
Eris tersenyum saat Ashnard menjawab tantangan. Dia seolah melangkah lebih jauh ke depan daripada Ashnard. Kedatangannya yang tiba-tiba, mengejutkan tapi cukup diterima oleh yang lainnya hingga Eris memberikan tantangannya pada Ashnard dengan wajah yang serius.
"Kalau begitu, aku menantangmu untuk menjawab dengan jujur. Apa yang sebenarnya kau rencanakan?"
"Hei, itu curang!" rengut Liliya, bangkit untuk menegurnya. "Tidak boleh bermain seperti itu. Kau harus memberikan tantangan yang sesungguhnya."
"Itu tantangan dariku. Jika kau tak ingin menerima tantangannya, kalau begitu kau harus jujur. Apa yang sebenarnya kau rencanakan?" desak Eris, menolak untuk berhenti.
"Jadi, intinya sama. Aku tak bisa mengelak kalau begitu," desah Ashnard pasrah. Ashnard tidak ingin berpikir jika Eris telah mencurigai dirinya. Dia menganggap jika Eris mungkin saja hanya salah sangka. Jadi, dia akan menanggapinya dengan enteng. "Aku sebenarnya ingin meninggalkan tempat ini. Sebelum pergi, Gerlon berkata kalau ada sungai di dekat sini. Itu berarti aku bisa menyelam ke danau karena kubah merah itu hanya mencapai permukaannya saja. Aku akan berenang ke bawah lapisan kubah itu sambil menahan rasa dinginnya dan menuju ke danau. Setelah keluar, aku bisa meminta Nina menghangatkanku kembali." Ashnard sebenarnya juga merencanakan hal ini, meskipun tidak terlalu karena sangat beresiko. Jadi, dia tetap dihitung jujur.
"Apa kau serius? Itu terlalu berbahaya, Ash!" tegur Nina.
Saat yang lainnya heboh dan membicarakan rencana Ashnard yang aneh itu, hanya Eris dan Wilia saja yang yakin jika Ashnard berbohong soal jawabannya. Wilia menatap tajam ke Eris karena dia tidak percaya kalau Eris akan menanyakannya secara terang-terangan seperti itu.
Karena kesal dengan keputusan Eris yang ceroboh sehingga mereka tak mendapatkan apapun, Wilia juga ingin memutuskan dengan seenaknya sendiri. Dia tiba-tiba memecah kehebohan dengan berkata, "Selanjutnya aku!"
Kini, giliran Eris yang menatap tajam ke arah Wilia. Mengisyaratkan untuk memberikan pertanyaan ke Ashnard dengan lebih serius.
Wilia hanya bisa tersenyum karena dia sudah menyiapkan orang untuk ditunjuk olehnya. "Kau! Reinhard Asberion! Jujur atau tantangan. Aku sudah menyiapkan sesuatu yang spesial untukmu," serunya sama semangatnya seperti Liliya.
Reinhard yang dijadikan sasaran oleh Wilia, menggelengkan kepalanya. Berharap Wilia tidak akan memberinya hal-hal yang aneh. Tib-tiba, muncul ide di kepalanya seperti sebuah petir yang mendadak menyambarnya meskipun tak ada awan mendung. Reinhard mendekati Wilia dan membisikkan sesuatu di telinganya. Tidak ada yang tahu apa yang dibisiki oleh Reinhard, tapi yang jelas terpancar senyuman lebar di wajah Wilia.
"Aku memilih jujur," jawab Reinhard yang merasa tenang karena rencananya sukses.
"Apa yang kalian berdua rencanakan?" tatap Liliya marah.
Tanpa menghiraukannya, Wilia berkata, "Reinhard Asberion, aku menantangmu untuk mencium Ashnard!"
"Apa? Itu tidak sesuai kesepakatan!" heran Reinhard yang terkejut.
"Sudah kuduga kalian merencanakan sesuatu," geram Liliya.
"Tenanglah, Liliya. Reinhard mencoba menyogokku agar memberikannya hal yang mudah. Tapi, aku seorang putri. Aku tidak akan mudah dipengaruhi olehnya," jelas Wilia yang merasa bangga dengan perkataannya. "Sekarang, Reinhard, lakukan! Cium Ashnard. Jika kau tidak mau melakukannya, aku juga sudah menyiapkan pertanyaan yang harus kau jawab dengan jujur. Dan aku yakin, kau tidak ingin menjawabnya."
