
Di antah berantah. Di tanah dimana para roh tinggal. Di tempat yang asing dan berbahaya, ketiga jiwa itu berjalan menyusuri pasir putih menuju bukit yang lebih halus daripada pasir manapun di dunia. Tidak ada angin yang bisa dirasakan, tapi untuk apa merasakan jika tubuh jiwa mereka tak mampu untuk melakukannya.
Di alam yang bukan untuk manusia, sang gadis berambut hitam itu menuntun. Dan dua jiwa yang saling bercengkerama berjalan di belakangnya. Membahas soal perasaan satu sama lain saat menjadi jiwa atau saat terbebas dari kurungan kekosongan.
"Tapi, setelah ini berakhir, kau akan kembali ke Ruang Kosong," ucap Ashnard yang mencoba khawatir pada Roc.
Bayangan putih itu tidak mempermasalahkannya. "Yang penting aku masih bisa merasakan tempat selain Ruang Kosong saja. Lagipula, tidak ada yang bisa memastikan kita akan selesai dengan cepat, bukan?"
Ashnard menyusul Ein karena ingin menanyakan sesuatu. "Yang ada di sini adalah jiwa kita, kan? Bagaimana dengan tubuh kita yang ada di luar sana?"
"Penjaga perpustakaan pasti akan menjaga tubuh kita. Aku sering melakukan ini di perpustakaan, jadi pasti tidak akan mempermasalahkannya. Yang harus kita khawatirkan adalah jiwa kita. Jika terjadi sesuatu pada jiwa kita, hasil yang lebih buruk adalah kematian."
"Sebaiknya tidak terjadi apa-apa pada kita, karena aku tidak membawa pedangku."
Alam ini tak memiliki hukum yang sama dengan dunia nyata. Tidak ada perubahan waktu atau fenomena alam yang terjadi. Bahkan waktu tidak berjalan di sini. Tidak ada yang tahu perbedaan waktu antara alam roh dan dunia nyata.
Meskipun waktu dan cuaca tidak terjadi di tempat ini, persaingan hidup dan mati masih berlaku. Namun, tempat ini tidak lebih buruk daripada alam neraka. Persaingan hidup dan mati hanya terjadi pada roh yang terlepas dari belenggunya, yaitu para roh yang berkelana tak tahu diri. Mereka bersaing untuk banyak hal. Hidup, pengadilan, atau rumah.
Saat mereka mencapai puncak bukit, di baliknya adalah hamparan para roh yang berkeliaran seperti lautan. Mereka berjalan luntang-lantung tak tahu tujuan. Tempat ini dinamakan Padang Roh Bebas. Sebuah padang kosong yang luas dan di kelilingi oleh hutan-hutan berwarna putih pucat. Di seberang padang ada sebuah danau yang airnya tidak beriak atau mengalir.
"Di sini adalah tempat di mana para roh yang tidak terbelenggu berada. Seperti yang kalian lihat mereka terjebak. Mereka tak bisa berenang dan tak bisa masuk ke dalam hutan. Di hutan tinggal makhluk-makhluk pemakan jiwa," jelas Ein.
Ashnard memandangi dari atas bukit, para roh yang berkumpul itu hingga membentuk seperti lautan berwarna ungu. Bentuk polos mereka seperti Roc, tapi masih terlihat jelas wajah dan detil tubuh mereka.
"Ein, aku ingin bertanya. Apa kau tahu kenapa roh-roh yang lain-termasuk kita-memiliki tampilan yang berbeda dengan Roc?"
"Hei, apa yang kau maksud?" Roc merasa tersindir dengan pertanyaan Ashnard. "Tidak ada salahnya menjadi berbeda, bukan?"
"Itu berarti laki-laki putih itu tidak memiliki tubuh. Meskipun, dia bersemayam dalam tubuhmu, tapi kau yang menguasainya secara penuh," jawab Ein. "Dia bisa mendapatkan wujudnya jika jiwanya sudah terhubung dalam suatu ikatan dengan satu tubuh."
Tiba-tiba, Roc muncul dengan sedikit kasar, mendorong Ashnard ke samping. Padahal masih ada banyak ruang di antara Ashnard dan Ein. "Jadi, jika aku merasuki tubuh Ashnard atau orang lain maka jiwaku akan terbentuk?"
__ADS_1
"Benar."
"Bagaimana caranya?"
"Bayangkan saja saat kau berusaha masuk ke kotak atau lemari. Sama saja," jawab Ein.
Roc lalu menatap Ashnard yang kesal. Ashnard sadar dan langsung menolaknya mentah-mentah. Dia tak mau tubuhnya dipakai oleh orang lain.
Terdengar suara teriakan di langit yang menghentikan obrolan mereka. Suara nyaring itu menggema melalui udara sampai ke telinga mereka. Suara itu juga membuat Ashnard teringat dengan Pemanggil Angin.
Tak ada wujud yang mereka bisa temukan seolah-olah suara itu adalah suara langit. Anggapan seperti itu tidak salah, karena memang makhluk yang menyebabkan suara itu berada sangat tinggi di langit sehingga siapapun sulit untuk melihatnya.
Daripada terus mendengarkan suara yang menggetarkan jiwa, mereka melanjutkan perjalanan. Menyusuri punggung bukit dengan setengah berlari dan setengah berjalan, hingga turun ke Padang Roh Bebas.
Ashnard dan Roc saling berdesakan dan menempel ke Ein saat mereka membuka jalur di antara para roh yang berkumpul seperti patung hidup.
