
Ashnard menyadari bahwa Reinhard melihatinya sedari tadi. Tatapan orang itu membuat Ashnard bergidik sekaligus ngeri. Ashnard berpikir jika mungkin Gerlon merasakan hal yang sama saat melihatnya tadi pagi. "Apa?" tanya Ashnard ketus.
Reinhard yang bertopang tangannya di meja tersentak saat Ashnard tiba-tiba menatap tajam padanya. "Apanya?"
"Apa yang kau lihat? Kau merencanakan hal buruk lagi?"
"Tidak! Apa semua yang kulakukan selalu buruk di matamu?"
"Memang! Aduh-" Liliya yang duduk di sebelah Ashnard, mencubit perutnya. "Dia yang memulai duluan!" tuduh Ashnard, semakin Liliya terus mencubitinya.
Gerlon kembali setelah tak menemukan apapun selain camilan aneh yang tentunya tidak akan dia makan. Ia berjalan lesu, lalu kembali ke tempat tidur.
Ada momen sunyi yang berlangsung di ruangan itu. Daripada hanya berdiam-diam saja, akan cepat bosan dan menyia-nyiakan waktu. Gerlon memutuskan untuk memanfaatkan waktu ini untuk memikirkan masalah yang telah terjadi.
"Kau bilang kau melihat seseorang bertudung, kan?" tanya Gerlon yang berbaring menghadap ke Reinhard di kursi. "Mungkin itu murid yang selalu memakai tudung."
"Siapa?"
"Itu Erik," jawab Liliya yang semakin meringkuk di bawah selimut dan jas seragam Ashnard.
Reinhard beralih ke Liliya. "Kau mengenalnya?"
"Tidak terlalu. Dia selalu mencuekiku. Sebelum kalian datang, Erik sudah menjadi bahan pembicaraan di akademi. Dia salah satu murid rekomendasi yang berasal dari desa. Aku tidak tahu pasti, tapi caranya dia menyikapiku dan orang lain seperti dia membenci keluarga bangsawan," jelas Liliya.
Ashnard tidak akan kaget jika Liliya tahu banyak hal. Gadis itu mudah dekat dengan orang lain dan tentunya ada banyak hal yang bisa dia dapat dengan memiliki banyak teman. Ashnard bahkan berpikir, jika Liliya cocok menjadi anggota intel.
"Membenci keluarga bangsawan? Tapi, Derek berkata kalau dia melihatnya mengobrol bersama Arlon di ruang latihan sehari sebelum aku menjadi prefek," tambah Ashnard.
"Berbincang apa?" tanya Liliya.
Gerlon dengan sigap duduk bersila di atas kasur dan mendengarkan dengan cermat. "Dia mengajak orang lain atau khususnya Arlon untuk mengalahkan Reinhard. Mungkin seperti mencari sekutu untuk revolusi," ucapnya.
"Bagaimana kau tahu?" Tidak hanya Reinhard yang penasaran, tapi Ashnard dan Liliya juga melempar pandangan yang sama ke Gerlon.
"Yah, tepatnya dua hari lalu, aku juga melihatnya bersama Arlon di lembah. Namun, cuman sebentar sebelum Arlon pergi. Saat aku memergoki Erik dan bertanya, ia menjawab bahwa dia ingin membungkam para bangsawan yang selalu menindasnya. Semacam itu," jawab Gerlon.
"Lalu, apa hubungannya dengan Rein?" Liliya bertanya.
"Kau tahu, Reinhard sekarang adalah sorotan para murid. Dia adalah cahaya atau bintang atau apapun itu. Simbol kekuatan bagi para bangsawan. Ketika simbol itu dihancurkan, apa reaksi orang-orang?"
"Marah?"
"Keputusasaan. Aku berpikir, Erik menggunakan Arlon yang membenci Reinhard sebagai langkah pertama untuk menghancurkan para bangsawan," lanjut Gerlon.
