
"Aku keceplosan, ya?"
Gerlon tak menyangka bahwa Ashnard menyadari apa yang dia tidak sadari. Dia terlalu meremehkannya sehingga Ashnard menyadari ada sesuatu yang tidak beres dan segera mengambil tindakan sebelum Gerlon sempat berbuat seenaknya lagi.
Tiba-tiba, bayangan hitam muncul di belakang Ashnard membentuk sebuah wujud utuh bertubuh besar. "Yah, mau tidak mau, aku juga harus menghentikan aktingku." Sosok berwajah hitam itu tertawa berat di belakang telinga Ashnard. Dia menahan tangan Ashnard yang mengarahkan pedangnya ke Gerlon. "Turunkan pedangmu. Jika tidak, aku bisa mematahkan lehermu sekarang."
Ashnard menolak untuk takut. Dia semakin menggenggam dengan erat gagang pedangnya. "Aku tidak percaya kau mengkhianatiku, Gerlon! Kau temanku!"
"Dari awal, memangnya aku pernah bilang kalau aku ada di pihakmu?" tanya Gerlon, berlagak dengan santainya meskipun rahasianya telah dibongkar. Dia sudah tidak perlu menyembunyikan dan mengkhawatirkan apapun lagi, apalagi para orang-orang yang kebingungan di belakangnya.
"Kenapa kau melakukan ini? Apa kau dipaksa oleh Pria Luka?"
"Sebagai permintaan maafku, aku akan memberitahu alasanku. Aku di akademi ditugaskan untuk mengamatimu, Ashnard. Kau individu yang menarik dengan dua kekuatan elemen di tubuhmu dan pedang kuno di tanganmu. Semakin lama aku mengamatimu, aku semakin banyak menemukan hal menarik. Seperti contohnya mereka." Gerlon menengok ke belakang, ke arah mereka yang menganggap Gerlon sebagai teman. "Tak kusangka kau dan Kepala Akademi bisa mengumpulkan kalian semua di sini. Kandidat terkuat untuk menjadi Kehancuran."
"Mereka bukan orang-orang dalam ramalan!" bentak Ashnard. Semakin dia memajukan pedangnya, semakin kuat Pria Hitam mencengkeram lengannya.
"Memang danau itu tidak menunjukkan masa depan kalian sebagai Kehancuran, tapi bagaimana jika salah? Danau ini adalah danau kuno yang dulunya diciptakan oleh Penguasa Waktu sebagai hadiah untuk pemimpin Eskalsia. Waktu yang ditunjukan oleh danau adalah masa depan, dan masa depan adalah jalur bercabang yang terjadi akibat pilihan manusia. Apa kalian tidak berpikir jika setelah melihat masa depan kalian, dan karena kalian tahu apa yang akan terjadi, kalian dengan sengaja mengubahnya?"
"Masa depan tidak bisa diubah. Tidak ada masa depan yang sesuai keinginanmu. Semua masa depan sudah tercipta sejak awal karena itu bagian dari alur waktu," sahut Eris.
"Itu menurutmu. Menurut kami tidak. Tujuan kami adalah mengubah masa depan agar tidak terjadi kehancuran sesuai yang diramalkan," balas Pria Hitam dengan suara beratnya.
Selagi Pria Hitam sibuk membalas perkataan Eris, Ashnard membisikkan sesuatu pada pedangnya yang membuat bilahnya memanjang ke arah Gerlon. Pedang itu terus memanjang hingga berhenti tepat di depan mata Nina yang berdiri tak gentar. Sementara Gerlon lenyap menjadi sebuah kabut yang berpindah ke samping kemudian menyatu kembali menjadi wujud manusianya.
Melihat Ashnard yang tidak menurut, Pria Hitam mencengkeram lengan Ashnard sangat kuat hingga membuat otot dan tulang lengannya remuk. Ashnard tersungkur kesakitan di tanah.
"Lihatlah perbuatanmu, anak muda. Sudah kubilang untuk diam, malah tidak mau. Lihatlah akibat melanggar ucapanku." Pria Hitam menggeleng kesal.
"Ash!" teriak Nina dan Liliya serempak. Mereka ingin maju, namun ditahan oleh Eris dan juga Reinhard. Melihat kondisi tersebut, bukanlah hal yang pantas untuk ikut campur masalah Ashnard.
