
Salib tersebut adalah sebuah senjata. Senjata yang dibuat untuk menyaingi kekuatan Dewi Kematian. Diperlukan setidaknya waktu yang cukup lama untuk membuat senjata itu dan tenaga yang sangat banyak diperlukan dari para minion yang merupakan modifikasi dari para penjaga.
Haidon adalah karya pertama Dewi Kematian. Anak pertamanya. Dia adalah ciptaan terbaiknya sekaligus ciptaan yang gagal. Sebagai kehidupan pertama yang diciptakan oleh dewi penguasa kematian, sedikit kekuatan diturunkan olehnya. Dengan kekuatan yang dia dapatkan, tidak mengherankan jika dia bisa menciptakan para minionnya dan senjata hidup tersebut.
Haidon adalah penguasa Alam Roh sebelum Alfeus. Semenjak kepergiannya, dia membawa para penjaga yang hanya bisa mematuhi perintah untuk memulai rencana barunya. Haidon memodifikasi para penjaga itu hingga menjadi minion yang sekarang. Lalu, dia menciptakan Penjagal dari sisa-sisa penjaga yang telah hancur. Namun, sayangnya penjagal itu bertindak sendiri, sesuai keinginan Haidon, yang berujung mengkhianati Haidon karena melencengnya ideologi Haidon dan kalah di tangan Ashnard.
Di Alam Roh tidak ada aturan waktu yang berlaku, tapi di dunia manusia, mungkin sudah ratusan atau ribuan tahun hingga akhirnya senjata salib itu berhasil diciptakan. Selama proses tersebut, Haidon sudah sering gagal dan terus mencoba. Sudah banyak Mata Penuntun yang rusak atau hancur karena tidak sinkron dengan mata lain dan salib yang menjadi kuncinya. Tapi, sekarang keinginannya akan terwujud tidak lama lagi.
Mata yang memenuhi sekujur tubuhnya itu adalah Haidon yang bisa melihat segala hal, segala sisi atau sudut, dan segala kebohongan, kelicikan, rahasia, semua yang tersembunyi di balik kegelapan pasti akan tertangkap matanya. Mata itu juga memberi penglihatan pada Haidon sehingga dia tahu dimana posisi Ashnard dan Alfeus, serta rencana mereka. Mereka tak akan bisa bersembunyi di balik tembok. Mereka juga tak akan bisa bersembunyi di balik debu. Semua mata tertuju pada mereka, dan semua mata yang tertuju pada mereka menembakkan sebuah laser yang menembus tembok menara. Melukai tangan dan telinga Alfeus yang tidak sempat menghindar saking cepat dan mendadaknya serangan tersebut.
"Ternyata kau tidak ada apa-apanya jika tidak bersembunyi dipelukan wanita keji itu. Daripada penjaga, kau mungkin lebih pantas disebut anaknya, Alfeus. Merengeklah pada Ibumu dan mintalah dia membantumu." Haidon tak henti-hentinya menembakkan laser mata ke arah tembok menara tebal dimana Alfeus berlindung.
"Apa kau cemburu karena aku merebut Ibumu?" balas Alfeus, meringkuk dan berlindung dari hujanan serangan Haidon. "Apa kau iri padaku karena tak bisa merasakan lagi pelukan Erida?"
"Diamlah! Aku adalah Haidon sang penguasa menara. Aku bukan sosok lemah yang hanya ingin dimanja oleh seorang wanita sepertimu."
Haidon menggerakan mata-mata di seluruh tubuhnya seperti mesin hingga berkumpul di tengah dadanya, menjadi bola mata yang lebih besar. Lalu, dengan bola mata besar itu, dia menembakkan serangan laser yang jauh lebih besar dan kuat, menghancurkan tembok yang melindungi Alfeus dan membuat Alfeus terhempas karena ledakannya.
