
Mengetahui bahwa keberadaannya hanyalah sebatas ironi, sang penjagal bertekad untuk menciptakan tujuannya sendiri. Dia sekarang hidup demi dirinya sendiri dan membuang semua kepercayaan serta kesetiaannya pada penciptanya. Dia mengaku adalah orang yang mengubah takdir. Dia menjagal takdir dan akan menjagal siapapun yang bertentangan dengan tujuannya yang sebenarnya, yaitu kebebasan sejati.
Sang penjagal yang kini sudah berubah setelah melalui konflik panjang di dalam batinnya, mengangkat pedang besarnya kepada penciptanya sendiri.
"Kau ... telah ... melanggar ... ideologimu ... sendiri. Kau ... adalah ... musuh ... kebebasan."
Ashnard melompat ke samping saat sang penjagal tiba-tiba berlari ke depan. Dia terus menerjang dan mengarahkan pedangnya ke arah Haidon yang diam, masih tidak percaya dengan perubahan yang tidak dia duga ini.
Tepat di depan perutnya sendiri, dia menahan pedang yang mendekat dengan memegang kedua sisi pedang tersebut yang lebar menggunakan telapak tangannya. Namun, dia masih terdorong dengan kekuatan penjagal hingga membuatnya terpojok ke pagar batu balkon.
"Berhenti! Kau ciptaanku! Kau tidak boleh melawanku! Aku perintahkan kau!"
"Sekarang ... tidak ... mematuhi ... perintah ... siapapun."
Melihat tuannya sedang terpojok, bawahan minion yang menjaga Ashnard sebelumnya, langsung lompat dan melayangkan pedangnya. Bunyi denting yang keras menandakan pedangnya berhasil mendarat tapi tidak berhasil menembus sesuatu yang keras dibalik jubah penjagal.
Kepala penjagal berputar 180 derajat seperti burung hantu. Lalu, tubuh tengkoraknya mengikutinya sembari mengayunkan dengan kencang tangan besarnya ke samping yang membuat bawahan Haidon itu terlempar ke dinding.
Sementara, Haidon melompat keluar dari balkon dan terbang untuk menjaga jarak dari penjagal. Tak disangka, penjagal melompat dan menghantamkan pedangnya dari atas ke bawah pada punggung Haidon. Hantaman yang sangat kuat itu menyebabkan Haidon jatuh di tengah arena pertarungan yang sedang berlangsung.
Ashnard dan yang lainnya mencoba mengintip ke bawah dari atas balkon. Terlihat tanah yang rusak akibat Haidon yang jatuh seperti meteor. Kedua petarung di arena kebingungan. Namun, ketika penjagal turun dari atas mereka kocar-kacir melarikan diri agar tidak tertangkap tangan penjagal itu.
"Kita pergi sekarang."
"Tidak. Kita harus menolongnya," balas Roc menolak perintah Ashnard.
"Apa? Itu bukan urusan kalian. Kenapa kalian ingin ikut campur?"
"Karena aku tak mau kehilangan harapanku lagi."
__ADS_1
Ashnard heran dengan apa yang sebenarnya Roc bicarakan. Dia berbicara sembarang. Bagaimana cara dia membantu Haidon? Dia bukan petarung. Apalagi, melompat dari ketinggian seperti ini, meskipun hanya roh sekalipun itu mustahil untuk dilakukan.
Tepat saat Roc sudah membulatkan tekad, bawahan Haidon yang sebelumnya terkapar di dinding, telah bangkit kembali dan berdiri di tepi balkon sambil mengulurkan tangannya pada Roc dan Ein yang ingin membantu. Dia memerlukan bantuan sebanyak mungkin untuk menghadapi penjagal.
"Pegang tanganku jika kau ingin membantu. Bantuan sekecil apapun sudah cukup," kata pria tengkorak itu.
