
Setelah penjelasan panjang dari Ashnard, mereka semua terdiam. Berusaha memroses dan mencerna segala informasi yang mengejutkan mereka. Walaupun dituntut untuk memberikan penjelasan, Ashnard tetap memilah-milah apa saja yang ingin dia sampaikan dan yang tidak.
Ashnard menyampaikan bahwa dia diberi misi oleh Kepala Akademi untuk menguji mereka. Membuktikan apakah mereka ini akan menjadi 12 Kehancuran seperti yang diramalkan. Dan tentunya jawabannya sudah tampak jelas di depan mata.
Namun, di antara semua orang yang paling terpukul adalah Nina. Karena dia yang menjadi fokus utama Ashnard dan Kepala Akademi. Nina merasa kecewa karena perasaan Ashnard dan bagaimana dia mendekat padanya seolah-olah hanya sebuah tes semata saja. Ashnard mendekati Nina hanya untuk membuatnya tenang bukan karena dia memang ingin melakukannya. Nina menganggap Ashnard yang berkata kalau dia merasa senang saat bersama Nina hanyalah sebuah kata-kata palsu demi mencapai misinya.
Di saat itu, hati Nina seperti kertas yang dikoyak oleh kenyataan yang pahit. Dia hanya bisa tertunduk tanpa mengatakan apapun, dan hanya menjadi sebuah patung tidak berguna saja.
Eris melihatnya dan sadar akan tindakannya, tapi dia harus melakukan ini agar tidak menjadi lebih buruk lagi kedepannya. Eris meraih tangan Nina dan menggenggamnya. Tapi, tidak seperti biasanya, Nina tidak membalas genggaman tangan Eris. Gadis berambut merah itu seperti makhluk hampa.
"Aku tidak percaya. Kenapa kau melakukan semua ini?" ucap Liliya tampak kecewa.
Mungkin Wilia bisa menerima kenyataan ini karena sama sekali tidak menganggunya kecuali fakta bahwa Kepala Akademi tahu tentang pedang dan kekuatannya. Selain itu, dia tidak begitu peduli. Usaha Ashnard untuk membuktikan ramalan memang bisa masuk di akal. Dia pun juga akan memilih begitu. Wilia tidak peduli karena tidak mengubah apapun soal dirinya. Apalagi, tidak menjadi penghalang hubungannya dengan Reinhard.
Selain Wilia dan Cynthia, semuanya merasa seperti dikhianati oleh Ashnard. Liliya yang sebelumnya adalah satu-satunya orang yang mempercayai Ashnard, kini merasa goyah akan keputusan Ashnard dan sulit untuk berpikiran positif.
"Jadi, sekarang bagaimana? Kau sudah melihat masa depan kami, kan? Itu berarti tujuanmu sudah selesai. Kalau begitu, bukalah kubah ini dan panggil Terenna. Biarkan kami pulang," ucap Reinhard, lebih memilih mengakhiri dengan cepat dan melupakan segalanya daripada terus berada di tempat yang menurutnya menyebalkan ini.
"Aku tidak bisa," jawab Ashnard.
"Apa maksudmu tidak bisa?"
"Kubah ini bukan rencanaku. Aku tidak bisa membukanya."
"Itu berarti kita terjebak selamanya disini?"
"Kau tidak bisa, atau kau memang tidak ingin membukanya?" tanya Nina, muncul aura panas di sekelilingnya. "Buka kubahnya, Ashnard. Atau akan kupaksa kau membukanya."
"Sudah kubilang, aku tidak tahu caranya. Jika bisa, aku sudah melakukannya sejak awal dan tidak membiarkan Gerlon pergi sendirian." Ashnard menatap mata Nina dengan sayu, seolah dia ingin permintaan maafnya diterima oleh Nina.
__ADS_1
Selagi situasi memanas antara Ashnard dan yang lainnya, kubah merah tiba-tiba menyusut dan terbuka sepenuhnya. Tak lama, muncul langkah kaki dari hutan. Seorang pria berarmor dengan wajah hitam sepenuhnya. Entah dia memakai topeng atau tidak, tapi seperti menatap ke dalam kegelapan. Pria itu tampak menyeret seseorang yang familiar, terutama bagi Ashnard.