__ADS_1
"Tenang saja. Dia tidak akan mati. Ada gadis yang memiliki kekuatan darah penyembuh," ucap Gerlon ke Pria Hitam.
"Oh, begitukah? Teman-temanmu sungguh luar biasa! Jadi, aku bisa menyiksa dan merobeknya sesuka hatiku?" tanya Pria Hitam begitu bersemangat seperti ketika anak kecil melihat sebuah mainan di depan matanya.
"Jangan! Aku tidak jamin nyawanya akan selamat. Kita tidak boleh membunuh Ashnard."
"Bagaimana dengan mereka?" tunjuk sang pria ke arah Nina dan yang lainnya.
"Kurasa tidak masalah. Mereka kan kandidat Kehancuran. Memang seharusnya kita membunuh mereka sebelum kehancuran terjadi," jawab Gerlon.
"Tunggu! Jangan sakiti mereka!" lirih Ashnard bergeliat melihat Pria Hitam dan Gerlon mendekati teman-temannya. Dia sudah berjanji untuk menjaga mereka, dan janji itu tidak pernah dia lepaskan. Namun, mengangkat pedang saja sudah membuatnya kesusahan.
Ashnard lalu menggunakan kartu as terakhirnya dengan menciptakan lingkaran sihir di tanah. Lingkaran itu berputar dan menyala terang saat Ashnard menyalurkan seluruh energinya. Sihir ini diharuskan untuk digunakan setelah rencana selesai dan waktunya untuk mereka pulang. Namun, Ashnard akan menggunakannya satu-satunya kesempatan untuk menyelamatkan teman-temannya.
Dari cahaya putih yang bersinar bagaikan bintang dan bulan, muncul secara ajaib dua kereta kuda bersama dengan Terenna dan Egon.
"Sihir pemanggilan?" gumam Pria Hitam yang terkejut dengan cahaya putih tersebut. Dia berdiri di belakang Gerlon saat cahayanya semakin terang.
Wanita itu turun dengan wajah yang bahagia meskipun ada muridnya yang terluka. Tapi, dibalik wajah bahagianya itu ada tatapan yang seperti mengisyaratkan Pria Hitam dan Gerlon untuk berhenti melukai murid-muridnya.
"Misi kita disini bukan untuk bertarung mati-matian. Misiku juga sudah berakhir saat Ashnard membongkar rahasiaku. Kita pergi," ucap Gerlon ke Pria Hitam.
Pria Hitam mendekati Ashnard yang berlutu sambil memegangi lengannya. Dia masih harus menyampaikan misi kedatangannya. Dia berkata, "Tujuanku datang kesini adalah membuat kalian semakin percaya pada Gerlon melalui sandiwara kami, tapi ternyata tidak berjalan mulus. Selain itu, aku juga memiliki kabar yang harus disampaikan khusus padamu agar kau tak membuang-membuang tenagamu. Ini sangat disayangkan. Ibumu telah mati, Ashnard. Kami sudah melakukan segala cara untuk membuatnya tetap hidup. Maaf."
"Jangan dengarkan kata-katanya, Ashnard!" teriak Terenna.
Setelah mengucapkan itu, Pria Hitam dan Gerlon lenyap seketika melalui bayangan kegelapan malam yang mencekam. Meninggalkan Ashnard yang berlutut dengan muka pucat seperti sehabis melihat hantu.
Tangannya tidak lagi merasakan sakit, tapi sekarang yang sakit adalah hatinya. Semua suara seolah menjadi senyap. Terenna terlihat berteriak-teriak di matanya, tapi tak ada suara yang keluar. Ashnard hanya melihat orang-orang yang mengelilinginya dengan wajah panik selagi pikirannya berhenti memikirkan kalimat yang diucapkan Pria Hitam.
__ADS_1
Ashnard merasa campur aduk setelah dia dikhianati oleh temannya sendiri selama ini. Semua yang Gerlon ucapkan padanya hanyalah kebohongan dan sebatas rencana saja. Saat Gerlon berkata akan pergi mencari bantuan ke luar sementara Ashnard dan yang lainnya terjebak di dalam kubah merah, hanyalah bagian dari rencana Gerlon sekaligus menunggu jawaban masa depan dari danau cermin. Dan ketika jawabannya sudah muncul, mereka akan datang untuk membawa Ashnard dan menghentikan siapapun yang menjadi kandidat Kehancuran.
