
Entah mengapa dirinya memilih perpustakaan daripada tempat lainnya di akademi untuk menenangkan diri. Ashnard hanya mengira jika dirinya ingin membaca buku, maka dia akan perpustakaan. Sekarang Ashnard hanya bisa menuruti apa yang tubuhnya inginkan. Dia benar-benar kehilangan tujuan setelah kejadian di danau. Mungkin tujuannya akan kembali setelah Kepala Akademi kembali.
Saat Ashnard sampai di perpustakaan, tidak ada penjaganya namun pintunya tidak terkunci. Karena kondisinya yang seperti tidak peduli lagi dengan apapun, dia tidak mempedulikan keanehan tersebut. Ashnard hanya ingin mengambil sejumlah buku, lalu membacanya sambil menunggu hari esok. Setelah itu dia akan melawan Nina besoknya dan berusaha untuk menang. Mungkin dengan kemenangannya, masih ada yang bisa dia harapkan lagi untuk masa depannya.
Satu buku, dua buku telah selesai dibaca. Kini, Ashnard lanjut ke buku ketiga. Semua buku yang dia ambil bukan buku seri. Ashnard hanya mengambil secara acak dan langsung membacanya tanpa memperhatikan jenis buku tersebut. Hingga buku kelima, matanya yang memerah sudah tidak kuat dan akhirnya terpejam.
Saat Ashnard membuka matanya kembali, tampak wajah pucat yang kedua matanya menatap datar Ashnard begitu dekat. Mata gadis itu tak berkedip sedikitpun saat mengamati Ashnard yang tidak sengaja ketiduran. Gadis itu duduk di pangkuan Ashnard sambil menghadap ke arahnya dan kedua tangannya dilingkarkan di leher Ashnard seperti sedang memeluk.
Posisi ini cukup membuat Ashnard bangun dengan panik. "H-hei, apa yang kau lakukan?"
"Mengamatimu dari dekat. Aku suka," jawab gadis berambut hitam itu dengan datar.
"Tunggu, ini terlalu dekat!" Ashnard memegang pinggang gadis itu dan berusaha mendorongnya. Sekuat apapun Ashnard, gadis itu sulit untuk lepas seperti lem.
"Aku selalu mengamatimu dari jauh. Tapi, aku tidak puas. Mengamatimu dari dekat membuatku puas."
"Tidak bisakah kau duduk di kursi sebelahku saja? Itu juga sudah dekat."
"Kenapa? Bukankah laki-laki suka dipeluk seperti ini? Kita bisa sambil berciuman." Cara gadis itu berkata dengan wajah dan nada yang datar, membuat Ashnard bingung apakah dia sedang bercanda atau tidak.
"Ya, tapi itu hanya ditujukan untuk pasangan? Seseorang yang kamu sukai!"
"Apa kau menyukaiku?" Gadis itu semakin mendekatkan wajahnya hingga Ashnard bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di bola mata hitam sang gadis.
"Tidak! Ma-maksudku, aku menyukaimu, kurasa. Tapi, bukan dalam hal yang romantis!"
"Itu pertama kalinya ada orang yang bilang menyukaiku. Biasanya mereka datang kepadaku hanya saat butuhnya saja. Tidak sepertimu. Apa yang kau sukai dariku?"
"Eh, mu-mungkin, aku suka karena kau menjadi dirimu sendiri?" jawab Ashnard ragu.
"Begitu, ya. Aku juga menyukaimu. Aku suka mengamatimu dari jauh. Saat kau tersenyum, sedih, merenung, marah, atau hanya diam. Aku juga suka warna jiwamu yang putih bagai salju di padang hitam. Karena kita saling menyukai, itu berarti kita sudah resmi menikah, bukan?"
__ADS_1
"Tidak semudah itu ... tunggu dulu. Kau bilang jiwaku putih?" tanya Ashnard penasaran.
Gadis berwajah datar itu menggeleng. "Tidak. Aku bilang jiwamu yang putih bagai salju di padang hitam. Dunia hitam di mana tak ada cahaya."
"Ya, itu maksudku! Bagaimana kau tahu?"
