
Meskipun Roc sudah pesimis dan menyuruh Ashnard untuk tidak memilih bertarung, tapi Ashnard mengabaikannya. Roc terus-terusan memanggil Ashnard, agar menghentikan pertarungan sia-sia ini.
Ia mencoba segala cara. Berteriak, membentak, menyentuh ilusi Ashnard, bahkan memukul lantai ruang hitam tersebut. Tapi, tak ada satupun yang berhasil membuat Ashnard mengurungkan niatnya.
Jika Ashnard mati disini, tubuhnya tidak akan berguna. Dengan kata lain, Roc juga akan terkena dampaknya. Ia tak ingin mati selagi menjadi penonton. Ia masih ingin merasakan kehidupan di dunianya yang baru. Ashnard juga berjanji padanya akan mencari cara untuk Roc dapat keluar dari Ruang Kosong. Dan Roc sudah menaruh harapan untuk itu.
Seolah di depan matanya langsung, wajah Pria Luka begitu dekat. Roc bisa melihat sesuatu yang buruk akan terjadi saat pria itu tertawa. Kemudian, Ashnard berteriak kesakitan saat berguling-guling di tanah.
Di Ruang Kosong, bergetar layaknya gempa. Roc yang mulai panik mengulangi semua cara untuk terhubung dengan Ashnard. Roc berlari kesana kemari di tempat yang tak berujung dan hanya berisi kesia-siaan saja. Ia berusaha menyelamatkan diri saat guncangannya semakin hebat. Tak lama kemudian, tubuh putihnya juga bergetar dan berpendar seakan mau redup.
"Tidak, tidak, tidak! Kumohon, jangan terjadi."
Di Ruang Kosong tersebut, tidak ada benda ataupun hal yang bisa Roc gunakan untuk menyelamatkan diri. Kosong dan buntu. Seperti harapan dan semangatnya yang kini telah pupus.
Dalam ambang ketidakmampuannya, ia bertekuk lutut di hadapan takdirnya. Mendapatkan dirinya tak bisa melakukan hal berarti selagi langit-langit akan runtuh.
Saat itulah, cahaya terang muncul menembus ke dalam kekosongan, membawa harapan kembali untuk Roc serta Ashnard.
Cahaya berpendar itu berasal dari Servulius, sang Kepala Akademi yang bertarung melawan Pria Luka. Arti yang sesungguhnya dari cahaya melawan kegelapan.
Kemudian, guncangannya perlahan dan kembali tenang setelah kemunculan Gerardus yang menyelamatkan Ashnard. Gerardus menarik keluar parasit kegelapan yang berusaha menggerogoti dan mengambil alih tubuh Ashnard.
"Aku tak percaya dia mendapatkan parasit kegelapan. Parasit ini biasanya ada di alam yang jauh dari kenormalan manusia," jelas Gerardus.
Gerardus menekan parasit tersebut di antara kedua telapak tangannya. Lalu, ia mengalirkan energi cahaya yang membuat parasit itu meledak tak tersisa sama sekali.
Gerardus melirik ke Ashnard, wajahnya masih terlihat pucat. "Kau sekarang sudah tidak apa-apa, Ashnard. Tak perlu takut lagi, karena Kepala Akademi ada disini."
Perkataan Gerardus itu tidak bohong. Saat Ashnard melihat ke arah pertarungan, ia melihat sebuah cahaya yang memberikannya ketenangan dan menghilangkan seluruh rasa sakitnya.
Pedang bercahaya di tangan Servulius itu adalah pedang yang sama saat Ashnard melihatnya di ruangan Kepala Akademi. Pedang itu beradu dengan sengit dengan pedang hitam. Setiap benturannya menciptakan denyutan cahaya seperti bintang.
"Itu adalah Pedang Illunia. Pedang yang Ordo Ksatria berikan ke Servulius sebagai tanda penghormatan. Pedang itu mampu menyerap elemen apapun, termasuk cahaya dan menggunakannya sebagai kekuatan," jelas Gerardus.
