The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Konsekuensi


__ADS_3

Setelah diminumkan darah oleh Liliya, perlahan lengan Ashnard langsung sembuh total. Kembali semula tanpa goresan seperti tidak pernah terjadi apapun.


Menyaksikan keajaiban dari darah Liliya tentunya menarik banyak perhatian ke orang-orang yang belum pernah menyaksikannya.


Liliya sebenarnya sedikit kepikiran saat menggunakan kekuatan darahnya di depan banyak orang. Dia tidak tahu apakah ini adalah yang benar ataukah salah. Karena usaha keluarganya selama ini untuk merahasiakan kekuatannya menjadi sia-sia.


Reinhard bertanya soal keadaan pada Liliya yang duduk di sekitar api unggun saat luka di lengannya perlahan menutup kembali.


"Aku baik-baik saja," jawab Liliya tersenyum hampa. Tidak seperti biasanya yang selalu memberikan makna indah dan hangat setiap dia tersenyum. "Mungkin Ash benar. Aku tidak akan bisa sepertinya jika dihadapkan dengan masalah besar seperti ini. Misalkan ... kau ternyata adalah orang yang akan menghancurkan dunia. Mungkin aku sudah bingung dan menyerah. Aku tidak akan bisa berpikir setegas Ash."


"Bukan soal dia. Aku bertanya keadaanmu. Apa wajahmu memang pucat saat menggunakan darahmu?"


Liliya terkejut lalu sejenak heran pada ucapan Reinhard. "Yah, aku masih belum mencerna semua yang telah terjadi. Maksudku, danau yang bisa menunjukkan masa depan, rencana Ash, Gerlon yang ternyata mata-mata. Semua ini membuatku pusing," jawabnya sedikit ragu. Dia sendiri tidak tahu pasti tentang jawabannya.


"Jika kau butuh sesuatu, aku siap membantu. Dan sebagai catatan, aku tidak akan berpihak untuk melawanmu. Aku tidak akan melakukannya lagi."


Liliya merasa lega, tapi tidak lama. Karena setelah Reinhard bangkit dan pergi, ada sesuatu yang aneh dari dirinya. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang seperti diberi kejutan atau saat berada dalam situasi yang mencekam. Dan kedua tangannya gemetar tanpa sebab. Liliya bertanya-tanya dalam hatinya, apakah dampak dari semua yang terjadi saat ini begitu besar hingga mempengaruhi tubuhnya?


"Jadi, apa yang kalian rencanakan selanjutnya?"


Sementara Wilia bersikap tenang selayaknya hari-hari biasanya dengan pelayannya yang berdiri di sampingnya, Eris masih sibuk memikirkan masalah yang sudah terjadi.


"Karena sekarang kalian berada dalam status aman, dengan arti kalian sudah tidak perlu diwaspadai, kami tidak akan melakukan apapun. Kami hanya tinggal menunggu waktu saja," ungkap Terenna.


"Karena bisa dibilang masalah sudah selesai, itu berarti kami bisa pergi dari sini, kan?" Wilia bangkit, terlihat wajahnya yang sudah ingin cepat-cepat mengabaikan semua ini.


"Ya, kemasi barang-barang kalian. Kita akan pergi malam ini," jawab Egon.


Mereka pun kembali ke akademi. Selama perjalanan di kereta, sunyi seperti kuburan. Tidak ada keceriaan lagi ataupun pembicaraan yang berarti. Mereka benar-benar diam seperti patung hingga sampai di akademi.


Di akademi, Ashnard ingin menumpahkan semua kekesalannya pada Kepala Akademi. Namun, tampaknya dia dan saudaranya masih belum kembali sejak saat itu.


Dia ingin bertanya soal Gerlon. Apa itu alasannya Kepala Akademi juga mengikutsertakannya? Bukan karena kekuatan elemennya yang tidak pernah ditunjukkan sebelumnya, tapi karena identitas rahasianya. Kepala Akademi ingin Ashnard yang mengetahui dan memutuskannya sendiri.


