
"Sial! Beraninya ciptaan Kematian yang gagal itu mengambil sesuatu yang berharga dariku!"
Alfeus sangat marah saat ini. Bahkan penjaganya yang baru muncul merasa gemetar saat melihat tuannya marah. Sebagai manusia yang mendapatkan posisi tinggi, Alfeus tidak menerima penghinaan dari sosok yang sudah gagal menjalankan tugasnya.
Aura amarah disekelilingnya cukup untuk membuat makhluk buatan yang tak memiliki emosi seperti para penjaga menjadi gemetar karena takut.
"Penjaga!" teriaknya. "Bawakan Ansalasor padaku!"
Sudah lama para penjaga tidak mendengar Alfeus menyebut nama itu. Jika tuan mereka menyuruh untuk membawanya, itu berarti tuan mereka sudah siap untuk bertarung hingga mati. Dan jika Ansalasor dicabut, maka alam roh berada dalam bahaya.
***
Di ketinggian berpuluh-puluh meter di langit, Ashnard bisa melihat seluruh barisan roh yang panjang. Gunung, hutan, padang putih serta danau, semua tampak sangat jelas di posisinya.
Ashnard yang digantung seperti kucing yang dicubit punggung lehernya, hanya bisa terdiam sambil dibawa terbang oleh bawahan Haidon. Entah bagaimana caranya terbang tanpa sayap, Ashnard tak ingin berontak sedikitpun untuk membuktikannya. Karena Ashnard tidak bisa terbang untuk menyelamatkan diri.
"Hei, kau yang mencuri batuku, kan?" tanya Ashnard, mendongak ke atas. "Kenapa kau mencuri batuku? Bagaimana caramu bisa bergerak secepat itu? Apa sebenarnya kalian? Kenapa membawa kami?"
Dihujani dengan pertanyaan, orang bertengkorak merah itu menunduk ke bawah. "Bisakah kau menutup mulut kecilmu itu?"
"Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaanku." Ashnard memaksa.
Walaupun tidak seperti manusia, tapi orang itu terlihat sedang menghela nafas. "Baiklah. Tuan kami, Tuan Haidon, menginginkan kalian, khususnya dirimu untuk membantu dalam suatu rencananya."
"Rencana apa?"
"Untuk menggulingkan takhta."
Mendengar jawaban itu, entah mengapa Ashnard tidak begitu terkejut. Dia malah merasa biasa saja. Mungkin karena dia sudah mendapatkan jawaban lain yang lebih menguras otaknya daripada hanya sekedar perebutan takhta saja.
Posisi Ashnard dan orang itu ada di bagian depan bawahan lainnya, tapi di belakang Haidon itu sendiri. Tubuhnya lebih besar tiga kali lipat daripada Alfeus. Jubah hitamnya yang berkibar membuatnya terlihat seperti burung hitam raksasa.
Ashnard hanya bisa melihat bagian belakang makhluk raksasa yang menjadi pemimpin orang-orang yang membawa Ashnard dan teman-temannya. Dia ingin melihat lebih dekat seperti apa sosok tersebut dan apa hubungannya dengan alam roh serta Alfeus.
"Oke, lalu bagaimana dengan pertanyaannya lainnya? Kenapa kau mencuri batuku? Kenapa kami harus membantunya?"
"Pertanyaan untuk kali ini sudah cukup."
Sementara Ashnard terus mendesak orang yang memegangnya, Roc berusaha melepaskan diri dan Ein tetap diam seperti batu. Bahkan dia belum berbicara sedikitpum semenjak keluar dari penjara tersebut.
__ADS_1
"Berhenti!" Tiba-tiba, Haidon yang terbang di depan berhenti, diikuti dengan anak buahnya.
Ashnard beserta yang lainnya bingung dengan apa tujuan dari Haidon dengan menyuruh untuk berhenti. Saat Haidon menyuruh mereka semua diam dan mendengar baik-baik, ada sebuah suara samar yang tertangkap di telinga.
Suara itu semakin nyaring seolah semakin dekat. Suara dengan kecepatan terbang yang tinggi datang ke arah mereka dari belakangnya. Saat mereka baru menyadarinya setelah berbalik, sudah terlambat. Cahaya kuning melesat sangat cepat hingga mereka pun telat bereaksi. Kilatan cahaya itu melewati mereka semua dan menabrak langsung Haidon yang masih sempat menahan dengan sabitnya.