__ADS_1
Berkilau dan berpendar. Cahaya itu menangkis setiap serangan Pria Luka dengan mudah. Bahkan, sesekali membuat Pria Luka kehilangan keseimbangan karena benturannya.
"Katakan, siapa sebenarnya dirimu dan apa tujuanmu?" tanya Kepala Akademi ke Pria Luka.
"Ini bukan masalahmu, Kepala Akademi! Kembalilah ke dewa lemahmu itu!" Pria Luka mendorong tubuh Servulius memberikannya jarak cukup lebar.
Parasit hitam di pedang Pria Luka terlepas menjadi tebasan kegelapan. Namun, dengan mudah dipotong oleh Servulius menjadi dua. Parasit itu tak berhenti setelah dipotong, justru menjadi dua bagian yang bergeliat menuju kaki Servulius yang tak menyadarinya.
"Awas, kak!" teriak Gerardus sambil mengeluarkan lingkaran bercahaya di tangannya. Lingkaran itu menciptakan lubang cahaya yang menelan dua parasit hingga tak bersisa.
Ashnard terkejut dengan aksi pertarunhan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kemampuan Kepala Akademi bahkan mampu menyaingi Pria Luka. Permainan pedang mereka tersebut, Ashnard tidak dapat mengikuti setiap langkahnya.
Ia benar-benar terkesima dan tak percaya, apalagi saat Gerardus memanggil Kepala Akademi dengan panggilan yang lebih dekat daripada yang ia ketahui.
Dalam pertarungan ini, banyak hal yang memberikan jawaban untuk Ashnard sekaligus menjadi pertanyaan baru yang entah kapan akan terjawab.
Pria Luka lalu mengayunkan pedangnya di udara, seketika parasit hitam di pedangnya terlepas dan menyebar ke arah Servulius.
Melihat serangan yang tak bisa ditangkisnya satu per satu, Servulius sontak menempelkan pedangnya di dadanya dan berbisik, "Oh, Penguasa Cahaya, berikan aku cahayamu."
Di hadapan cahaya seterang dan semurni bintang, semua parasit kegelapan itu terhapuskan. Tanpa butiran debu dan jejak yang tertinggalkan. Seperti bayangan yang langsung hilang ketika sang matahari menampakkan dirinya.
Lalu, Servulius mencabut pedangnya dan mengarahkannya ke depan. Lapisan cahaya tidak hanya menghapuskan kegelapan, tapi menyerapnya menjadi kekuatan yang Servulius kumpulkan di pedangnya. Kekuatan lapisan cahaya tersebut dilepaskan dalam satu tusukan ke arah Pria Luka.
Melihat kekuatan sang Kepala Akademi, tidak membuat Pria Luka patah semangat. Ia membalas serangan Servulius dengan ayunan pedangnya, menimbulkan sebuah benturan energi yang dahsyat.
Angin dari benturan itu terlalu kuat. Jika Gerardus tidak menahan Ashnard, mungkin dirinya sudah terlempar jauh oleh angin.
Sementara Kepala Akademi yang masih berdiri gagah di depan, memperhatikan di balik kepulan asap dan debu. Tidak ada siapapun di baliknya. Pria Luka dan Erik berhasil kabur dengan menggunakan debu.
"Apa? Tidak ada? Bagaimana mereka bisa kabur?" ucap Ashnard terkejut.
"Sepertinya orang itu tidak bisa diremehkan. Bahkan di hadapan kekuatan sang Kepala Akademi sekalipun, ia masih bisa menyelamatkan diri," balas Gerardus.
__ADS_1
"Sangat mengejutkan, bukan?" Servulius berbalik, menghampiri Ashnard. "Sepertinya ada semacam pengacau merencanakan sesuatu yang berbahaya."
Ashnard menunduk kecewa, ketika orang yang paling dekat dengan jawabannya sudah melarikan diri dan tak diketahui lagi. Ia juga masih tak mendapatkan apapun soal keberadaan ibunya. Ashnard bisa mengatakan ini adalah hasil yang sia-sia.