Alfeus yang terpental mengejutkan Ashnard, membuat dirinya yang bersembunyi terlihat tidak sengaja oleh Haidon. Segera Haidon melepaskan serangan kedua. Menghancurkan segala benda-benda yang bisa digunakan untuk bersembunyi.
Pertarungan dimana salah satu pihak tak dapat memberikan serangan atau bahkan sampai tidak bisa mendekati musuh, berarti pertarungan itu sudah bukan lagi pertarungan yang bisa dijangkau olehnya. Ashnard dan Alfeus tidak akan bisa mengubah alur pertarungan jika mereka tidak melakukan upaya apapun untuk setidaknya membuat Haidon turun dari langit.
__ADS_1
Memikirkan rencananya sekarang tidak akan sempat. Mereka harus mencari tempat yang aman lalu mulai memikirkan apapun yang bisa dilakukan untuk melawan Haidon. Tapi, itu juga akan berakhir percuma karena Haidon akan tahu dimana mereka bersembunyi merencanakan strateginya. Setidaknya ada jeda waktu singkat yang bisa mereka gunakan secepat dan seefisien mungkin sebelum Haidon menemukan mereka.
"Kau mengerti, Ashnard?" tanya Alfeus setelah menjelaskan sesingkat mungkin strateginya.
"Aku mengerti. Incar kelemahannya. Siap."
Ashnard dan Alfeus keluar dari tempat persembunyian. Mereka berpisah ke dua arah yang berbeda. Sementara fokus para mata Haidon terbagi pada Alfeus dan Ashnard.
"Mau menyerang dari dua sisi, ya? Apa kalian bodoh? Aku memiliki mata di sekujur tubuhku. Tidak ada yang tidak bisa kulihat!" ucap Haidon penuh percaya diri.
Selagi Alfeus dan Ashnard berpencar, Haidon tak merasa gentar dengan tingkah mereka. Dia tetap berlagak tenang seolah-olah apapun rencana yang mereka perbuat, tidak akan pernah bisa berhasil. Haidon merasa dia penuh dengan kehebatan setelah memiliki mata yang bisa melihat segalanya. Dia merasa mata tersebut membuatnya berada di posisi puncak dan menjadikannya setara dewa.
Dari sisi kanan Haidon, Alfeus langsung melompat ke arah Haidon dan menyiapkan pedangnya untuk menebas. Di saat yang bersamaan, Ashnard di sisi kiri melepaskan bola energi air ke arah Haidon. Haidon yang sudah mengetahui hal ini langsung memukul Alfeus dengan tangan berlapis besi salibnya dan menepis tembakan bola air Ashnard. Dalam sekali serangan, Alfeus terpental dam bola air Ashnard hancur, tapi muncul tepat dibelakang bola air tersebut adalah sebuah pedang yang mengarah dengan kecepatan tinggi. Bola air yang terpecah hanyalah sebuah pengelabuhan. Hanya sebuah tipuan untuk menutupi niat asli Ashnard dari para mata Haidon. Pedang yang dilempar itu berhasil mendahului kesigapan Haidon dan menusuk tepat di mata di bagian samping kiri perut Haidon.
Dari belakang, yang dia duga hanyalah sebuah debu akibat jatuhnya Alfeus, ternyata menyembunyikan Alfeus dengan siasatnya. Dia keluar dengan kecepatan tinggi dari kepulan debu dan menyerang Haidon yang terkecoh. Sejumlah mata telah hancur dalam sayatan pedangnya. Tidak hanya mata, tapi kedua sayap. Haidon jatuh seperti seorang malaikat yang telah dibuang dari surga.
Melihat keberhasilan rencana mereka, Ashnard menghampiri Alfeus dengan perasaan bahagia. Tugasnya layak untuk dipuji, tapi Alfeus tahu pujian itu masih harus menunggu. Haidon belum kalah sepenuhnya. Dia dan Ashnard hanya merenggut kaki-kaki Haidon, dia masih memiliki tangan untuk melawan.