"Gerlon!" teriak Ashnard yang terkejut. "Apa yang terjadi?"
"Eits, tunggu dulu, bocah. Jangan dekat-dekat kalau kau tak ingin leher temanmu patah." Pria itu mencengkeram leher Gerlon dan mengangkat agar Gerlon dapat berdiri dengan normal.
"Sepertinya aku gagal," erang Gerlon yang masih bisa tersenyum. "Maafkan aku, Ashnard. Aku tidak sengaja terjebak dalam perangkap Pria Luka."
Ashnard dan yang lainnya harus menghentikan pertengkaran mereka, karena harus beralih ke sosok misterius yang bertubuh lebih tinggi daripada siapapun disana. "Siapa kau?" Semua pandangan menatap tajam. Pertanyaan yang sama. Kuda-kuda untuk bersiap dipasangkan. Gagang pedang dipegang dengan erat untuk berjaga-jaga.
"Namamu Ashnard, bukan? Kalau benar, kau pasti mengenalku. Salah satu temanku pernah berhadapan denganmu. Kau ingat namanya ... dan wajahnya." Walaupun wajahnya hitam legam seperti Roc namun dengan warna yang berlawanan, tapi Ashnard bisa merasakan bahwa pria itu sedang tersenyum.
"Jika kau bersamanya maka kau adalah musuhku!" Ashnard berlari mengambil pedang di dekat api unggun, lalu mengarahkan tusukan ke pria tersebut. Pedangnya berhasil menembus armor pria itu. "Jangan khawatir, Gerlon. Aku akan menyelamatkanmu."
Ashnard mengayunkan tangannya untuk meraih Gerlon tapi sia-sia. Gerlon ditarik ke belakang oleh Pria Hitam dengan lengannya yang besar dan kuat. Ashnard tentunya terkejut karena pria itu masih bisa bergerak setelah sebilah pedang menusuk perutnya.
Dengan sekali tendangan dari pria itu, Ashnard terpental ke arah pohon. Membuat pohon langsung rubuh.
"Biar lebih mudah, aku mengalahkanmu dan kau beritahu aku dimana Ibuku!"
Kedua kakinya masih mampu menopang tubuhnya. Ashnard mengangkat pedangnya ke samping, lalu dia membesarkannya dan memanjangkannya. Ashnard mengayunkan pedangnya yang sangat besar itu ke depan hingga membentuk sudut 180 derajat. Pohon-pohon yang dilewati oleh bilahnya terpotong semua, termasuk tubuh Pria Hitam.
Semua orang yang belum pernah melihat kekuatan pedang Ashnard terkagum-kagum. Hanya bisa merinding ngeri dengan kekuatan yang besar. Terutama Nina yang sebelumnya juga mencoba mengangkat pedang itu, namun tak berhasil.
Perhatian mereka terlalu fokus pada pedang Ashnard, tapi mereka tidak menyadari bahwa tubuh Pria Hitam yang terbelah menjadi dua tidak mengeluarkan darah atau organ apapun. Semuanya hitam. Lalu, dari tubuh bagian atasnya keluar sebuah bentuk seperti tali yang mengikat ke tubuh bagian atasnya. Saling mengikat dan menarik kemudian menyatu kembali. Pria Hitam menjadi utuh seperti semula. Pria itu lalu mengangkat Gerlon yang sebelumnya dijatuhkan olehnya agar tidak terkena serangan Ashnard.
"Jadi, itu pedang yang merepotkan Pria Luka, ya. Jujur saja, aku juga merasa pedang itu cukup berbahaya. Jika aku tidak menyatu dengan parasit kegelapan, mungkin aku sudah mati," gumam Pria Hitam mengamati pedang Ashnard yang kembali mengecil ke ukuran semula. "Hei, nak, darimana kau mendapatkan pedang itu? Pedang itu seharusnya tidak boleh dimiliki oleh orang sepertimu!"
"Jika kau memang ingin tahu, aku bisa saja memberitahumu. Tapi, sebelum itu aku harus mengalahkanmu terlebih dulu!"
__ADS_1
Karena terlalu sibuk mengamati pedang kuno itu, Pria Hitam terlambat menyadari bahwa Ashnard menciptakan sebuah kubangan air di bawah kakinya. Dari kubangan, air merambat dan mengikat kaki Pria Hitam dengan tekanan yang sangat kuat seperti berada di dalam lautan.