"Jangan bersedih, putra Ebert, cahaya masih ada di sisi kita. Kau terlihat kecewa saat orang itu pergi. Itu berarti kau tahu dan mungkin ada kaitannya dengan pria itu, benar kan?" tanya Kepala Akademi.
Ashnard tak bisa mengelak lagi. Sebagai ganti Kepala Akademi menyelamatkannya, Ashnard harus menjelaskan apa yang terjadi. Hanya itu pilihannya. Kepala Akademi dan Gerardus pun mengamankan Ashnard dan membawanya kembali ke akademi. Setelah semua ini, kehidupan sekolahnya akan berubah.
Sementara, Pria Luka dan Erik melarikan diri semakin jauh ke dalam hutan. Di balik pohon, ia menyandarkan tubuhnya yang penuh luka. Pria Luka tersebut menarik nafasnya yang berat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya seperti sehabis mandi.
"Sialan! Aku tak menyangka Kepala Akademi datang untuk menyelamatkannya. Sudah dua kali bocah itu dilindungi oleh orang yang kuat. Kenapa dia selalu beruntung?" geramnya sambil memegang wajahnya yang memerah.
"Kita harus memberinya pelajaran, tuan," ujar Erik. Dia yang paling sedikit terluka daripada tuannya.
"Ini semua gara-gara kau, Erik! Aku sudah mengirim pesan, tapi kau malah datang ke sini lebih awal, dasar bodoh!" Pria itu langsung membentak penuh emosi, membuat Erik tertunduk ketakutan. "Aku berharap banyak padamu, Erik! Akademi seharusnya banyak menyimpan murid-murid yang berpotensi menjadi ancaman. Kau seharusnya mengumpulkan mereka diam-diam, bukan malah memancing perhatian!"
"M-maafkan aku, tuan. A-aku tidak tahu kalau orang yang anda cari ada di akademi," balas Erik.
"Sudahlah, tidak ada gunanya menceramahimu sekarang. Masih banyak yang harus kita lakukan. Umat manusia membutuhkan kita."
"Tuan," panggil Erik, menghentikan langkah Pria Luka. "Izinkan aku mendapatkan kekuatan lebih. Aku ingin mengalahkan Ashnard dengan kedua tanganku sendiri."
Pria Luka menengok ke belakang, dan dapat terlihat jelas kesungguhan tekad Erik yang berubah, namun tetap berdasarkan tujuan yang sama, yaitu balas dendam.
Sebelumnya, di mata Pria Luka, Erik adalah bocoh penurut. Dan saat dia mengutarakan keinginan hidupnya, Pria Luka merasa senang. "Aku mengerti, tapi kau tak boleh membunuhnya. Penyelamat kita harus hidup."
"Terima kasih, tuan."
Namun, sebenarnya, Erik hanya menurut tuannya karena berdasarkan ketakutannya saja. Instingnya mengatakan ia harus tunduk di hadapan orang yang lebih kuat, apalagi sosok yang telah menyelamatkan hidupnya.
Saat pertama kali bertemu dengannya, Erik tidak begitu mempercayainya. Pikirannya masih sekeras batu, menganggap semua orang sama saja. Kebaikan dan kemanusiaan sudah hilang. Itulah yang dia percayai selama ia merangkak mencari makanan dari satu rumah ke rumah lainnya.
Ia begitu putus asa, hingga tak ingin mempercayai siapapun lagi.
__ADS_1
"Aku akan memberimu kekuatan," ucap Pria Luka saat menemukan Erik tergeletak di tanah.
Tubuhnya kurus kering, kulit dan pakaiannya kotor. Bahkan, matanya kesulitan untuk melihat seorang pria yang mengulurkan tangannya dengan senyuman. Namun, sebuah dorongan dari dalam tubuh Erik membuatnya meraih tangan pria itu. Dorongan keinginan untuk hidup.