
Servulius dan adiknya membawa Ashnard menaiki anak tangga semakin tinggi. Hingga sampai di ujung anak tangga yang tertutup oleh atap. Di mana anak tangga itu berakhir, ada sebuah pintu kotak. Dan saat di dorong oleh Gerardus menimbulkan bunyi berdecit yang cukup nyaring.
Debu di mana-mana. Bahkan mengotori baju Ashnard yang berada di belakang Servulius. Ashnard menepuknya sebelum masuk ke ruangan atas tersebut.
"Ashnard," panggil Servulius yang mengulurkan tangannya ke Ashnard.
Ashnard meraihnya tanpa ragu. Tangan Servulius menarik Ashnard ke sebuah ruangan yang berada di puncak menara akademi. Dugaan Ashnard bahwa menara akademi memiliki lampu raksasa seperti mercusuar ternyata salah. Yang ada di ruangan berdebu itu hanyalah, meja, tumpukan buku, kertas penuh coretan di dinding, serta barang aneh lainnya. Semua berantakan seperti ada orang yang pernah tinggal disini sebelumnya.
"Tempat apa ini?" tanya Ashnard, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan tersebut.
"Ini tempat kerjaku," ungkap Gerardus yang sedang menumpuk buku dan kertas dan merapikannya. Tapi, tetap tidak membuat ruangan ini rapi sama sekali.
"Seorang diplomat bekerja di puncak menara yang berdebu ini? Hah! Kau mengecewakan," ejek Ashnard.
"Bukan, bodoh." Servulius menepuk bagian belakang kepala Ashnard dengan kertas yang digulung. "Darimana kau belajar tidak sopan? Ruangan ini digunakan Gerardus saat aku menyuruhnya menyelidiki sesuatu atau seseorang yang menurutku mencurigakan. Ini hobinya, jadi aku tidak mempermasalahkannya sama sekali. Lagipula, menara ini dilarang untuk dimasuki oleh siapapun."
Menara yang menjulang tinggi, seolah dapat melihat semua yang terjadi di akademi. Menara ini sebelumnya digunakan untuk mengawasi murid-murid dari atas. Karena dianggap terlalu ketat dan banyak pihak yang merasa privasinya terganggu, maka menara ini kosong hingga sekarang.
Ashnard mengambil salah satu kertas yang tergeletak di lantai. Kertas itu memiliki sebuah gambar berupa lingkaran dengan simbol-simbol aneh dan cat tinta yang luntur. Namun, di atas tertulis dengan sangat jelas, Lingkaran Sihir Kebangkitan.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanya Ashnard.
Gerardus dengan cepat, menyambar kertas itu dari tangan Ashnard. Mengambilnya kemudian meremasnya hingga membentuk bola kecil. Gerardus lalu membuangnya di kotak yang penuh dengan kertas lainnya yang sudah menjadi bola kecil.
"Inilah yang ingin kami tunjukan padamu." Gerardus menunjukkan sebuah papan yang dipenuhi kertas-kertas.
__ADS_1
Di kertas-kertas itu ada banyak nama, catatan dan informasi yang terlalu banyak untuk Ashnard cerna secara cepat. Di antara kertas itu, ada garis-garis seolah terhubung satu sama lain antar satu data dengan data yang lainnya. Ashnard tidak paham apa keterkaitannya tentang kertas-kertas itu. Namun, dia menemukan satu kertas bertuliskan nama Nina, lengkap dengan data pribadinya.
"Aku mengamati dan menyelidiki orang-orang yang berpotensi berbahaya, salah satunya adalah Nina," jelas Gerardus.
"Aku masih tidak paham apa yang membuat kalian mencurigai Nina," kata Ashnard, menggelengkan kepalanya.
"Ini mungkin sedikit konyol, tapi aku akan mengatakannya. Menurut catatan di Agnar, Dewa Api Agnar adalah dewa yang mencintai manusia tidak seperti kebanyak dewa-dewi lainnya. Dewa ini lebih memilih manusia daripada apapun. Ada suatu masa, dimana para dewa membenci seluruh makhluk hidup yang mereka ciptakan termasuk manusia karena mereka dianggap sebagai perusak alam. Karena itu, berbondong-bondonglah para dewa pergi meninggalkan alam manusia.
"Salah satu dewa yang masih membela manusia adalah Dewa Api. Pada suatu ketika, Dewa Api pernah menantang dewa lainnya karena berusaha menyakiti manusia. Namun, hal itu dianggap sebagai pelanggaran dan penghianatan. Dewa Api pun dibawa paksa oleh para dewa untuk menjalani hukumannya. Sebelum dia pergi, Dewa Api bersumpah pada manusia untuk mewarisi kekuatannya pada seseorang yang ditakdirkan agar membantu umat manusia mengalahkan kegelapan dan para dewa yang jahat.
"Cerita ini berusia lebih dari 5000 tahun, dan sudah tidak bisa diketahui keasliannya. Namun, jika cerita ini benar, dugaanku adalah Nina perwujudan dari Dewa Api Agnar. Sosok yang ditakdirkan memiliki kekuatan setara dewa. Dan sama seperti apa yang dikatakan pada ramalan Dua Belas Kehancuran, bahwa akan muncul dua belas sosok yang memiliki kekuatan dewa akan memulai kehancuran dunia," jelas Servulius panjang lebar.