Ashnard melesat ke depan. Memotong lengan yang menahan Gerlon. Menarik Gerlon dan melemparnya ke belakang. Lalu, Ashnard berputar sekaligus menyalurkan tenaga melalui putaran itu ke kakinya sebagai tendangan. Pria Hitam terdorong ke belakang, tapi tetap dalam posisi berdiri. Dengan cepat, Ashnard mendekati pria itu lagi, menusukkan kembali pedangnya di perut sang musuh, lalu memutar pedangnya hingga berada dalam posisi vertikal.
"Jika kau terus menyambung kembali tubuh yang terpotong, bagaimana jika aku membuat tubuhmu tak bersisa?" Ashnard menyeringai.
Sekuat tenaga, Ashnard memanjangkan pedangnya dan mengangkatnya ke atas sehingga tubuh Pria Hitam terbelah. Mengecilkan kembali pedangnya, lalu menempelkan di pinggang kiri Pria Hitam. Ashnard memanjangkan pedangnya dan membelah Pria Hitam dengan menyamping.
Tidak berakhir begitu saja. Ashnard yang sudah berkembang masih melanjutkan rencananya. Ashnard menggunakan air untuk menarik tubuh Pria Hitam yang terbagi menjadi empat bagian lalu memenjarkannya di empat gelembung. Empat gelembung itu disusun oleh Ashnard dalam satu barisan yang Ashnard manfaatkan agar dapat menebas keempat bagian itu secara langsung.
Ashnard berhasil menuntaskan rencananya tanpa memberikan kesempatan untuk Pria Hitam.
Gelembung pecah dan menetaskan airnya ke tanah. Menandakan serangan terakhir Ashnard telah sukses dilakukan. Ashnard bisa bernafas lega walaupun dia bisa saja tak membunuhnya dan mendapatkan jawaban soal ibunya. Tapi, Ashnard yang sudah muak soal Pria Luka dan agendanya tersebut tidak ingin segera mengalahkannya agar tidak terus berurusan dengannya.
Bahkan tidak perlu bantuan yang lainnya, Ashnard bisa menyelesaikannya seorang diri. Yang lainnya hanya bisa melihat Ashnard menunjukkan kemampuannya.
"Dia benar-benar sudah berbeda dari sebelumnya," gumam Reinhard sebagai orang satu-satunya yang pernah berhadapan dengan Ashnard secara serius.
"Aku tidak tahu mana yang kuat, pedangnya atau Ashnard?" ucap Eris yang kemudian terkejut saat melirik ke arah Nina. Ekspresi Nina terlihat seperti seseorang yang dikejutkan dengan misteri yang besar.
Semuanya merasa tenang karena selain kubah merah yang sudah lenyap, Gerlon kembali dengan selamat dan musuh sudah dibereskan.
Sementara Gerlon berhenti saat dia ingin menghampiri Ashnard dengan bahagia. Sebilah pedang di angkat setinggi lehernya. Jika Gerlon maju sedikit saja, ujung pedang itu pasti melukai lehernya.
"A-apa yang kau lakukan, Ashnard?" tanya Gerlon berhati-hati. Nyawanya ada di tangan Ashnard. Salah bicara sedikit saja, dia tidak akan bisa selamat.
Perubahan situasi dan suasana yang terus berganti ini tentu saja membuat bingung yang lainnya. Mereka seperti berada di tempat dan waktu yang salah dan masalah yang bukan milik mereka.
Mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya Ashnard lakukan dengan menodongkan pedangnya ke arah Gerlon. Ini tidak seperti sikap Ashnard yang sebenarnya.
__ADS_1
Mungkin bagi yang lainnya, mereka menganggap Ashnard gila, tapi Ashnard sendiri tahu apa yang sedang dia lakukan. Eris dan Nina hafal dengan tatapan Ashnard ketika serius.
"Sebagai catatan, aku tidak pernah mengatakan apapun soal Pria Luka ke siapapun. Fakta bahwa kau tiba-tiba mengatakannya membuatku terkejut. Sebenarnya siapa kau ini?"