Cahaya tersebut adalah Alfeus itu sendiri. Tubuhnya dilapisi dengan cahaya kuning. Di tangannya, dia memegang sebuah pedang dengan bilah sangat panjang yang justru terlihat seperti tombak daripada pedang.
Pedangnya memancarkan cahaya yang lebih terang daripada cahaya manapun di alam roh. Bilahnya yang berwarna putih saja cukup menyilaukan di mata orang-orang. Namun, kekuatan pedang itu yang sebenarnya bukan untuk menyilaukan musuhnya.
Haidon gemetar saat melihat pedang itu telah dicabut dari tempatnya. Jika dia terlambat mengangkat sabitnya, mungkin tubuhnya sudah terbelah menjadi dua. Meskipun ketakutan, Haidon tetap menyapa sang Jenderal Kematian Putih.
"Pilihanmu mengangkat pedang itu salah, kawan."
"Kembalikan anak-anak itu padaku. Mereka bukan mainanmu, Haidon!"
Mendengarnya saja sudah membuat Haidon tertawa. Menurutnya, Alfeus juga menginginkan Ashnard dan yang lainnya untuk dimanfaatkan saja. Haidon sangat tahu betul Alfeus yang daripada disebut jenderal lebih tepat disebut sebagai budak dewa.
"Jika kau ingin mereka, lewati dulu aku!"
Dengan sabitnya yang melengkung, Haidon mengaitkan sabitnya ke pedang putih dan mengayunkannya ke bawah. Sehingga, dia bisa dengan mudah memutar pedang putih ke atas, membuat celah Alfeus terbuka.
Selanjutnya, giliran 3 bawahan Haidon yang menyerang secara bersamaan dari segala sisi. Satu menggunakan cakar tajam mereka, satu menggunakan sihir, dan satu lagi menggunakan pedang. Mereka menyerang sambil memegang Ashnard beserta yang lainnya.
"Kalian tahu bahwa kalian tidak akan bisa mengalahkanku meskipun menyerangku secara bersamaan, bukan? Atau kalian lah yang sebenarnya bodoh?"
Alfeus menyeringai melihat musuhnya yang berlagak seolah bisa mengalahkannya. Sambil meremehkan mereka, Alfeus berputar 360 derajat mengayunkan Ansalasor. Menciptakan gelomban energi yang menghempaskan semua musuhnya.
Ashnnard yang terlepas berputar-putar di udara. Jika dia bukan roh, dia pasti akan merasa mual sekarang. Ashnard di udara sempat melihat dua bawahan Haidon yang jatuh di hutan dan kedua temannya yang juga melayang berputar-putar sama sepertinya. Ashnard melakukan segala upaya untuk meraih dan menyelamatkan temannya, namun di udara dia tidak bisa apa-apa.
Saat angin mengguncang dan membolak-balikkan mereka tak berdaya, Ashnard melihat bayangan yang sama saat batunya dicuri, menyelamatkan Ein dan Roc. Itu orang yang sebelumnya bertugas menahan Ashnard. Gerakannya sangat cepat di udara. Sangat bebas seperti tidak ada gravitasi yang menahannya. Orang tersebut lalu datang menyelamatkan Ashnard juga.
"Kau baik-baik saja?" tanya orang itu yang memegang kepala Ashnard seperti digantung di udara.
Ashnard mengangguk lega, ditambah teman-temannya yang juga selamat sekarang duduk di punggung orang misterius tersebut.
Sekarang dia hanya bisa melihat petarungan dahsyat di atas langit berwarna ungu. Tanah di bawah kakinya sangat jauh dan langit atas terasa sangat dekat seolah bisa menggapainya. Ashnard merasa langit yang sebenarnya justru ada di bawah, dimana para roh bersebaran seperti awan.
Sementara pertempuran itu menciptakan suara bagai dua benda raksasa yang saling bertabrakan dengan kecepatan yang tinggi. Suara dentingan dan dentuman menggelegar di langit seperti guntur. Tapi, dibalik awan, bukan guntur yang menyebabkan suara itu, namun sebuah pertarungan dua orang yang sangat kuat.