"Aku bisa melihatnya."
Ashnard tak bisa mengetahui apakah gadis itu jujur atau tidak dari ekspresi wajahnya yang tidak berubah. Tapi, ucapannya soal jiwa membuat Ashnard memikirkan gadis itu ke arah yang lain selain menganggapnya gadis yang aneh.
"Bisakah kau lebih menjelaskannya?" Ashnard sekarang lebih penasaran dengan pernyataan gadis itu, daripada mengurusi posisi sang gadis yang duduk dipangkuannya. Tanpa Ashnard sadari, tubuh sang gadis melekat lebih dekat dengan sebelumnya hingga mereka seperti akan berciuman.
"Kalau begitu, tatap mataku, Ashnard. Tatap mataku dalam-dalam dan katakan apa yang kau lihat."
Ashnard saat itu tidak mengerti. Tidak tahu bahwa dibalik kedua bola mata dengan iris hitam legam yang selalu menatapnya dengan datar, tersembunyi suatu energi yang besar. Semakin dalam Ashnard menatapnya, semakin dia sadar mata gadis itu tidak hanya berwarna hitam saja.
Ada dunia yang luas tersembunyi di kedua bola matanya yang seukuran buah kenari. Di dunia itu, langitnya tidak memiliki awan, tapi ada sebuah pancaran cahaya panjang yang menyala-nyala dan menari-nari. Seperti sebuah tirai bercahaya yang menutupi langit. Cahaya tersebut terdiri dari campuran warna hijau, biru, ungu dan merah muda yang menerangi malam hitam tanpa bintang.
Walaupun dunia itu kosong, tapi pancaran cahaya tersebut membuatnya hidup. Ashnard sangat terpukau karena hingga penjagaan diri dia terbuka. Mulut Ashnard telah disumpal oleh sesuatu yang lembut dan basah. Bibir atas dan bawahnya ditekan oleh sesuatu yang lembut tersebut.
Ashnard kembali ke kesadarannya sesaat tepat Ein melepaskan ******* bibirnya. Setelah mencium Ashnard yang tak sadar dengan puas, wajah Ein tetap tidak berubah sama sekali. Tapi, lubuk hatinya cukup senang.
"Apa kau barusan menciumku? Tidak, lupakan itu. Yang lebih penting lagi, apa yang barusan kulihat itu?" Ashnard langsung mengganti pertanyaannya, karena menganggap ada yang lebih penting daripada ciuman pertamanya yang telah direbut.
"Apa yang kau lihat adalah gambaran alam roh berdasarkan apa yang sudah kulihat," jawab gadis itu sambil mengusap bibir Ashnard yang basah karena air liurnya dengan jempolnya.
"Alam roh?"
"Alam dimana para jiwa berkumpul. Namun, yang kau lihat barusan hanyalah sebatas gambarannya saja. Maka dari itu, tidak ada jiwa yang berkeliaran." Jari Ein masih berada di bibir Ashnard, meskipun sudah tidak lagi basah.
"Jadi, kau menunjukkan padaku alam roh yang pernah kau lihat, dan yang barusan itu bukan yang asli?" Ashnard memastikan.
__ADS_1
Ein mengangguk. "Begitu." Lalu, gadis itu tiba-tiba ingin mencium kembali sebelum Ashnard mendorongnya.
"Tunggu sebentar!" sergah Ashnard. "Apa hubungannya alam itu dengan kau bisa melihat jiwaku?"
"Alam roh hanya bisa dimasuki oleh para roh saja. Manusia hidup sepertiku seharusnya tidak akan bisa. Karena aku melanggar aturan tersebut, aku mendapatkan hukuman dimana aku hanya bisa melihat orang lain dalam bentuk jiwanya saja, bukan raganya. Aku bisa melihatmu jiwamu. Jiwamu yang berwarna putih tapi setelah kuperhatikan lagi, warna jiwamu adalah biru seperti lautan, dalam tapi tak dingin, sejuk sekaligus menghangatkan. Karena itu aku suka melihatmu. Membuatku merasakan kehangatan yang sudah tidak bisa kudapatkan kembali."