Bagi Ashnard, dia merasa seperti dipermainkan. Rencana yang dirahasiakan dari yang lainnya, ternyata juga ada hal yang Kepala Akademi masih rahasiakan darinya. Itu membuat Ashnard kesal. Dan Ashnard berandai, apakah seperti ini yang teman-temannya rasakan saat Ashnard merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan mereka.


Hari-hari berlalu sangat cepat. Setelah kejadian di danau, Ashnard bisa merasakan perubahan drastis antara dirinya dan teman-temannya.

__ADS_1


Dimana setiap pagi, dia akan selalu melihat Reinhard yang sudah bersiap lebih awal dan Gerlon yang masih tertidur. Sekarang, tidak ada Gerlon dan Reinhard tetap mengikuti pola hidupnya namun sama sekali tidak pernah menganggap keberadaan Ashnard. Reinhard hanya bicara kepada Ashnard hal-hal yang penting atau mendesak soal akademi saja, selain itu dia bersikap dingin selayaknya dua orang yang tidak pernah bersinggungan satu sama lain.


Sikap Reinhard mungkin bisa diterima oleh Ashnard. Ashnard yang sekarang lebih tenang bukan dalam artian yang baik, tapi seperti tidak memiliki semangat sama sekali. Dia tidak aktif, tapi pasif. Karena itu, dia menerima-nerima saja sikap dingin Reinhard padanya.


Liliya yang melihat Ashnard berubah tentunya khawatir, tapi Reinhard selalu mencegahnya mendekati Ashnard. Reinhard berkata kalau itu adalah tanggung jawab yang harus Ashnard terima. Sebuah konsekuensi untuk perbuatannya.


Liliya memang tidak menyukai perbuatan Ashnard saat di danau waktu itu, bukan berarti dia terus mengabaikannya. Liliya hanya bisa memberikan senyuman hangatnya kepada Ashnard. Entah, Ashnard masih bisa merasakan kehangatannya atau tidak. Liliya sendiri tidak tahu harus melakukan apa tentang ibunya.


Saat Liliya melihat Ashnard yang berjalan dengan murung ke arah tempat yang lebih sepi, Reinhard menahannya untuk mengejar Ashnard dan menariknya ke tempat lain dengan tergesa-gesa.


"Sebaiknya, kita jangan mengabaikan Ash," ucap Liliya.


"Itu sudah konsekuensinya. Sudah bukan urusan kita lagi, Liliya."


Reinhard lalu membawa Liliya ke sebuah gudang dan mengunci pintunya. Dengan wajah yang pucat, Reinhard mendorong tubuh Liliya ke tembok.


"Maafkan aku, tapi bisakah aku meminta darahmu. Aku terluka!" ucap Reinhard yang menghela nafas berat seperti orang yang habis kecapekan.


"Tapi, ini sudah ketiga kalinya dalam seminggu! Bagaimana kau terus-menerus terluka?" heran Liliya.


Liliya menggulung lengan bajunya, namun sebelum dia melukai lengannya dengan pisau, Reinhard langsung menarik lengan Liliya tanpa basa-basi. Tiba-tiba, Reinhard menciumi seluruh lengan gadis itu hingga mencapai sikutnya.


Liliya terkejut dengan tingkah Reinhard yang aneh. Apalagi sikapnya itu terlalu agresif baginya. Liliya tidak bisa menahan degup jantungnya.


"Rein, tunggu sebentar. Darahku belum keluar," ucapnya.


Tapi, Reinhard tidak mempedulikannya. Reinhard mengambil jari telunjuk Liliya dan menggigitnya hingga berdarah. Lalu, dia menelan seluruh jari itu untuk kemudian dia hisap seperti permen.


Tidak hanya darah yang dihisap, tapi jarinya juga. Liliya merasa aneh saat jarinya di tahan dalam mulut Reinhard.


Liliya biasanya membiarkan Reinhard terus meminum darahnya, meskipun lukanya sudah sembuh. Tapi, kali ini, dia merasa harus berhenti. "Rein, sudah cukup. Lukamu sudah sembuh."


Reinhard melepaskan jari Liliya. Namun, matanya tidak menunjukkan niat untuk berhenti. Seolah dia masih ingin meminta lebih.


