
Nafas pria itu semakin berat. Ia bersandar pada batang pohon. Wajahnya pucat dengan guyuran keringat di sekujur tubuhnya. Tangan yang memegang pedang hitam itu gemetaran.
"Sial, sepertinya hanya sampai sini saja batasku," ringisnya sambil memantap pedangnya.
***
Nous bangun secara mendadak, membuat Finn yang berusaha membangunkannya terkejut. Matanya melotot pada Finn. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
Finn bingung harus menjelaskannya bagaimana.
Lalu, Nous tersadar dan langsung melihat ke sekeliling. "Dimana pria itu?"
"Dia sudah pergi," jawab Finn.
Nous mencengkeram pundak Finn dengan panik. "Ashnard? Dimana Ashnard?"
"Anak itu ...."
Nous masih terus menggoyankan tubuh Finn, memaksanya untuk menjawab. Akan tetapi, dia akan menyesal ketika berhasil mendapatkan jawaban dari Finn.
"Dia terjatuh di sungai. Aku tak melihatnya lagi."
Nous tanpa basa-basi langsung terjun ke jurang. Menyisir pinggir sungai. Berenang ke dalamnya. Semua sudah ia lakukan, tapi Ashnard tak bisa ditemukannya dimanapun.
Dari atas, Finn berteriak. Ia berusaha menghentikan Nous melakukan pencarian yang sia-sia.
"Aku tidak akan berhenti sampai berhasil kutemukan dia."
"Jangan begitu! Aliran sungai ini sangat deras dan kita tidak tahu sampai mana ujungnya," ucap Finn.
Nous tersentak. "Ujung? Sungai ini ... ujungnya. Ashnard pasti terbawa hingga ke ujungnya." Nous pun segera menuju ke ujung sungai, berharap bisa menemukan Ashnard disana.
Finn terpaksa harus menuruni jurang dengan susah payah untuk mengajar Nous yang keras kepala. Ia tak mau sendirian di tempat seperti ini setelah semua hal tersebut terjadi. Masih ada banyak pertanyaan di pikirannya, tapi ia juga ingin membantu. Ia dan Nous pun sambil menuju ujung, memeriksa sepanjang sungai.
Kegelapan sudah menjelang. Finn sudah kelelahan mengikuti Nous yang masih menyisir sungai tanpa berhenti.
Finn melihat pria itu sungguh keras kepala. Mereka tak akan bisa mencari seseorang di kegelapan tanpa ada penerangan sedikitpun. Tenaga yang diperlukan juga kurang. Apalagi, ada banyak kemungkinan yang mungkin menimpa Ashnard.
Ia tahu Nous adalah pria yang berpikir dengan tenang terlebih dahulu, tapi ia tak tahu jika Nous begitu keras kepala menyangkut Ashnard.
"Kita istirahat dulu saja," rengek Finn yang tak kuat lagi berjalan.
"Kau saja yang istirahat, aku tidak," jawab Nous masih memperhatikan pinggir sungai.
Jawabannya membuat Finn kesal. Ia pun menghampiri Nous, menarik pundaknya agar Nous bisa melihat rasa lelah Finn yang sesungguhnya. "Sudahlah. Jangan memaksakan dirimu. Kau sebenarnya juga sudah mencapai batasmu, kan?"
"Meskipun aku sudah mencapai batas, tapi aku tidak akan berakhir sebelum-"
"Sebelum apa!?" bentak Finn. "Kalau kau sekarat terlebih dulu, kau tak akan bisa menemukan anak itu. Apakah itu yang kau mau?"
__ADS_1
"Aku tidak akan mati-"
"Apa kau bisa menjaminnya?" potong Finn. "Aku tak mengerti apa yang terjadi pada kalian. Tapi, aku juga tak bisa diam saja ketika Ashnard hilang dan kau tak bisa mengontrol dirimu sendiri. Kalian juga sudah menyelamatkanku. Pada saat itu aku mulai paham."
"Paham apa?"
"Aku paham bahwa kalian adalah orang yang baik. Entah apapun masalahnya, tapi jika kau ingin menyelamatkan anak itu, tunggulah hingga pagi."
Nous berdengus, "Aku tak paham apa yang kau bicarakan. Tapi yang jelas, kau itu bodoh."
"Apa?"
"Ashnard sudah mati jika kita menunggu pagi."
"Hei, apa kau menganggap Ashnard akan mati?"
Nous terkejut setelah menyadari perkataannya. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya kembali. "Aku mengerti," jawabnya dengan tenang.
"Baguslah, aku akan membangun api unggun disini dan kau-"
Nous seketika berbalik dan kembali melanjutkan pencariannya. Kini ia berlari untuk mempercepat langkahnya.
"Dasar keras kepala!"
Di bawah cahaya rembulan yang bersinar daripada bintang apapun pada malam itu, tanaman dan dahan pohon bergoyang dengan lembut ditiup angin. Gesekan antar dahannya seolah membisikkan sesuatu pada Ashnard.
Di pinggir kolam yang terhubung dengan sungai, Ashnard terbaring lemas dengan wajah yang pucat dan kedinginan. Panggilan pohon itu tak membuat Ashnard sadar dari pingsannya.
Padahal mereka berada dalam satu ruang kosong di pikirannya, tapi entah mengapa jarak antara mereka terasa sangat jauh. Kedua orang itu merasakan bahwa sekarang diri mereka berada semakin dalam dan dalam pada hal yang entah bisa disebut kebenaran, kebohongan, atau takdir.
"Nous bilang kalau ramalan belum tentu akan terjadi, kan?" tanya Ashnard yang duduk memeluk lutut, memulai obrolan.
"Di duniaku iya, tapi aku tak yakin jika itu duniamu," jawab Roc.
