktu itu kau mendengar bunyi lonceng di langit, kan? Itu adalah panggilan khusus. Ibuku dan para dewa-dewi lainnya mengetahui perbuatanku. Pelanggaranku adalah karena menginjakkan kaki di dunia manusia, melanggar alam lain, dan berusaha menjadikan seorang manusia pelayan dewa. Kemudian, hukumanku adalah dikurung dalam kehampaan selama sebulan ini, tapi bagiku sudah lima puluh tahun. Aku dilaranh untuk berinteraksi dengan siapapun, kakakku, bahkan seluruh makhluk yang hidup maupun mati."
"Lalu, siapa yang bertugas mencabut jiwa-jiwa makhluk yang sudah mati?"
"Aku tidak diberi tahu. Kurasa mereka memerintahkan penjaga alam roh yang tersisa untuk menggantikanku."
Alfeus mencoba membayangkan bagaimana jika dia yang ada di sisi wanita itu. Terkurung di tempat yang kosong, tanpa ada seorang pun yang menemaninya dan tak bisa melakukan apapun selama setengah abad. Jika Alfeus yang berada di posisinya, dia yakin tidak sekuat wanita itu.
Melihat wajah sang pria yang sedih di pahanya, wanita itu memberikan senyuman untuk menghilangkan kesedihan sang pria. "Tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku sudah sering dikurung dalam kekosongan. Aku sudah terbiasa tidak melakukan apapun dan berinteraksi dengan siapapun."
__ADS_1
Bukannya membuat Alfeus tenang, pengakuan sang wanita itu justru semakin membuat Alfeus sedih. Ternyata ada seseorang yang kehidupannya lebih menyedihkan daripada yang Alfeus alami selama ini.
"Setelah waktuku sudah selesai, aku langsung pergi menemuimu, kau tahu." Wanita itu masih tersenyum. Tapi, senyuman kali ini terasa spesial bagi Alfeus. Entah apa yang membuatnya spesial, tapi hati sang pria seolah bunga mekar di bunga mesim semi dan senyuman wanita itu seperti mataharinya. "Aku melewati semua jiwa yang ada, hanya untuk menemuimu. Tenang saja. Aku akan membawa mereka nantinya."
"Kau terlalu berlebihan, Nona Kematian."
"Tidak jika untukmu."
Pertemuannya kembali dengan Sang Kematian, cukup membuat pria itu merasa puas. Di akhir hidupnya, harapannya masih bisa terkabulkan. Wanita itu datang menemuinya, itu berarti dia tidak melupakan soal dirinya.
"Kematian akan lebih berharga jika didatangi langsung oleh Sang Kematian secara tak diduga. Itu berarti kematianmu adalah kematian yang tenang."
Di alam yang hidup dan mati saling bersaing satu sama lain ini, banyak pandangan yang berbeda-beda soal kematian. Ada yang bilang akhir dari hidup atau puncak dari kehidupan itu sendiri. Namun, akhir yang sesungguhnya dari kehidupan manusia adalah ketika manusia itu sendiri tidak bisa merasakan lagi kehidupan. Tidak bahagia, tidak sedih, tidak marah, dan tidak bermimpi. Itu yang Alfeus rasakan selama sebulan ini.
Selama itu, Alfeus sudah mencapai momen dimana kehidupannya telah berakhir. Bisa dibilang dia manusia mati yang tak mati. Setelah dia sampai ke titik sekarang ini, baru bisa dibilang perubahan terbesar dalam hidupnya. Tidak seperti kebanyakan orang-orang yang merasa kesal atau sedih saat menyadari waktunya sudah tiba karena tidak bisa melanjutkan semua keinginannya yang belum terealisasikan, Alfeus justru merasa bahagia saat dia mati. Alasannya tidak lain karena dia bisa bertemu dengan sang wanita yang penuh misteri tersebut.
Alfeus menarik nafas seperti sudah membulatkan jawabannya. Dia lalu mengangkat tangannya dan meletakkannya di pipi wanita itu. Dengan lemah lembut dan sedikit lirih, dia berkata, "Aku tak percaya ternyata aku menyukai kematian."
Wanita itu sejenak terdiam membeku, lalu kembali tersenyum. "Itu berarti kau masokis," ledeknya. "Aku juga tidak percaya mencintai seorang manusia."
Tiba-tiba, Erida mendekatkan wajahnya ke wajah sang pria. Sebuah kecupan cepat dia berikan pada bibir sang pria yang pucat. Sangat cepat bahkan sang pria tidak sempat meresponnya.
"Kurasa," jawab Alfeus sambil tersenyum.
Setelah itu, Erida menempelkan bibirnya cukup lama di bibir Alfeus. Sebuah ciuman yang sesungguhnya di antara dunia gelap dan kekacauan perang di sekeliling mereka. Erida menunduk agar bisa mencium sang pria yang tidur di pangkuannya. Rambutnya menjuntai ke bawah seperti tirai yang menutupi ciuman penuh cinta tersebut.
Ciuman kematian. Walaupun kedengarannya mengerikan, tapi Alfeus menganggapnya berbeda. Lembut dan manis, harum aseton yang sangat kuat tapi permainan bibir dan lidahnya benar-benar memuaskan. Benar-benar ciuman seorang wanita yang sedang jatuh cinta.
"Aku akan menyerahkan jiwaku untuk melayanimu hingga akhir semesta. Aku akan menjadi ksatriamu yang paling setia, dan aku akan menjadi yang paling mencintaimu, Wahai Kematian, ketika tidak ada makhluk fana atau abadi yang tidak mencintaimu."
"Apa kau yakin? Jika kau menerimanya, kau tidak bisa lagi terhubung dengan teman-teman manusiamu."
Alfeus mengangguk sambil menatap ke atas, ke wajah wanita itu. "Aku sudah memutuskan untuk bersamamu, Erida."
__ADS_1
"Itu pertama kalinya kau memanggil namaku," ucap sang wanita yang tersipu malu itu. Pipinya merona merah. "Kalau begitu, sudah diputuskan. Lagipula, Ibu dan yang lainnya sudah mengizinkan."