Tanpa diduga, sasaran berikut Reinhard adalah bibir Liliya. Dia menempelkan bibirnya pada bibir Liliya, menggigitnya, dan mengulumnya. Reinhard bahkan semput menggunakan lidahnya untuk dimasukkan ke mulut Liliya.


Liliya tak berdaya ketika Reinhard memainkan bibirnya dengan begitu bergairah. Tidak hanya karena kedua tangannya yang ditahan oleh Ashnard di dinding, tapi karena sebagian dari dirinya tidak ingin menolaknya. Walaupun mendadak dan kasar, tapi dicium oleh Ashnard jugalah keinginan lubuk hatinya.

__ADS_1


Hanya sebentar Liliya memberontak, dan perlahan kemudian dia menerimanya. Bahkan mulai menikmati ciuman tersebut dengan membalas gairahnya. Setelah Reinhard melepaskan tangannya, Liliya meraba punggung Reinhard, lalu memeluknya.


Ini mungkin satu-satunya kesempatan yang Liliya dapatkan. Karena itu dia memutuskan untuk membiarkan tubuhnya yang melakukannya.


Di tempat tertutup dan sempit ini, Liliya tentu tidak bisa menolaknya. Dia berharap jika ini tidak mengubah kehidupannya ke arah yang tidak diinginkannya.


Ketika, Reinhard melepaskan kuncian bibirnya, dia menatap Liliya sejenak lalu tiba-tiba tak sadarkan diri. Tubuhnya melemas dan jatuh di peluk Liliya yang kebingungan.


Dan dalam waktu yang singkat, bahkan Liliya masih dalam suasana hati saat masih berciuman serta pikirannya belum sempat untuk memrosesnya, Reinhard terbangun. Matanya menatap Liliya lalu ke sekitar seperti orang yang linglung.


"Apa yang terjadi? Kenapa kita disini?" Wajah Reinhard yang kosong jelas-jelas menunjukkan kalau dia kebingungan.


"Apa maksudmu?"


"Tunggu, apa yang telah terjadi padaku?" Reinhard menatap sendiri telapak tangannya. Terasa bahwa adanya perasaan yang aneh dalam tubuh Reinhard. Dia sendiri tak bisa menjelaskannya.


"Kau ... tidak ingat apa yang terjadi barusan?"


Tatapan Reinhard yang bingung sudah menjawab pertanyaan.


"Ki-kita ... ber-berciuman."


Awalnya, Reinhard tertawa seolah menganggap Liliya sedang bercanda. Lalu, tawanya kian memelan dan perlahan lenyap saat Liliya mengembungkan pipinya yang merah.


"Kau tidak bohong?"


Liliya semakin kesal dengan sikap Reinhard. Liliya mencubit pinggang laki-laki itu, berharap jika dia hanya bercanda.


"Tunggu. Kau pasti bercanda, kan? Aku tidak ingat pernah melakukan itu. Bahkan aku tidak ingat aku pergi ke tempat ini. Kalaupun aku ingin melakukannya, aku tidak akan melakukannya sekarang."


Sekarang, giliran Liliya yang dibuat heran dengan penjelasan dari Reinhard. Sang gadis lalu berpikir apakah Reinhard benar-benar serius dan tidak mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Jika benar, lalu apa arti ciuman itu sekarang kalau hanya dirinya sendiri yang ingat.


"Apa kau ingat lenganmu terluka?" tanya Liliya.


"Oh ya! Aku ingat itu!" Reinhard mengangkat lengannya dan terkejut saat melihat lengannya mulus tanpa ada bekas luka. "Lukaku tidak ada? Aku belum meminum darahmu, kan? Aku sebenarnya datang menemuimu untuk menyembuhkanku. Tapi, sekarang ... sudah sembuh?"


Walaupun tubuh mereka saling menempel di tempat yang sempit hingga bisa merasakan tubuh satu sama lain, tatapan mereka serasa jauh seperti dua orang yang berada di seberang jalan dan mencoba untuk melihat lebih jelas satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2