__ADS_1
"Dan satu hal lagi," ucap Gerlon. "Dinding aneh itu, dan makhluk buas di sana, kurasa semua itu juga ada hubungannya dengan Erik."
"Ya, aku bisa merasakannya. Kekuatan Erik dan di balik dinding itu memiliki energi yang sama. Elemen kegelapan," ungkap Ashnard.
"Jadi, karena itu dia tidak pernah ikut praktek elemental. Dan karena dia tak ikut tes kelayakan, nilai kelayakannya juga Nol, sama seperti kalian," tambah Liliya sambil melempar pandangan ke Ashnard lalu ke Gerlon.
Sedikit demi sedikit kepingan teka-teki berhasil di kumpulkan. Mereka semua saling bertukar pikiran untuk pertama kalinya di tengah malam, di sebuah gubuk tua. Tidak ada pertengkaran atau kebencian. Semua saling menghargai pendapat masing-masing sebagai satu kesatuan.
Kemudian setelah mengetahui tujuan dari Erik dan Arlon, mereka memikirkan apa yang harus dilakukan berikutnya.
Mereka, terutama Ashnard tahu betapa berbahayanya kekuatan kegelapan jika digunakan oleh orang yang salah. Erik pengguna elemen kegelapan harus diwaspadai, apalagi jika dia berupaya untuk mencuci otak, tak hanya Arlon, tapi beberapa murid lainnya.
Saat sibuk berpikir, Liliya tak bisa menahan kantuknya. Matanya beberapa kali terpejam dan kepalanya tertunduk.
Dalam kondisi seperti ini, Ashnard tak boleh memaksakan diri ataupun yang lainnya. Ia mengingat betul ajaran Nous untuk tetap tenang dan tak panik.
Istirahat juga adalah hal yang harus diperhatikan. Lebih baik mengisi tenaga, dan tidak terburu-buru, seperti kata Nous.
"Mungkin kita lanjutkan besok saja. Besok juga masih libur. Kita istirahat terlebih dahulu," ucap Ashnard.
Liliya yang tak bisa menahan kepalanya lagi, bergumam memanggil Ashnard, "Mendekatlah."
"O-oke." Ashnard beringsut mendekati Liliya hingga bahu mereka saling menempel.
Liliya lalu meletakkan kepalanya di pundak Ashnard seolah sebuah bantal yang sangat empuk sehingga ia dapat memejamkan matanya dengan nyaman. "Terima kasih."
"Dasar anak muda," sindir Gerlon yang langsung menjatuhkan kepalanya di tempat tidur.
Ashnard lagi-lagi menyadari Reinhard yang melotot ke arahnya. "Apa?" tanya Ashnard lagi seperti mengulang kembali waktu.
"Sejak kapan kalian mulai dekat?" Reinhard memberikan pertanyaan yang justru membuat Ashnard terheran.
"Kau Reinhard, kan? Sikapmu sangat aneh sejak tadi." Ashnard menyipitkan matanya, mencoba untuk memperhatikan seluruh gerak-gerik Reinhard.
"Tentu saja aku Reinhard. Jawab saja pertanyaanku, dasar bodoh!" balas Reimhard sedikit meninggikan nadanya.
"Ash dan Rein jangan bertengkar lagi. Aku ingin kalian berteman." Dengan mata yang masih tertutup, Liliya mengigau.
Meskipun masih tertidur pulas, tapi seolah gadis itu masih terjaga untuk menengahi Ashnard dan Reinhard. Bagi Liliya, membuat Ashnard dan Reinhard berteman adalah keinginan terdalamnya. Saking sangat ingin terwujud, ia bermimpi di mana ada Ashnard dan Reinhard yang bertengkar dan Liliya datang untuk melerai mereka.
Ketika Liliya mengigau, Ashnard dan Reinhard diam lalu saling mencuri tatapan. Ashnard menyemburkan udara ke luar dari mulutnya. "Aku membencimu."