Tepat sesuai dugaan Alfeus, hempasan energi dahsyat tiba-tiba muncul membuat Ashnard terlempar ke belakang seperti daun yang ditiup angin. Alfeus dengan cepat menangkapnya.
Di tengah hembusan dan lonjakan energi yang kuat itu, Haidon berdiri tanpa luka sedikitpun. Meskipun tanpa sayap dan sejumlah mata, dia masih memiliki kekuatan yang sangat kuat berasal dari salib yang menyatu pada tubuhnya. Dia tidak sedikitpun menunjukkan penolakan atau kekalahan. Melainkan, dia semakin brutal dan cepat. Haidon menyerang Alfeus seperti kilat menyambar dari segala sisi. Membawa Alfeus ke atas, lalu menjatuhkannya, melemparkannya dan menabrakannya ke dinding-dinding menara hingga hancur berkeping-keping. Meskipun tanpa pedang, pukulannya saja sudah cukup kuat untuk membuat Alfeus kewalahan.
__ADS_1
"Alfeus!" teriak Ashnard yang melihat Alfeus dibanting dan dihajar habis-habisan seperti samsak daging. Baru saja Ashnard bangkit dan ingin memberikan perlawanan, Haidon tiba-tiba sudah muncul di depannya dan memukulnya. Ashnard seketika langsung tergeletak tak berdaya di reruntuhan.
Ashnard terus melirih dan berusaha berteriak sekuat tenaga meskipun yang keluar hanya suara kesakitannya saja, tapi dia ingin membantu Alfeus, atau setidaknya dia ingin Haidon berhenti membuat Alfeus babak belur. Tubuhnya benar-benar terasa sulit saat ia berusaha bangkit. Meskipun dirinya bukan apa-apa dihadapan Haidon, tapi dia berusaha berpikir keras untuk menemukan cara agar dapat menyelamatkan Alfeus.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Apakah aku bisa memberikan perlawanan?" pikir Ashnard.
Seketika, ada perlawanan datang dari Alfeus yang terseret oleh Haidon dalam cengkeraman tangan besinya. Alfeus melepaskan diri lalu memukul pipi Haidon, berikutnya dia melepaskan tinju kanan ke dagu Haidon hingga membuatnya terpental di udara. Haidon berbalik lalu menukik seperti elang yang berakhir menekan Alfeus dengan kaki dan tangan cakarnya.
"Tidak sakit," seringainya mengejek.
Kubah air raksasa muncul mengurung Haidon dan Alfeus di dalamnya. Dari kubah tersebut, ditembakkan sejumlah semprotan air ke arah Haidon untuk membuatnya sibuk. Dengan kesempatan itu, Ashnard bisa menyelamatkan Alfeus dengan menarik kakinya menggunakan tali air lalu menyeretnya keluar dari kubah.
Ashnard langsung membantu memberdirikan Alfeus setelah berhasil menyelamatkannya. "Bagaimana sekarang? Kita tidak bisa mengalahkannya?" Kecemasan memenuhi pikiran anak muda itu. Dia berpikir bisa apa dia jika Alfeus saja tidak bisa melakukan apapun untuk mengatasi Haidon.
"Tidak!" sergah Alfeus, sekaligus menghentikan keputus asaan Ashnard. "Aku akan memanggil kembali Ansalasor. Dengan Ansalasor, aku pasti bisa mengalahkan Haidon."
"Tapi, keseimbangan Alam Roh bisa hancur!"
"Alam Roh tetap akan hancur jika Haidon menang. Aku hanya harus mengalahkannya secepat mungkin sebelum itu terjadi."
"Bagaimana jika kau masih kalah? Apa yang akan kau lakukan?"
__ADS_1
"Aku harus percaya aku tidak akan kalah. Peraturan seorang ksatria, Ashnard, jangan pernah putus asa sekalipun. Peganglah selalu harapan seperti saat kau memegang erat pedangmu."