Tanpa basa-basi, pria tengkorak itu langsung melompat dan terbang saat Ein dan Roc memegang tangannya. Kemudian dia turun ke bawah dengan cepat menuju pertarungan. Semua bawahan dari segala sisi menara muncul, dan ikut membantu tuannya. Sekarang pertarungan menjadi satu lawan banyak.
Ashnard yang masih di balkon dan melihat kedua temannya turun ke pertarungan tentu saja merasa khawatir dan gelisah. Dia berpikiran untuk lompat, tapi tak jadi, melihat betapa tingginya ruangan yang dia tempati saat ini.
Ada pikiran menyesal karena seharusnya dia ikut bersama mereka. Pada awalnya, semua karena keinginan Ashnard untuk mencari ibunya hingga mereka ada di sini. Karena itu, Ashnard merasa bersalah.
Ashnard bolak-balik di ruangan tersebut seperti mencari sesuatu yang tidak ada. Pada akhirnya, pikirannya tetap buntu. Daripada terus berpikir yang memakan waktu lama, Ashnard memutuskan menyusul teman-temannya tapi melalui jalan yang normal. Ashnard hanya berharap semoga pertarungannya tidak semakin parah saat dia sampai di bawah.
Sudah berapa anak tangga sudah di lewati, tapi masih terlihat jelas kalau Ashnard masih berada di bagian menara paling atas. Dia tidak atau belum sama sekali mencapai bagian tengah menara.
Langkahnya berhenti di salah satu anak tangga saat dia mendengar sebuah bunyi nyaring samar yang perlahan menjadi jelas di telinganya. Ashnard sadar bunyi itu datang dari luar menara. Dan jika tidak salah, tabrakan akan terjadi seiring suara itu semakin dekat. Ashnard pun turun di salah satu ruangan dan melangkah mundur sejauh mungkin dari tembok.
"Bagus. Kau masih utuh. Di mana teman-temanmu?" tanya Alfeus.
Jika ini sebuah harapan yang datang di saat yang tepat, maka Ashnard tidak akan menyia-nyiakannya. Dengan bantuan Alfeus, dia mungkin bisa menyelamatkan Ein dan Roc, serta menyelesaikan pertarungan yang terjadi.
Ashnard memakai waktu yang ada untuk menjelaskan pada Alfeus situasi yang terjadi sekarang sesingkat mungkin, namun masih memberikan informasi yang penting.
Tidak perlu waktu lama untuk Alfeus memikirkan masalah tersebut. Dia menyetujui untuk membantu Ashnard membawa kembali teman-temannya sekaligus menghentikan pertarungan yang terjadi.
"Tapi, pedangmu ... apa kau yakin akan membawanya?" tanya Ashnard.
"Aku tidak akan menggunakan Ansalasor." Alfeus menodongkan pedangnya ke arah lubang di dinding yang di buat. Seketika, pedang tersebut gemetar dan terlepas dari tangan Alfeus. Terbang dengan sendirinya ke arah langit lalu kembali ke tempat dia seharusnya berada.
__ADS_1
Ashnard bingung dengan perbuatan Alfeus. Jika dia ingin menghentikan pertarungan yang berarti dia mau tidak mau harus berhadapan dengan Haidon atau penjagal. "Lalu, bagaimana caramu melawan mereka tanpa pedang yang sangat kuat?"
"Aku masih punya ini." Di pinggang kirinya, Alfeus menghunuskan sebuah pedang berukuran normal. Dengan gagah seputih tulang dan bilah yang rapih.
Pedang itu tampak seperti pedang normal di mata Ashnard. Apakah Alfeus memiliki suatu rencana dengan pedang tersebut?
"Ini pedang yang dulu kugunakan saat perang. Sebenarnya pedang ini sudah patah. Tapi, dia memperbaikinya untukku dan membuatnya seperti pedang baru," jelas Alfeus yang mengangkat pedangnya di depannya dan memandangi setiap inci bagian pedang tersebut. "Apapun pedang yang kugunakan dan segila apapun kekuatan dari pedang tersebut, aku masih tidak bisa menyingkirkan pedang ini dari hatiku."