Senyuman licik itu tak memberi banyak pilihan untuk Reinhard. Dia menatap Ashnard, lalu memalingkan mukanya kembali. Tidak kuat membayangkan jika dia akan berciuman dengan seorang laki-laki. Tapi, entah mengapa, Ashnard sendiri yang tiba-tiba berjalan ke arahnya. Matanya dipenuhi tekad.
"Ash, apa yang kau lakukan? Ash, jangan!" gumam Nina yang bersembunyi di belakang Eris sambil menutupi wajahnya yang merah. "Ash akan berciuman dengan seorang laki-laki? A-apa yang harus kulakukan?"
"Ucapkan selamat tinggal pada pangeranmu, Nina," ledek Eris berbisik.
__ADS_1
"Hei, kau! Kenapa kau menatapku begitu? Jangan bilang kau ingin melakukannya." Reinhard semakin gelisah saat Ashnard sudah semakin dekat.
Kedua laki-laki itu bertatapan seperti seorang pasangan yang sedang dimabuk cinta. Semakin dekat, semakin membuat para gadis heboh, terutama Nina.
Namun, ketika jarak bibir mereka sedekat nafas mereka, Reinhard tiba-tiba mengambil tangan Ashnard dan mencium di punggung tangannya dengan cepat.
"Sudah selesai!" teriak Reinhard.
Akhirnya, Nina bisa bernafas dengan lega di belakang Eris yang tertawa kecil.
"Itu curang! Bukan itu yang kumaksudkan!" tegur Wilia.
"Tapi, kau tidak bilang ingin menciumnya dimana, kan?" Reinhard kembali duduk dengan santainya meskipun beberapa saat yang lalu tangannya masih gemetaran. "Baiklah, selanjutnya Ulfang. Pilih jujur atau tantangan?"
"Jujur," jawab Ulfang dengan cepat.
"Siapa yang paling kuat disini?" tanya Reinhard tidak kalah cepatnya seolah dia sudah menebak pilihan Ulfang dan sudah menyiapkan pertanyaannya.
"Kau, yang paling kuat disini." Ulfang lalu beralih ke Liliya. "Liliya, kau belum ditanyai, kan? Jujur atau tantangan?"
Perubahan permainan yang mendadak menjadi sangat cepat itu membingungkan sekaligus membuat heran orang-orang.
"Aku memilih ... jujur," balas Liliya, membuat kekesalan Wilia semakin terabaikan.
"Siapa yang ingin kau ajak ke pesta dansa?" tanya Ulfang.
"Eh, aku ingin mengajak ... Reinhard?" jawabnya ragu. "Soalnya Reinhard sudah membelikanku gaun untuk dipakai saat pesta dansa. Aku sudah berjanji padanya. Jadi, aku tidak mungkin tidak mengajaknya."
Jawaban itu memberikan kelegaan sendiri pada Reinhard. Dia awalnya sempat takut Liliya tidak mengajaknya di pesta dansa akademi. Namun, sekarang, berkat rencananya untuk menyuruh Ulfang yang bertanya, Reinhard tidak perlu khawatir lagi.
Dan begitulah permainan terus berlanjut. Sambil menikmati makanan buatan Eris dan Cynthia, mereka bersenang-senang tanpa mempedulikan masalah yang telah terjadi sebelumnya. Saling melempar ejekan, tertawa dengan puas, atau saling menyorak satu sama lain. Benar-benar seperti impian Liliya.
Mereka saling menyadari bahwa tidak buruk untuk bersenang-senang bersama daripada sendiri. Ide Liliya sungguh luar biasa. Bahkan, mereka sempat berpikir seharusnya ini dilakukan sejak awal.
Tawa dan canda mengisi malam di dalam kubah merah. Kehangatan tidak hanya terasa api unggun yang kian mengecil, tapi juga dari kebersamaan mereka. Dari seorang putri hingga pelayan biasa dapat menikmatinya.