"Sama," jawab Reinhard bersandar pada punggung kursi.
__ADS_1
"Cih, kau hanya ikut-ikutan saja," gumam Ashnard cemberut. "Sebenarnya aku tak keberatan jika Liliya berkata seperti itu. Hidupku tidak hanya ditujukan untuk membenci seorang Reinhard saja."
"Sama."
"Setidaknya katakan yang lain," sergah Ashnard mulai kesal.
"Aku tidak ada waktu untuk mengurusimu. Aku juga punya kehidupan," balas Reinhard mendesah.
Kening Ashnard mengkerut. "Intinya sama persis saja seperti ucapanku."
Tiba-tiba, pintu luar terbuka kencang yang membuat Ashnard dan Reinhard terkejut. Egon kembali dan menemukan kalau rumahnya sudah menjadi tempat penampungan anak-anak nakal.
Ashnard terkejut karena dia baru teringat soal Egon yang pergi ke luar. Beruntungnya tidak terjadi apa-apa pada pria tua itu. Ashnard menghela nafas lega.
"Menemukan sesuatu?" tanya Ashnard.
Egon meletakkan lenteranya di meja dan menggantukan jubahnya. "Tidak. Hanya suara jangkrik dan malam yang dingin seperti biasa."
"Jejak kaki atau semacamnya?"
"Terlalu gelap. Kalau kau ingin mencarinya, besok pagi saja. Omong-omong, kenapa kalian tidur di sini?" Egon menatap tajam ke Ashnard dan Reinhard yang masih terjaga daripada yang lain.
"Hanya untuk semalam saja. Boleh, ya?" mohon Ashnard.
Egon melihat tidak ada pilihan lain. Sambil menggerutu, ia pun meninggalkan mereka dan menuju dapur. Walaupun tak secara langsung, tapi Ashnard tahu kalau dia dan yang lainnya boleh menginap di sini.
Perlahan, malam semakin malam, dan rasa kantuk menghampiri semuanya. Reinhard tertidur sambil bersandar di meja sedangkan Egon tidur di meja makan di dapur. Tersisa Ashnard yang masih mencoba untuk tidur, tapi tak bisa. Masih banyak hal yang terpikirkan olehnya.
"Tidurlah, nak," suruh Roc yang juga mulai lelah karena akan terus melihat semua yang Ashnard lihat hingga matanya terpejam.
"Aku tak bisa. Bagaimana jika makhluk itu muncul kembali?" tanya Ashnard.
"Pria tua itu sudah bilang dia tidak menemukan apapun, kan? Mungkin saja makhluk itu langsung pergi jauh dari lembah akademi saat kau menyerangnya dengan suara bising itu."
"Tapi, aku tidak yakin."
"Tidur saja. Sejak saat di Winfor, saat kau tertidur atau pingsan, entah mengapa, aku bisa mendengar melalui telingamu namun lebih tajam. Saat di rumah Zefiria atau saat di jurang. Aku akan membangunkanmu jika mendengar suara-suara."
Ashnard akhirnya menyerah. "Baiklah, kau sangat membantuku."
"Tidak masalah. Tak ada yang bisa kulakukan juga disini."
Tiba-tiba, tangan Liliya tiba-tiba meraih lengan Ashnard dan memeluknya sangat erat seperti tak ingin melepaskan. Dengan pelukannya itu semakin menempelkan tubuh Liliya ke Ashnard.
__ADS_1
Ashnard bisa merasakan semuanya. Nafas Liliya, aroma rambutnya, kehangatan pelukannya, bahkan detak jantungnya yang lemah. Seperti detak jantung seseorang yang telah menemukan tempat nyamannya.
Entah Liliya yang terlalu manja atau Ashnard yang sangat menginginkannya. Ia merasa sangat nyaman dan seolah-olah bisa tidur saat ini juga.