Benar-benar sikap seorang ksatria. Ashnard menemukan dirinya memiliki sedikit kekaguman pada pria yang berdiri dengan gagah di depannya tersebut. Ashnard bisa melihat kepribadian Sefenfor di diri Alfeus. Jika Sefenfor adalah sosok ksatria yang sesungguhnya di mata Ashnard, maka seharusnya Alfeus juga.
Alfeus lalu mengeluarkan tas kantung dan menyerahkannya pada Ashnard. Tas itu berisi tongkat sihir milik Ein dan Ibunya, serta empat gulungan kertas.
"Itu barang-barang kalian. Mungkin bisa membantu nantinya," kata Alfeus.
Setidaknya ada pegangan daripada tidak sama sekali. Sejauh yang Ashnard ketahui, Ein bisa menggunakan sihir. Jadi, tongkat ini bisa berguna. Akan tetapi, keempat gulungan yang ibunya berikan ini masih tidak tahu apa fungsinya. Irina hanya mengatakan jika gunakan gulungan itu saat keadaan yang benar-benar mendesak saja.
Pada akhirnya, percuma memikirkan hal yang tidak pasti sekarang. Alfeus dan Ashnard kembali bergegas untuk turun ke bawah. Karena pedang Ansalasornya sudah dikembalikan, jadi anak tangga adalah satu-satunya pilihan.
Begitu Ashnard ingin menuruni anak tangga, Alfeus yang heran kenapa Ashnard menuju anak tangga langsung menarik lengannya. Ashnard langsung tahu niat Alfeus menarik lengannya karena dia melihat ke arah mana Alfeus tuju dengan membawanya. Apapaun alasannya menuju ke arah itu, Ashnard tetap saja tidak siap. Tapi, dia tidak bisa melawan balik Alfeus yang sangat kuat. Hingga akhirnya Alfeus melompat melalui jendela sambil menggendong Ashnard seperti anak kucing.
Ini sangat berbeda saat bawahan Haidon yang membawanya terbang di langit. Ini sangat mendadak, dan menegangkan. Sangat tidak aman karena Alfeus bukannya melayang tapi melompat dari satu dinding ke dinding lainnya sambil turun ke bawah. Sehingga mempermudah pendaratan mereka.
Lalu, akhirnya Alfeus berhasil sampai di bawah tanpa terhalang oleh apapun. Sementara Ashnard masih harus menarik nafasnya yang terbuang sia-sia saat di udara.
"Alfeus! Apa yang kau lakukan disini?" Kedatangan Ksatria Bermata Putih menghentikan pertarungan Haidon dan penjagal yang berlangsung sengit. Haidon sempat beberapa kali terkena serang sementara penjagal lebih sedikit. Itu karena Haidon masih tidak tega untuk menghadapi ciptaannya yang sudah dia anggap keluarga.
Alfeus yang berdiri di tengah, memberi jarak lebar antara Haidon dan penjagal. Alfeus menatap Haidon dan membelakangi penjagal. Saat itu, penjagal memanfaatkan titik buta Alfeus untuk menyerangnya dari belakang. Namun, Alfeus langsung berputar dan melayangkan tinjunya yang tepat mengenai bagian perut penjagal. Penjagal terlempar dalam sekali pukulan hingga menabrak dinding arena.
Setelah tidak ada lagi yang mengganggunya, Alfeus kembali bertatapan dengan Haidon yang sempat khawatir dengan sang penjagal setelah menerima serangan dari Alfeus. Alfeus semakin dekat dan tatapannya tetap terkunci padanya.
__ADS_1
Ashnard yang melihat itu mundur sejauh mungkin ke sisi arena. Seolah tahu hanya dengan tatapan mereka saja, pertarungan hidup dan mati akan terjadi.