Tidak ada yang tahu pasti. Itu hanyalah cerita rakyat biasa. Sebuah legenda. Ashnard tak ingin percaya pada hal yang belum pasti. Cerita akan selalu berubah seiring zaman. Karena, semua kalangan bisa mengubah cerita versi mereka sendiri, Ashnard berpikir jika cerita itu hanya versi Servulius yang berupaya untuk menciptakan kesinambungan saja.
"Nina hanyalah gadis penuh semangat biasa yang memiliki orang tua yang ketat. Mereka hanya menginginkan Nina agar sesuai dengan tuntutan dan standar tinggi mereka saja," sanggah Ashnard.
"Dari fakta tersebut, itu berarti Ferkus menikahi seorang wanita desa, atau seorang nomaden, orang buangan, atau sesuatu lain yang tidak aku ketahui. Bisa saja lebih parah atau bisa saja salah," jelas Gerardus. "Mungkin saja ada banyak yang tidak kita ketahui tentang keluarga Vantalion. Ada rahasia yang terkubur sangat dalam di genggaman mereka. Aku yakin itu."
Semakin mereka menjelaskan semakin membuat Ashnard berpikir. Ashnard merasa mereka benar-benar serius soal ini. Kertas-kertas di dinding itu bukan sekedar coretan biasa. Kumpulan informasi penting yang terkait dalam satu konsep pencarian.
Ashnard melihat banyak sekali nama-nama yang mereka curigai. Gambar lingkaran sihir serta lukisan kuno yang mungkin memiliki suatu kekuatan yang dahsyat hingga tidak ada siapapun yang boleh memilikinya.
Cetak biru suatu senjata yang umum maupun yang bentuknya tidak lazim tercatat semua di kertas-kertas itu. Tempat-tempat yang patut diwaspadai, yang ada maupun hanya sebatas cerita saja. Bahkan, peta detil suatu bangunan, kota, hingga peta harta karun. Semua informasi penting itu benar-benar ditulis dengan serius, bukan sekedar candaan untuk mengisi waktu luang saja.
"Kami bukan ingin menghakimi Nina, tapi hanya ingin memastikan kebenarannya," ungkap Servulius.
__ADS_1
"Bagaimana jika Nina benar akan membawa kehancuran seperti katamu?" tanya Ashnard, wajahnya yang melunak seperti berharap ucapannya tidak terjadi.
"Jika itu benar, kami akan memulai langkah selanjutnya."
Jantung Ashnard berdetak lebih cepat dari sebelumnya. "Dan apa itu langkah selanjutnya?"
"Tentu saja, pencegahan sebelum ancaman terjadi."
"Di dekat perbatasan negara salju, Eskalsia, ada sebuah danau yang dikenal dapat merefleksikan masa depan seseorang. Aku ingin kau pergi ke sana dan buktikanlah apa Nina sesuai dengan ucapanmu atau tidak," sambung Gerardus, menunjukkan ke sebuah lokasi di peta.
"Kalian memberiku tugas? Kenapa aku?" tanya Ashnard.
"Karena hanya kaulah yang mampu meredam kekuatan Nina seperti yang kau lakukan saat liburan. Untuk jaga-jaga jika dia tiba-tiba lepas kendali."
"Kamu tidak hanya pergi bersama Nina saja, tapi Eris, Liliya, Gerlon, Reinhard, Ulfang, Wilia, dan Cynthia," kata Servulius. "Jika kau bertanya kenapa, ingat, kami menyelidiki semua orang yang menurut kami patut dicurigai. Dan tidak ada salahnya untuk menguji mereka semua. Mereka juga memiliki kemampuan yang unik dan besar. Ada kemungkinan salah satu dari mereka atau bisa juga tidak ada sama sekali."
"Kalian seorang guru. Kalian seharusnya membela para murid, bukannya menganggap mereka berbahaya," balas Ashnard kesal.
"Ashnard, dengarkan aku." Servulius menggenggam kedua bahu Ashnard, membungkukkan tubuhnya agar Ashnard bisa menatap matanya yang tulus. "Tujuan kita bukan memusuhi mereka. Kita hanya ingin mengetahui apakah mereka jahat atau tidak. Jika rencana ini berhasil, mungkin kita bisa mendapatkan solusi yang terbaik daripada peperangan atau kehancuran. Dengan begitu, tidak perlu ada lagi ketakutan terhadap ramalan tersebut. Kau juga bisa memberitahu Pria Luka tentang solusi ini, lalu berupaya agar masalah ini selesai. Tidak hanya kau menyelamatkan dunia dan orang-orang, Ibumu juga akan selamat."
Mungkin ketakutan Ashnard bukan pada kedua pria yang tampak gila baginya, tapi takut jika apa yang mereka katakan benar-benar terjadi. Ashnard bukan orang yang suka mencurigai orang lain hanya karena beberapa hal berada di luar pengetahuannya. Ashnard cukup yakin dengan hal tersebut. Namun, entah mengapa saat kedua pria itu berbicara, Ashnard seolah merasa semua yang mereka katakan itu masuk di akal. Bahkan, termasuk sikap yang logis jika ada sesuatu terjadi di luar nalar mereka. Mungkin ini yang dimaksud Nous soal Ashnard harus mewaspadai sekitarnya.
"Percayalah pada kami, Ashnard. Kau juga tidak ingin ramalan itu akan terjadi dan dunia kiamat sebelum kau bisa bertemu dengan Ibumu, kan?" sambung Gervulius.
"Lalu, apa yang akan kalian lakukan?"
__ADS_1
Servulius berdiri di sebelah adiknya. Memberikan tatapan sejenak seolah membuat sebuah isyarat, lalu dia berkata, "Kami akan menyelidiki keluarga Vantalion."