"Lagipula, apa yang sebenarnya kau lakukan di sana?" heran Ashnard.
"Aku mencari jiwa Ibuku untuk membuktikan apakah dia benar-benar sudah meninggal atau tidak. Aku ditinggal pergi oleh Ibuku saat aku masih kecil. Satu-satunya orang yang bisa memberiku kehangatan adalah dia. Karena itu, aku ingin mencarinya."
Ashnard terkejut saat mengetahui bahwa dibalik wajah datarnya itu, dia memiliki perasaan yang sangat kuat pada Ibunya. Dan itu mengingatkan tentang dirinya. Ashnard dan Ein, mereka berdua rela melakukan apapun untuk dapat bertemu ibu mereka kembali meskipun harus terjun ke dalam alam para orang mati.
"Itu dia!" teriak Ashnard tersentak. Matanya menyala penuh harapan. "Mungkin aku juga bisa membuktikan Ibuku masih hidup atau tidak dengan pergi ke sana. Kau pernah kesana, bukan? Bisakah kau membantuku?" pinta Ashnard ke gadis yang berusaha mencium Ashnard lagi, tapi terbatalkan karena Ashnard yang mengejutkannya dengan penuh semangat.
"Apa kau yakin? Alam roh bukan tempat yang pantas untuk manusia."
Dengan tatapan yang seolah mengatakan bahwa tekadnya sudah bulat, Ashnard berkata, "Apa kau merasa ragu saat kau pergi ke alam roh dan mencari Ibumu?"
Tanpa Ashnard menjelaskan lebih detail, Ein sudah paham dengan jawabannya. "Aku mengerti. Aku termotivasi juga."
"Bagus. Kalau begitu, turunlah. Sudah cukup lama kau duduk di pangkuanku," suruh Ashnard sambil berusaha mendorong gadis itu, tapi masih tetap tidak berhasil melepaskannya.
"Tidak mau. Lagipula, aku bisa merasakan jika tubuhmu merespon padaku."
Cara Ein yang mengucapkannya dengan datar, membuat Ashnard memerah malu. "Di-diamlah! Tidak usah membahas itu," jawab Ashnard sambil memalingkan mukanya.
"Aku ingin terus begini sampai kuselesaikan urusanku terlebih dulu. Sampai itu selesai, jangan pindahkan tubuhku. Mengerti?" ungkap Ein, membuat Ashnard penasaran dengan apa maksudnya.
Seketika, tubuh Ein mendadak lemas dan dia tidak sadarkan diri sambil memeluk Ashnard. Ashnard yang bingung, mengguncangkan tubuh gadis itu, namun tidak ada respon. Saat Ashnard teringat dengan perkataan Ein untuk tidak memindahkan tubuhnya, Ashnard mengurungkan semua niatnya untuk membangunkan Ein. Kini, Ashnard hanya bisa menunggu selagi gadis itu menempelnya seperti bayi yang tidak bisa dibangunkan.
Tanpa Ashnard sadari, keluar dari tubuh Ein yang memeluk Ashnard, sebuah wujud transparan dari tubuh Ein. Sosok bayangan yang tidak dapat Ashnard lihat itu adalah jiwanya yang keluar dari raganya. Dengan jiwanya, Ein berkelana dalam malam. Menembus dinding akademi dan menuju asrama perempuan.
__ADS_1
Terlihat di depan asrama, ada gadis berkacamata yang sedang mengamati catatannya. Jiwa Ein langsung menghampiri gadis itu dan merasukinya. Mata Eris yang dirasuki Ein berubah warna menjadi hitam, seperti mata Ein. Kemudian, dengan tubuh Eris, Ein mencentang namanya sendiri di catatan yang Eris pegang. Setelah itu, dia keluar dan kembali ke raganya.
Sementara, Eris hanya sedikit linglung dan kebingungan dengan apa yang terjadi. Tapi, dia mengabaikannya setelah melihat catatannya lalu menunggu murid-murid yang lain kembali ke asrama. Begitulah cara Ein mengelabuhi Eris.