Kemudian yang terakhir. Hati dan pikirannya semakin kacau saat diberitahu bahwa ibunya telah meninggal. Semua itu benar-benar membuat Ashnard berada di dalam kekosongan tanpa harapan.
Di depan matanya yang tidak ada lagi cahaya, Terenna membuka tangan Ashnard dan muncul energi sihir yang menyorot di depan mukanya. Sihir berwarna kuning keemasan yang menghangatkan itu langsung membuat Ashnard memejamkan matanya. Ashnard menjadi tenang dengan tak sadarkan diri.
"Apakah itu benar?" Sekarang urusan yang dihadapi Terenna adalah murid-muridnya yang meminta pengakuan dari Terenna.
"Kalian tahu, Ashnard awalnya sangat menolak dan membantah Kepala Akademi soal rencana ini. Dia sangat ingin melindungi kalian lebih dari siapapun. Bahkan, walaupun beberapa dari kalian tidak begitu dekat dengannya. Ashnard tidak ingin kalian menjadi sosok yang diramalkan. Karena itu dia ingin memastikan pada Kepala Akademi dengan sepenuh raganya bahwa ketakutannya hanyalah ketakutan saja," jelas Terenna yang membarinhkan Ashnard di dekat api unggun.
"Jika kalian memperhatikannya dari awal, bocah itu selalu terlihat gelisah dan bingung," sahut Egon.
"Jadi, alasan kenapa Ashnard panik saat Gerlon ada di luar, membuat banyak peraturan, dan bersikap selayaknya pemimpin karena ingin menjaga kami?" Eris bertanya ke Terenna tapi matanya menatap Ashnard yang bersandar di batang pohon.
"Tanggung jawabnya besar, tapi dia tetap menerimanya. Dia tahu teman-temannya akan marah jika mengetahui rencana ini, tapi tetap ingin melakukannya," sambung Terenna.
"Tapi, kenapa Ashnard? Kenapa tidak kalian para guru yang menjaga kami?"
"Daripada kami, Ashnard lah yang pantas. Beberapa dari kalian telah telah terikat bersama. Lagipula, hanya Ashnard lah yang paling tahu kondisi kalian dengan kekuatannya."
"Apakah pria tadi itu komplotan dalang dibalik Erik dan Arlon?" tanya Reinhard.
Terenna mengangguk dengan pelan. "Mereka ingin menghentikan para Kehancuran yang ingin membinasakan manusia. Dengan membawa Ashnard yang memiliki dua elemen, mereka yakin mampu menggunakan kekuatan Ashnard untuk mengalahkan para Kehancuran itu."
"Maaf jika ucapanku salah, tapi bukankah tujuan mereka baik? Menghentikan Kehancuran itu berarti menyelamatkan dunia, kan?" sahut Wilia yang keheranan.
"Kau bisa bilang begitu karena dari kacamata manusia yang lemah. Menggunakan kekuatan yang setara dengan Kehancuran itu berarti kekuatan yang setara atau bahkan lebih dengan kekuatan dewa. Seorang manusia atau sepasukan manusia dengan kekuatan setara dewa? Aku tak tahu dunia macam apa yang akan kita tinggali di masa depan," jawabnya.
Mereka terdiam mendengar penjelasan dari Terenna. Tujuan Ashnard memanglah baik dan mulia. Ashnard tidak dapat dipungkiri lagi adalah orang yang sangat peduli. Namun, cara yang dia lakukan dengan membuat skenario sama seperti Gerlon dan Pria Hitam membuatnya sulit dipercayai. Jawaban dari tujuan rencana ini juga sudah diketahui dan tidak ada yang perlu untuk ditakutkan. Mereka mencoba untuk merelakan apa yang telah terjadi. Tapi, tidak semua orang semudah itu melakukannya.
__ADS_1
Eris melihat ke arah Nina yang berdiri cukup jauh darinya, dan memandang ke arah danau. Inilah yang Eris takutkan jika kenyataan dari misteri ini terbongkar. Eris tidak bisa melakukan apapun selain dari keputusan Nina sendiri.