__ADS_1
Setiap kali kedua senjata mereka saling bertemu, udara seperti terpotong oleh hembusan energi kuat yang tak kasat mata. Meskipun jauh, Ashnard bisa merasakan sisa-sisa angin meraba pipinya.
"Seharusnya tidak lama lagi pertarungan itu akan berakhir," kata orang misterius yang menyelamatkan Ashnard dan teman-temannya.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Ashnard.
"Pedang itu. Ansalasor yang akan membuat pertarungan cepat berakhir." Tulang telunjuknya menunjuk ke arah pedang putih yang digunakan Alfeus untuk menangkis sabitan maut Haidon.
"Ansalasor?"
"Pedang panjang itu adalah bagian dari alam roh sejak awal terciptanya. Sebagai pelayan Kematian sekaligus penjaga alam roh, Tuan Alfeus diberi hak untuk memegang pedang tersebut. Dengan pedang itu, dia pernah membunuh sejala jenis makhluk neraka yang kabur, salah satunya adalah raksasa Behemoth. Sayangnya, dia tidak bisa lama menggunakan pedang itu."
"Kenapa?"
"Lihat saja."
Ashnard mengikuti kata orang itu dan melihat pertempuran yang masih berlangsung sengit. Dia penasaran dengan apa maksudnya dan apa yang akan terjadi. Apakah Alfeus yang akan menang atau Haidon?
Dilihat dari tempat pertempuran yang terjadi di atas langit, Ashnard sudah tahu kalau ini bukan levelnya.
Walaupun Alfeus adalah manusia yang diberi kekuatan dewa, tapi Haidon masih bisa bersaing dengannya. Walaupun tubuh Haidon jauh lebih besar, Alfeus tidak melihat itu sebagai ancama. Mereka berdua sangat seimbang satu sama lain.
Akan tetapi, Alfeus masih lebih kuat daripada Haidon dan akan berhasil memenangkan pertarungan ini jika ayunan pedangnya tidak berhenti tiba-tiba.
Ashnard kebingungan. "Apa yang terjadi?"
"Sudah waktunya," jawab bawahan Haidon.
Tiba-tiba, terdengar suara seperti retakan di belakang Ashnard. Suara itu berasal dari Aula Pengadilan yang berguncang. Bangunan yang melayang itu seolah-olah terlepas dari tali yang menahannya di udara. Tanda-tandanya sudah tampak. Ada retakan di dindingnya dan bergoyang secara tiba-tiba, membuat para roh yang ada di dalamnya panik.
Alfeus tidak bisa meneruskan pertarungan ini. Dia masih memiliki tugas yang harus dilakukan. Dia adalah penjaga alam roh dan tugasnya menjaga seluruh alam roh dari apapun yang membahayakan. Di antara dua pilihan, menghabisi Haidon atau menjaga alam roh, Alfeus akan memilih menjaga alam roh.
Amarah pria itu juga tidak akan bisa ditenangkan jika tidak ada suara lembut wanita muda yang berbisik di telinganya. Menyuruhnya untuk menahan amarah dan mundur, melaksanakan kewajibannya. Alfeus mematuhi perintahnya dan kembali ke bangunan itu.
Di dalam, ruang yang kosong dam gelap, Alfeus menancapkan kembali pedangnya di sebuah celah di lantai. Seketika, posisi bangunan kembali semula dan perlahan retakannya tertutup kembali.
"Sudah kubilang, pertarungan tidak akan berlangsung lama."
Ashnard sekarang mengerti. Pedang panjang itu adalah pusat dari semuanya. Pedang itu yang membuat bangunan tersebut melayang dan memberikan kemampuan terbang pada Alfeus. Alasan kenapa pedang itu dikatakan ada sejak terciptanya awal terciptanya alam roh, karena pedang itu sendiri yang menjaga keseimbangan alam roh. Dan tugas Alfeus yang sebenarnya bukanlah menjaga alam roh, melainkan menjaga pedang itu agar tidak ada siapapun yang menggunakannya dan membuat alam roh hancur.
__ADS_1