Liliya yang paling merasakan kebahagiaan ini karena berhasil mewujudkan salah satu keinginannya selain mengadakan acara api unggun, yaitu membuat Ashnard dan Reinhard akrab. Liliya tidak tahu apa yang sebenarnya memicu kedekatan mereka, apakah ciuman sebelumnya atau hal lainnya, tapi dia hanya tahu bahwa kedua lelaki itu sebelumnya saling mengejek karena benci dan sekarang mengejek hanya untuk candaan semata.
"Hei, Ashnard. Bisakah kau tambahkan kayunya? Apinya sudah mengecil dan aku mulai kedinginan," ucap Reinhard yang memeluk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sayangnya, kayunya sudah habis. Aku akan mencari beberapa." Nina menahan Ashnard yang ingin bangkit.
"Tidak perlu repot-repot," sahutnya tersenyum.
Gadis itu memejamkan matanya dalam sejenak. Tiba-tiba semua orang merasa hangat. Ada aura samar yang muncul di sekitar tubuh Nina. Aura itu memberikan energi hangat ke yang lainnya.
"Apa kau tidak takut bajumu terbakar?" tanya Wilia.
"Tidak akan terjadi. Aku menciptakan api di tubuhku hanya untuk memanaskan udara di sekitar. Jadi, sensasi hangat yang kalian rasakan berasal dari udaranya, walaupun aku terus menghantarkan apiku melalui udara," jelas Nina.
"Itu berarti kau adalah api unggun berjalan," sahut Ashnard yang entah bermaksud pujian atau ledekan.
Ashnard yang penasaran mencoba melapisi jari telunjuknya dengan air. Lalu, perlahan dia menempelkan tinjunya ke lengan Nina yang mengeluarkan hawa panas. Terdengar bunyi desisan dan uap yang timbul saat Ashnard menyentuh Nina. Seketika, kedua sejoli itu saling menatap dan tertawa malu.
Orang-orang yang paham akan apa yang terjadi antara Ashnard dan Nina hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Hei, teman-teman. Lihat itu. Ada sesuatu yang terjadi," tunjuk Ulfang ke arah danau.
Cahaya biru menyeruak keluar. Bersinar terang saat bulan purnama berada di puncaknya. Warna birunya itu membuat danau terlihat seperti lapisan kaca yang bercahaya. Seolah ada sesuatu di bawah danau tersebut yang menciptakan cahaya.
Sudah dimulai. Akhir dari misi ini sudah tiba. Inilah yang Ashnard tunggu. Inilah yang sudah Ashnard dan para guru rencanakan. Jantung laki-laki itu berdentam, bersiap menunggu hasil apapun yang keluar nantinya.
Berombongan, mereka mendekati danau untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun hanya sebagian kecil danau yang bisa mereka nikmati akibat kubah merah, tapi itu cukup untuk memanjakan mata mereka. Terpesona dengan cahaya biru yang bersinar di tengah malam, hingga Eris dan Wilia lupa untuk waspada.
"Lihat! Bayangan itu bergerak!"
Bayangan orang-orang yang muncul di danau seperti cermin itu tampak berbeda dari sebelumnya.
Semua mata tertuju pada bayangan Liliya saat tiba-tiba bayangannya pudar, menghilang lalu berubah menjadi bentuk lain. Liliya yang berlutut dan menjulurkan kepalanya ke depan untuk melihat lebih jelas bayangannya, melihat dirinya yang terlihat sudah besar. Bayangan dia tampak duduk di sebuah kursi besar seperti singgasana.
"Aku seorang putri? Jangan bilang danau ini menunjukkan keinginanku? Tunggu. Aku memang ingin menjadi seorang putri, tapi aku juga punya keinginan lainnya seperti berkeliling dunia, memiliki kebun bunga luas, melihat bintang, dan masih banyak lainnya," gumam Liliya yang berusaha memikirkan apa sebenarnya bayangannya tersebut.
"Atau mungkin danau ini menunjukkan masa depanmu?" tebak Eris.
"Aku menjadi seorang putri? Apakah itu sungguh terjadi di masa depanku?"
Lalu, bayangan yang lainnya muncul. Kali ini bayangan Wilia yang menjadi seorang ratu. Dia terlihat sedang memerintahkan rakyatnya.
"Yah, kalau itu sih aku sudah tahu," desah Wilia kecewa.
__ADS_1