"Ein, apa tidak masalah kita lewat sini?" tanya Ashnard yang gelisah sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
"Tetaplah bersikap tenang. Kita dan mereka sejatinya sama. Hanyalah jiwa biasa. Kecuali salah satu dari mereka adalah jiwa yang ternodai oleh kejahatan," jawab Ein dengan tenang. Lebih tepatnya dia memang sering tak menunjukkan ekspresi lainnya selain datar.
"Aku hanya ingin ditempeli oleh Ashnard. Menjauhlah dariku." Ein bergeser ke arah kiri, memilih semakin dekat dengan Ashnard dan menjauh dari Roc. "Mungkin karena wujudmu yang cukup langka. Mereka jadi tertarik denganmu."
"Apa menurutmu Ibuku ada di antara mereka?" Ashnard bertanya-tanya.
"Tidak tahu. Sulit mencarinya seperti jarum ditumpukkan jerami. Di Hutan Bergoyang ada seseorang yang bisa membantumu mencari Ibumu dengan mudah."
Setelah melewati kerumunan para roh, mereka akhirnya sampai di tepi danau. Jika dibandingkan dengan Danau Cermin, danau ini lebih terlihat seperti cermin sungguhan. Tidak ada gelombang, aliran atau riak air. Benar-benar tenang dan permukaannya sangat rata. Namun, dasarnya tidak kelihatan yang berarti danau ini sangatlah dalam.
Saat sampai di danau, Ashnard penasaran dan mencoba mengamati lebih dekat danau tersebut.
"Berhati-hatilah. Ada katak yang bisa menghisap jiwamu."
__ADS_1
"Lalu, bagaimana cara kita menyeberangnya?" tanya Ashnard ke Ein.
"Siapa yang bilang kita akan menyeberang? Aku sudah bilang jika roh tidak bisa berenang, kan?"
"Lalu, kenapa kau menuntun kami ke danau?"
Gadis itu mengeluarkan sebuah pena tulangnya yang ternyata dibawa tepat sebelum masuk ke gerbang. Di genggamannya, pena itu bercahaya putih dan tiba-tiba berubah bentuk menjadi semacam tongkat tulang panjang dengan bagian kepala berbentuk seperti cincin besar.
Ein menggunakan kepala tongkatnya untuk menyendok air danau. Air berkumpul di tengah cincin tersebut seperti gelembung yang tidak pecah.
"Ikuti aku."
Ashnard dan Roc tak tahu apa yang Ein rencanakan, tapi mereka tetap mengikutinya begitu saja karena hanya dia yang tahu soal tempat ini.
Ein yang memimpin Ashnard dan Roc mengarahkan tongkatnya ke depan. Cahaya yang menyala dari air di tongkat membuat para roh langsung menyingkir membuka jalan bagi ketiga orang tersebut. Cahaya itu seperti memberikan ketakutan bagi para roh. Dengan jalan yang terbuka lebar, mereka menuju ke hutan di sebelah utara.
Entah karena suatu ilusi atau pengaruh cahaya, Ashnard dan Roc keheranan saat melihatan pepohonan di hutan itu bergerak meliuk-liuk seperti sedang bergoyang. Pohon yang seharusnya memiliki batang yang kokoh, tampak seperti rerumputan ditiup angin.
Saat Ashnard menanyakan tentang pohon itu ke Ein, hanya ada gelengan kepala. Ashnard harus menerima fakta bahwa di tempat ini tidak semua hal memiliki jawaban.
Berbeda dengan di luar. Tanah di hutan ini hitam dan keras. Seperti menginjak batu. Pohonnya saja sudah aneh, begitu pula tanah, tanaman lainnya dan buah-buahannya. Hanya dengan melihat saja, semua orang akan tahu untuk tidak memakan buah berwarna hitam yang mengeluarkan cairan berwarna hitam juga, kecuali jika memang mereka memiliki rasa lapar.
Selain vegetasi dan geologis nya yang aneh, ada satu keanehan lagi yang Ashnard rasakan sedari awal masuk ke hutan. Bersemayam kegelapan beserta kengeriannga di antara pepohonan. Suara derak ranting bersatu padu dengan suara geraman disertai bunyi klik terus menerus mengisi seluruh hutan ini. Suara itu bisa terdengar sangat jauh atau sangat dekat. Bisa di depan mereka, samping atau belakang. Namun, setiap Ein mengarahkan cahayanya ke sumber suara tersebut, kembali sunyi. Tak lama lagi suara itu muncul, segera setelah Ein mengarahkan tongkatnya ke arah lain. Terus berulang selama perjalanan mereka menyusuri hutan.
Beruntung Ashnard dan Roc, memiliki Ein dengan tongkatnya. Jika tidak, para makhluk yang takut dengan air danau itu bisa saja memakan jiwa mereka.
Ashnard memang pada saat ini tidak bisa membantu banyak karena keterbatasannya. Dia hanya bisa kagum pada Ein yang melakukan segala hal seperti ahli. Membayangkan gadis itu saja saat melakukan perjalanan sendiri mencari ibunya sudah membuat Ashnard takjub. Berdasarkan yang diceritakan, Ein mencari ibunya di alam roh saat masih kecil.
"Kau bilang bahwa kau datang ke sini untuk mencari Ibumu, bukan? Bagaimana? Apa kau menemukannya?"
"Ya. Aku menemukannya," jawabnya tak menunjukkan eskpresi apapun, sambil masih memegang tongkatnya ke depan.
__ADS_1
"Itu berarti Ibumu sudah ...." Ashnard tidak yakin apakah Ein sedih soal ini atau tidak karena wajah datarnya.
"Tidak apa. Aku jadi memiliki alasan untuk pergi ke sini. Asalkan kau tahu, tujuan kita ke sini adalah menemui Ibuku juga."