"Duniamu?"
"Di duniaku, tak ada yang namanya sihir atau kekuatan elemental seperti duniamu. Apalagi ramalan, hanya sekadar bualan untuk mendapatkan kepercayaan dari orang-orang yang mudah dibohongi."
"Lalu, bagaimana caramu hidup? Bagaimana caramu melawan makhluk buas? Apa di duniamu ada pedang?"
Roc tertawa kecil. "Tak ada naga, Raivolka atau semacamnya di sana. Hanya ada kehidupan yang normal saja."
"Wahh ... berarti duniamu sangat damai, ya?"
"Tidak juga. Kami tak memiliki kekuatan sihir, elemen atau apapun. Jadi, saat kami ditindas, kami tak memiliki kekuatan untuk melawan balik. Kami juga tak bisa meminta bantuan pada siapapun, karena yang berada di atas kami memilih berkuasa atas segalanya daripada memperhatikan kami yang lemah. Kami tak bisa melakukan apapun selain diam seperti manusia salju yang dilempari batu."
"Itu sangat keras." Wajah Ashnard sedikit berubah, lebih cerah dan menunjukkan ketertarikan. "Lalu, bagaimana dengan raja, bangsawan dan tuan putri?"
"Mungkin tidak semencolok seperti di sini."
__ADS_1
"Ah, aku malah memikirkan duniamu sekarang. Maaf." Wajahnya kembali muram.
Roc berdiri di belakang Ashnard yang masih terduduk. "Ini seharusnya menjadi takdirku. Kau hanyalah orang tak bersalah yang tak sengaja terlibat dalam masalah yang lebih besar."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku adalah ... kau tak perlu terus memikirkannya."
"Kurasa itu tak cocok dengan ucapanmu sebelumnya-"
Roc lalu berjalan ke samping dan berjongkok. "Kau tahu, aku sebenarnya berada disini karena aku ingin merasakan hidup kembali. Tapi, jika kau berakhir disini. Aku tak akan memaafkanmu, lho," ungkap Roc dengan nada yang santai.
Ashnard terbangun sambil terbatuk-batuk. Ia memuntahkan kembali air yang tertelan. Suara batuknya, terdengar oleh Nous yang berada tak jauh dari sana.
Nous segera berlari dan menemukan Ashnard yang tergeletak di pinggir kolam. Tanpa basa-basi, pria itu langsung memeluknya dengan erat. Tak peduli jika pakaiannya basah, atau dirinya terkena demam.
"Aku disini. Maafkan aku tak melindungimu." Pelukannya semakin erat ketika anak itu membalas memeluk.
Nous meregangkan sedikit pelukannya dan melihat wajah Ashnard. Wajahnya yang basah dan pucat, mencoba tersenyum sambil berkata, "Sekarang aku lapar."
Nous tersenyum balik. Senyumannya lebih lebar daripada sebelumnya.
Di tempat yang masih sama, Nous membuat api unggun. Ashnard meringkuk di depan api unggun tersebut, sambil mengarahkan telapaknya yang berkeriputan.
Tak lama kemudian, Finn akhirnya menyusul. Ia turut senang melihat keberadaan Ashnard dan senyumannya yang masih tidak pudar.
Malam masih berkuasa. Ashnard yang sudah kembali hangat dan tenang, tertidur pulas dengan tumpukan kain yang menyelimutinya.
Seperti biasa, Nous yang dikenal tak pernah berhenti untuk beristirahat duduk memandang api unggun bersama Finn. Bunyi percikan api menemani keheningan mereka.
"Kau sangat menyayanginya, ya?" tanya Finn ke Nous.
"Aku hanya merasa bertanggung jawab penuh akan keselamatannya," jawab Nous dengan nada yang cuek.
"Itu namanya sayang, dasar kau ini," geram Finn.
"Ashnard masih terlalu kecil menerima semua beban ini. Aku tak bisa membiarkannya seperti itu."
"Ya, aku mengerti. Seolah-olah sudah menjadi tugasmu, kan?"
"Tugas?" Nous kembali teringat dengan tugasnya. Tugas sebelumnya yang selalu ia emban selama waktu yang panjang dan penuh penderitaan. Setelah tugas itu berakhir, ia tak memikirkan apapun lagi tentang tugas. Tapi, tanpa dirinya sadari, Nous sudah memiliki tugas baru yang tak boleh ia lupakan.
"Dia bilang jika ayahnya sudah lama pergi meninggalkannya bahkan sebelum dirinya lahir. Dia belum pernah merasakan seperti apa memiliki seorang ayah dihidupnya. Karena itu, tugasmu sekarang adalah menjadi ayahnya. Untuk sementara saja, bagaimana?" jelas Finn tersenyum.
"Aku tak tahu. Aku belum pernah menjadi seorang ayah sebelumnya."
"Aku pun sama. Tapi, ayahku dulu pernah berkata bahwa seorang ayah adalah figur yang sempurna untuk putranya."
Nous tampak ragu dengan hal tersebut. Ia bukanlah sosok yang hebat dalam mengambil keputusan dan dapat diandalkan seperti Sefenfor. Ia juga bukanlah orang yang perhatian seperti Zefiria atau seramah Reibo. Ia hanyalah orang yang tak menyukai keramaian.
__ADS_1
Finn menyadari kerisauan Nous. "Kenapa? Kau tak perlu khawatir. Dari yang kulihat selama ini, kau sudah melakukannya, kok," ucap Finn. "Kau mengajari anak itu semua hal, kau memarahinya karena berbuat salah, kau melindunginya dari apapun, dan kau selalu mengkhawatirkannya. Lihat, bukankah kau sudah melakukan semua peranmu sejak awal?"